Setelah Hujan

Setelah Hujan
Pernikahan Raihan


__ADS_3

Yandri meraih tangan Daniar, sedikit menariknya agar Daniar berdiri dan mengikuti Yandri. Sesaat, Yandri mengetik sesuatu di ponselnya. Tak berapa lama, Danisa keluar kamar dan langsung memasuki kamar Daniar.


Melihat hal itu, Daniar paham. Rupanya Yandri menyuruh Danisa untuk menjaga putrinya. Mau tidak mau, Daniar pun berdiri dan mengikuti Yandri ke halaman belakang.


Yandri duduk di tepi kolam. Kedua kakinya dimasukan ke dalam kolam. Berharap sentuhan air dingin di malam hari, bisa mendinginkan kepalanya juga. Supaya Yandri bisa terhindar dari emosi saat sedang menyelesaikan masalah dengan istrinya.


"Duduklah, Bun!" pinta Yandri.


Daniar masih tetap bergeming. Dia hanya berdiri di samping suaminya.


"Orang bilang, jika kita ingin menyelesaikan masalah, kita harus duduk berhadapan agar bisa bicara tanpa emosi," tutur Yandri.


Daniar mengalah. Dia akhirnya duduk, menjulurkan kedua kakinya ke dalam kolam, sama persis dengan apa yang dilakukan suaminya.


"Ayah minta maaf, karena Ayah mengambil keputusan tanpa bertanya dulu kepada Bunda. Ayah janji, ini yang pertama dan terakhir kalinya Ayah berbuat seperti itu," ucap lirih Yandri.


"Apa Ayah tahu? Ayah bukan saja telah mengkhianati kepercayaan Bunda. Tapi Ayah juga sudah mendzolimi Bunda. Istri Ayah sendiri! Keputusan sepihak Ayah ini, membuat Bunda sadar jika keberadaan Bunda itu tidak pernah berharga di mata Ayah. Pantas saja keluarga Ayah tidak bisa menghargai Bunda. Karena mereka juga melihat Ayah yang sama sekali tidak menghargai istrinya sendiri," balas Daniar dengan suara serak karena menahan tangisnya.


"Ish, kok Bunda mikirnya terlalu jauh, sih? Kata siapa Ayah tidak menghargai Bunda? Jangan salah paham dulu. Bunda itu sangat berharga bagi Ayah. Jujur saja, hati Ayah sakit, saat Bunda pergi tanpa pamit. Hati Ayah perih, saat Bunda mendiamkan Ayah," tutur Yandri yang juga mulai serak karena terbawa suasana.


"Ayah minta maaf, Bun. Sangat minta maaf. Ayah tidak bermaksud menyakiti hati Bunda dengan sengaja. Saat itu, Ayah hanya merasa kasihan sama ibu. Di usia senjanya, ibu harus berjalan ke sana kemari untuk mencari pinjaman. Ayah tidak tega, Bun. Bukan hanya akan menjadi pembicaraan orang, tapi ibu juga akan menjadi bahan ejekan akibat imbas dari sikap Raihan. Karena itu, untuk meminimalisir cemoohan warga, Ayah berinisiatif meminjamkan uang itu. Supaya ibu tidak meminjam kepada orang luar," papar Yandri.


Daniar menghela napas. Apa yang dilakukan suaminya memang ada benarnya. Hanya caranya saja yang salah.


"Lalu, apa Ayah yakin ibu akan membayarnya tepat waktu?" tanya Daniar.


"Semoga saja," jawab Yandri.

__ADS_1


"Ih, kok semoga sih, Yah. Itu uang anak-anak, loh. Dan sebentar lagi akan dipakai, Yah," ucap Daniar.


"Tenang saja, Bun. Masih ada waktu sebulan lagi, 'kan, sebelum piknik? Ibu berjanji, dua minggu lagi dia akan melunasinya," kata Yandri.


"Kalau meleset?" ungkap Daniar.


"Kita do'akan saja agar tidak meleset. k?Kemarilah, Ayah ingin meluk Bunda. Dua malam tidur hanya peluk guling, rasanya aneh banget, Bun. Hehehe,..." gurau Yandri sambil terkekeh.


Daniar hanya tersenyum tipis. Tak tega mendiamkan suaminya lebih lama lagi, Daniar pun menyandarkan kepalanya di pundak suami.


"Maafin Bunda, Yah," ucapnya lirih


Yandri hanya mengeratkan rangkulannya untuk menjawab permintaan maaf sang istri.


"Besok malam Raihan menikah, apa Bunda mau menghadirinya?" tanya Yandri.


