
Hari pertama di rumah panggung milik Bik Nining. Pagi-pagi sekali Daniar bangun dan mulai melakukan aktivitasnya. Alhamdulillah, semalam Bintang tidur nyenyak sekali, mungkin karena udara di rumah panggung terasa hangat. Hingga menjelang subuh, Bintang masih terlelap.
"Ada yang bisa Ayah bantu, Bun?" tanya Yandri yang melihat Daniar sedang asyik masak.
"Ayah tolong bantu jemur pakaian yang sudah Bunda cuci saja," jawab Daniar.
"Baik, Bu Bos," sahut Yandri seraya pergi ke belakang untuk menjemur pakaian.
.
.
Dering telepon milik Yandri terdengar begitu nyaring. Yandri yang kebetulan sedang berada di kamar mandi, segera berteriak memerintahkan Daniar untuk melihat id name si pemanggil.
"Siapa yang menelepon, Bun?" teriak Yandri dari dalam kamar mandi.
"Roni, Yah. Angkat, jangan?" jawab Daniar dari depan pintu kamar mandi.
"Diangkat saja, Bun!" Kembali Yandri memberikan perintah.
Daniar segera mengangkat telepon dari adik iparnya.
"Assalamu'alaikum, Ron!" sapa Daniar.
"Wa'alaikumsalam. Eh, Kak Niar ... Bang Yandri ke mana?" Roni bertanya dari seberang telepon.
"Bang Yandri lagi di kamar mandi, Ron. Ada pesan?" tanya Daniar.
"Iya, Kak. Motor yang kemarin diminta bang Yandri, saat ini sudah tersedia, tapi si penjual minta harga tiga juta, gimana Kak? Dia bilang, jawabannya ditunggu secepatnya. Soalnya, sudah ditungguin orang lain juga," sahut Roni.
"Bentar ya, Ron. Kamu ngomong langsung aja deh sama abang kamu. Nih, orangnya baru keluar," kata Daniar yang langsung menyerahkan ponsel suaminya.
Yandri menerima ponselnya dari tangan Daniar.
"Iya, Ron. Kenapa?" Yandri bertanya seraya melangkahkan kaki menuju ruang tengah.
Tak ingin terlalu ikut campur urusan suaminya, Daniar kembali ke kamar untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Dua hari setelah Roni menelepon, tiba-tiba Yandri pulang sekolah dengan mengendarai motor. Dari kejauhan, Daniar tersenyum lebar saat melihat Yandri mendekat.
__ADS_1
"Ini motornya, Yah?" tanya Daniar.
"Iya, Bun. Gimana? Bagus, enggak?" tanya Yandri.
"Emm, lumayan sih,";jawab Daniar seraya berkeliling untuk mengamati body motor tersebut.
"Ya, namanya juga barang bekas, Bun. Yang penting, suratnya komplit dan masih layak pakai juga," balas Yandri.
"Iya, Ayah benar. Ya sudah, cepat temui Bintang dulu. Dari tadi dia nanyain Ayah terus," perintah Daniar yang kembali mengangkat pakaian kering dari tali jemuran.
Yandri menstandarkan motornya dan segera memasuki rumah untuk menyapa buah hatinya. Di ruang tengah, tampak Bintang yang lagi anteng bermain puzzle.
"Apa kabar anak Ayah yang paling cantik?"
.
.
Seminggu pertama tinggal di rumah baru, membuat Daniar begitu menikmati perjalanan rumah tangganya. Meski hanya menumpang, tapi Daniar benar-benar merasakan arti sesungguhnya dalam menjalani biduk rumah tangga. Hingga suatu hari, entah tahu dari mana, tiba-tiba saja Bahar datang ke rumah Daniar.
Tok-tok-tok!
Matahari belum keluar dari persembunyiannya. Namun, pintu rumah Daniar sudah gaduh dengan ulah seseorang yang mengetuknya dari luar.
Semalaman Yandri mengerjakan tugas sekolah. Hingga menjelang dini hari, dia baru bisa memejamkan mata.
"Enggak tahu, Yah. Buka gih, takutnya ada tetangga yang memang ingin meminta bantuan kita," jawab Daniar masih memejamkan matanya.
Dengan malas, Yandri bangun untuk melihat siapa yang sudah mengganggu tidurnya di pagi buta begini.
"Iya, sebentar!" teriak Yandri, berjalan dengan mata setengah tertutup.
Ceklek!
Pintu terbuka. Yandri cukup terkejut melihat kakak iparnya tengah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Kang Bahar? Ada apa Kang Bahar kemari? Apa ada sesuatu yang terjadi di rumah?" cecar Yandri yang sudah berpikiran buruk saat melihat iparnya datang subuh-subuh begini
"Iya, Yan ... sesuatu memang telah terjadi. Ini juga, Akang ke sini mau minta bantuan kamu," jawab Bahar seraya memasuki rumah Yandri meskipun belum dipersilakan.
