
Daniar hanya bisa menyandarkan punggungnya pada dashboard ranjang. Tangannya mendekap erat kedua lutut yang telah dia tekuk. Entah apa yang sedang bergelayut dalam pikiran suaminya saat ini. Satu hal yang bisa Daniar yakini, suaminya pasti sangat kecewa terhadap dirinya.
Laki-laki jangkung itu pasti sedang merutuki perbuatannya saat ini. Ya Tuhan, Yah ... maafin Bunda, batin Daniar, perih.
Rasa sesak kembali menyeruak di hatinya. Daniar sendiri tidak tahu, entah kenapa dia bisa melakukan hal gila seperti itu. Bersenggama sebelum akhirnya berpisah.
"Ish, bagaimana mungkin aku bisa melakukan kegilaan seperti ini?" gumam Daniar.
Namun, tidak bisa Daniar pungkiri jika dia begitu merindukan kekasih hatinya. "Aku mencintaimu, kang ... aku sangat mencintai kamu," gumam Daniar yang tak mampu membendung lagi rasa pilu di hatinya.
Kini, kedua mata Daniar mulai berkaca-kaca. Bayangan percintaan terakhir yang dia lakukan bersama suaminya beberapa menit yang lalu, membuat tubuh Daniar terkulai tak berdaya. Terlebih lagi saat mengingat kembali pancaran kemarahan di kedua bola mata Yandri.
Ah, sepertinya dia marah besar dengan ucapanku. Maafkan Bunda, Yah ... tapi Bunda tidak punya pilihan lain. Bunda hanya ingin memberikan yang terbaik untuk ayah. Dan yang terbaik itu, bukanlah Bunda. Akan tetapi, Ayah tidak perlu khawatir. Bagi Bunda, ayah masih tetap yang terbaik. Hingga akhir hayat pun, Bunda tidak akan pernah menggantikan posisi ayah di hati Bunda.
Sementara itu, di dalam kamar putrinya. Yandri hanya bisa tidur telentang tanpa mampu memejamkan kedua matanya. Dadanya masih bergemuruh karena menahan amarah. Dia tidak pernah habis pikir dengan tingkah Daniar, niat dan juga keputusannya.
Ada apa dengan Daniar? Apa sebenarnya keinginan dia? Kenapa tekadnya untuk berpisah begitu kuat, dan apa yang melatarbelakangi keinginannya itu? batin Yandri penasaran.
Pertanyaan yang sama masih terus menari-nari dalam benak Yandri. Namun, tidak satu pun Yandri mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Setiap kali Yandri bertanya, mulut istrinya selalu terkunci rapat.
"Apa aku harus bertanya kepada ibu mertua?" gumam Yandri.
Hmm, sepertinya memang aku harus bertanya kepada ibu. Mungkin saja ibu tahu alasan Daniar menggugat cerai. Ya, siapa tahu jika Daniar pernah bercerita tentang permasalahan rumah tangga kami kepada ibu, batin Yandri.
Senyum tipis tersungging di bibir Yandri saat dia menemukan titik terang untuk mencari tahu alasan di balik gugatan cerai yang dilayangkan sang istri.
Kini, Yandri mulai memejamkan kedua mata. Pergulatannya dengan sang istri tengah menguras begitu banyak tenaganya. Lambat laun, rasa kantuk pun mulai menyerang Yandri.
.
.
Keesokan harinya.
Seperti biasa, Daniar bangun tidur pukul 04.00. Dia beranjak ke kamar mandi untuk melakukan mandi junub. Selesai mandi, Daniar menyiapkan diri untuk menunaikan shalat subuh sembari menunggu azan berkumandang.
Saat dia tengah berdzikir untuk menunggu azan subuh, tiba-tiba Yandri memasuki mushalla yang sama. Sedikit kecanggungan terjadi untuk beberapa menit. Sampai akhirnya, memasuki waktu azan, Yandri pun mulai mengumandangkan azan subuh.
__ADS_1
Betapa merdu lantunan azan yang dikumandangkan oleh Yandri. Membuat pori-pori Daniar meremang seketika.
Ya Tuhan ... sanggupkah aku melepaskan muazin semerdu itu? batin Daniar.