Daniar diam. Sungguh, rasa sayang dia kepada orang itu telah hancur berkeping-keping. Terlebih lagi ketika mengingat perlakuan Raihan terhadap ibunya sendiri. Rasanya, Daniar enggan harus bertemu dengan dia dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


Meskipun kecewa. Namun, Yandri tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap sang istri. Yandri tahu, Daniar sudah sangat menyayangi Raihan layaknya adik kandung sendiri. Tentu saja Daniar akan merasa ter-khianati saat melihat kelakuan Raihan yang seakan melemparinya dengan kotoran.


"Ya sudah, Ayah tidak akan memaksa Bunda. Terserah Bunda saja. Hanya saja, Ayah sangat berharap jika Bunda bisa secepatnya memaafkan kesalahan Raihan. Jujur saja, Ayah tidak ingin Bunda memiliki sifat pendendam," ucap Yandri penuh harapan.


"Maafin Bunda, Yah," balas Daniar seraya mendongak.


Cup


Sekilas Yandri mengecup bibir istrinya. "Jangan lama-lama ya," bisiknya di telinga Daniar.

__ADS_1


"Insya Allah. Do'akan saja supaya Bunda bisa menjadi seorang kakak yang baik," pungkas Daniar.


.


.


Setelah mendapatkan izin dari istrinya, Minggu sore Yandri kembali ke kampung halamannya. Malam ini, adik bungsunya akan menikah. Meskipun Daniar tidak ingin menghadirinya, tidak mungkin juga Yandri ikut-ikutan tidak hadir. Yandri memang kecewa dengan sikap adiknya, tapi dia tidak seperti Daniar. Pria itu selalu memberikan kesempatan kepada orang yang telah mengecewakannya, untuk memperbaiki diri. Toh Tuhan saja Maha Pengampunan, pikir Yandri.


Tepat pukul 7 malam, keluarga Raihan tiba di kediaman Mia. Setelah menunggu sekitar 10 menit, tokoh alim ulama setempat pun tiba di rumah orang tua Mia. Saat semuanya telah siap, acara sakral pun dimulai. Dengan disaksikan kedua orang tua Mia dan keluarga besarnya, akhirnya Raihan mengucapkan ijab qabul dalam satu tarikan napas.


Alhamdulillah, semua orang yang menyaksikan akad nikah tersebut, kini bisa bernapas lega setelah para saksi mengucapkan kata sah. Selesai ijab qabul, acara dilanjutkan dengan jamuan makan malam. Para tamu undangan mengantre untuk mengambil makanan.


Merasa gerah, Yandri melipir menuju ruang depan. Niatnya ingin keluar untuk mencari udara segar. Di dalam ruangan itu penuh dengan para tamu undangan yang terdiri dari keluarga besar Mia dan tetangga sekitar. Karena itu udaranya terasa pengap.


"Eh gila lu Mi. Lu beneran dikasih mahar emas putih? Ish, beruntung banget lu," seru salah seorang gadis bertubuh ramping seraya mengamati mahar Mia yang kini sudah dia kenakan.


"Iya dong. Ini asli loh, bukan emas putih KW," ucap Mia merasa bangga seraya menunjukkan cincin bermata satu yang berkilauan ditempa cahaya lampu pijar.


"Widih, gelang sama kalungnya juga keren tuh, Mi," puji sahabat Mia yang lain. "Jadi, lu enggak bakal kalah saing lagi kalau lagi kumpul sama si Sani," cibirnya.


Mia hanya tersenyum lebar menanggapi omongan sahabat-sahabatnya.


"Tapi jujur aja nih, Mi. Gue bener-bener enggak nyangka kalau si Raihan mampu ngasih lu mahar emas putih. Ya secara gitu loh, si Raihan, 'kan pengangguran," tukas teman Mia yang lain.


"Ish, bang Raihan itu bukan pengangguran. Dia itu pemborong kerjaannya. Ya pemborong, 'kan gitu, kalau dapat proyek, dia kerja, kumpulin duit yang banyak. Biar nanti, pas enggak ada proyek, tetep punya duit. Ya kayak sekarang ini, meskipun bang Raihan belum dapat proyek, tapi dia masih punya tabungan buat beliin gue ini!" Tunjuk Mia pada perhiasan yang sudah melekat di sebagian anggota tubuhnya.


Mia terlihat senang dan merasa bangga karena sudah menjadi nyonya Raihan. Dia juga terkesan menyombongkan pekerjaan suaminya. Bualannya tentang Raihan membuat ketiga sahabatnya berdecak kagum.

__ADS_1


Yandri hanya tersenyum miris mendengar obrolan wanita muda itu. Ya Tuhan, Rai ... kamu tanamkan sikap seperti apa pada istri kamu, sehingga dia memiliki rasa sombong macam itu, batin Yandri menatap perempuan yang baru saja sah sebagai adik iparnya.


"Assalamu'alaikum, Yan!"


__ADS_2