
Bu Maryam dan Habibah memekik keras mendengar syarat yang diajukan oleh Mia. Kedua bola mata mereka membulat sempurna.
"Ish, benar-benar gila nih anak," gumam Habibah yang masih bisa didengar oleh ibunya.
Bu Maryam menyikut lengan Habibah. Dia menatap Habibah sebagai isyarat agar Habibah diam. Sedetik kemudian, Bu Maryam kembali menatap Mia.
"Tapi Raihan belum punya pekerjaan, Mia. Dia tidak akan mungkin bisa memberikan mahar sebesar itu," ucap Bu Maryam.
"Tapi Bu, Bang Raihan sudah menjanjikan perhiasan itu sama Mia," ucap Mia. "Lagi pula, Bang Raihan sudah menjanjikan resepsi pernikahan sama keluarga Mia. Kalau hanya sekedar menikah siri, mana bisa keluarga Mia mengadakan resepsi. Bukankah pernikahan siri itu pernikahan yang disembunyikan?" lanjut Mia.
"Ibu tahu, Mia. Ibu janji, Ibu akan mengadakan resepsi, tapi hanya keluarga besar kedua mempelai saja. Ibu mohon pengertian dari kamu," ucap Bu Maryam.
Mia menatap Raihan dengan tatapan sendu. Tatapan maut yang selalu bisa meluluhkan hati Raihan.
"Gimana dong, Bang?" kata Mia, lirih.
Sejurus kemudian, Raihan menggenggam tangan kekasihnya itu. "Tidak usah khawatir. Keinginan kamu akan terpenuhi. Abang akan memberikan mahar yang kamu inginkan. Sekarang, ayo kita makan!" pungkas Raihan seraya mengajak calon istrinya ke ruang tengah untuk santap siang.
Bu Maryam dan Habibah hanya bisa saling pandang.
"Bagaimana ini, Bibah?" tanya Bu Maryam.
Habibah hanya menggedikkan kedua bahunya menjawab pertanyaan Bu Maryam.
.
.
Tiga hari telah berlalu dari hal yang sudah dijanjikan Raihan kepada Mia. Bu Maryam pun semakin pusing karena setiap hari, Raihan merajuk meminta emas putih untuk mahar Mia. Sedangkan Bu Maryam sendiri tidak punya uang. Harta yang dia punya hanya sebidang tanah yang sudah dijadikan makam keluarga. Meskipun di atasnya terdapat begitu banyak pohon mangga. Namun, Bu Maryam tidak mungkin menggadaikan tanah tersebut.
Bu Maryam semakin bingung karena tanaman mangga miliknya pun sudah dikontrak orang. Barang berharga yang tersisa hanyalah tiga batang pohon albasia di depan rumah yang umurnya sudah puluhan tahun.
"Mungkin sebaiknya aku jual saja pohon albasia itu," gumam Bu Maryam.
Keesokan harinya, Bu Maryam mendatangi rumah Yoga untuk mengutarakan maksudnya.
__ADS_1
"Jadi, perempuan itu minta mahar emas putih?" tanya Yoga tak percaya.
Bu Maryam mengangguk. "Ibu bingung harus mencari uang ke mana lagi untuk memenuhi syaratnya Mia."
"Ya Tuhan, Ibu ... biarkan saja Raihan mencarinya sendiri. Toh dia yang ingin menikah, kenapa Ibu yang harus repot-repot memikirkan maharnya dia?" ucap Yoga, geram.
"Kalau bukan ibu yang memikirkannya, siapa lagi yang mau memikirkan pernikahan Raihan? Kamu? Saudara-saudara kamu? Cukup Yoga, Ibu bukannya pilih kasih. Ibu hanya merasa kasihan saja sama Raihan. Kalian mendapatkan kasih sayang ayah sejak kecil. Tapi Raihan? Sejak kecil dia tidak mendapatkan kasih sayang ayah, karena ayah kalian meninggal saat usia Raihan masih kecil. Jadi Ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi Raihan. Supaya dia bisa merasakan kasih sayang yang utuh. Ibu mohon, mengertilah ..." ucap lirih Bu Maryam.
Yoga menarik napas panjang. "Sekarang ini, tidak mudah untuk mendapatkan seorang pemborong pohon albasia, Bu. Apalagi hanya satu atau dua buah saja. Para pemborong kayu sedang beralih pada kayu jati yang kualitasnya lebih baik. Karena itu Yoga tidak bisa menjanjikan apa-apa," ucap Yoga, pelan.
Bu Maryam hanya bisa diam.
Bagaimana kalau kita minta bantuan bang Yandri saja, Bu?" lanjut Yoga seolah mendapatkan ide.
"Maksud kamu?" tanya Bu Maryam.
"Kita coba pinjam uang kepada bang Yandri," jawab Yoga.
