
"Iya, Bu!"
Daniar menjawab panggilan dosen cantiknya dengan berteriak pula. Dia mengurungkan niatnya untuk mengintip kegiatan Yandri. Sedetik kemudian, Daniar melangkahkan kaki menuju ruangan Bu Ina.
Mendengar nama Daniar, Yandri mendongak. Dia merasa tak asing dengan nama itu.
Daniar? Niar? Ish, rasanya aku pernah mendengar nama itu. Tapi, di mana? lamun Yandri, sejenak.
"Sepertinya sudah selesai, Yan. Apa sudah bisa dioperasikan sekarang?"
Pertanyaan Pak Bekti seketika membuyarkan lamunan Yandri. Laki-laki itu pun kembali mengalihkan pandangannya menuju layar komputer lagi. Kali ini, bibirnya tersenyum lebar saat sudah berhasil memperbaiki software milik dosennya.
"Iya, Pak. Ini sudah selesai," timpal Yandri.
"Alhamdulillah!" jawab Pak Bekti.
Pria berusia sekitar 60 tahunan, tapi tampak masih bugar, kemudian berjalan menjauhi meja komputer yang sedang Yandri perbaiki. Sesaat, dia menghentikan langkahnya di meja komputer yang layar kacanya berwarna hitam. Beberapa menit kemudian, Pak Bekti kembali melangkahkan kaki menuju meja komputer lain yang sedang bermasalah.
"Sepertinya tinggal dua lagi, Yan. Apa kamu ingin memperbaikinya sekarang, atau ditunda untuk besok saja?" tanya Pak Bekti, kembali menghampiri Yandri.
Yandri melirik jam tangannya. Masih ada waktu sekitar satu jam lagi. Hmm, mumpung hari ini aku pulang ke rumah Kak Aminah, sebaiknya aku perbaiki sekarang saja, batin Yandri.
"Bagaimana, Yan? Sekarang apa besok?" Kembali Pak Bekti bertanya.
"Sekarang saja, Pak. Mumpung saya tidak ada kerjaan juga," jawab Yandri.
"Oke kalau begitu, Meja nomor 3 dan nomor 6 ya, Yan," ucap Pak Bekti.
"Baik, Pak."
Yandri asyik kembali membereskan sisa pekerjaannya di komputer pertama.
Di ruang Bu Ina.
"Tolong kamu periksa tugas mahasiswa-mahasiswi saya, Niar. Anggap saja ini sebagai ganti karena kamu tidak mengikuti perkuliahan saya di jam pertama. kata Bu Ina begitu Daniar tiba di ruangannya.
Hmm, sudah kuduga, batin Daniar, tersenyum tipis.
"Kenapa diam saja? Nggak rela?" tuding Bu Ina.
"Ish, sabar dong Bu. 'Kan butuh proses juga untuk melangkahkan kaki ke sana," gurau Daniar.
"Kamu itu, Niar. Selalu saja banyak alasan," balas Bu Ina.
Daniar tersenyum seraya duduk di kursi yang telah disediakan. Setumpuk buku tugas telah menanti di atas meja. Daniar pun mulai memeriksa buku-buku tersebut satu per satu.
.
.
__ADS_1
Di lain tempat.
"Memangnya Seno ke mana?" tanya Bu Frida saat menantunya datang ke rumah untuk mengadu.
"Kila sendiri tidak tahu, Ma. Sudah hampir seminggu Seno pergi. Tapi dia tidak memberi tahu Kila, ke mana tujuannya," ucap Shakila.
"Sudah kamu hubungi ponselnya?" Sang ayah mertua kini ikut bertanya.
"Sudah Pa, tapi Seno menonaktifkan ponselnya," jawab Shakila.
"Ish, ke mana perginya anak itu?" gerutu Bu Frida.
"Apa mungkin Seno pergi ke Tasik, Ma?" tanya Shakila, cemas.
"Eh, untuk apa dia pergi ke kota itu?" Bu Frida balik bertanya kepada menantunya.
"Ya untuk apalagi kalau bukan untuk menemui Daniar," jawab Shakila, sedikit emosi.
"Haish, jangan asal bicara kamu, Kila. Kamu nuduh Seno, itu artinya kamu tidak mempercayai suami kamu sendiri," tukas Bu Frida.
Merasa kesal dengan jawaban ibu mertuanya, Shakila berdiri.
"Ya, Kila memang nggak percaya sama mas Seno," ucap Shakila seraya menghentakkan kaki dan berlalu pergi dari hadapan mertuanya.
