
Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Kehidupan Daniar mengalami perubahan. Sepertinya, mantan ibu mertua Daniar tidak main-main dengan ucapannya dulu. Nyatanya, Yandri sudah tidak pernah mengirimkan uang lagi untuk biaya sekolah Bintang. Apalagi untuk keperluan sehari-hari, seperti uang jajan dan kebutuhan umumnya seorang gadis remaja.
Kini, Daniar benar-benar harus memutar otak untuk membayar tagihan bulanan seperti listrik, air dan wifi. Beruntungnya, rumah kontrakan sudah dibayar ibunya setahun penuh, hingga beban pikiran Daniar sedikit berkurang.
Daniar membolak-balikkan buku catatan keuangannya. Mau dihitung berapa kali pun, tetap saja sama. Besar pasak daripada tiang.
Penghasilan Daniar sebagai tenaga honorer, tidak bisa menutupi semua pengeluaran bulanannya. Belum lagi, biaya-biaya untuk hal yang tidak terduga. Seperti biaya dokter jika dia dan anaknya sakit, kegiatan ekskul Bintang, ataupun undang-undang hajatan tetangga, kerabat, teman dan rekan-rekan kerjanya.
"Huft!"
Daniar membuang napasnya dengan kasar. Tak ingin kepalanya semakin berdenyut hebat karena melihat angka-angka yang minus, Daniar pun menutup buku catatannya.
Kalau kek gini, aku harus nyari pekerjaan sampingan, nih. Tapi kerja apa, ya? batin Daniar.
.
.
Pulang sekolah, Bintang duduk di halaman belakang seraya mengibas-ngibaskan kertas yang terlipat rapi di depan wajahnya. Bintang merasa bingung. Sebenarnya dia sudah tahu apa isi kertas itu, dan tertuju untuk siapa undangan tersebut. Hanya saja, Bintang merasa segan untuk memberikannya.
Huh, beban pikiran bunda akan semakin bertambah jika sampai melihat undangan ini. Hmm, sebaiknya aku buang saja, batin Bintang.
Remaja perempuan yang tomboy itu meremas kertas undangan rapat study tour dari sekolahnya. Sedetik kemudian, Bintang melempar kertas tersebut ke dalam tong sampah yang berada di sampingnya.
"Kenapa dibuang?" tanya Adwira, teman satu kelas Bintang.
"Enggak penting juga," sahut Bintang tanpa ekspresi.
"Ish, enggak penting gimana, Bin? Itu, 'kan surat undangan rapat untuk orang tua kita. Amanat loh, jadi harus kita sampaikan kepada orang tua kita," ujar Adwira, menasihati.
"Bawel!"
Bintang mendengus kesal. Sejurus kemudian, dia beranjak dari bangku taman. Dengan sangat kesal, Bintang menendang kaleng bekas minuman yang berada di hadapannya.
Adwira yang melihat tingkah anak pindahan beberapa bulan yang lalu, hanya bisa mengulum senyum.
Tidak ada yang menarik dari gadis tomboy itu. Hanya saja, ekspresi wajahnya yang datar dan sikap introvert-nya, membuat remaja laki-laki itu merasa penasaran.
"Hmm, gadis kecil yang menarik," guman Adwira.
.
.
__ADS_1
Beberapa hari telah berlalu. Dan tentunya, semakin sulit untuk Daniar jalani. Stok beras di tempatnya sudah mulai menipis. Sedangkan jejeran tanggal masih begitu panjang untuk berganti bulan.
Daniar menatap gelang dan cincin yang pernah diberikan mantan suaminya. Senyum Daniar terbit, ketika teringat kenangan asal muasal perhiasan itu.
"Kamu mau maskawin apa, Yar?" tanya Yandri.
Saat itu mereka tengah berjalan kaki sepulang dari rumah Nauval. Kebetulan, kampung tempat tinggal istrinya Nauval masih satu wilayah dengan Daniar.
"Apa aja, Yan. Hmm, yang terpenting enggak ngebebani kamu juga," sahut Daniar.
"Aku enggak mungkin memberikan kamu emas, karena aku memang tidak punya uang untuk membelinya. Namun, jika suatu hari nanti aku memiliki rezeki yang lebih, Insya Allah akan aku belikan kamu perhiasan, Yar," kata Yandri. "Kamu mau dibelikan apa?" tanyanya.
"Sebenernya, Niar kurang suka pakai kalung. Kagok kalau lagi mandi. Anting juga sudah punya. Cincin aja, deh. Boleh berlian enggak, kecil juga enggak pa-pa. Sebagai tanda kalau Niar tuh sudah terikat sama kamu," jawab Daniar dengan gaya manjanya.
"Ya sudah, nanti aku belikan sama gelangnya juga. Biar tangan mungil kamu enggak terlalu polos," timpal Yandri. "Tapi nanti, ya. Kalau kita sudah nikah dan aku sudah punya uang banyak," imbuhnya.
"Iya-iya," sahut Daniar.
Dan ternyata, Yandri bukan pria yang suka ingkar janji. Meskipun Daniar sudah lupa tentang perhiasan yang dijanjikan Yandri, tetapi di ulang tahun perkawinan yang kedelapan, Yandri membelikannya sekotak perhiasan sebagai hadiah.
