
"Semuanya jadi berapa, Bik?" tanya Yandri setelah menerima satu dus penuh yang berisi makanan pesanan istrinya.
"250 ribu saja, Pak Yan," sahut Bik Mumun.
Yandri mengeluarkan tiga lembar uang pecahan seratus ribuan dan menyerahkannya kepada Bik Mumun. Setelah mendapatkan kembaliannya, dia kemudian segera berpamitan kepada Bik Mumum
"Eh, pak Yan, tunggu!" seru bik Mumun mencegah kepergian Yandri saat melihat pria itu hendak memakai sandalnya. Sedetik kemudian,Bik Mumun pergi ke kamarnya.
Yandri menunggu untuk beberapa saat. Hingga tak lama berselang, Bik Mumun keluar sambil membawa bungkusan berwarna coklat.
"Ini ada hadiah kecil untuk Bintang," ujar Bik Mumun seraya menyerahkan bungkusan itu.
"Waduh, kok jadi ngerepotin begini, Bik?" tukas Yandri yang merasa tidak enak hati menerima hadiah dari Bik Mumun.
"Apa sih, Pak Yan. Enggak ngerepotin, kok. Itu cuma hadiah kecil saja. Tapi jangan dilihat dari harganya ya, Pak," gurau Bik Mumun.
"Ah, Bik Mumun bisa saja," tukas Yandri, "terima kasih hadiahnya, Bik. Nanti saya sampaikan sama Bintang," lanjut Yandri.
"Iya sama-sama."
.
.
Tiba di kamarnya, Yandri melihat anak dan istrinya sedang membuka kado yang tadi dia taruh di atas meja.
"Eh, anak Ayah sudah bangun? Waduh, lagi ngapain ini?" tanya Yandri.
"Ini Yah, Bintang lagi kepoin kado-kado," sahut Daniar dengan suara mirip anak kecil.
"Oh iya, ngomong-ngomong soal kado, Ayah masih punya kado satu lagi buat Bintang. Taraaaa," ucap Yandri seraya mengeluarkan bungkusan coklat yang diberikan bik Mumun.
"Wah, kado dari siapa ini, Yah?" tanya Daniar.
"Dari bik Mumun," jawab Yandri seraya menyimpan kado tersebut di atas pangkuan putrinya.
"Ayo buka kadonya, Dek. Bunda penasaran nih, Wawa kasih apa ya, buat Dedek?" kata Daniar.
Bintang hanya berceloteh seraya menepuk-nepuk bungkusan tersebut. Akhirnya, dengan bantuan sang bunda, Bintang berhasil membuka kado spesial dari bik Mumun.
"Masya Allah, cantik bener bajunya ya, Dek," puji Daniar pada isi kado pemberian bik Mumun.
Ternyata kado itu berisi sebuah gaun pesta berwarna maroon yang memiliki renda pada bagian dadanya, dengan aksen sebuah pita besar di bagian pinggang sebelah kanan. Bintang tampak senang melihat baju tersebut. Dia merangkak mendekat Daniar untuk meraih gaun pestanya.
"Dedek mau pakai, bajunya?" tanya Daniar.
Gadis kecil itu tersenyum.
__ADS_1
Daniar meraih Bintang dan mendudukannya di pangkuan. "Dedek boleh memakai baju ini, tapi nanti malam ya, pas acara ulang tahunnya Dedek," lanjut Daniar.
Entah mengerti atau tidak, gadis kecil itu hanya mengangguk-anggukan kepala.
"Isi kadonya apa saja, Bun?" tanya Yandri yang juga mulai penasaran dengan isi kado-kado yang berserakan di atas kasur tadi siang.
"Tuh!" Mata Daniar menunjuk tumpukan makanan, uang dan beberapa mainan yang tergeletak di atas kasur.
Yandri tersenyum, "Hmm, ini pasti ulah anak-anak, Bun," kata Yandri.
"Bisa jadi," timpal Daniar
"Ya sudah, ayo kita kemas snack-nya," pungkas Yandri.
Daniar mengambil beberapa jenis mainan supaya anaknya anteng. Sementara itu, dia dan suaminya mulai membuat bingkisan snack untuk anak-anak pengajian. Sebentar lagi waktu magrib akan segera tiba.
.
.
Selepas azan magrib, anak-anak sudah berkumpul di halaman sekolah. Sementara, pulang dari masjid, Yandri mengambil alih Bintang karena ibunya hendak salat. Yandri meraih kunci kelas 6 dan menyerahkannya kepada murid yang paling tua di antara teman-temannya.
"Tian, tolong kamu buka pintu kelas 6. Suruh teman-temannya masuk, setelah itu pimpin do'a," perintah Yandri kepada Tian.
"Baik, Pak," jawab Tian seraya mengambil kunci yang diserahkan Yandri.
