
Panggilan ibunya dan juga tangisan sang anak, sama sekali tidak bisa menghentikan langkah Daniar untuk pergi dari rumah. Hati Daniar begitu teriris mendengar jeritan Bintang. Namun, perkataan Yandri tadi, telah mengorek luka lama Daniar. Akhirnya Daniar menutup kedua telinganya. Dia pun terus mengayunkan langkah kakinya menuju jalan raya.
Tiba di sana, Daniar menghentikan angkot yang melintas. Sejurus kemudian, Daniar menaiki angkot tersebut. Setelah Daniar duduk manis, angkot pun melaju.
Selama dalam perjalanan, Daniar hanya bisa diam. Pikirannya benar-benar kosong. Dia tak memiliki arah tujuan. Hanya mengikuti langkah kakinya saja yang entah akan membawanya ke mana.
Saat melintas sebuah desa, Daniar sempat berpikir untuk menemui rekan kerjanya. Bahkan, bila perlu dia akan menginap di sana untuk malam ini. Namun, bagaimana jika sang rekan kerja menanyakan akar persoalan yang menyebabkan Daniar pergi dari rumah? Sanggupkah Daniar mengemukakan alasannya?
Tidak! Daniar menggelengkan kepala. Aku tidak bisa menceritakan semua permasalahan aku kepada orang lain, sekalipun rekan kerjaku sendiri, batin Daniar.
"Kota-kota-kota!"
Teriakan kondektur angkot yang menuju pusat kota, seketika membuyarkan lamunan Daniar.
"Stop, Bang!" teriak Daniar, menghentikan angkot yang dinaikinya.
Seketika, sopir angkot menginjak rem. "Jangan nyuruh berhenti tiba-tiba dong, Neng! Bisa celaka kita, bahaya!" Si abang sopir menggerutu kesal.
"Iya, Bang. Maaf," ucap Daniar seraya sedikit membungkukkan badan. Tak lama kemudian, Daniar turun dari angkot dan berjalan menuju pintu depan untuk menyerahkan ongkos angkot tersebut.
"Ya sudah, lain kali jangan ngelamun ya, Neng. Bisa kebablasan," timpal si abang sopir.
Daniar hanya tersenyum mesem menanggapi ucapan sopir angkot tersebut. Setelah selesai membayar ongkosnya, Daniar melangkahkan kaki menuju sebuah mobil angkot yang akan membawanya ke pusat kota Tasikmalaya.
.
.
Tak mampu mencegah kepergian anaknya, Bu Salma segera meraih Bintang dan menggendongnya. Anak kelas satu itu masih menangis histeris karena ditinggal sang Bunda. Bu Salma kemudian membawa Bintang untuk menemui ayahnya di kamar paviliun.
Tiba di kamar paviliun, Bu Salma melihat Yandri tengah duduk sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. wajahnya sedikit menengadah dengan mata terpejam. di kedua sudut matanya, tampak genangan air mata yang hampir tumpah.
"Ada apa ini, Yan? Kenapa Daniar pergi dari rumah? Dan itu, tadi ... wajah Daniar terlihat merah. Seperti sedang menahan amarah saja. Sebenarnya, apa yang terjadi pada kalian?" cecar Bu Salma kepada menantunya.
__ADS_1
Yandri tersentak mendengar suara ibunya. Dia kemudian membuka mata dan menegakkan tubuhnya. Yandri hanya bisa membisu. Dia sendiri tidak pernah menyangka jika Daniar akan menanggapi ucapannya seserius itu, hingga memutuskan untuk meninggalkan rumah.
"Ayah ... Bibin mau sama Bunda, hiks ... hiks ..."
Tangisan Bintang sontak membuat Yandri terhenyak. Yandri beranjak dari ranjang. Tangannya terulur untuk mengambil alih Bintang dari pangkuan ibu mertuanya.
"Ssst, Bintang jangan nangis ya, Sayang. Bunda ada urusan sebentar di luar. Nanti juga kembali," ucap Yandri mencoba menenangkan putrinya.
Maafkan Ayah, Nak. Tanpa sengaja Ayah telah membuat ibumu meninggalkan kita, batin Yandri, perih.
"Kamu belum jawab pertanyaan Ibu, Yan? Kenapa Daniar semarah itu, sampai-sampai memutuskan untuk pergi dari rumah?" Kembali Bu Salma menanyakan hal yang sama.
"Duduklah, Bu. Yandri akan bicarakan semuanya," pinta Yandri kepada ibu mertuanya.
Bu Salma mendekati ranjang, dia kemudian duduk di tepi ranjang. Begitu juga dengan Yandri yang duduk di samping Bu Salma seraya memangku anaknya.