Selesai azan, Daniar dan Yandri mengerjakan shalat sunnah qobliyah subuh sebanyak dua rakaat. Tanpa dikomando, selepas shalat sunnah, Daniar pun mengumandangkan iqamah. Mereka kemudian menunaikan shalat subuh berjamaah di mushalla rumahnya.
Apa mungkin ini shalat berjamaah terakhir kami? batin Daniar setelah selesai shalat. Apa aku sanggup kehilangan imam seperti dia? lanjutnya, berlinang air mata.
Begitu pula dengan Yandri. Saat bermunajat, hatinya benar-benar sakit membayangkan jika ini shalat berjamaah terakhir dia dengan sang istri.
Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Tolong berikan kami kemudahan untuk meraih ridhoMu. Berilah kami keputusan sebaik-baiknya keputusan yang sangat baik di mataMu. Bimbinglah kami untuk lebih mendekatkan diri kepadaMu. Hamba pasrah ya Allah ... hamba sudah berusaha untuk bertahan. Namun, jika memang apa yang hamba pertahankan ini tidak pernah baik di mataMu, hamba ikhlas menerima keputusanMu. Do'a Yandri dalam hatinya.
Selesai berdo'a, Yandri membalikkan badan. Dia kemudian mengulurkan tangan di hadapan Daniar. Sedetik kemudian, Daniar menyambut uluran tangan Yandri. Daniar mencium punggung tangan suaminya yang mungkin sebentar lagi akan berubah status menjadi mantan suami.
Yandri mencondongkan wajahnya untuk mengecup kening Daniar. Cukup lama dia melayangkan kecupan itu. Sebuah kecupan yang diiringi buliran hangat yang menetes di kedua sudut matanya. Sebuah kecupan yang mungkin akan menjadi kecupan terakhir untuk istri yang sebentar lagi berubah status menjadi mantan istri. Meskipun Yandri tidak mengharapkannya.
"Se-sepertinya sudah siang, Kang. Niar harus pergi ke dapur untuk menanak nasi," ucap Daniar yang langsung membuat Yandri melepas kecupannya.
.
.
Tiba di ruangan tersebut, Yandri dan Daniar duduk saling berhadapan. Hanya terhalang meja bundar saja. Baik Yandri ataupun Daniar, mereka sepakat untuk tidak menggunakan pengacara dalam kasus perceraian mereka.
"Assalamu'alaikum!" sapa seorang laki-laki yang usianya mungkin hanya terpaut 5 tahun di atas Yandri.
"Wa'alaikumsalam," jawab Yandri dan Daniar sambil berdiri untuk menyambut kedatangannya.
"Ah, silakan duduk!" perintah pria berpeci hitam itu seraya duduk di kursi yang telah disediakan.
Untuk sejenak, pria itu menyimpan berkas-berkas yang sedari tadi dia apit di bawah ketiak. Sesaat kemudian, dia membuka berkas tersebut dan mulai menelaahnya.
"Bismillahirrahmanirrahim. Perkenalkan, nama saya Andri Gumilar, saya yang akan menjadi mediator bagi kasus gugatan cerai yang dilayangkan oleh Ibu Daniar Rahmawati tertanggal per 21 Mei 2015. Benar begitu, Bu?" tanya Pak Andri, memastikan.
"Iya, benar sekali, Pak," jawab Daniar.
"Baiklah, untuk proses mediasi tahap pertama. Saya akan memberikan kalian kesempatan untuk saling mengutarakan isi hati kalian. Apa yang menjadi unek-unek kalian selama menjalani rumah tangga. Dan terutama, apa yang menjadi latar belakang Ibu Daniar sehingga memutuskan menggugat cerai Pak Yandri. Saya harap, kalian bisa mempergunakan proses mediasi ini sebaik mungkin, dan semoga saja, ada hasil yang baik dari proses mediasi yang akan kita jalani hari ini," papar Pak Andre selaku mediator Daniar dan Yandri.
__ADS_1
"Aamiin," jawab Daniar dan Yandri berbarengan.
"Baiklah, untuk kesempatan pertama ... saya persilakan Ibu Daniar mengemukakan alasan menggugat cerai suami Ibu," lanjut Pak Andre.
"Begini, Pak. Saya memutuskan untuk menggugat cerai suami saya atas dasar ...."
Dengan panjang lebar, Daniar mengemukakan alasan yang dianggapnya cukup masuk akal untuk menggugat cerai sang suami.
