
Senin yang sudah dijanjikan, akhirnya Yandri berangkat ke kota Jakarta. Dia hendak mengikuti tes akademik untuk menjadi seorang guru di lingkungan Maz Islamic Boarding School. Sebuah sekolah asrama yang cukup terkenal di negara ASIA. Bahkan sekolah tersebut menjadi kiblatnya pendidikan yang berbasis toleransi dengan taraf internasional. Yandri berharap, tawaran ini akan menjadi sebuah awal bagi karirnya di dunia pendidikan yang lebih tinggi lagi.
Pukul 13.15, Yandri tiba di terminal kota metropolitan. Seperti yang sudah dijanjikan, dia segera menelepon keponakan iparnya.
"Assalamu'alaikum Bang. Sudah sampai mana?" tanya Ihsan di ujung telepon.
"Ini Abang baru turun dari Bus, San. Rencananya Abang mau salat dzuhur dulu," jawab Yandri
"Ya sudah, Abang salat saja di masjid dekat terminal, ya. Nanti biar Ihsan langsung jemput ke sana," balas Ihsan.
"Baiklah," pungkas Yandri seraya menutup teleponnya. Sesaat setelah itu, dia kemudian melangkahkan kaki menuju masjid yang diarahkan Ihsan padanya.
.
.
Pukul 14.00 mobil sedan berwarna merah tiba di depan masjid. Ihsan keluar dari mobilnya dan segera menghampiri Yandri yang sedang menunggu di teras masjid.
"Maaf, lama Bang. Jalanan macet banget. Abang apa kabar?" kata Ihsan seraya mengulurkan tangannya.
"Iya tidak apa-apa, San. Alhamdulillah kabar Abang baik. Kamu sendiri? Gimana keadaan mama sama papa kamu?" Yandri balik bertanya.
Ihsan baik, alhamdulillah mama sama papa juga sehat, Bang. Kita ke kantor sekarang atau mau makan siang dulu," kata Ihsan.
"Kamu kalau mau makan siang dulu, Abang temenin. Kebetulan tadi Abang udah makan sambil nunggu kamu," jawab Yandri.
"Oalah ... saking kelamaan nunggu ya, Bang. Maaf, ya?" kata Ihsan dengan raut wajah menyesal.
"Hmm, enggak juga. Kebetulan ada tukang siomay di depan masjid. Tuh!" Yandri menunjuk roda siomay.
"Ish, mana kenyang makan gituan, Bang. Yuk ah, cari makan siang beneran," ajak Ihsan seraya mengambil ransel Yandri dan memasukannya ke jok belakang mobilnya. Lepas itu, Ihsan membuka pintu mobil bagian depan dan menyuruh sepupu iparnya untuk masuk.
Yandri tersenyum, dia kemudian memasuki mobil Ihsan. Tak lama berselang, mobil itu pun melaju membelah jalanan ibu kota yang semakin padat.
__ADS_1
Dalam perjalanan, ada banyak hal yang mereka perbincangkan. Termasuk dengan pekerjaan yang ditawarkan oleh ibunya Ihsan kepada Yandri.
"Bener Bang, saat ini sekolah memang sedang membutuhkan tenaga guru baru," jawab Ihsan saat Yandri bertanya tentang pekerjaan yang ditawarkan padanya.
"Kok nanggung sih, San ... kenapa penerimaannya enggak di tahun ajaran baru saja?" tanya Yandri, penasaran.
"Untuk persiapan saja, Bang. Soalnya, semenjak pendaftaran siswa baru dibuka, alhamdulillah peminatnya bertambah banyak. Siswa yang mendaftar secara online pun sudah dua kali lipat dari yang sekarang sedang dijalani. Mangkanya pihak yayasan harus sudah memiliki guru yang memadai sebelum tahun ajaran dimulai," papar Ihsan.
"Oh, begitu ya,' jawab Yandri yang semakin penasaran dengan seberapa luas keadaan sekolah bonafide tersebut.
Sebelum mereka pergi ke kantor, Ihsan mengajak Yandri untuk singgah di sebuah restoran. Rencananya, mereka akan makan siang terlebih dahulu. Meskipun Yandri sudah merasa kenyang akibat makan siomay tadi, tapi Yandri tidak ingin mengecewakan Ihsan yang sudah memesan makanan cukup banyak. Mau tidak mau, Yandri pun ikut makan siang bersama Ihsan.
.
.
Singkat cerita, menjelang asar mereka tiba di kantor sekretariat penerimaan guru baru. Tiba di kantor, Ihsan mengajak Yandri menaiki lift menuju lantai 5. Begitu mereka sampai di lantai 5, Yandri melihat ada sekitar 32 peserta yang mungkin akan mengikuti tes akademik juga. Ihsan mengajak Yandri memasuki ruangan untuk menemui ayahnya.