Daniar memegang gelang serut miliknya. Haruskah aku menjual benda-benda ini? batinnya.
Daniar mengeluarkan surat-surat perhiasan miliknya. Dia mulai menghitung uang yang akan dia dapatkan dari hasil menjual perhiasannya.
Hmm, lumayan juga. Cukup untuk modal membuat kue kering, ungkap Daniar dalam hatinya.
Besok, sepulang sekolah aku akan pergi ke toko emas untuk menjual perhiasan-perhiasan ini, batin Daniar seraya mencopot gelang, cincin dan antingnya.
Tekad Daniar sudah bulat. Dia akan menjual semua perhiasan yang dimilikinya. Kecuali cincin berlian pernikahannya.
"Untuk yang satu ini, cukup digadaikan saja," gumam Daniar seraya memasukkan cincin kecil itu ke dalam kotak perhiasan berbentuk hati.
Keesokan harinya.
Setelah menjual perhiasannya, Daniar memasuki Pegadaian untuk menggadaikan cincin berlian miliknya.
Saat dia hendak memasuki Pegadaian, seorang wanita menyapa Daniar.
"Bu Niar, ya?"
Daniar menautkan kedua alisnya. Dia merasa tidak mengenali wanita yang sudah menyapanya.
"Iya, Benar. Maaf, Anda siapa?" Daniar balik bertanya.
__ADS_1
"Perkenalkan, nama saya Megi. Saya wali kelasnya Bintang," jawab wanita itu.
"Astaghfirullah, maaf Bu. Saya jarang ke sekolah, karena itu saya tidak mengenali Ibu," sesal Daniar yang merasa bodoh di hadapan wali kelasnya Bintang.
"Ah, tidak apa-apa, Bu. Bagaimana keadaan Ibu? Apa sudah sehat?" tanya Bu Megi lagi.
"Maksud Ibu?"
Bukannya menjawab, Daniar malah balik bertanya sambil mengernyitkan keningnya. Jujur saja, Daniar tidak mengerti arah pembicaraan wali kelasnya Bintang.
"Bintang bilang, Ibu sedang sakit, karena itu Ibu tidak bisa datang untuk menghadiri rapat study tour kemarin. Hmm, tapi tidak apa-apa, Bu. Ini saya masih pegang rincian biayanya. Sebentar."
Bu Megi membuka tas besarnya. Sedetik kemudian, dia mengeluarkan secarik kertas dari dalam tas.
"Ini rincian biayanya. Silakan, Ibu bisa membawanya untuk dipelajari," ucap Bu Megi seraya memberikan selembar kertas kepada Daniar.
"Ba-baik, Bu. Terima kasih," jawab Daniar meskipun masih merasa heran.
"Ya sudah, Bu. Saya permisi dulu. Sepertinya suami saya sudah selesai dengan urusannya. Alhamdulillah Ibu sudah pulih, semoga selalu sehat paripurna. Mari, Bu," pamit Bu Megi yang melihat suaminya sudah keluar dari tempat parkir.
Untuk sejenak, Daniar hanya bisa terpaku. Memorinya mencoba mengingat kembali ucapan Bu Megi beberapa menit yang lalu.
Sakit? Kenapa Bintang mengatakan jika aku sedang sakit kepada wali kelasnya? Kenapa dia berbohong? Dan kenapa dia tidak memberi tahu aku jika ada rapat orang tua di sekolahnya?
Batin Daniar terus bertanya tentang kebohongan yang Bintang lakukan. Selama ini, Daniar tidak pernah mengajari putrinya berbohong. Namun, entah kenapa Bintang tega melakukan Kebohongan.
Ini adalah kebohongan pertama Bintang, dan aku harus segera menghentikannya agar dia tidak mengulangi kebohongan lagi. Aku harus segera bertemu Bintang. Kembali Daniar bermonolog dalam hatinya.
Dengan napas yang memburu karena emosi, Daniar segera pergi untuk mencari angkot. Sepanjang perjalanan pulang, jantungnya berdetak tak karuan.
Tiba di rumah, Daniar sudah tidak mampu membendung emosinya. Kebohongan pertama Bintang sudah memancing kemarahan Daniar. Dia pun membuka pintu rumah dengan kasar.
"Bintang! Bintang!" Daniar memanggil putrinya begitu keras.
Bintang yang sedang menggambar, segera menaruh peralatan gambarnya. Terburu-buru, remaja itu keluar dari kamar karena mendengar panggilan ibunya yang begitu menggelegar.
"Iya, Bun. Kenapa?" sahut bintang begitu tiba di hadapan Daniar.
"Apa-apaan ini, Bintang? Sejak kapan kamu punya hobi berbohong sama Bunda dan guru kamu?" tanya Daniar, geram.
"Ma-maksud Bunda?" ucap Bintang tak mengerti.
"Katakan! Kenapa kamu berbohong pada wali kelas kamu? Kenapa kamu bilang jika Ibu sedang sakit hingga tidak bisa mengikuti rapat, kenapa hah?" tanya Daniar penuh penekanan.
__ADS_1
"Eng-enggak, Bun. Bi-bibin enggak bohong. Lagi pula, Bibin enggak tahu ra-pat apa yang Bunda bicarakan," jawab Bintang gugup.
"Lalu, apa ini?"