Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kunjungan Bu Maryam


__ADS_3

Bulan puasa sudah memasuki hari kelima. Pada saat Daniar sedang berbelanja di warung Bik Mumun, tanpa sengaja dia mendengar perbincangan adik iparnya dengan Bik Mumun.


"Jadi, mertua kamu minta apa, Pur untuk buka puasanya?" tanya Bik Mumun kepada Puri.


"Entahlah, Bik. Puri kadang serba salah kalau mau ngasih ke ibu," jawab Puri.


"Memangnya ibu minta apa lagi, Dek?" tanya Daniar yang baru keluar dari dapur Bik Mumun.


"Eh, ada Kak Niar toh. Kakak dari mana?" tanya Puri yang cukup terkejut melihat Daniar di rumah Bik Mumun.


"Ini, dari kamar mandi. Biasalah Bintang, kalau ke sini, pasti minta pipis di kamar mandi Bik Mumun," jawab Daniar.


"Oalah, Dedek Bintang betah ya, di rumah Bik Mumun," tukas Puri.


"Ibu minta apa sama kamu, Dek?" Daniar kembali bertanya.


"Enggak ngerti lah Kak, biarin aja," jawab Puri.


"Ih, enggak boleh gitu, Dek. Bilang saja, barangkali Kakak bisa bantu," ucap Daniar.


"Emm, sebenarnya tadi pagi ibu minta lauk buat buka puasa. Tapi Puri bingung mau ngasih apa," jawab Puri.


"Ya sudah, ini kasih ayam saja, Dek," jawab Daniar seraya menyerahkan bungkusan daging ayam ke arah Puri.


"Masalahnya, Puri tuh bingung mau ngasih bahannya atau yang sudah matang saja. Keduanya pasti selalu salah di mata ibu," tukas Puri.


Daniar mengernyitkan kening. Jujur saja, selama ini ibu mertuanya tidak pernah minta yang macam-macam kepada dia dan suami. Daniar sendiri tidak pernah memberikan kebutuhan yang lainnya selain uang. Karena, Daniar berpikir jika ibu memiliki uang, dia pasti bisa membeli apa yang dia butuhkan. Lagi pula, menurut Daniar, memberikan uang kepada mertuanya lebih praktis ketimbang harus memberikan bahan pangan.


"Maaf, Dek. Selain uang, Kakak enggak pernah ngasih apa-apa ke ibu. Jadi, Kakak enggak pernah tahu sikap ibu saat kita beri sesuatu," ucap Daniar.


"Hhh ..." Puri menghela napasnya. "Puri sendiri enggak ngerti, Kak. Dikasih makanan yang sudah matang, ibu selalu berkata ibu enggak doyan anu, enggak suka anu ... eh dikasih bahan makanan, malah tambah salah. Ibu bilang, percuma ngasih kalau harus beli ini lah, itu lah," jawab Puri panjang lebar. "Ya udah, lebih baik Puri diamkan saja, terserah anaknya saja deh, mau ngapain," lanjut Puri.


Daniar tersenyum. "Ya sudah, nanti titip ini saja buat ibu," pungkas Daniar seraya membawa bungkusan yang berisi daging ayam.


.


.


Tiba di kamar, Daniar menceritakan kejadian di warung tadi kepada suaminya. Yandri hanya tersenyum lebar menanggapi ucapan Daniar.


"Maklumin saja, Bun. Namanya juga orang tua," kata Yandri.


"Iya, Yah. Lagi pula, Bunda tidak terlalu menanggapi apa yang diucapkan Puri. Hmm, mungkin itu hanya salah paham saja karena kurangnya komunikasi," timpal Daniar.


Yandri kembali tersenyum. "Oh iya, Bun. Ngomong-ngomong soal makanan, nasi goreng yang kamu bikinin kemaren, enak loh. Ayah aja sampai beberapa kali nambah tuh," tukas Yandri.


"Benarkah? Alhamdulillah sih, kalau Ayah suka," jawab Daniar.


"Ayah suka, Bun. Apalagi mie goreng yang pertama kali kita sahur, enak banget, Bun," puji Yandri.

__ADS_1


Daniar hanya tersipu malu mendengar pujian suaminya. Nih orang enggak salah makan, 'kan? Kok tumben muji gue ampe segitunya, batin Daniar seraya tersenyum lucu.


Melihat istrinya senyam-senyum sendiri, Yandri pun menggodanya. "Cieee yang lagi seneng abis dipuji suami ...."


"Ish, apaan sih, Yah," tukas Daniar yang pipinya sudah merona bak mawar merekah berwarna merah muda.


Yandri tergelak. Sesaat kemudian, dia merangkul istrinya dari arah belakang.


"Ish, Ayah! Batal!" pekik Daniar seraya memukul pelan lengan suaminya.


.


.


Sore harinya, Daniar merasa heran saat melihat suaminya tengah asyik berkutat dengan peralatan dapur. Dia kebingungan melihat Yandri yang sedang mengiris bawang daun.


Ngapain ayah di dapur, bukankah tadi siang aku sudah masak untuk buka puasa? batin Daniar. Merasa penasaran, Daniar kemudian mendekati suaminya.


"Ayah ngapain?" tanya Daniar.


Yandri menoleh. Dia pun tersenyum kepada Daniar seraya berkata, "Ini, Ayah lagi coba bikin mie goreng, Bun."


"Loh, tadi, 'kan Bunda udah masak, Yah. Bikin mie-nya besok aja lagi, takut enggak kemakan juga, 'kan mubazir," jawab Daniar.


