
Daniar benar-benar tidak habis pikir dengan hati suaminya. Pria itu sepertinya tidak pernah terganggu oleh sikap saudaranya. Meski telah diperalat sekalipun. Namun, sebanyak apa Daniar mengeluh, seorang Yandri tetaplah Yandri, yang tidak akan terpengaruh oleh sebuah keluhan sang istri. Sabar. Ya! Hanya kata sabar yang akan selalu terucap dari bibir Yandri saat menanggapi keluhan Daniar.
.
.
Sepekan telah berlalu, bukannya ikut mengunjungi putranya, Bu Maryam malah memilih untuk pulang.
"Bapak tidak ada yang menemani di rumah, Nah. Sekarang Ibu tidak bisa meninggalkan rumah terlalu lama juga, kasian bapakmu," jawab Bu Maryam saat Aminah mengajaknya menjenguk Yandri.
"Lagian, siapa suruh nikah lagi. Repot, 'kan, jadinya. Berkunjung ke rumah anak pun, tidak bisa lama-lama," tukas Rahmat.
"Kang, huss!" tegur Aminah seraya menepuk pelan paha suaminya.
Bu Maryam hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan menantunya. Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu rumah Aminah. Rahmat beranjak dari tempat duduk untuk melihat siapa yang datang.
"Kamu, Har," ucap Rahmat saat pintu telah terbuka.
"Iya, Kang. Bahar mau menjemput ibu. Kata Habibah, ibu sudah ingin pulang," jawab Bahar.
"Masuklah, dari tadi ibu sudah tak sabar menunggu jemputan," sahut Rahmat.
Bahar tersenyum lebar. Ibu memang gitu, Kang. Selalu terburu-buru," ujar Bahar.
"Hmm, kamu benar, Har," timpal Rahmat. "Padahal, rencananya besok Akang mau mengajak ibu menjenguk Yandri," imbuhnya.
"Loh, jadi Akang belum menjenguk Yandri?" tanya Bahar.
"Gimana mau jenguk Yandri, Har. Pernikahan Nisa cukup menguras waktu dan tenaga juga," jawab Rahmat memberikan alasan.
"Hmm, Akang benar juga. Tapi syukurlah semuanya berjalan lancar," imbuh Bahar.
"Ya, alhamdulillah ... sekarang Akang bisa bernapas dengan lega," balas Rahmat.
"Ngomong-ngomong, apa Nisa belum pulang dari bulan madunya?" Bahar kembali bertanya.
"Belum, rencananya mereka mau pergi berbulan madu selama dua minggu, Har. Mungkin minggu depan mereka baru pulang," jawab Rahmat.
"Kamu mau jemput Ibu atau mau ngobrol di depan pintu saja?" teriak Bu Maryam yang merasa kesal melihat para menantunya malah bergosip.
__ADS_1
"Eh, i-iya Bu," sahut Bahar.
Tak lama kemudian, Bahar masuk. Setelah bersalaman dengan kakak iparnya, Bahar mengambil tas milik sang mertua.
"Ibu pulang dulu, Minah," pamit Bu Maryam.
"Iya, Bu. Hati-hati di jalan," jawab Aminah.
.
.
Di kediaman Bu Salma.
"Kak Minah belum ada kabar, Yah?" tanya Daniar saat dia bersama suaminya sedang menikmati senja di gazebo belakang.
"Belum, Bun," jawab Yandri.
"Ish, padahal ini sudah seminggu lebih loh, Kang. Jangan-jangan, dia mangkir lagi," kata Daniar menduga-duga.
"Jangan su'udzon dulu, Bun. Mungkin mereka masih sibuk," tukas Yandri.
"Ish, sudah seminggu masak sibuk terus sih, Kang? Sibuk ngapain aja, bayar utang?" Daniar mendengus kesal.
"Tapi ke ibu juga tetep utang Yah, namanya. Jangan mentang-mentang pinjam melalui Ayah, lantas mereka bisa mengabaikannya begitu saja," ucap Daniar.
"Bukan mengabaikan, Bun. Mungkin mereka belum punya waktu luang juga," sanggah Yandri.
"Hmm, bela aja terus, Yah. Entar juga nyesek sendiri. Ayah, 'kan gitu, baru bilang perih saat tergores!" Daniar kembali mendengus kesal. Sejurus kemudian, dia pun beranjak meninggalkan suaminya.
