
"Mi-a ... A-abang rindu Mia," ucap Raihan di sela-sela ciumannya.
Mia menatap sendu wajah yang sudah memerah karena menahan hasrat. Dengan lincah, jari jemari lentik Mia sudah membuka kancing kemeja Raihan satu per satu. Setelah lolos terbuka, bibir Mia menyentuh dada berbulu tipis Raihan. Embusan hangat di dadanya, membuat darah Raihan semakin berdesir hebat. Tak sanggup menahan si kecil yang mulai berdiri, akhirnya Raihan mendorong tubuh Mia hingga berbaring pasrah. Kecupan-kecupan sedikit nakal pun dia layangkan di sekitar leher Mia. Membuat tubuh gadis itu semakin menggelinjang.
Tangan jahil Raihan mulai menyusup di balik blouse merah jambu yang Mia kenakan. Menyentuh sesuatu yang kenyal di balik kacamata berenda. Sembari melayangkan gigitan kecil di sekitar leher Mia, tangan jahil itu pun ikut beraksi.
"Ish," ringis Mia seraya memejamkan mata saat bukit kembarnya kembali terjamah jari jemari nakal.
Raihan tersenyum penuh arti. Sedetik kemudian, bibir Raihan mulai melahap habis puncak bukit yang penuh sensasi itu.
"Woy, tutup pintu dulu kalau mau gelud," dengus Sani yang berusaha menahan hasrat karena melihat pertunjukan semi di kamarnya. Sejurus kemudian, Sani menutup pintu kamarnya seraya terus menggerutu.
.
.
"Apa?! Mia hamil?" pekik Daniar
"I-iya, Kak. Apa Kak Niar tahu obat penggugur kandungan?" tanya Raihan.
"Ish, jangan gila kamu, Dek!" tukas Daniar.
"Habisnya, Raihan bingung harus gimana, Kak. Bang Yandri pasti marah besar kalau tahu Mia hamil. Raihan pasti bisa diusir bang Yandri dari rumah, Kak," balas Raihan.
"Iya, dan nyawa kamu pun pasti akan melayang kalau sampai nekat membunuh darah daging kamu sendiri," dengus Daniar kesal.
"Terus, Rai harus gimana, Kak? Rai enggak sanggup ngomong sama abang. Kakak, 'kan tahu sendiri gimana bang Yandri kalau sudah marah," jawab Raihan.
__ADS_1
"Sudah, kamu tenang saja Dek. Biar nanti Kakak yang akan bicara sama abang kamu. Yang penting, kamu harus bisa bujuk Mia agar tidak menggugurkan kandungannya, oke," ucap Daniar.
"Baik, Kak. Nanti Raihan omongin sama Mia. Makasih atas bantuannya ya, Kak. Raihan enggak tahu kalau enggak ada Kakak. Sekali lagi, makasih banyak Kak, karena Kakak sudah mau mendukung Raihan."
"Iya, Sama-sama. Kamu itu adiknya Kakak. Sudah sepatutnya Kakak bantu kamu. Ya sudah, Kakak tutup dulu teleponnya, ya. Nanti Kakak kabari lagi kalau sudah bicara sama abang kamu. Assalamu'alaikum," pungkas Daniar seraya menutup sambungan teleponnya.
"Bicara apa, Bun? Kehamilan perempuan itu?" tegur Yandri.
Daniar terhenyak mendengar teguran suaminya. Sontak dia menoleh dan semakin terkejut tatkala melihat suaminya tengah berdiri di ambang pintu seraya melipat kedua tangannya di dada.
"A-ayah? Sejak kapan Ayah di sini?" tanya Daniar.
"Jadi benar, perempuan itu hamil?" Sepertinya Yandri sudah tidak ingin berbasa-basi lagi.
Daniar menghampiri Yandri. Dia kemudian meraih kedua tangan Yandri dan menggenggamnya dengan erat.
Yandri hanya bisa membuang napasnya dengan kasar. Dia menarik kedua tangannya dari genggaman tangan istrinya. Sesaat kemudian, dia masuk dan mendaratkan bokongnya di atas sofa.
"Tolong kamu hubungi Raihan dan bilang agar dia meminta restu ibu. Ayah sudah tidak ingin bicara apa-apa lagi tentangnya. Katakanlah itu yang terbaik untuk mereka, tapi Ayah tidak ingin ikut campur lagi urusan mereka. Dan Ayah harap, Bunda bisa mendukung keputusan Ayah," jawab Yandri
Daniar paham dengan perkataan suaminya. Sedetik kemudian, dia mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Segera hubungi ibu dan memintanya pulang, Dek. Abang ingin segera mendiskusikan hal ini dengan ibu dan kakak-kakak kamu yang lainnya. Maafkan Kak Niar, Dek. Hanya ini yang bisa Kakak lakukan. Selebihnya, silakan kamu berdiskusi dengan saudara-saudara kamu. Tugas Kakak cukup sampai di sini. Karena Abang kamu tidak memperkenankan Kakak untuk terlalu ikut campur. Sekali lagi, Kakak minta maaf. Semoga ada jalan keluar yang terbaik bagi hubungan kamu sama Mia.