Tiba di rumahnya, Shakila segera menuju kamar. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Shakila mulai menangis karena takut kehilangan suaminya.
.
.
Di ruangan Bu Ina.
"Kamu nggak salat, Niar?" tanya Bu Ina.
"Lagi halangan, Bu," jawab Daniar seraya terus memeriksa tugas yang diberikan dosennya.
Padahal status gua bukan asdosnya Bu Ina. Hanya karena nggak ngikutin kelasnya, akhirnya gua harus terdampar di sini. Huh, benar-benar menyebalkan, gerutu Daniar dalam hatinya.
"Yang ikhlas Niar, kalau bantuin dosennya," celetuk Bu Ina dari kursi kebesarannya.
"Eh, iya Bu. Niar ikhlas kok," jawab Daniar.
Haish, sudah seperti punya indera keenam saja tuh dosen. Bisa tahu apa kata hati gua, batin Daniar seraya melanjutkan pekerjaannya.
Tak lama kemudian, ponsel Bu Ina berdering. Wanita yang berusia lebih dari setengah abad itu mengusap layar ponselnya.
"Oh, sudah di depan ya? Ya sudah, Mami berangkat sekarang. Assalamu'alaikum, Pi!" ucap Bu Ina.
Selesai mengangkat teleponnya, Bu Ina menghampiri Daniar seraya menepuk pelan pundak mahasiswi kesayangannya.
__ADS_1
"Niar, Ibu duluan ya. Soalnya suami Ibu sudah jemput," ucap Bu Ina.
"Lah, saya gimana Bu? Masak ditinggal sendirian," tukas Daniar.
"Tanggung Niar, tinggal tiga buku lagi. Selesaikan sekarang saja," jawab Bu Ina.
"Tapi ini, 'kan sudah malam, Bu. Lagi pula, saya ini perempuan Bu. Memangnya Ibu nggak khawatir kalau saya pulang malam-malam begini?" tanya Daniar merengut.
"Ish, kamu, 'kan jago bela diri Niar. Udah ah, nggak usah banyak protes! Saya pergi dulu. Bye Niar, mahasiswi Ibu yang paling baik," ujar Bu Ina berlalu pergi.
Daniar hanya mengerucutkan bibirnya melihat tingkah dosen tak berakhlak itu.
Dua puluh menit berlalu.
"Aaah, akhirnya selesai juga," gumam Daniar seraya menggeliatkan badan, meregangkan otot-ototnya. Lepas itu, Daniar membereskan buku-buku mahasiswa dan menyimpannya di meja kerja Bu Ina.
Sejenak, Daniar melihat jam tangannya. Sudah hampir pukul 7 malam.
"Ya Tuhan ... demi apa gua kuliah ampe jam segini," gerutu Daniar.
Setelah membereskan tasnya, Daniar pun segera pergi dari ruang dosen.
"Baru pulang, Neng?" sapa Pak Man, penjaga kampus.
"Iya, Mang," jawab Daniar.
"Perlu Mamang hentikan angkot?" tawarnya.
"Tidak usah, Mang. Saya sudah pesan taksi online kok," jawab daniar.
"Oh ya sudah kalau begitu. Mamang lanjutkan beres-beresnya ya, Neng."
Daniar mengangguk. Setelah Pak Man menjauh, Daniar pun melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang.
Jalanan mulai sepi. Volume kendaraan mulai berkurang. Daniar menyandarkan punggungnya pada gerbang kampus. Wajahnya menengadah, matanya terpejam untuk merasai keletihan yang mendera tubuhnya. Tiba-tiba saja, seseorang mencekal pergelangan tangan Daniar dan menariknya dengan kuat.
"Ikut aku!" ucap orang tersebut.
Daniar terkejut. Matanya membelalak sempurna saat mendapati orang yang tak asing tengah menyeretnya.
"Apa-apaan ini, lepaskan aku!" teriak Daniar.
Orang itu tak menggubris teriakan Daniar. Genggaman tangannya semakin erat saat Daniar memberontak untuk melepaskan diri.
"Lepaskan aku brengsek!" umpat Daniar sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman orang itu.
Lagi-lagi, orang itu tidak menghiraukan Daniar. Meskipun tangannya sudah terluka akibat cakaran kuku Daniar. Namun, dia tak melepaskan tangan Daniar. Hingga saat orang itu membuka pintu mobil dan mendorong Daniar untuk memasukinya,
Brakk!
__ADS_1
"Lepaskan dia!"