"Enggak apa-apa, Bun. Nanti masakannya kita bagi dua sama ibu," jawab Yandri.


Satu jam bertempur menaklukkan peralatan dapur, akhirnya Yandri berhasil juga menghidangkan masakan yang aromanya begitu menggugah selera.


"Hmm, wangi banget ... kayaknya enak nih," ucap Daniar.


"Pastinya dong," jawab Yandri. "Eh Bun, Ayah mau ke rumah ibu dulu ya, mau nganterin hasil kreasi Ayah," ucap Yandri seraya bergurau.


"Ya sudah, buruan gih. Keburu magrib di jalan," perintah Daniar.


Yandri mengangguk. Selesai menyusun makanannya ke dalam rantang. Yandri pun segera pergi untuk mengantarkan makanan ke rumah ibunya.


Daniar menatap punggung suaminya yang mulai menghilang di balik pintu. Beruntung sekali ibu, yang mendapatkan perhatian dari kamu, Kang. Semoga saja, kelak anak-anak kita memiliki sifat seperti kamu. Penuh rasa sayang dan hormat kepada kedua orang tuanya, batin Daniar seraya menutup pintu kamar.


.


.


Sore ini, Yandri dan Daniar cukup terkejut dengan kedatangan Bu Maryam di sekolah.


"Ibu? Jok tumben datang ke sekolah?" tanya Yandri saat dia membuka pintu kamar.


"Iya, Yan. Ibu kangen sama Bintang," jawab Bu Maryam.


"Ya sudah, ayo masuk Bu," ajak Yandri.

__ADS_1


Bu Maryam memasuki kamar putranya. Kembali dia mengedarkan pandangan. Dahinya sedikit mengernyit saat melihat tempat tidur yang hanya ada satu di kamar itu.


"Niar, Ibu mau nginap di sini. Kamu enggak keberatan, 'kan?" tanya Bu Maryam kepada menantunya.


"Tentu saja Niar enggak keberatan, Bu," jawab Daniar.


Meskipun memang Daniar merasa heran dengan maksud kedatangan ibunya. Namun, saat mengetahui maksud kedatangan ibunya untuk menginap, Daniar pun merasa senang.


"Ya sudah, barang-barangnya simpan di sini saja dulu, Bu. Nanti setelah buka puasa, Yandri bereskan kursinya supaya Ibu bisa tidur dengan nyaman," kata Yandri seraya menyimpan tas ibunya di atas sofa. "Yandri pamit ke masjid dulu ya, Bu," lanjutnya.


Setelah berpamitan kepada ibu dan istrinya, Yandri pergi ke masjid. Sepeninggal suaminya, Daniar mendekati Bu Maryam untuk menawarkan minuman hangat yang akan disajikan berbuka puasa.


"Apa Ibu mau dibuatkan susu coklat atau kopi?" tanya Daniar. "Biar Niar pergi ke warung dulu," lanjutnya


"Tidak usah Niar, nanti saja kalau mau buka puasa," jawab Bu Maryam.


"Tidak apa-apa, Bu. Lima menit lagi azan magrib. Keburu warungnya tutup juga, soalnya di sini warungnya tidak buka sampai malam," jawab Daniar seraya hendak pergi ke luar.


"Ish, tidak usah repot-repot Niar. Ini teh manis juga sudah cukup, kok," jawab Bu Maryam.


"Atau Ibu mau Niar belikan kue?" lanjut Daniar.


"Enggak usah, Niar. Lebih baik kamu sajikan saja makanannya. Biar nanti begitu pulang dari masjid, suami kamu bisa langsung makan," ucap Bu Maryam.


Daniar mengangguk. Sesaat kemudian, dia mulai menghidangkan makanan di atas meja. Saat Daniar hendak membuat teh manis, lagi-lagi mertuanya menolak.


"Biar nanti Ibu yang buat, Niar. Sekalian buat Yandri juga," tukas Bu Maryam.


"Tidak apa-apa, Bu. Biar Niar yang buatkan," jawab Daniar.


"Ish, Niar. Tolong beri Ibu kesempatan untuk melayani anak Ibu sendiri. Sejak Yandri pindah, Ibu sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk dia," ucap lirih Bu Maryam.


Daniar tersenyum. "Tapi ini sudah kewajiban Niar, Bu," jawabnya.


"Tidak apa-apa, Niar. Toh tidak setiap hari ini Ibu melayani anak Ibu sendiri," jawab Bu Maryam.


"Ya sudah, terserah Ibu saja. Kalau begitu, Niar ke kamar mandi dulu," pamit Daniar setelah mendengar suara azan.


"Batalin dulu Niar!" perintah Bu Maryam.


"Oh iya, Bu."


Daniar mereguk teh manis yang tadi dia buat. Dia melirik ibunya yang hanya minum air putih saja. Setelah itu, Daniar pergi ke luar untuk menunaikan salat magrib di mushola.


Saat dia hendak pergi, Bintang merengek ingin ikut. Sepertinya, anak kecil itu merasa kurang nyaman ditinggalkan dengan sang nenek. Dengan terpaksa, Daniar membawa Bintang ke mushola.


Beberapa menit kemudian. Selepas salat, dia kembali ke kamarnya. Namun, tiba di depan pintu kamar, Daniar tertegun saat mendengar pembicaraan sang mertua dengan suaminya.


Ya Tuhan ... apa-apaan ini?

__ADS_1


__ADS_2