Setelah Hujan

Setelah Hujan
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Sebelum pergi mengajak putrinya ke mall, Yandri menghampiri Danisa di kamarnya. Yandri kemudian mengetuk pintu dan meminta izin untuk memasuki kamar Danisa.


"Masuk aja, Bang. Pintunya enggak dikunci, kok!" perintah Danisa dari dalam kamar.


Yandri memasuki kamar Danisa. Tanpa disuruh, dia kemudian menarik kursi dan mendudukinya.


"Dek, hari ini kamu ada rencana keluar, enggak?" tanya Yandri.


Danisa yang masih asyik bermain game di ponselnya, hanya bisa berkata, "Enggak ada tuh, Bang."


"Eh, Abang boleh pinjam motornya, ya?" pinta Yandri.


Mendengar permintaan Yandri yang menurutnya aneh, Danisa langsung mendongak. Dia merasa heran, ngapain juga Yandri pakai motor jika dia memiliki mobil.


You lose!


Ponsel Danisa berbunyi. Sontak Danisa kembali menatap ponselnya. Danisa mengerucutkan bibirnya saat menyadari dia sudah kalah bermain game.


"Ah, kalah, 'kan? Ish, gara-gara Abang nih, Danisa jadi kalah, deh. Menyebalkan!" cebik Danisa.


"Eh, kok Abang sih yang disalahin," tukas Yandri, tak terima disalahkan.


"Iya lah ... salah Abang semuanya. Ngapain juga Abang pake acara gangguin Nisa." Danisa masih menggerutu kesal.


"Lah, 'kan Abang mau pinjam motor, Dek," sahut Yandri.


"Abang, 'kan tahu kunci motornya di mana. Kenapa enggak langsung ambil aja, malah gangguan Nisa main game lagt," cerocos Danisa.


"Hmm, iya deh iya ... Abang emang nggak pernah menang kalau adu mulut sama kamu," ucap Yandri mengalah. "Ya sudah, Abang pinjam motornya, Ya," lanjut Yandri.


"Emang, mobil Abang ke mana? Kok tumben pakai motor. Katanya naik motor enggak nyaman?" ledek Danisa.


"Nyaman lah, daripada naik mobil mogok," sambut Yandri.


"Oh, mogok toh. Wah, mobil mewah bisa mogok juga, ya. Hahaha,...." ejek Danisa.


"Ya-ya-ya, ejek teruuuuus ..." kata Yandri menanggapi gurauan Danisa.


"Ya sudah, pake aja Bang. Abang, 'kan tahu kuncinya ada di mana," imbuh Danisa.


"Oke! Makasih adik manisnya Abang," jawab Yandri, seraya beranjak dari tempat duduknya.


.


.


Sementara itu, di lain tempat. Bu Maryam tampak uring-uringan setelah mengetahui anaknya pergi.


"Memangnya kamu enggak nanya, Yandri mau ke mana?" Bu Maryam bertanya kepada Habibah.


"Yandri enggak bilang, Bu. Dia cuma bilang ada urusan sebentar," jawab Habibah.


"Ya kamu cegah, dong! Masak gitu aja enggak bisa!" Bu Maryam terlihat semakin emosi.


"Aih Ibu, memangnya Yandri anak kecil." Giliran Habibah yang merasa kesal terhadap ibunya.


"Ya, minimal kamu bisa tahan dia sampai Ibu pulang," lanjut Bu Maryam.


"Memang mau ditahan sampai berapa lama? Bibah, 'kan enggak tahu mau sampai kapan Ibu ghibah di luar," dengus Habibah semakin kesal. "Lagian mobilnya sudah ditinggal di sini, 'kan? Ya sudah, nanti kita pergi diantar kang Bahar saja," lanjut Habibah.


"Tapi masalahnya Ibu belum ketemu Yandri, Bah," jawab Bu Maryam terduduk lemas. "Ibu ingin menyampaikan keinginan Ibu untuk memiliki menantu lagi darinya," imbuh Bu Maryam.


"Ish, jangan bilang kalau Ibu hendak ngomong ke Yandri tentang rencana menjodohkan dia dengan Siska?" terka Habibah.


"Rencananya sih, seperti itu," gumam Bu Maryam, pelan.


"Jangan dulu, Bu," tukas Habibah.


"Loh, kenapa?" tanya Bu Maryam, menautkan kedua alisnya.


"Biarkan semuanya mengalir, Bu. Jangan terlalu didesak juga. Salah-salah, nanti Yandri akan menjauh lagi kalau tiba-tiba kita jodohkan," jawab Habibah.


"Terus, gimana caranya kita mempertemukan Yandri dengan Siska?" tanya Bu Maryam lagi.


