Setelah Hujan

Setelah Hujan
Tragedi


__ADS_3

Tak lama setelah kepergian Ilham, Pak Djalal yang tak lain adalah suaminya Wak Sumi datang menemui tamunya. Disusul oleh Wak Sumi yang datang membawa minuman dan dua toples kue.


"Ayo dicicip kuenya, Ni. Ini Uwak yang bikin loh," ujar Wak Sumi seraya menaruh kedua toples tersebut di atas meja.


"Iya, Wak. Nanti Niar cicip kuenya," jawab Daniar.


Sesaat setelah itu, mereka kemudian saling berbincang dengan berbagai macam topik. Hingga tanpa terasa, waktu magrib pun tiba. Yandri bergegas untuk pergi ke masjid yang letaknya tak jauh dari rumah Wak Sumi.


"Yar, Akang salat di masjid, ya," izin Yandri kepada Daniar.


"Baiklah, Kang. Kalau pulang, jangan lupa beli camilan ya, Kang," pinta manja Daniar.


Yandri hanya tersenyum melihat kemanjaan istrinya. Dia mengacak rambut sang istri sebelum akhirnya pergi ke masjid.


"Kamu kalau mau salat, di kamar kak Lidya saja, Ni," titah Wak Sumi kepada Daniar.


"Iya, Wak," sahut Daniar.


Daniar beranjak dari kursi dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Lima menit kemudian, Daniar memasuki kamar yang semenjak menikah ditinggal oleh penghuninya. Daniar pun mendirikan salat di sana.


Selesai salat, Daniar mengaji sambil mengusap-usap perutnya yang sudah terlihat membesar. Seulas senyum tersungging di bibir saat dia merasakan pergerakan si kecil di dalam perutnya.


"Hmm, kamu senang ya, Bunda ajak ngaji, Dek," gumam Daniar.


Gerakan si kecil semakin aktif setelah mendengar perkataan ibunya. Seakan si jabang bayi itu mengerti dengan apa yang telah diucapkan Daniar.


"Sadaqallahul adzim," ucap Daniar mengakhiri lantunan ngajinya. Setelah melipat mukena dan mengembalikan pada tempatnya, Daniar keluar kamar dan duduk beralaskan tikar di ruang keluarga. Dia kemudian menyalakan TV yang berada di depannya.


"Suami kamu ke mana, Ni?" tanya Ilham yang baru keluar dari kamarnya.


Daniar menoleh. "Lagi ke masjid, Kak," jawabnya.


"Oh. Kamu sudah makan belum?" Ilham kembali bertanya.


"Nanti saja, Kak. Nunggu kang Yandri pulang dari masjid," jawab Daniar lagi.


"Oh, ya sudah kalau begitu," tukas Ilham


Setelah itu, Daniar kembali fokus pada layar kaca di hadapannya. Hingga sepuluh menit berlalu, Yandri tiba di rumah.


"Makan, Yan?" tawar Ilham kepada iparnya.

__ADS_1


"Iya, Kak. Nanti saja nunggu Wak Djalal pulang dari masjid," jawab Yandri seraya duduk di atas sofa.


Untuk beberapa saat, keheningan tercipta. Daniar masih fokus menatap layar kaca, sedangkan Yandri, sibuk dengan tasbih di tangannya. Tiba-tiba,


Prak!


Bunyi teko stainless yang menyentuh kaca meja TV terdengar keras. Sontak Daniar terkejut saat melihat teko yang tergeletak di lantai.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Terdengar suara pukulan yang membabi buta dari arah kanan Daniar. Wanita itu menoleh dan begitu terkejut saat mendapati suaminya tengah dipukuli Ilham secara brutal.


"Eh, Kak Ilham ... apa-apaan ini?" pekik Daniar seraya berdiri dan mencoba melerai kakak sepupunya yang seperti tengah kesetanan sedang memukuli Yandri


Tenaga Daniar tentunya tidak cukup kuat untuk menarik tubuh Ilham. Sedangkan Yandri, dia menyilangkan kedua tangannya di depan wajah untuk menahan pukulan Ilham.


"Kak Ilham, hentikan! Tolooong! Wak Sumi! Wak Djalal, tolong bantu kang Yandri! Hentikan, Kak Ilham! Hentikan!" teriak Daniar masih menarik-narik baju Ilham.


Tiba-tiba saja, Ilham melayangkan tendangannya ke arah Yandri. Namun, belum sempat kaki itu menyentuh tubuh Yandri, Daniar memeluk suaminya.


Bugh!


Kaki kanan Ilham bersarang tepat di perut sebelah kiri Daniar, hingga wanita itu memekik keras seraya berjongkok karena menahan sakit.


"Niar!" teriak Yandri hendak merangkul istrinya.