"Sebenarnya semua ini salah Yandri, Bu," lanjut Yandri memulai pembicaraan.
"Apa maksud kamu, Nak? Kesalahan apa yang kamu perbuat sehingga Daniar bisa tega tidak menghiraukan tangisan Bintang segala?" Bu Salma terus mendesak yandri.
Akhirnya Yandri mulai menceritakan asal muasal pertengkaran mereka hingga membuat Daniar keluar rumah.
Bu Salma menarik napasnya panjang, sepersekian detik kemudian, wanita paruh baya itu pun mengembuskan napas dengan perlahan. Dia menatap intens sang menantu.
"Jadi, uang yang tempo hari Daniar berikan sebagai pembayaran utang dari kakak kamu, sebagian adalah uang untuk berobat?" tanya Bu Salma memastikan.
Yandri mengangguk.
"Hhh ..." Bu Salma kembali menghela napasnya.
Ya, wajar jika Daniar bersikap seperti itu. Mungkin seandainya Bu Salma berada di posisi Daniar, dia pun akan merasa marah dan kecewa. Namun, Bu Salma sendiri tidak ingin mencari siapa yang salah, karena ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan.
.
__ADS_1
.
Di pusat kota. Daniar terus melangkahkan kaki menyusuri trotoar. Pikirannya benar-benar kosong, Daniar sendiri tidak tahu harus pergi ke mana. Sepanjang hari dia hanya berjalan mengikuti arah langkah kakinya saja. Hingga kumandang azan dzuhur menghentikan ayunan kaki Daniar.
Sejenak, Daniar menatap kubah masjid yang terlihat dari jarak beberapa ratus meter. Kakinya kembali berjalan mendekati masjid tersebut. Daniar tiba di masjid pada saat muadzin pun mengakhiri azannya. Akhirnya Daniar pergi ke toilet wanita untuk mengambil wudhu.
Selepas wudhu, iqamah pun terdengar dari bilik muadzin. Bersama para jemaah lainnya, daniar pun menunaikan salat dzuhur berjamaah.
Selesai salat dzuhur, satu per satu para mustamim datang. Rupanya, di masjid tersebut akan diselenggarakan pengajian rutin setiap hari Minggu. Daniar mengambil Al-Qur'ran dan membacanya. Sementara, di ruang depan yang hanya terhalang tirai, pengajian muda-mudi pun dimulai.
.
.
Kecemasan mulai terlihat di raut wajah Bu Salma. Sampai matahari mulai kembali ke peraduannya pun, Daniar masih belum juga pulang. Dan kecemasan itu semakin menjadi saat teman-teman kuliah Daniar datang. Ya, Daniar kembali berkuliah untuk memenuhi persyaratannya sebagai tenaga pendidikan yang linier dengan pekerjaannya.
"Ibu Daniar-nya ke mana ya, Bu? Kok tidak kelihatan?" tanya Bu Mira.
Sudah hampir setengah jam mereka menjenguk suami temannya. Namun, sang teman masih belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Waduh, Ibu sendiri tidak tahu, Neng. Daniar memang selalu begitu, kalau pergi jarang berpamitan pada orang rumah," ucap Bu Salma dengan wajah gugup.
Seumur-umur, baru kali ini Bu Salma berbohong. Wajahnya terlihat pucat. Namun, dia terpaksa melakukan kebohongan tersebut demi harga diri anak dan menantunya.
"Oh, begitu ya, Bu. Sebenarnya, kami minta maaf karena baru bisa menjenguk Pak Yandri sekarang. Maklum lah, kalau punya anak kecil, susah sekali untuk keluar rumah, Bu," timpal teman Daniar yang satunya lagi.
"Iya, tidak apa-apa, Neng," sahut Bu Salma.
"Bagaimana kondisinya sekarang, Pak? Apa sudah mendingan?" tanya suami Bu Mira.
"Alhamdulillah, sekarang sudah mulai membaik, Pak," jawab Yandri.
Percakapan antara pria pun dimulai. Mira dan Rindu saling berbisik karena masih belum melihat Daniar. Sejenak, mereka menautkan kedua alisnya saat melihat putrinya Daniar bangun dan mulai menangis menanyakan sang bunda. Hingga berbagai spekulasi pun berseliweran dalam benak mereka.
__ADS_1
Bu Salma semakin khawatir, dia kembali meraih Bintang yang baru bangun tidur. Saat bu Salma hendak memangku cucu pertamanya itu, tiba-tiba ...."
"Assalamu'alaikum!"