"Kita atur aja seolah seperti pertemuan yang tanpa sengaja, Bu," jawab Habibah.

__ADS_1


"Seperti?" Bu Maryam kembali bertanya.


"Seperti ... syukuran anaknya Raihan. Ya, nanti kita bikin acara syukuran anaknya Raihan untuk mempertemukan Yandri dan Siska," sahut Habibah.


"Hhh ... ya sudah, terserah kamu saja."


.


.


"Ke mall-nya naik motor Tata, enggak pa-pa, 'kan?" tanya Yandri kepada putrinya.


"Memangnya, mobil Ayah ke mana?" Bintang balik bertanya.


Untuk sejenak, Yandri menatap Daniar. Sebenarnya, dia tidak tega membohongi putrinya. Akan tetapi, tidak mungkin juga dia mengatakan kalau mobil milik ibunya telah diberikan kepada neneknya Bintang. Bisa kecewa anak yang sudah menginjak remaja itu.


Melihat raut wajah mantan suaminya, Daniar paham jika kendaraan yang dulu dihadiahkan untuknya, kini telah berpindah tangan.


"Sudah, Bin. Lagian, 'kan kalian cuma jalan berdua saja. Muat lah, pake motor juga," tukas Daniar.


"Loh, memang Bunda enggak ikut?" tanya Bintang.


"Yang mau beli peralatan sekolah, 'kan kamu, kenapa Bunda harus ikut juga," jawab Daniar.


"Tapi, 'kan enggak seru, Bun!" Wajah Bintang langsung berubah masam saat mendengar jawaban ibunya.


Melihat raut wajah anaknya, seketika Yandri terenyuh. Dia sadar jika Bintang sangat menginginkan keluarga yang utuh.


"Bibin ganti baju dulu, gih! Ayah mau bicara sebentar sama Bunda," perintah Yandri kepada putrinya.


"Baik, Ayah."


Saat melihat Bintang sudah memasuki kamar. Yandri kemudian menghampiri Daniar. "Duduklah, Bun. Kita bicara sebentar," ucapnya.


Daniar menurut. Dia kemudian duduk di samping mantan suaminya.


"Sudah lama Bintang tidak menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya. Ayah mohon, demi Bintang ... ikutlah!" pinta Yandri.


Daniar hanya bisa diam. Apa yang dikatakan Yandri memang benar. Namun, kembali menikmati kebersamaan dengan mantan suami? Itu juga bukan ide yang baik menurutnya.


Daniar dan Yandri menoleh. Terlihat Bu Salma berjalan mendekati mereka. Sejurus kemudian, Bu Salma duduk di kursi yang berhadapan dengan mereka.


"Kalian sudah sangat sibuk dengan urusan kalian masing-masing. Bahkan, untuk menemani Bintang belajar pun, kalian tidak pernah punya waktu. Padahal, di usia Bintang yang sekarang, dia sangat butuh perhatian besar dari kalian. Untuk itu, mumpung kalian ada di sini, kesampingkan dulu ego kalian demi Bintang. Anak itu tidak meminta banyak, Ni. Dia hanya ingin merasakan seperti anak lain, menikmati waktu bersama kedua orang tuanya. Itu saja!" tegas Bu Salma.


"Baik, Bu. Niar mengerti."


.


.


Dengan diantarkan Bahar, Habibah dan Bu Maryam pergi ke mall untuk menghadiri undangan Siska. Tiba di mall, Bu Maryam mengedarkan pandangan. Dia merasa takjub dengan kemegahan mall berlantai empat tersebut.


"Kita naik, Bu!" ajak Habibah.


"Naik ke mana, Bah?" tanya Bu Maryam.


"Tuh!" Tunjuk Habibah ke arah lift.


"Memangnya, itu apa Bah?" tanya Bu Maryam lagi.


"Itu lift, Bu. Kalau kita ingin ke lantai atas dengan cepat, kita bisa menggunakan alat itu untuk mengangkut kita," papar Habibah.


"Oh, ya sudah. Ayo!" timpal Bu Maryam.


Ibu dan anak itu pun berjalan beriringan memasuki lift berbentuk tabung yang berada di mall.


.


.


Di sebuah toko alat tulis terlengkap yang ada di dalam mall. Bintang terlihat sangat asyik memilih dan memilah peralatan tulis untuk kebutuhannya memasuki SMP.


"Ayah, apa aku boleh membeli itu?" Tunjuk Bintang pada sebuah buku harian yang memiliki karakter kartun kesukaannya.


"Iya, beli saja Sayang," jawab Yandri.