Yandri menghela napas. Sebenarnya, dia sendiri merasa heran kenapa kakaknya belum juga datang untuk mengembalikan uang yang telah dipinjam. Padahal, janjinya Aminah akan segera mengembalikan pinjaman tersebut dua atau tiga hari setelah pernikahan selesai. Namun, nyatanya sampai seminggu lebih sehari pun mereka belum juga datang.
Terkadang, Yandri merasa malu oleh ibu mertuanya. Meskipun Bu salma tak pernah menagih, tapi Yandri merasa tak enak hati karena janjinya belum bisa dia penuhi.
Ya Tuhan, Kak ... tolong jangan biarkan kepercayaan mertua Yandri hilang, batin Yandri.
Semilir angin malam mulai menusuk kulit tubuhnya. Yandri pun beranjak dari tempat duduk. Sedetik kemudian, dia masuk rumah untuk beristirahat.
.
__ADS_1
.
Setelah menunggu selama sepuluh hari, Aminah dan Rahmat pun datang untuk menjenguk Yandri. Pria jangkung itu tersenyum tulus menyambut kedatangan kakak dan kakak iparnya. Sedangkan Daniar, dia malah menyibukkan diri di dapur karena masih merasa kesal dengan kunjungan mereka.
"Huh, sudah hampir sebulan sejak pulang dari rumah sakit, mereka baru datang. Percuma!" dengus Daniar.
"Jangan seperti itu, Kak. Enggak baik," tegur Bu salma.
Daniar hanya tersenyum kecut mendengar teguran sang ibu.
"Harusnya kamu bersyukur karena ternyata mereka masih ingat sama suami kamu," imbuh Bu Salma.
"Telat, Bu. Mungkin kalau mereka tinggal di luar kota, Niar masih bisa memahaminya. Tapi ini Tasik loh, Bu. Mereka tinggal di Tasik yang jaraknya cuma sekitar 15 menit untuk datang kemari, tapi kenapa baru sekarang mereka datang? Padahal pernikahan anaknya sudah lewat seminggu," sanggah Daniar.
"Sudah ah, enggak baik menggerutu terus. Ayo cepat sajikan camilannya!" pungkas Bu Salma.
Dengan masih memasang wajah kecut, Daniar membawa nampan yang berisi sepiring bakwan dan goreng pisang untuk disuguhkan kepada tamu suaminya. Saat dia tiba di depan pintu yang sedikit terbuka, tanpa sengaja dia mendengar percakapan suami dan kakaknya.
"Maaf Yan, Kakak baru bisa mengembalikan uang ini setengahnya saja. Setengahnya lagi dibawa Nisa berbulan madu. Tapi Nisa berjanji, dia akan segera melunasinya begitu pulang dari Pangandaran," tutur Aminah.
Yandri diam. Tidak dia pungkiri jika dia kembali terluka dengan sikap ingkar sang kakak. Namun, lagi-lagi dia kalah melihat tatapan sendu Aminah. Dengan tersenyum tulus, Yandri hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Iya, Kak. Tidak apa-apa," balas Yandri.
Kedua lutut Daniar terasa lemas seketika saat mendengar jawaban suaminya.
Ya Tuhan, Kang. Kok bisa-bisanya kamu berkata tidak apa-apa. Padahal kamu sendiri tahu jika uang itu bukan milik kita, batin Daniar.
"Kok masih di sini, Ni?" tegur Bu Salma.
Lagi-lagi, wanita paruh baya itu menegur anaknya yang sedang melamun di depan pintu kamar paviliun. Entah kenapa, Bu Salma merasa kalau akhir-akhir ini dia sering memergoki putri sulungnya sedang melamun. Entah apa yang terjadi pada Daniar. Bu Salma sendiri belum ingin bertanya, karena takut dianggap terlalu ikut campur dalam kehidupan rumah tangga anaknya.
"Ayo dong, Ni. Suguhkan camilannya," lanjut Bu Salma.
"Iya, Bu," jawab Daniar.
Sedetik kemudian, Daniar membuka pintu kamar paviliun. Dia melihat iparnya tersenyum manis menyambut dirinya. Ish, senyum penuh kepalsuan, batin Daniar, kesal.
Daniar sendiri tidak mampu bersikap munafik dengan menyembunyikan semua perasaannya. Setelah menyuguhkan camilan dan minuman kepada iparnya, Daniar segera keluar dari kamar paviliun. Dia sudah tidak berselera lagi untuk mendengarkan omongan adik berkakak itu.
__ADS_1
Hatinya kembali terluka. Sangat terluka oleh sikap suaminya yang tidak pernah bersikap tegas.
"Astaghfirullahaladzim ...."