"Lalu, bagaimana dengan tanggapan Anda, Pak Yandri?" tanya Pak Andri kepada Yandri.
"Saya pikir itu hanya alasan yang mengada-ada, Pak. Saya sama sekali tidak keberatan dengan apa yang dia katakan sebagai kekurangannya. Bagi saya, Daniar adalah segalanya. Saya mengikat dia dengan dua kalimah syahadat. Dan tidak mungkin saya mengingkari janji saya kepada Tuhan. Saya bisa menerima keadaan Daniar apa adanya, Pak. Saya tidak pernah menuntut Daniar untuk memiliki keturunan lagi, toh sudah ada generasi penerus di antara kami," tutur Yandri.
"Itu bagi kamu, Kang! Kamu bisa bilang jika kamu tidak mengharapkan seorang pewaris. Lantas, bagaimana dengan keinginan ibu kamu? Apa dia juga bisa bersikap sama denganmu? Apa dia juga bisa menerima keadaan aku? Tidak, Kang! Ketika aku masih normal, pun ... ibu selalu mencemooh karena aku melahirkan anak perempuan. Apalagi kalau dia mengetahui aku cacat, tidak bisa memberikan kamu keturunan lagi. Dia pasti akan semakin gencar menghinaku!" teriak Daniar.
"Kenapa kamu harus bawa-bawa ibu dalam permasalahan yang kamu buat, Bun? Tolong, Bun. Jangan terlalu mengkambinghitamkan ibu dalam urusan ini. Dia bahkan tidak tahu apa-apa dengan keinginan konyol kamu!"
Yandri yang tidak bisa menerima nama ibunya dikaitkan dengan alasan gugatan cerai istrinya, sontak meninggikan suaranya di hadapan Daniar dan Pak Andri.
"Ya, saat ini ibu memang tidak tahu. Tapi suatu hari nanti, dia bakalan tahu, Kang. Dan Niar yakin, hal pertama yang akan dia lakukan saat mengetahui semuanya, pasti meminta kamu untuk menceraikan Niar!" tegas Daniar.
"Ish, Bun. Hati-hati dengan ucapan kamu, itu su'udzon namanya!" bentak Yandri.
"Itu bukan su'udzon, Kang. Itu hanya sebuah perkiraan. Wajar Niar berpikiran seperti itu, karena di saat hubungan kita tidak ada masalah pun, ibu kamu selalu menyuruh kamu berpisah dengan Niar. Dan sekarang, akan Niar kabulkan permintaan ibu kamu, Kang. Biar dia puas sekalian!" teriak Daniar.
"Cukup Daniar!" balas Yandri seraya menggebrak meja. "Cukup! Jangan pernah lagi menjelekkan ibuku, mengerti kamu!" tegas Yandri, marah.
"Kenapa? Tidak suka? Itu memang kenyataannya, Kang. Dari dulu ibu kamu tidak pernah menyukai Niar. Dan dia tidak akan pernah puas sebelum kita berpisah. Niar juga manusia, Kang. Niar punya hati yang lama-lama hati Niar bisa keropos karena sikap ibu kamu!" Daniar berapi-api meluapkan emosinya.
Melihat suasana yang sudah tidak kondusif, akhirnya Pak Andri menghentikan perdebatan pasangan itu.
"Dengar Bapak, Ibu ... saya mohon bersabarlah. Saya akan menjeda proses mediasi ini untuk seminggu ke depan. Silakan kalian redam dulu emosi kalian. Saya tidak mau ka–"
"Maaf Bapak Mediator yang terhormat ... saya pikir tidak harus menunggu selama satu minggu ke depan. Jika memang istri saya keukeuh ingin bercerai, akan saya kabulkan. Besok, kami akan datang kembali untuk proses penandatanganan surat perceraian kami. Baiklah, saya rasa proses mediasi telah usai. Saya permisi. Assalamu'alaikum!"
Pak Andri hanya melongo mendengar keputusan Yandri. Begitu juga dengan Daniar. Dia tidak pernah menyangka jika Yandri akan semudah itu melepaskannya.
Tanpa terasa, air mata mulai meleleh di kedua pipi Daniar. Cukup Niar, jangan menangis. Bukankah ini yang kamu inginkan?
__ADS_1