Setelah Hujan

Setelah Hujan
Menolak Berpisah


__ADS_3

Yandri sangat terkejut mendengar permintaan Daniar. Sungguh, hal ini di luar ekspektasi dirinya. Yandri sendiri merasa bingung. Tidak ada angin tidak ada hujan, tidak ada badai, tiba-tiba saja istrinya meminta untuk berpisah.


"Tapi kenapa, Bun? Selama ini hubungan kita baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba Bunda meminta berpisah?" tanya Yandri tak mengerti.


Daniar mengalihkan pandangannya. Sungguh, dia tak kuasa menatap raut wajah Yandri yang diselimuti rasa bingung. Daniar pun hanya bisa diam. Karena saat ini, dia sama sekali tidak memiliki jawaban yang tepat untuk dijadikan sebuah alasan.


Yandri beranjak dari tempat duduknya. Dia kemudian berpindah tempat, mendekati Daniar dan duduk di sampingnya. Perlahan, kedua tangan Yandri menarik bahu Daniar agar bisa saling berhadapan.


"Coba tatap mata Ayah, Bun!" pinta Yandri.


Daniar mendongak. Sejenak, mereka saling beradu pandang. Tak sanggup mendapatkan tatapan tajam dari suaminya, Daniar pun menundukkan wajah.


Yandri menarik dagu Daniar hingga kembali saling bertatapan. Dia kemudian berkata kepada Daniar.


"Tolong bilang jika ini hanya sekedar candaan. Benar, 'kan ... Bunda lagi ngerjain Ayah? Ish, candaannya enggak lucu, ah!"


"Ma-maaf, Yah ... ta-tapi Bunda se-rius dengan permintaan Bunda yang satu ini," jawab Daniar kembali menundukkan wajahnya.


Yandri kembali terkejut. "Tapi kenapa?" tanyanya.


Bisu. Daniar hanya bisa membisu mendengar pertanyaan suaminya.


"Tatap mata Ayah, Bun. Katakan dengan jujur. Apa Bunda menyimpan suatu rahasia dari Ayah?" tanya Yandri, menyelidik.


Daniar menggelengkan kepalanya. Namun, dia masih tetap menunduk.


"Bun!" panggil lirih, Yandri.


Daniar mencoba memberanikan diri untuk menatap Yandri. Pandangan mereka kembali beradu. Sungguh, Daniar merasa risih melihat tatapan mata suaminya yang seolah sedang menelisik sebuah kebenaran dari dirinya. Namun, Daniar harus bisa meyakinkan Yandri agar mengabulkan permintaannya.


"Maaf Yah, tapi menurut Bunda ... hanya ini satu-satunya jalan yang terbaik untuk kita," jawab Daniar.


"Yang terbaik untuk siapa, Bun? Untuk Ayah? Untuk Bunda, atau bahkan untuk Bintang?" Yandri mulai meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Enggak, Bun! Ini bukan keputusan yang terbaik. Tapi ini keputusan konyol!" tegas Yandri. "Ayo kita pulang!" ajaknya, mencekal pergelangan tangan Daniar dan sedikit menariknya hingga Daniar beranjak dari tempat duduknya.


Sepanjang perjalanan, hanya kebisuan yang mengiringi mereka.


.


.


Malam hari, Yandri tak mampu memejamkan mata. Sikap Daniar yang sedang menjaga jarak dengannya, semakin terlihat kentara. Dada Yandri terasa sesak ketika mengingat kembali permintaan yang diutarakan Daniar tadi siang.


Ya Tuhan ... apa yang sebenarnya terjadi pada istri hamba? Kenapa istri hamba bisa berubah drastis seperti itu? Alasan apa yang dia miliki, sampai dia menuntut berpisah dari hamba? Sungguh, itu sebuah permintaan yang tak masuk akal bagi hamba, batin Yandri.


Ada banyak pertanyaan yang timbul dalam benak Yandri. Namun, tidak satu pun dari pertanyaan-pertanyaan itu yang mampu dia jawab.


"Huft!"


Yandri membuang napas dengan kasar. Merasa sesak berada di kamar, akhirnya dia keluar untuk mencari udara segar.


Rasa haus mendera Yandri saat melintas di ruang makan. Yandri pun pergi ke dapur untuk mengambil minum. Saat dia mengambil air dari dispenser, tanpa sengaja dia melihat bayangan Daniar yang sedang duduk menekuk kedua lututnya di gazebo belakang.


"Tolong berikan Ayah satu alasan yang masuk akal, kenapa Bunda ingin berpisah dari Ayah?" tanya Yandri begitu tiba di hadapan Daniar.