__ADS_1
Yandri mengikuti Bahar yang telah duduk bersila di atas karpet. Dia pun turut duduk berhadapan dengan kakak iparnya.
"Memangnya ada apa, Kang? Bantuan seperti apa yang Akang butuhkan?" Kembali Yandri bertanya.
"Akang mau pinjam uang buat beli bensin, Yan. Akang mau berangkat ngojeg di daerah Sukawarna, tapi saat ini Akang kehabisan bensin untuk menuju ke sana," ucap Bahar panjang lebar.
Yandri hanya menghela napasnya. Jadi, kegaduhan Bahar yang dilakukan subuh-subuh begini hanya meminjam uang untuk membeli bensin? Ya Tuhan ... apa orang ini tidak bisa menunggu sampai matahari terbit? batin Yandri.
Dengan perasaan dongkol, Yandri kembali ke kamar untuk mengambil uang. Beberapa menit kemudian, dia kembali ke ruang tengah untuk memberikan uang tersebut kepada Bahar.
Setelah mendapatkan keinginannya, Bahar kemudian pergi tanpa permisi. "Ih, sudah seperti kadal lewat saja," gerutu Yandri sambil berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Sebentar lagi, azan subuh berkumandang.
Bukan hanya Yandri yang merasa kesal dengan gangguan di pagi buta begini. Daniar pun ikut mendengus kesal saat mendengar percakapan suami dan iparnya.
Ish, tuh orang enggak tahu diri banget, sih. Masak pagi-pagi sudah pinjam uang. Enggak bisa nunggu sampai siangan apa? Orang tua bilang, 'kan pamali kalau subuh-subuh ngutang, batin Daniar.
.
.
Dan rupanya, tragedi subuh-subuh itu tidak hanya terjadi sekali dua kali saja. Sudah seminggu berturut-turut, Bahar datang hanya untuk meminjam uang bensin. Bukan hanya Bahar, semenjak tahu anaknya sudah pindah, Bu Maryam pun sering berkunjung ke rumah Yandri. Sayangnya, kunjungan Bu Maryam selalu memiliki maksud lain. Hingga lama-lama, Daniar merasa jengah juga. Setiap kali ibu mertuanya datang, hanya keluhan dan keluhan yang dia dengar dari bibirnya.
Ya Tuhan ... kapan ibu akan merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang sudah dimilikinya? batin Daniar.
"Yah, Bunda perhatikan, kok sekarang sikap ibu berubah ya?" ucap Daniar saat mereka sedang bercengkerama di kamar.
"Maksud Bunda?" tanya Yandri, heran.
"Iya, dulu ibu mana pernah mengunjungi kita di sekolah. Tapi sekarang, hampir setiap hari ibu datang kemari. Kadang sehari sampai dua kali. Sudah seperti minum obat saja. Hehehe," gurau Daniar seraya terkekeh.
"Mungkin dulu karena kita tinggal di sekolah juga, Bun. Jadi, ibu merasa sungkan untuk mengunjungi kita. Tapi sekarang, 'kan beda. Meskipun numpang, tapi ya di rumah. Jadinya ibu enggak perlu sungkan lagi untuk bertamu," ungkap Yandri mengutarakan pendapatnya.
"Hmm bisa jadi sih. Tapi Bunda heran sama ibu. Setiap kali ibu datang, kalau engga ngeluh ya pasti minta sesuatu. Entah itu uang, beras, bahan makanan, semuanya tak pernah luput dari tangan jahilnya, Ibu. Terus, kapan ibu mau ngasih kita? Sekali-sekali, Niar mau juga dong, ngerasain dikasih ibu mertua. Jangan hanya Puri dan Mia saja yang selalu dikasih," gurau Daniar.
"Huss! Enggak boleh ngomong gitu ah! Kita syukuri saja apa yang kita punya, Bun. Tangan yang di atas, lebih baik daripada tangan yang di bawah," ucap Yandri mengingatkan istrinya.
"Iya-iya, Bunda tahu Yah. Tapi kalau seperti ini terus, 'kan kelihatan banget kalau selama ini Bunda itu enggak pernah dianggap menantu di keluarga Ayah. Bunda sih enggak pa-pa, tapi kalau saat butuh mereka baru ingat kita, yeay sama aja itu mah abis manis sepah dibuang," lanjut Daniar seraya bangun dan pergi ke luar kamar.
"Hmm, ternyata pindah ke rumah baru tidak membuat semuanya menjadi lebih baik," gumam Daniar yang masih bisa didengar Yandri.
__ADS_1
Yandri menarik napasnya panjang saat mendengar gumaman istrinya. Ternyata pindah rumah tidak serta merta membuat semuanya lebih nyaman. Saat ini, rumah tangganya kembali diuji dengan sikap kakak ipar dan ibunya sendiri.
Ya Tuhan ... lembutkan lah hati istri hamba."