Saat anak-anak tengah berdo'a, Yandri datang ke kelas membawa putrinya yang sudah memakai gaun pemberian bik Mumun.
"Assalamu'alaikum, anak-anak!" sapa Yandri.
"Wa'alaikumsalam, Pak," jawab serempak para murid.
Malam ini, acara pengajiannya diganti dengan tasyakuran Dedek Bintang ya, anak-anak," ucap Yandri.
"Iya, Pak." Anak-anak kembali menjawab secara berbarengan.
"Nah, sebelum acaranya dimulai, kita tunggu bundanya Bintang terlebih dahulu. Oh iya, Bintang juga mau mengucapkan terima kasih buat kakak-kakak yang telah memberikan kado spesialnya tadi siang. Semoga kebaikan kakak-kakak sekalian, Allah ganti dengan berlipat ganda. Aamiin ya robbal alamin."
Tak berapa lama kemudian, Daniar datang dengan membawa bingkisan snack untuk dibagikan kepada anak-anak. Setelah dia nenaruh bingkisan tersebut, Daniar ikut bergabung bersama anak dan suaminya.
Lantunan kalimat-kalimat toyibah mulai bergema di ruangan tempat mereka mengaji. Dimulai dengan melafalkan surat-surat pendek, hingga do'a bersama, dibacakan penuh dengan khidmat. Tiba-tiba ....
"Bintang kok enggak tiup lilin?" celetuk seorang anak berusia TK.
"Ssst!" tukas kakak anak itu seraya menempelkan jari telunjuknya di bibir.
Daniar dan Yandri hanya bisa saling pandang. Mereka memang tidak menyiapkan dana untuk membeli kue ulang tahun. Terlebih lagi, Daniar berpikir jika Bintang belum mengerti apa-apa tentang tradisi ulang tahun.
__ADS_1
Yandri tersenyum. Dia kemudian menjawab jika Bintang belum bisa meniup lilin. Namun ....
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun, Bintang
Semoga panjang umur.
Salah satu rekan kerja Daniar dan Yandri yang kebetulan rumahnya dekat dengan sekolah, datang dengan membawa kue tart berkarakter mini mouse. Kue tersebut dilengkapi dengan lilin angka 1 berwarna merah. Daniar dan Yandri kembali saling tatap melihat pemandangan di hadapannya.
"Selamat ulang tahun, Dedek Bintang," ucap Bu Ovie seraya mencium kedua pipi Bintang bergantian.
"Tueh ... tueh ... Nda, tueh," celoteh Bintang seraya bertepuk tangan.
Semua anak-anak ikut bertepuk tangan melihat kue yang dibawakan Bu Ovie.
"Ayo tiup lilinnya, Dek," seru Dino.
Kembali anak-anak bertepuk tangan sambil menyanyi tiup lilin.
Bintang semakin tergelak saat mendengar riuhnya tepuk tangan. Gadis kecil itu pun ikut-ikutan bertepuk tangan.
"Ayo Dek, tiup lilinnya," perintah Bu Ovie.
Namun, tentu saja Bintang tidak paham dengan apa yang diperintahkan teman ayahnya itu.
"Ya sudah, Bunda saja deh, yang lilinnya," lanjut Bu Ovie.
Daniar tersenyum. Menemani Bintang, dia pun sedikit mencondongkan wajahnya untuk meniup lilin.
"Bhahaha, ..." Bintang kembali tertawa saat nyala api di lilin padam.
Setelah acara tiup lilin dan potong kue selesai, satu per satu anak-anak pengajian maju ke depan untuk mengucapkan selamat kepada Bintang. Dilanjutkan dengan pembagian bingkisan alakadarnya dari kedua orang tua Bintang.
Baik Bintang ataupun anak-anak pengajian, mereka terlihat senang dengan acara ulang tahun alakadarnya ini. Setelah menutup acara, anak-anak pengajian pun membubarkan diri.
"Terima kasih ya, Bu atas kue ulang tahunnya," ucap Daniar kepada rekan kerjanya.
"Sama-sama," jawab Bu Ovie.
"Ngomong-ngomong, dari mana Bu Ovie tahu kalau Bintang berulang tahun hari ini?" tanya Yandri.
"Hmm, tadi pagi Alvin heboh minta dibelikan mainan edukasi kepada ayahnya. Awalnya ayahnya Alvin tidak menghiraukan permintaan Alvin. Soalnya mainan yang diminta Alvin tidak sesuai dengan usianya. Rupanya, mainan itu buat kado Bintang. Karena di dapur masih terdapat bahan makanan, daripada ngelamun di hari Minggu, ya sudah saya bikin kue aja buat Bintang. Semoga suka kuenya ya Dek," tutur Bu Ovie.
"Sekali lagi, terima kasih, Bu."
__ADS_1