
Daniar menghela napas dengan berat. Kalimat yang diucapkan kakak iparnya, masih menggaung jelas di telinga.
"Pokoknya kamu harus menyediakan uang itu, Ni. Kakak sudah bicara sama Yandri, dan Yandri menyetujuinya. Siapkan saja uangnya 10 juta!"
"Sepuluh juta?" gumam Daniar. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sepuluh juta untuk membawa kak Dijah berobat ke rumah sakit? Ish ... lagian kang Yandri ada-ada aja. Sudah tahu enggak punya uang, tapi kenapa harus menjanjikan biaya pengobatan untuk kak Dijah? Monolog Daniar dalam hatinya.
Huft!
Daniar membuang napas begitu kasar. Hatinya diliputi kekecewaan. Entah untuk yang ke berapa kalinya, Yandri mengambil keputusan tanpa bertanya terlebih dahulu kepadanya.
"Ya Tuhan, kang ... kok sikap kamu sama sekali enggak pernah berubah, sih?" keluh Daniar.
"Apanya yang tidak berubah, Ni?"
Pertanyaan Bu Salma sontak membuat Daniar menoleh ke belakang. Daniar sangat terkejut mendapati ibunya yang sudah berdiri di belakang.
"I-ibu?!" ucap Daniar, terbata. "Sejak kapan Ibu berdiri di belakang Niar?" tanya Daniar, gugup.
"Sejak kamu menggumamkan sikap Yandri yang sama sekali tidak pernah berubah," tegas Bu Salma.
Sedetik kemudian, Bu Salma mendekati putrinya. Wanita paruh baya itu menarik kursi dan duduk di samping Daniar.
"Ada apa, Niar? Apa ada masalah lagi antara kamu dan Yandri? Apa yang terjadi? Katakan saja, siapa tahu Ibu bisa bantu kamu," cecar Bu Salma seraya menggenggam erat jari-jemari putrinya.
Untuk sejenak, Daniar menarik napasnya cukup panjang. Sepersekian detik kemudian, wanita yang tengah hamil muda itu mengembuskan napas dengan perlahan. Dia menatap wajah ibunya yang selalu meneduhkan hati.
"Katakan saja, Nak!" titah Bu Salma.
"Barusan kakaknya kang Yandri menelepon, Bu." Daniar mengawali cerita.
"Lantas?" tanya Bu Salma.
"Dia meminta Daniar untuk menyiapkan uang sebesar sepuluh juta," lanjut Daniar.
"Sepuluh juta?!" pekik Bu Salma, terkejut
Daniar mengangguk.
__ADS_1
"Untuk?" lanjut Bu Salma.
"Untuk biaya pengobatan kak Dijah," jawab Daniar.
"Biaya pengobatan?" ulang Bu Salma. "Tunggu, Niar! Jujur saja, Ibu enggak ngerti. Khodijah masih ada suami, 'kan?" tanya Bu Salma, merasa heran.
Daniar kembali mengangguk.
"Lalu, kenapa dia minta sama kamu?" tanya Bu Salma lagi.
Daniar menggelengkan kepala. Sungguh, dia sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi. Semuanya hanya membuat kepala Daniar terasa sakit.
"Apa Yandri tahu?" Bu Salma kembali bertanya.
"Niar enggak tahu pasti, Bu. Sampai detik ini, kang Yandri belum mengabari Niar. Mungkin karena banyak pekerjaan di sekolahnya," tutur Daniar.
"Lebih baik kamu tanya Yandri dulu, Ni? Siapa tahu, Yandri memang belum tahu apa-apa tentang permintaan kakak ipar kamu itu," saran Bu Salma.
"Tapi kak Bibah bilang, dia menelepon Niar atas perintah kang Yandri juga, Bu. Begitu katanya," tutur Daniar.
"Entahlah, Bu. Niar benar-benar bingung. Dari mana Niar harus mendapatkan uang sepuluh juta. Ibu sendiri tahu, utang Niar ke Ibu berapa. Kalaupun Niar punya uang sepuluh juta, ya lebih baik Niar bayarkan utang ke Ibu daripada diberikan sama orang lain," papar Daniar panjang lebar.
Bu Salma merangkul anaknya.
"Sudah Niar, jangan terlalu dipikirkan. Kasihan anak yang ada dalam kandungan kamu. Menolong orang itu memang harus, tapi bukan pula suatu kewajiban. Terlebih lagi jika orang yang kita tolong, masih berada di bawah tanggung jawab orang lain," ucap Bu Salma, mencoba menenangkan hati Daniar. Meskipun di dalam hatinya, Bu Salma merasa gereget akan sikap menantunya.
