
Yandri sangat terkejut mendengar laporan Pak Agus tentang adiknya. Dengan terbata, dia bertanya kepada rekan kerja sekaligus sepupunya itu. "Be-benarkah?"
Pak Agus mengangguk lemah. Sungguh dia tidak tega melihat wajah Yandri yang langsung pucat pasi setelah mendengar berita tentang adiknya. Pak Agus yakin, jika apa yang telah dia sampaikan, itu pasti sangat melukai hati Yandri.
"Saya minta maaf, Pak. Saya tidak bermaksud membebani pi–"
"Tidak, Pak Agus. Bapak tidak perlu meminta maaf. Saya justru berterima kasih atas informasi yang sudah Bapak berikan. Dengan begini, saya jadi tahu kelakuan adik saya di belakang saya. Jujur saja, saya tidak tahu jika Raihan sudah lama pulang. Saya baru tahu kepulangan Raihan itu, kemarin. Itu pun dari bik Wanti. Atas nama keluarga, saya minta maaf jika kelakuan Raihan sudah meresahkan para tetangga. Insya Allah, secepatnya saya akan mengambil tindakan kepada Raihan," janji yandri kepada Pak Agus.
"Alhamdulillah, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu. Sekali lagi, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud menyakiti perasaan Bapak dengan membuka aib Raihan," ucap Pak Agus.
Yandri hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi permintaan maaf dari Pak Agus. Setelah Pak Agus pergi, Yandri merebahkan tubuhnya di atas sajadah. Dengan berbantal kedua lengan yang dia lipat di bawah kepalanya, Yandri menatap kosong langit-langit mushola. Apa yang dikatakan Pak Agus, membuat kepalanya semakin berdenyut hebat.
Ya Tuhan, Rai ... kenapa harus seperti ini? jerit Yandri dalam hatinya.
.
.
Daniar melirik jam dinding di kamarnya, waktu sudah menujukan pukul dua siang. Namun, suaminya masih belum juga masuk kamar. Entah apa yang terjadi kepada suaminya. Tidak biasanya Yandri bersikap seperti ini.
Daniar melirik anaknya yang sudah tertidur lelap. Setelah menyelimuti Bintang, Daniar pun memutuskan untuk mencari suaminya ke mushola. Dia yakin kalau Yandri masih berada di sana. Namun, saat Daniar tiba pintu belakang, dia melihat Yandri baru keluar dari mushola.
Daniar terpaku melihat wajah muram suaminya. Seingat dia, tadi pak Agus mencari suaminya. Apa mungkin pak Agus sudah bertemu Yandri dan mengatakan sesuatu kepadanya? Tapi apa? Obrolan seperti apa yang bisa membuat suaminya kelihatan bersedih begitu?
Hmm, sebaiknya aku pancing kang Yandri saja. Apa benar dia sudah ketemu pak Agus? batin Daniar.
"Kamu di sini, Yah? Tadi pak Agus nanyain kamu, loh? Sudah ketemu belum?" tanya Daniar.
Yandri yang sedang mengenakan sandal, langsung mendongak saat mendengar suara istrinya. "Iya, Sayang. Ayah sudah ketemu sama pak Agus," jawab Yandri.
"Oh, ya sudah. Makan yuk, Yah! Bunda laper banget nih." Daniar mulai merajuk kepada suaminya seraya menggandeng tangan Yandri.
Pria jangkung itu hanya tersenyum tipis mendengar rengekan istrinya. Dia kemudian merangkul Daniar. "Ayo! Kebetulan Ayah juga sudah lapar," timpal Yandri.
__ADS_1
Mereka berdua, berjalan beriringan menuju kamarnya. Tiba di kamar, Daniar segera mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Tak lama kemudian, dia menyerahkan piring tersebut kepada sang suami.
"Makan yang banyak, Yah. Biar tenaga Ayah cepet pulih. Bunda lihat, dari tadi Ayah kok, lemes banget. Gara-gara enggak dapat jatah malam ya," gurau Daniar mencoba mencairkan suasana.
"Ish, apaan sih, Bun?" jawab Yandri.
"Hehehehe, maaf Yah. Abisnya wajah Ayah enggak enak banget dilihat. Kusut, kek baju yang belum disetrika," tukas Daniar.
Yandri hanya kembali tersenyum. Dia pun mulai menyantap makan siangnya tanpa ingin membalas ledekan istrinya.
Melihat hal itu, Daniar pun tidak melanjutkan gurauannya. Senyum tipis Yandri membuat Daniar sadar jika suaminya itu sedang memiliki sebuah kekhawatiran.
Selesai makan siang, Daniar kembali membereskan piring-piring kotornya.
"Taruh saja dulu, Bun. Biar nanti Ayah yang cuci," ucap Yandri yang melihat istrinya sibuk memasukkan piring kotor ke dalam ember.