Wanita cantik berambut panjang itu langsung mendongak ketika mendengar suara suaminya.


"A-ayah!" jawab Daniar, gugup.


Sedetik kemudian, Yandri duduk bersila di hadapan istrinya.


"Tolong jawab Ayah, Bun. Jujur saja, Ayah benar-benar bingung. Kenapa Bunda meminta sesuatu hal yang mustahil Ayah berikan?" cecar Yandri.


"Kenapa, Yah? Kenapa itu mustahil bagi Ayah?" Daniar balik bertanya.


"Karena sampai kapan pun, Ayah tidak akan pernah mengabulkan permintaan Bunda. Asal Bunda tahu, itu permintaan bodoh dan tidak masuk akal bagi Ayah!" tegas Yandri, mulai meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Bunda rasa, permintaan Bunda cukup masuk akal, Yah. Dan Bunda berharap, Ayah bisa mengabulkan permintaan Bunda," jawab Daniar.


"Di mana letak masuk akalnya, Bun? Selama ini, hubungan kita tidak pernah ada masalah. Ikatan kita baik-baik saja meskipun selalu diterpa ujian. Namun, tiba-tiba saja Bunda melayangkan permintaan untuk berpisah. Jujur saja, bagi Ayah, permintaan Bunda itu tidak masuk akal. Sangat tidak masuk akal!"


"Iya! Bunda akui hubungan kita baik-baik saja. Bunda akui, kita selalu berusaha saling menguatkan di saat ujian melanda. Bunda akui, kita selalu menutup mata dan telinga di saat orang mencemooh hubungan kita. Tapi itu dulu, Yah. Dulu! Sebelum Bunda menjadi wanita yang tidak sempurna!" jawab Daniar, sama-sama meninggikan suaranya.


"Apa maksud Bunda?" tanya Yandri yang mulai menormalkan kembali nada bicaranya.


Kedua mata Daniar mulai berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak ketika mengingat kembali ketidaksempurnaan yang dia miliki saat ini.


"Bun, tolong jawab Ayah," pinta Yandri, lembut.


"A-aku ... a-ku bu-kan wanita sempurna lagi, Kang. A-aku su-dah tidak mampu memberikan kamu seorang pewaris. A-ku cacat, Kang. A-aku sudah tidak bisa memberikan kamu keturunan lagi. Aku ti-tidak sempurna. Dan ... hiks ... dan suatu hari nanti ... ka-kamu pasti akan meninggalkan aku karena ketidaksempurnaan ini, huhuhu ...."


Akhirnya tangis Daniar pecah. Dia sudah tidak sanggup lagi menyembunyikan perasaannya. Rasa khawatir akan masa depan rumah tangganya. Rasa cemas akan nasib cintanya. Terlebih lagi, rasa sakit ketika teringat perlakukan ibu mertuanya.


"Astaghfirullahaladzim, Bun ..." ucap Yandri seraya menarik Daniar ke dalam pelukannya. "Kenapa Bunda berpikiran picik seperti itu? Apa pun keadaan Bunda, Ayah tidak akan pernah meninggalkan Bunda. Ayah sayang sama bunda. Jadi, tolong jangan meminta hal yang aneh-aneh, karena sampai kapan pun, Ayah akan menolak permintaan kamu. Paham!" tegas Yandri.


"Tapi Yah, Bun ... humph...."


Yandri membungkam perkataan Daniar dengan ciumannya. Untuk beberapa detik, dia mulai menyalurkan kehangatan lewat ciuman.


Sesaat, Daniar menutup mata. Merasai lembutnya bibir kekasih yang tengah menyesap bibirnya. Namun, saat kalimat ibu mertuanya menggaung di telinga. Sontak Daniar mendorong tubuh Yandri hingga terjengkang.


Dasar wanita pembawa sial!


"Ti-tidak ... a-aku bukan pembawa sial," gumam Daniar, lirih.


Yandri segera bangkit saat melihat reaksi aneh Daniar. Kedua tangan Daniar terlihat menutup telinga kiri dan kanannya. Wajah Daniar terlihat pucat dan ketakutan.


"Kamu kenapa, Bun?" tanya Yandri, hendak menyentuh bahu Daniar.


Namun, lagi-lagi Daniar mendorong Yandri. Tanpa berkata apa pun, Daniar bangkit dan berlari meninggalkan Yandri yang masih bergeming kebingungan.

__ADS_1


Ya Tuhan ... ada apa dengannya?


__ADS_2