"Assalamu'alaikum!" sapa Ihsan seraya membuka pintu ruangan.
"Gimana, sudah ketemu sama abang kamu, San?" tanya Pak Alam.
"Ini, Pa," Tunjuk Ihsan pada Yandri yang mengikutinya dari belakang.
"Alhamdulillah ... apa kabar, Yan?" sapa Pak Alam seraya berdiri dan menghampiri kerabat dari istrinya.
"Alhamdulillah, Wak. Kabar Yandri baik," jawab Yandri seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Pak Alam menerima uluran tangan Yandri dan merangkulnya. Sedetik kemudian, Pak Alam melepaskan pelukannya.
"Syukurlah kalau begitu. Gimana kabar orang rumah? Pada sehat?" tanya Pak Alam lagi.
"Alhamdulillah, ibu, Daniar sama Danisa, semuanya sehat, Wak," jawab Yandri.
__ADS_1
"Lalu, si kecil? Bagaimana kabarnya kakak Bintang? Apa dia sudah masuk Sekolah Dasar?" Pak Alam kembali bertanya tentang anak Yandri.
"Alhamdulillah, Bintang juga sehat, Wak. Insya Allah tahun depan, Bintang masuk SD," jawab Yandri.
"Hmm, syukurlah kalau begitu. Ya sudah, kamu istirahat saja dulu, sekalian salat asar. Nanti sekitar pukul 4 sore, kita mulai tesnya. 15 menit sebelum tes, kita briefing dulu," tutur Pak Alam.
"Baik, Wa."
"Kalau kamu mau salat asar, di lantai 4 ada mushala. Kamu bisa salat di sana," lanjut Pak Alam.
Yandri kembali mengangguk. Sejenak, dia melirik jam yang melingkar di tangannya. Setengah jam lagi memasuki pukul 4 sore. Yandri pun memutuskan untuk salat asar terlebih dahulu.
"Iya, Wak. Kalau begitu, Yandri salat asar dulu. Mumpung masih ada waktu setengah jam sebelum tes dimulai," kata Yandri.
*Oh iya, silakan Yan," jawab Pak alam. "San, tolong antar Abang kamu ke mushala, ya," pinta Pak Alam kepada anaknya.
"Oke, Bos!" sahut Ihsan seraya beranjak dari sofa. "Tasnya disimpan di sini saja, Bang. Nanti juga balik lagi ke sini," kata Ihsan.
"Iya, San," jawab Yandri seraya menyimpan tas ranselnya di atas salah satu kursi yang disediakan untuk para peserta yang akan menjalani tes akademik.
Sejurus kemudian, Yandri dan Ihsan keluar ruangan. Mereka kembali memasuki lift untuk pergi ke mushala di lantai 4.
Tiba di mushala, Yandri dan Ihsan segera mengambil air wudhu. Lepas itu, mereka salat berjamaah. Di akhir salam, Yandri memohon ampunan untuk diri dan keluarganya. Tak lupa dia juga bermunajat agar segala urusannya dimudahkan.
Ya Allah Ya Tuhan hamba. Jika jalan yang hamba ambil ini adalah jalan yang Engkau ridhoi, maka lancarkan lah apa yang akan hamba jalani sore ini. Berilah hamba kemudahan dalam menjawab setiap pertanyaan. Jadikanlah langkah ini sebagai awal yang baru yang akan hamba mulai atas izinMu. Namun, jika pekerjaan ini akan mendatangkan madharat kepada hamba dan keluarga hamba, tolong beri hamba petunjukMu. Aamiin allahumma aamiin.
"Astaghfirullahaladzim. La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim, sesungguhnya tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang maha tinggi lagi maha agung." Yandri memungkas do'anya dengan beristighfar.
Selesai salat, Yandri dan Ihsan kembali menuju lantai 5. Mereka tiba bertepatan dengan acara briefing yang hendak di mulai. Seperti peserta lainnya, Yandri pun ikut memasuki ruangan tersebut dan memilih duduk di barisan paling depan. Lima menit kemudian, suami dari kerabat istrinya pun memulai acara briefing dengan memaparkan tata cara dan aturan dalam mengikuti tes sore ini.
"Baiklah, tes sore ini akan dibagi menjadi tiga bagian. Yang pertama, tes tahfiz. Kedua tes akademik dan yang terakhir adalah wawancara. Dalam tes akademik, selain peserta diminta untuk menjawab soal-soal yang telah disediakan. Para peserta juga diwajibkan untuk menuliskan pengalamannya selama menjadi tenaga pendidikan di wilayahnya masing-masing. Paham!" ucap Pak Alam, penuh wibawa.
"Siap, mengerti Pak," jawab para peserta tes akademik.
__ADS_1
Setelah Pak Alam mengungkapkan tata cara dan peraturan tes akademik, dia kembali ke ruangannya dan membiarkan para asisten bekerja untuk membagikan kertas ujian.