"Tidak apa-apa, Yah. Mumpung Bintang masih tidur, biar Bunda yang cuci," jawab Daniar.
"Ya sudah, kalau begitu biar Ayah yang jaga Bintang," balas Yandri.
Di dalam kamar, Yandri merebahkan tubuhnya di samping putrinya. Matanya kembali menatap nanar langit-langit kamar. Kata-kata Pak Agus tentang sikap sang adik, kembali mendengung jelas di telinga.
Tidak! Aku tidak akan membiarkan dia menaruh aib di wajah ibu. Apalagi, ibu sudah tua. Hatinya pasti akan sangat terluka jika mendengar kabar tentang kelakuan putranya. Aku harus segera bertindak, aku harus bisa mencegah agar dia tidak berbuat lebih jauh, batin Yandri.
Asyik melamun, Yandri sampai tidak menyadari jika istrinya sudah duduk di samping Yandri.
"Ayah kenapa, sih? Dari tadi Bunda lihat, Ayah selalu ngelamun. Memangnya, Ayah sedang lamunin apa?" tanya Daniar.
Yandri terhenyak mendapati pertanyaan sang istri.Bukannya menjawab, yandri malah bertanya kepada daniar, Eh, bunda. Kapan bunda datang?
"Tuh, 'kan ... Ayah ngelamun lagi? Kenapa sih, Yah? Ditagih utang sama pak Agus?" Karena merasa kesal, akhirnya Daniar membuat praduga yang bukan-bukan.
"Ish, Bunda apaan sih? Mana ada Ayah punya utang," tukas Yandri.
__ADS_1
"Ya, siapa tahu aja ... bukannya kalau sudah berhubungan dengan pak Agus, itu pasti tentang keuangan ya?" ucap Daniar mulai terlihat kesal.
"Engga Bun, Demi Tuhan, Ayah enggak pernah pinjam lagi uang tabungan ke pak Agus," sanggah Yandri.
"Hmm, baguslah kalau begitu," jawab Daniar. Terus, ngapain tadi pak Agus nyari Ayah?" lanjut Daniar.
Yandri diam. Dia sendiri tidak tahu harus menceritakannya dari mana kepada sang istri.
"Bun, apa Bintang sudah lama tidurnya?" Yandri mulai mengalihkan pembicaraan, membuat Daniar hanya memutar kedua bola matanya, jengah.
"Iya, Bintang sudah cukup lama kok, tidurnya. Mungkin karena kecapean juga harus ikut Bundanya kerja," jawab Daniar seraya mengusap pelan pipi anaknya.
"Nanti kalau Bintang sudah bangun, kita tidur di rumah Ibu, yuk!" ajak Yandri tiba-tiba.
Daniar cukup terkejut mendengar ajakan Yandri. Kok tumben suaminya ngajak nginap di rumah ibu mertua Daniar. Bukankah sang ibu sedang berangkat kerja?
'Kok ngelamun, Bun. Kenapa?" tanya Yandri.
"Eh enggak ... Bunda nggak pa-pa kok, Yah. Cuma sedikit kaget saja, kok tumben Ayah ngajak nginep di sana. Bukankah ibu belum pulang, ya?" tanya Daniar.
"Ya sekali- sekali, Bun. Ayah juga kangen suasana rumah. Lagian, besok, 'kan libur," tukas Yandri.
"Ya sudah, terserah Ayah saja," balas Daniar.
.
.
Sore hari, setelah memandikan anaknya, Daniar dan Yandri kemudian bersiap-siap untuk pergi ke rumah ibunya. Rencananya, mereka akan menginap di sana selama dua hari. Kebetulan, hari Sabtu Daniar tidak memiliki jam pelajaran. Karena itu dia bisa mengambil cuti.
Setelah mengunci pintunya rapat-rapat, Daniar dan Yandri berjalan menyusuri jalanan setapak di bawah pepohonan rindang.
45 menit kemudian, Yandri dan Daniar tiba di rumah ibunya. Mendapati pintu depan terkunci rapat, Yandri melangkahkan kaki menuju pintu belakang. Dia tahu betul jika pintu di belakang rumahnya pasti tidak terkunci rapat. Sedikit mencongkel lubang kunci, maka akan dengan mudah pintu belakang terbuka. Dan hanya Yandri yang tahu akan hal itu.
__ADS_1
Benar saja, dengan bantuan jepit rambut yang dikenakan Daniar, Yandri pun berhasil membuka daun pintu itu lebar-lebar. Yandri kemudian mengajak anak istrinya untuk masuk.
Tiba di rumah, Daniar hendak memasuki kamar suaminya untuk beristirahat. Namun, siapa sangka jika tata letak barang-barang di kamar tersebut sudah berubah. Ada banyak barang yang tidak dia kenali. Pada akhirnya, Daniar sadar jika kamar suaminya sudah ada yang mengambil alih.