
Yandri terkejut mendengar sapaan dari suara seseorang yang dikenalinya. Sontak dia membalikkan badan dan menatap tajam seorang wanita berhijab yang tengah berdiri di hadapannya.
"Siska?" gumam Yandri seraya menautkan kedua alisnya. "Sedang apa kamu di sini?" tanyanya.
"Hmm, dunia ini sangat sempit ya, Yan? Tidak sangka, kita bisa bertemu di pernikahan adik-adik kita," jawab Siska.
"Adik? Maksud kamu?" Yandri semakin mengerutkan keningnya. Dia benar-benar merasa heran melihat keberadaan Siska di tempat ini.
"Mia itu adik tiri aku, Yan. Ayahku menikah dengan ibunya Mia tak lama setelah ayahnya Mia meninggal," jawab Siska, menjelaskan keberadaannya.
Yandri tersenyum kecut. Takdir Tuhan itu hebat. Orang yang selama ini selalu ingin dihindarinya, justru kini telah menjadi kerabat lantaran pernikahan sang adik. Tak ingin berurusan lebih lama dengan Siska, Yandri pun pergi begitu saja.
"Tunggu!" teriak Siska yang seketika menghentikan langkah Yandri. "Aku sama sekali tidak melihat istri dan anak kamu. Ke mana dia? Apa kalian sudah berpisah?" tanya Siska.
Yandri mendengus kesal mendengar pertanyaan Siska. "Bukan urusanmu!" jawabnya seraya kembali mengayunkan langkah untuk menjauhi Siska.
Tanpa Yandri sadari, sepasang mata tengah mengawasi pertemuan tak terduga mereka. "Hmm, baguslah Siska ada di sini, akan aku manfaatkan dia," gumam Habibah seraya menyeringai.
"Loh, Siska! Kok kamu bisa ada di sini?" tegur Habibah yang pura-pura terkejut melihat mantan pacar adiknya.
Siska menoleh, dia tersenyum melihat Habibah. "Kak Bibah, apa kabar?" tanya Siska seraya menyalami mantan calon kakak iparnya.
"Alhamdulillah, kabar Kakak baik. Kamu sendiri bagaimana?" Habibah balik bertanya.
"Baik Kak. Oh iya Kak, ngomong-ngomong, Siska enggak ngelihat istri sama anaknya Yandri. Apa mereka enggak ikut?" tanya Siska sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan kedua orang itu.
"Hmm, Niar mana mau datang ke acara keluarga kita, Sis," jawab Habibah dengan memasang raut muka bersedih.
"Maksud Kakak?" tanya Siska, cukup terkejut mendengar jawaban Habibah yang terkesan kecewa.
"Sudahlah Sis, tidak usah membicarakan dia. Hanya membuat Kakak kasihan saja karena teringat Yandri," jawab Habibah.
Siska semakin mengerutkan keningnya mendengar jawaban Habibah. Ih, kenapa Kak Habibah kelihatan tidak menyukai istrinya Yandri? Apa ini artinya, hubungan mereka kurang baik? batin Siska.
__ADS_1
"Hmm, terserah Kakak saja," jawab Siska.
"Iya Sis, kalau ngomongin dia, hati Kakak tuh nyesek. Inget Yandri yang selalu berkorban demi cewek manja itu," lanjut Habibah.
Ini Kak Bibah gimana sih, katanya enggak usah ngomongin cewek itu, tapi kok malah mancing-mancing kayak gini. Kepo, 'kan gue jadinya, gerutu Siska dalam hati.
"Maksudnya kasihan Yandri, gimana ya, Kak?" tanya Siska yang memang selalu merasa penasaran dengan kehidupan pribadi Yandri.
"Ya si Yandri tuh kayaknya sudah salah milih pendamping. Bukannya dilayani sebagai suami, eh malah dia dibabuin sama istrinya itu. Semua pekerjaan rumah, Yandri yang ngerjain. Enggak tahu diri banget, 'kan tuh cewek," fitnah Habibah kepada adik ipar yang tidak disukainya itu.
"Astaghfirullahaladzim! Kok bisa?!" pekik Siska, terkejut.
"Ya bisa dong," sahut Habibah.
"Terus, apa tidak adanya Daniar saat ini, ada hubungannya dengan rumah tangga mereka yang tidak baik-baik saja?" tanya Siska mengambil kesimpulan sendiri.
"Hmm, bisa jadi. Katanya sih, dia dari si Yandri. Ya, semoga saja kejadian ini tuh bisa membuka mata hati Yandri kalau si Daniar itu bukan istri yang baik untuknya," pungkas Habibah.
.
.
Beberapa hari telah terlewati.
"Kamu enggak ada niatan untuk pulang, Kak?" tanya Bu Salma kepada putri sulungnya.
Daniar tidak menjawab. Dia masih asyik menyuapi Bintang.