Tapi, apa mungkin nak Yandri menjanjikan uang sepuluh juta untuk pengobatan kakaknya? batin Bu Salma, tak percaya.
.
.
Di rumah Bu Maryam.
"Gimana, Bah? Apa Daniar mau memberikan uangnya?" tanya Bu Maryam.
Habibah hanya menggedikkan kedua bahunya, menanggapi pertanyaan Bu Maryam.
__ADS_1
"Apa ini artinya ... Daniar tidak memberikan jawaban yang pasti?" selidik Bu Maryam.
"Bibah enggak tahu, Bu. Kedengarannya, Daniar cuma terkejut saja saat Bibah minta uang sepuluh juta. Dia sama sekali enggak jawab apa-apa," kata Habibah.
"Lagian, kamu mintanya sepuluh juta sih. Itu, 'kan kebanyakan, Dek. Kenapa kamu enggak minta setengahnya saja?" tegur Bahar.
"Ish, 'kan Ibu yang kasih perintah seperti itu," tukas Habibah, tak mau disalahkan.
"Iya, Bahar. Itu memang perintah dari Ibu. Sudah, kamu diam saja! Enggak usah ikut campur, toh kamu sendiri enggak bisa ngasih uangnya, 'kan? Lagi pula, Ibu minta sepuluh juta karena buat jaga-jaga juga. Pengobatan Khodijah itu, 'kan enggak mungkin sekali dua kali saja. Mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama," jawab Bu Maryam.
"Kalau Daniar enggak ngasih karena enggak ada duit, gimana Bu?" tanya Bahar lagi.
"Enggak mungkin, Kang. Bibah udah bilang ke Daniar kalau semua ini atas permintaan Yandri. Bibah yakin, Daniar pasti bakalan ngasih uangnya. Bukankah sebagai istri yang baik, dia harus mematuhi perintah suaminya, 'kan?" jawab Habibah sembari tersenyum menyeringai.
"Pintar kamu, Bah!" puji Bu Maryam.
"Siapa dulu, dong. Bibaaah..." jawab Habibah merasa bangga.
Dalam hati, Habibah berharap, akan ada uang sisa dari nominal sepuluh juta yang dia minta. Supaya dia bisa menggunakan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhannya.
"Iya-iya ... kamu memang anak Ibu yang bisa Ibu andalkan. Semoga saja, pengobatan Khodijah tidak terlalu mahal, sehingga masih ada uang yang tersisa nanti. Kalau ada, Ibu akan gunakan uang itu untuk membetulkan rumah. Tuh lihat!" Tunjuk Bu Maryam ke arah langit-langit ruangan, "langit-langit rumah sudah pada bolong. Kalau hujan, pasti bocor," lanjut Bu Maryam.
Habibah langsung memasang wajah cemberut mendengar rencana ibunya tentang sisa uang sepuluh juta. Bayangan berbelanja di mall pun, menguap seketika.
"Ih, bagi dua dong, Bu. Bibah, 'kan pengen jalan-jalan ke mall," timpal Habibah.
"Astaghfirullahaladzim! Jadi kalian berniat mengumpankan istri Aji hanya untuk kepentingan kalian sendiri? Ish, tega banget kalian!"
Aji memekik keras saat tanpa sengaja mendengar percakapan antara ibu mertua dan adik iparnya. Hatinya terasa perih, ketika menyadari jika Khodijah hendak dijadikan umpan demi kepentingan mereka.
Bu Maryam, Habibah dan Bahar, sangat terkejut melihat kedatangan Aji dan kedua anaknya. Namun, bukan Bu Maryam namanya jika tidak mampu menguasai keadaan genting.
"Ish, benar-benar enggak ada sopan santunnya! Setidaknya, kamu ketuk pintu dulu kek, ucap salam dulu kek, kalau mau masuk ke rumah orang. Kamu enggak pernah diajari tata krama ya, sama orang tua kamu?" cecar Bu Maryam dengan kesal.
"Maaf, Bu. Aji tidak ingin berdebat dengan Ibu. Aji datang kemari hanya untuk membawa Khodijah pulang. Permisi!" sahut Aji sambil menuntun kedua anaknya hendak memasuki kamar khodijah.
"Eh, Aji ... tunggu!"
__ADS_1