Namun, Ilham tidak menyia-nyiakan pergerakan Yandri. Dia menggunakan kesempatan itu untuk kembali melayangkan tendangannya. Hingga akhirnya,


"Hentikan Ilham!" teriak Pak Djalal.


Teriakan Pak Djalal sekejap menghentikan gerakan Ilham. Namun, saat Ilham melihat Yandri hendak memangku Daniar, dia kembali mendekati Yandri dengan tangan terkepal yang siap dia layangkan kepada iparnya itu.


"Lari, Yan!" Pak Djalal memberikan perintah untuk menghindar kepada keponakannya.


Yandri kebingungan, antara berlari untuk menghindari pukulan Ilham, atau menolong istrinya.


"Cepatlah lari ke luar. Biar Daniar, Uwak yang urus." Kembali Pak Djalal memberikan perintah.

__ADS_1


Yandri akhirnya mengalah, dia berlari ke luar rumah meskipun Ilham mengejarnya. Pada saat Ilham mengejar Yandri, Pak Djalal menggunakan kesempatan itu untuk menolong Daniar. Dia segera memapah Daniar dan menitipkannya kepada Wak Sumi yang baru saja keluar kamar.


"Cepat bawa Daniar pergi. Ayah mau menolong nak Yandri," perintah Pak Djalal kepada istrinya


"Apa Ilham kambuh lagi?" tanya Wak Sumi.


"Hmm, mungkin setannya sedang datang," jawab Pak Djalal.


Lelaki tua itu segera berlari ke luar untuk mengejar putra sulungnya. Sedangkan Wak Sumi, dia memapah Daniar dan membawanya keluar melalui pintu belakang.


Di luar, Yandri segera bersembunyi di samping rumah untuk mengelabui Ilham. Dari celah pagar samping, dia melihat Ilham yang tengah mengedarkan pandangan mencari keberadaan dirinya.


Tak lama kemudian, Yandri melihat istrinya sedang dipapah Wak Sumi keluar rumah melalui pintu samping. Namun, saat mereka tiba di halaman rumah, tiba-tiba Daniar terjatuh hingga membuat Wak Sumi berteriak meminta tolong.


Ibu-ibu yang tengah pulang dari masjid depan, segera berlarian dan mengelilingi Daniar yang tergeletak di tanah. Sepertinya Daniar pingsan. Mereka beramai-ramai menggotong tubuh Daniar yang tengah berbadan dua.


"Bawa ke rumah saya saja, Bu," ucap salah seorang tetangga Wak Sumi.


Hati Yandri diliputi rasa cemas yang tiada tara saat melihat istrinya jatuh pingsan. Namun, tidak mungkin juga Yandri menolongnya karena melihat Ilham masih setia mencari keberadaan dirinya.


"Hentikan Ilham! Apa kamu tidak malu dilihatin para warga, Hah?" teriak Wak Djalal kepada anaknya.


Ya, keributan di rumah Wak Djalal, telah memancing para warga yang baru selesai salat berjamaah di masjid, segera berkerumun di depan rumahnya.


Ilham menoleh ke arah ayahnya, tiba-tiba saja tubuh Ilham terasa lemas. Kedua kakinya tak mampu lagi menopang tubuh kekar Ilham, hingga akhirnya dia ambruk ke lantai.


Sontak para warga menghambur memasuki teras rumah Pak Djalal dan menggotong Ilham ke rumah. Sedangkan Yandri, kesempatan itu ia gunakan untuk berlari menemui istrinya di rumah tetangga Wak Sumi.


"Assalamu'alaikum, bagaimana keadaan istri saya, Bu?" tanya Yandri setelah dipersilakan memasuki rumah.


"Istri kamu sedang ditangani oleh bidan, Yan," ucap si pemilik rumah. "Sebenarnya, apa yang terjadi?" lanjutnya.


"Entahlah, mungkin penyakit kak Ilham sedang menyerang," jawab Yandri.


"Astaghfirullah! Semoga istri kamu baik-baik saja, Yan. Minumlah!" ucap Bu Hana seraya menyerahkan segelas air minum kepada Yandri


"Terima kasih, Bu," jawab Yandri seraya mengambil gelas tersebut dan mereguknya.


Yandri meletakkan gelas di atas meja. Hatinya sudah tidak sabar ingin menemui istrinya. Namun, Bu Hana melarang Yandri mengingat Daniar sedang ditangani bidan kampung.


Sejenak, Yandri menengadahkan wajah. Tragedi yang menimpa istrinya, membuat Yandri mencemaskan juga janin yang berada di perut Daniar. Masih terekam jelas tendangannya yang mendarat di perut sang istri.

__ADS_1


"Semoga saja kamu bisa bertahan, nak. Ayah yakin kamu anak yang kuat."


__ADS_2