Setelah mengetik pesannya yang cukup panjang lebar, Daniar kemudian mengirimkan pesan tersebut kepada adik iparnya. Sejurus kemudian, dia duduk di samping Yandri seraya memeluknya.
"Maafkan kelancangan Bunda yang sudah terlalu jauh ikut campur urusan Raihan, Yah," ucap pelan Daniar.
__ADS_1
Yandri meraih bahu Daniar dan merangkulnya. "Tidak apa-apa, Bun. Kita berhak ikut campur selama Raihan masih hidup sendiri. Namun, di saat dia memutuskan untuk tidak mematuhi nasihat kita, itu artinya dia sudah merasa dewasa. Ayah harap, Bunda tidak harus terlibat lagi dengan permasalahan yang akan dia bawa. Biarkan dia menyelesaikan sendiri semua masalahnya. Kita tidak harus ikut campur lagi dengan semua urusannya," jawab Yandri seraya mencium pucuk kepala Daniar.
.
.
Dua hari telah berlalu. Setelah diberi tahu tentang kelakuan anak bungsunya yang sudah menghamili anak orang, akhirnya Bu Maryam memutuskan untuk pulang kampung. Hatinya benar-benar hancur melihat kenyataan anak yang begitu dia banggakan, telah menaruh aib pada nama keluarganya.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Semarah apa pun Bu Maryam terhadap Raihan, dia tetap tidak bisa membenci anaknya. Bagaimanapun juga, Raihan adalah darah dagingnya sendiri. Mungkin dia khilaf, dan Raihan harus bisa menebus semua dosa-dosanya.
"Rai minta maaf, Bu. Rai benar-benar khilaf, huhuhu,..." Raihan menangis tersedu sambil berlutut di bawah kaki ibunya.
Perih. Sangat perih sekali hati Bu Maryam melihat anak bungsunya mengakui semua kesalahannya. Lidah Bu Maryam terasa kelu. Rasa marah, sedih, kecewa ... semuanya bercampur menjadi satu. Dia tidak habis pikir kenapa Raihan bisa melakukan dosa sebesar itu. Padahal, sejak kecil Bu Maryam selalu membekali putra-putrinya dengan ilmu agama.
Tak sanggup berkata apa-apa lagi, Bu Maryam beranjak dari kursi. Dengan langkah gontai, dia memasuki kamarnya. Tiba di kamar, Bu Maryam pun menumpahkan semua rasanya lewat tangisan. Kedua tangannya memeluk foto almarhum sang suami
Yandri yang sangat paham dengan sikap ibunya, segera mengetuk pintu untuk meminta izin masuk. Karena tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Yandri menekan gagang pintu dan membukanya. Melihat sang ibu yang sedang menangis sambil memeluk foto mendiang ayahnya, Yandri pun menghampiri Bu Maryam. Yandri kemudian duduk di samping ibunya. Dia merangkul bahu Bu Maryam dan menariknya ke dalam pelukan. Bu Maryam semakin terisak di dalam pelukan anaknya.
"Apa dosa ibu, Nak? Apa dosa Ibu sehingga Ibu harus menanggung aib seperti ini?" ratap Bu Maryam terdengar memilukan.
Yandri tak mampu menjawab. Dia hanya bisa mengusap punggung ibunya seraya menitikkan air mata.
"Sabar, Bu. Ibu selalu bilang sama Yandri untuk selalu bersabar agar kita bisa memiliki jiwa yang besar," ucap Yandri.
"Tapi kenapa, Yan? Kenapa adik kamu bisa melakukan kesalahan ini? Padahal Ibu sudah membekali dia ilmu agama sejak kecil. Kenapa dia tega menyakiti hati ibu dengan perbuatan hinanya, Yan? Kenapa?" Kembali Bu Maryam meratapi semua kesalahan anak bungsunya.
"Bekal agama saja tidak cukup, Bu. Karena itu kita perlu ilmu darigama agar bisa lebih menyempurnakan keyakinan kita. Sudahlah, Bu. Tidak ada gunanya kita menyesal. Toh dengan menyesal pun, tidak akan bisa merubah keadaan. Dari kejadian ini, kita menjadi lebih tahu bahwa pendidikan itu sangat penting untuk kehidupan putra-putri kita," tegas Yandri.
__ADS_1