
Pembukaan toko kue milik Daniar yang diberi nama Stars Bakery, ternyata cukup ramai dikunjungi orang. Salah satu jenis kue yang memang sudah viral sebelumnya, membuat pelanggan berbondong-bondong mengunjungi toko kue milik Daniar. Dan ternyata, bukan hanya cupcake mini yang laris diburu oleh pelanggan. Brownies bakar coklat pun menjadi menu andalan di toko kue miliknya.
Selain kue kering, brownies, roti dan aneka kue basah. Stars Bakery juga menyediakan aneka jenis tart ulang tahun dengan berbagai variasi. Uniknya variasi yang dibuat, umumnya semakin membuat pengunjung penasaran hingga memesannya. Alhasil, di hari pertama pun, pesanan kue ulang tahun cukup membludak.
Tidak hanya aneka jenis kue yang tersedia di sana. Daniar juga menyediakan berbagai jenis minuman kopi. Karena roti tanpa kopi? Hmm, rasanya seperti sayur tanpa garam. Seperti ada yang kurang. Jadi, selain bisa dibawa pulang, para pengunjung juga bisa menikmati kue tersebut di tempat dengan secangkir kopi, tentunya.
Di balik kasir, Daniar tersenyum lebar menyaksikan para pengunjung yang terus berdatangan. Saat pintu terbuka karena salah satu pengunjung telah selesai dengan belanjaannya, pintu itu masih belum tertutup karena pengunjung lain yang datang.
Alhamdulillah, Ya Allah ... ternyata keputusan aku untuk berhenti dari pekerjaan lama, adalah keputusan yang tepat, batin Daniar, menatap para pengunjung yang sedang berkeliling memilih dan memilah roti-roti yang berjejer di etalase.
"Mbak, minta kopi latte dua, sama coklat lumernya dua juga, ya?" pesan seorang pria di meja orderan.
"Siap, Mas," sahut Bintang.
Namun, saat Bintang mendongak, wajah Bintang langsung berubah, kecut.
"Aih, gue kira siapa yang datang," ucap Bintang mendengus kesal.
"Kenapa? Aku juga pelanggan di toko ini. Tolong layani aku dong," pinta Adwira, merayu.
"Ish, Wir ... gue tuh lagi kerja, dan gue enggak nerima pelanggan pecicilan kek lu!" gerutu Bintang semakin kesal.
"Ayolah, Bin ..." Adwira memelas.
"Lu minta ke Mbak Ratih aja, deh. Malas gue ngelayani pelanggan kek elu," balas Bintang.
"Eh, di mana-mana juga pelanggan itu adalah raja. Jadi ya kamu harus layani aku, karena aku maunya dilayani sama kamu," sahut Adwira panjang lebar.
Bintang hanya memutar kedua bola matanya dengan jengah. Dia sendiri merasa heran, entah kenapa semenjak lulus SMP, tingkah laku Adwira semakin berubah. Enggak ada sopan santunnya seperti dulu lagi. Bahkan terkesan urakan dan selalu mengejar-ngejar Bintang. Seperti orang yang sedang mencari perhatian saja.
"Ayo, layani dan temani aku makan kue di meja sana!" Tunjuk Adwira pada sebuah bangku taman buatan yang berada di luar toko. "Aku yakin, ditambah pemandangan sore, akan membuat suasana menjadi romantis," imbuhnya.
__ADS_1
"Dasar gila!" pekik Bintang yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.
Sedetik kemudian, Bintang beranjak dari tempat duduk dan berlalu pergi meninggalkan Adwira yang semakin menatap kagum kepada gadis kecilnya itu.
Di meja kasir, Daniar hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak remaja itu.
.
.
Dengan penuh sukacita, Yandri tiba di rumahnya. Rumah yang selama hampir dua tahun dia tinggalkan. Sebenarnya, begitu Yandri tiba di kota kelahirannya, Yandri sangat ingin mengunjungi Daniar dan putrinya. Namun, berhubung waktu sudah terlalu malam, akhirnya Yandri memutuskan untuk pulang ke perumahan.
"Uuh, pengap sekali," gumam Yandri begitu membuka pintu rumahnya.