"Ish, bukankah abang kamu sudah memberikan uang untuk pernikahan adik kamu," jawab Bu Maryam.
Bu Maryam tersenyum. "Ya sudah, ayo antar Ibu menemui abang kamu di sekolah!" ajak Bu Maryam.
.
.
Daniar terlihat gelisah. Dia kehilangan uang tabungan yang telah terkumpul dua hari yang lalu. Karena malam kemarin Bintang rewel, akhirnya Daniar menyimpan uang tabungan anak-anak pengajian di mana saja.
"Ish di mana aku menyimpannya? Perasaan uang itu aku simpan di laci meja kerja ayah," gumam Daniar masih berusaha mengacak-acak isi laci meja kerja suaminya.
"Nyari apa, Bun?" tegur Yandri yang merasa heran istrinya mengobrak-abrik laci meja kerja miliknya.
"Bunda nyari uang tabungan anak-anak dua hari yang lalu, Yah. Sudah dua malam Bintang rewel, jadi Bunda asal naruh uang tabungan tersebut. Bunda enggak sempat buat simpan ke dompet tabungan. Ayah ada lihat enggak? Seingat Bunda sih, Bunda naruhnya di dalam laci meja kerja Ayah," jawab Daniar panjang lebar.
"Hmm, dasar Nenek! Kamu enggak naruh di dalam laci, tapi di samping komputer Ayah. Tuh, uangnya Ayah simpan di dompet Ayah," balas Yandri seraya menunjuk celana dinasnya yang tergantung di hanger.
__ADS_1
"Astaghfirullah, iya Bunda ingat sekarang. Waktu itu, ada mamanya Sidrat ngajakin ngobrol. Ya sudah, Bunda asal simpan saja," jawab Daniar seraya menepuk jidat.
"Lain kali, hati-hati ah, Bun. Itu uang anak-anak pengajian. Kalau hilang, kita mau ganti dari mana entar," kata Yandri.
"Iya, Ayah benar. Ya sudah, Bunda titip di Ayah aja deh. Biar nanti Senin, Ayah tabung. Bunda, 'kan pelupa, takut ilang juga," jawab Daniar
"Ya sudah, nanti Senin Ayah tabungkan. Kebetulan, Ayah juga mau rapat ke Kemenag," jawab Yandri.
Daniar mengangguk. Dia kemudian membuka kotak kayu dan mengeluarkan dompet yang berisi uang tabungan anak-anak. Sejurus kemudian, Daniar menyerahkan dompet tersebut kepada suaminya.
"Titip ya, Yah. Jumlahnya kurang lebih 9 jutaan," ucap Daniar.
"Iya, Bun. Kapan rencana pikniknya?" tanya Yandri.
"Sebulan lagi, Yah. Setelah ujian sekolah," jawab Daniar.
"Oh, ya sudah, nanti Ayah hubungi bus pariwisatanya. Maklum, kalau musim libur, bus suka penuh," kata Yandri.
"Iya, terserah Ayah saja. Yang penting pikniknya harus jadi. Kasihan juga anak-anak, butuh healing," gurau Daniar.
"Oke, Bu Bos," jawab Yandri.
"Ya sudah, Bunda mau nyuci dulu. Besok hari Jum'at, takut kesiangan masuk kelas kalau harus nyuci dulu," ucap Daniar.
"Ya sudah, biar Ayah yang jaga Bintang," pungkas Yandri.
Daniar mengangguk, dia kemudian memasukkan pakaian kotor ke dalam ember. Setelah berpamitan, Daniar pergi ke kolam di belakang sekolah untuk mencuci pakaian.
Saat Daniar hendak berjongkok, tanpa sengaja sudut matanya menangkap dua orang yang tidak asing lagi. Kedua orang itu sedang menaiki tangga yang terbuat dari bebatuan terjal untuk melewati batas sekolah. Beberapa menit kemudian, kedua orang itu memasuki gerbang belakang sekolah. Sudah bisa dipastikan jika tujuan kedua orang itu singgah di sekolah.
"Bukankah itu ibu sama Yoga? Hmm, tumben mereka berkunjung ke sekolah? Apa mereka hendak menemui kang Yandri?" gumam Daniar merasa heran dengan kunjungan Bu Maryam dan Yoga ke sekolah.
Tak ingin menghiraukan penglihatannya, Daniar mulai fokus mencuci pakaian. Anehnya, sepanjang Daniar melakukan pekerjaannya, entah kenapa hati Daniar terasa kacau. Dia merasa gelisah melihat kedatangan mertua dan adik iparnya.
Apa mungkin mereka datang untuk membebani kang Yandri lagi? batin Daniar
__ADS_1
Pikiran buruk pun kembali menyergap Daniar. "Ya Tuhan ... semoga saja kang Yandri bisa bersikap bijak," gumam Daniar yang merasa yakin jika ibu mertuanya akan kembali merecoki keuangan sang suami.