"Enggak baik loh, Kak, seorang istri meninggalkan suami dalam kurun waktu yang cukup lama. Sudah hampir seminggu kamu di sini. Apa kamu enggak sayang, kesempatan untuk mendapatkan pahala melayani suami menguap begitu saja?" Bu Salma menggoda anaknya
Daniar menatap ibunya. "Niar masih kesal sama kang Yandri, Bu. Dia itu kok enggak pernah peka sama istri. Sudah tahu istrinya pulang karena ngambek. Bujuk kek, jemput kek... ini mah diem-diem bae," gerutu Daniar terlihat kesal.
Bu Salma hanya bisa tersenyum melihat tingkah manja anaknya. "Niar, kamu itu sudah dewasa, sudah punya anak lagi. Masak gitu aja harus pakai acara dijemput segala. Memangnya ... kamu pikir suami kamu itu seorang pengangguran, yang bisa jemput kamu sesuka hatinya?" tegur Bu Salma.
__ADS_1
"Ya sudah, besok kamu pulang, ah. Bukannya Ibu mengusir kamu, Ibu hanya takut kamu nanti akan menyesal, Nak. Keberadaan pasangan akan jauh lebih terasa ketika kita sudah kehilangan. Maka dari itu, mumpung Tuhan masih memberikan kalian jodoh, jaga dan perlakukan dia dengan baik-baik, Ni. Setelah ayah kamu meninggal, Ibu semakin merasa bersalah karena dulu sering ngambek sama ayah kamu. Kalau pasangan kita sudah tidak ada, kesempatan berdua itu akan selalu terasa kurang, Nak," lanjut Bu Salma.
Daniar tertegun, mencoba mencerna apa yang baru saja ibunya katakan.
.
.
Malam semakin larut. Yandri masih tidak mampu memejamkan mata. Bayangan istrinya selalu menari indah di kedua pelupuk mata. Ruangan ini begitu sepi tanpa kehadiran anak istrinya.
Ya Tuhan ... izinkan hamba selalu berkumpul dengan keluarga hamba di sebuah tempat yang layak disebut rumah. Yandri menyelipkan doa di setiap malamnya.
Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali Yandri telah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor Kemenag. Hari ini, dia ditugaskan untuk mengikuti rapat operator di sana. Yandri menyambut hari tanpa semangat. Kedua penyemangatnya belum juga kembali. Karena itu, dia terlihat loyo dalam melakukan aktivitasnya.
Sementara itu di lain tempat, Daniar sedang sibuk memasukkan kembali pakaian dia dan anaknya ke dalam tas. Hari ini, dia berencana untuk pulang. Sebagai seseorang yang memiliki pekerjaan, tentunya Daniar harus bertanggungjawab terhadap pekerjaannya sendiri.
Jadwal pemberangkatan mobil yang melewati tempat tinggalnya, sekitar pukul 9. Karena itu, Daniar harus segera berkemas agar dia bisa tiba di terminal sebelum jam 9.
"Bu, Niar sama Bintang pulang dulu ya," pamit Daniar seraya mencium punggung tangan ibunya.
"Iya Niar, hati-hati di jalan, ya. Uh, cucu Enin yang cantik, baik-baik di sana ya. Nanti kalau ada waktu, Enin sempatkan berkunjung ke tempat kalian," janji Bu Salma.
Daniar tersenyum. "Iya Bu, Niar tunggu," pungkas Daniar.
Setelah berpamitan, Daniar naik taksi online untuk pergi ke terminal. Membawa anak kecil melakukan perjalanan yang mengharuskan naik turun angkutan umum, sungguh itu bukan ide yang bagus, pikir Daniar. Karena itu Daniar memilih taksi online agar lebih praktis dan tiba tepat waktu di tempat tujuan.
Sepanjang perjalanan, Daniar senyam-senyum sendiri. Dia memang sengaja tidak memberi tahu Yandri kalau dirinya akan pulang hari ini. Ya, sedikit kejutan manis setelah pertengkaran, mungkin akan terasa lebih berkesan dalam menjalani ikatan rumah tangga yang sempat tercerai.
Daniar melirik jam tangannya. Jika dia tidak salah perhitungan, mobil akan melewati tempat tinggalnya pukul sebelas siang. Itu artinya, sekolah masih belum bubar.
Hmm, sebaiknya aku ambil mobil berikutnya saja, supaya tiba di sana setelah dzuhur. Selepas dzuhur, warga sekolah pasti sudah bubar, batin Daniar.
Akhirnya Daniar melangkahkan kakinya menuju pasar yang terletak memang tidak jauh dari terminal. Di pasar, dia memasuki sebuah toko pakaian anak. Dengan sisa uang yang dia miliki, Daniar mulai membeli pakaian baru untuk Bintang.
__ADS_1