__ADS_1


"Ish, Bin ... buat apa? Beli saja apa yang memang kamu butuhkan, Nak," tukas Daniar.


"Sudah, biarkan saja Bun. Mungkin Bintang ingin menuliskan cerita kesehariannya seperti kamu dulu," timpal Yandri seraya tersenyum.


"Eh, dari mana Akang tahu kebiasaan kecil Niar?" tanya Daniar, heran.


"Siapa lagi kalau bukan ibu," sahut Yandri.


"Hmm, emang dasar ya ... Akang sama ibu tuh paket komplit. Sama-sama jahil," gerutu Daniar.


Yandri hanya tergelak melihat ekspresi wajah mantan istrinya.


Satu jam mengelilingi toko tersebut, akhirnya Bintang mengajak ayahnya ke kasir.


"Memang semua barang yang kamu perlukan sudah dibeli, Nak?" tanya Yandri.


"Sudah, Yah," jawab Bintang.


"Ya sudah, ayo kita bayar," ajak Yandri.


Bintang dan Yandri membawa troli belanjaannya menuju kasir. Sedangkan Daniar mengikuti mereka dari belakang.


Tiba di kasir, Bintang memindahkan barang-barang yang dibelinya ke meja kasir untuk dihitung. Setelah selesai membayar, Bintang merengek Karena merasa haus.


"Ya sudah, kita ke food court di lantai atas saja, yuk!" ajak Yandri.


"Horee!" teriak Bintang.


Tiba di food court.


"Eh, apaan tuh Bun, kok ramai-ramai begitu?" kata Yandri, menunjuk sebuah kedai yang dikerumuni orang.


"Entahlah," jawab Daniar.


"Dari tulisannya sih, Waroeng Bakso Setan. Apa mungkin itu kedai bakso baru, Bun? Dulu, 'kan, tempat itu kosong?" timpal Bintang.


"Hmm, bener juga, Nak. Kita cobain yuk, Kang!"


Tanpa sadar Daniar memegang tangan Yandri dan menariknya menuju kedai bakso tersebut.


Jantung Yandri berdetak tak karuan. Namun, hatinya merasa senang melihat perubahan sikap Daniar. Walau tanpa sengaja.


"Waaah, sepertinya enak sekali, Kang. Tuh lihat, ada bakso mercon, ada bakso setan, ada bakso isi keju, tahu bakso, bacil, hmmm ... yummii," kata Daniar, girang.


"Mau masuk?" tawar Yandri.


Daniar mengangguk.


"Ya sudah, ayo kita masuk!"


Yandri mengajak Daniar dan anaknya memasuki kedai. Mereka memilih duduk di meja pojok. Setelah itu, Yandri dan Daniar ke depan kedai untuk mengambil bakso secara prasmanan.


"Hmmm, wanginya ..." ucap Daniar seraya menaruh mangkuk bakso miliknya.


Daniar mulai menuangkan saus dan kecap ke dalam mangkuknya. Tak lupa dia menambahkan sambal juga.


"Jangan banyak-banyak, Bun!" Yandri mencekal tangan Daniar yang sedang menyendok sambal untuk yang kedua kalinya.


Namun, Daniar menatap Yandri dengan tatapan yang menggemaskan. "Dikit aja, Yah. Please ...!"


Deg-deg-deg!


Mendengar kata ayah dan melihat tatapan sendu milik Daniar, jantung Yandri kembali berdetak cepat. Ya Tuhan ... sudah cukup lama aku tidak mendengar suara manjanya, batin Yandri.


"Ya sudah, tapi sekali ini saja, ya!" pinta Yandri.


Daniar mengangguk. Sesaat kemudian, mereka menikmati bakso dengan begitu lahap.


"Ish, hati-hati dong, makannya," kata Yandri.


Ujung jari telunjuk Yandri mengusap lembut sudut bibir Daniar. "Hmm, belepotan, 'kan?" lanjut Yandri.


Daniar hanya bisa diam dan membiarkan Yandri menyeka sisa saus yang berada di sudut bibirnya. Jantung Daniar berdegup kencang saat mata mereka beradu pandang. Tanpa mereka sadari, seseorang mengepalkan kedua tangannya di atas meja kasir.


Ih, apa-apaan ini? Katanya mereka sudah berpisah lama, tapi mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia. Benar-benar menyebalkan! batin Siska menggerutu.

__ADS_1


Pertemuan tak terduga dengan lelaki pujaannya, telah membuat hati Siska terbakar cemburu. Tak ingin melihat kebahagiaan yang disuguhkan keluarga kecil itu, Siska beranjak dari tempat duduk dan pergi begitu saja dari kedai bakso yang baru dibukanya.


__ADS_2