Tangan Yandri sendiri terasa gatal. Dia ingin segera membersihkan debu-debu yang menempel pada setiap barang yang berada di rumahnya. Akan tetapi, karena terlalu lelah akibat perjalanan jauh, Yandri pun mengurungkan niatnya. Dia hanya membersihkan debu di sekitar kamarnya saja. Dia juga mengganti sprei lama dengan sprei baru, karena ingin segera merangkai mimpi.
Setelah mengganti sprei, Yandri langsung rebahan di atas ranjang. Sekelebat wajah Daniar menari di pelupuk matanya. Seandainya wanita itu masih bersamanya, tentunya akan ada orang yang menyambut dia pulang. Akan ada orang yang menemaninya dia beristirahat.
"Hhh ..." Yandri menghela napasnya dan mencoba kembali tegar dalam menerima kenyataan.
Karena rasa lelah yang mendera, akhirnya Yandri tertidur pulas sekali.
Keesokan harinya. Dengan penuh semangat, Yandri bangkit dari ranjangnya. Dia sempat kebingungan harus memulai dari mana membersihkan rumahnya sendiri.
Ah seandainya ada kamu, bun, batin Yandri.
Akhirnya Yandri mengawali membersihkan rumah dimulai dari kamar mandi. Setelah itu, dapur dan juga ruangan lainnya. Hingga tanpa terasa, matahari telah meninggi.
Pekerjaan Yandri selesai begitu azan dzuhur berkumandang.
"Alhamdulillah, akhirnya beres juga. Sekarang tinggal membersihkan diri, shalat dan makan. Setelah itu aku akan berkunjung ke rumah Daniar dan menginap di sana." Monolognya.
__ADS_1
Pukul 2 siang, Yandri pergi ke rumah Bu Salma dengan menggunakan taksi online. Sepanjang perjalanan, senyum itu tidak pernah lepas dari bibirnya. Raut wajah Yandri nampak bahagia. Ya, setelah sekian lama berpisah, akhirnya dia bisa menumpahkan semua kerinduan terhadap keluarganya.
Setelah melewati perjalanan selama 20 menit, mobil pun tiba di depan pintu gerbang rumah yang selama ini ditempati Bu Salma. Yandri membayar ongkosnya. Sedetik kemudian, dia pun turun.
Langkahnya terasa ringan, karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan kedua bidadarinya. Yandri menekan bel Pintu. Hingga beberapa detik kemudian, seorang pria yang tidak dia kenal, membuka pintu.
"Maaf, cari siapa Mas?" tanya pria tersebut.
Yandri cukup terkesiap saat menyadari orang asing tengah berdiri di hadapannya. Untuk sejenak, dia hanya mematung.
"Mas mau cari siapa?" Pria itu kembali bertanya.
"Ma-maaf, bu-bukankah ini rumah almarhum Hajjah Minah?" tanya Yandri terbata.
"Dulunya iya, Mas. Tapi sekarang rumah ini sudah menjadi milik saya," jawab pria itu.
"Ma-maksudnya gimana ya, Pak?" tanya Yandri yang mulai merasa kebingungan.
"Dua tahun yang lalu, keluarga almarhum menjual rumah ini kepada saya, Mas." Perjelas pria tersebut.
"Lalu, Bu Salma?" tanya Yandri.
"Bu Salma siapa ya, Mas?" orang itu malah balik bertanya.
"O-orang yang menempati rumah ini," jawab Yandri.
"Waduh, saya tidak tahu, Mas. Saya membeli rumah ini dalam keadaan sudah tidak berpenghuni," lanjut pria itu.
Sungguh, Yandri tidak mampu menggambarkan perasaannya seperti apa saat ini. Satu yang pasti, Yandri sangat kecewa mendengar kenyataan tentang keluarga mantan istrinya. Lantas, ke mana mereka pergi? batin Yandri.
Tiba-tiba Yandri teringat akan perkataan ibunya yang selalu memberikan uang kirimannya kepada Bintang. Ibu, ah aku yakin ibu pasti mengetahui keberadaan anak dan istriku, batin Yandri.
__ADS_1
"Terima kasih atas informasinya, Pak. Saya permisi!" pamit Yandri.
Dengan perasaan tidak karuan, Yandri pun pergi untuk mengunjungi rumah orang tuanya.