
Daniar sedang mengemasi barangnya saat Bintang datang menghampiri.
"Apa bunda perginya lama?" tanya Bintang.
"Enggak, Sayang. Bunda cuma tiga hari, kok, kemahnya," jawab Daniar.
"Apa nanti, Bibin boleh tidur sama Ayah lagi?" Kembali Bintang bertanya.
"Hmm, tentu saja boleh, Nak. Kamu bisa tidur sepuasnya bareng Ayah. Ingat, Ya ... jagain Ayah baik-baik selama Bunda enggak ada. Suruh Ayah minum obatnya dengan teratur. Kalau Ayah enggak mau minum obat, nanti Bibin laporkan saja sama Enin. Oke!" ucap Daniar seraya mengacungkan jari kelingkingnya.
"Oke, Bunda!" jawab Bintang yang langsung menautkan jari kelingking mungilnya di jari kelingking sang ibu.
Pukul 7 lewat 20 menit, mobil yang ditumpangi Daniar dan anak-anak Tarantula-Lavender pun, mulai melaju ke lokasi bumi perkemahan tingkat kecamatan. Melakukan perjalanan selama setengah jam, akhirnya mobil pun tiba di sebuah lapang bola yang cukup luas. Beberapa tenda sudah berdiri di lapang tersebut. Daniar bersama pembina putra, segera memberikan perintah kepada anak didiknya untuk membuat tenda.
.
.
Sehari setelah istrinya pergi berkemah, Yandri mulai menyibukkan diri di rumah. Sebulan hanya terbaring di atas kasur, membuat seluruh otot kaki, lengan dan lehernya terasa kaku. Yandri pun melakukan joging di halaman belakang rumahnya.
"Jangan terlalu kecapean, Yan!" teriak Bu Salma dari balik jendela dapur.
"Iya, Bu," sahut Yandri sambil terus berlari kecil mengelilingi halaman belakang rumah yang dibuat lapangan basket oleh sang istri.
Ya! Selain hobi dengan kegiatan pramuka, Daniar juga gemar bermain basket di waktu senggangnya. Sayang, semua kegemaran itu sama sekali tidak menurun kepada putri tunggalnya. Bintang lebih tertarik dengan hal-hal yang berbau ilmiah dan kepastian. Dia lebih senang mengotak-atik laptop sang ayah dibandingkan bermain basket bersama ibunya.
Saat Bu Salma tengah asyik memasak, tiba-tiba kompornya padam.
"Hmm, mungkin gasnya sudah habis," gumam Bu Salma.
Sebaiknya aku panggil Yandri untuk memasang tabung gas. Masakan belum matang, Bintang pasti sangat lapar saat pulang sekolah. Kasihan juga kalau dia harus menahan lapar karena masakannya belum matang, ucap Bu Salma dalam hatinya.
Sesaat kemudian, Bu Salma keluar untuk menghampiri menantunya yang kini sedang beristirahat di depan pintu gudang.
"Capek, Yan?" tegur Bu Salma ketika melihat Yandri duduk sembari menyelonjorkan kedua kakinya.
"Sedikit, Bu," jawab Yandri.
__ADS_1
"Ibu lagi masak, tapi rupanya gas di dapur sudah habis, Nak. Kira-kira kamu bisa pasangin gas baru, enggak?" tanya Bu Salma. "Kalau enggak bisa, biar Ibu telepon saja pak Heri," imbuhnya.
"Iya, Yandri bisa. Jangan panggil pak Heri, Bu. Insya Allah, Yandri bisa pasangkan," tukas Yandri.
"Oh, ya sudah kalau begitu," pungkas Bu Salma.
Bu Salma kembali memasuki rumah untuk menyimpan ponselnya. Sedangkan Yandri, dia segera beranjak dan pergi ke dapur untuk memasang tabung gas.
Tiba di dapur, Yandri mengambil tabung gas kecil dari kolong meja. Dia kemudian melepaskan segelnya dan segera memasang selang regulator di atas tabung tersebut.
Selesai memasangnya, Yandri mencoba menyalakan kompor. Api kemudian menyala dengan sempurna. Sesaat sudut mata Yandri melihat sepiring nasi yang belum dihangatkan. Dia kemudian mengupas bawang merah dan mengirisnya tipis-tipis. Yandri berniat untuk membuat nasi goreng.
Yandri mulai menumis irisan bawang merah beserta bumbu nasi goreng yang telah dia ulek. Sesaat kemudian, dia menumpahkan nasi ke dalam wajan dan mulai mengaduknya agar bumbu dan nasi tercampur merata. Saat dia sedang asyik mengaduk-aduk nasi goreng di atas wajan, tiba-tiba Bu salma datang ke dapur dengan tergopoh-gopoh.
"Astagfirullah, Yan. Gasnya bocor, bau banget!" seru Bu salma.
Yandri mengernyitkan keningnya. "Bocor, Bu?" ulang Yandri, "kok bisa?" lanjutnya.
"Ish, emangnya kamu enggak nyium bau gas, Yan? Nyengat banget ... sampai kecium ke ruang keluarga," sahut Bu Salma.
"Masak sih, Bu?" Yandri semakin merasa heran karena dia sama sekali tidak mencium bau apa-apa. Terlebih lagi bau gas.
"Sudah, dicopot saja regulatornya, Yan. Nanti kita panggil pak Heri untuk memeriksanya," perintah Bu Salma.
Yandri menurut, dia mematikan kompor dan kembali mencopot selang regulator dari tabung gas. Karena merasa penasaran, Yandri mencoba mendekatkan indera penciumannya di dekat tabung gas. Yandri cukup terkejut, karena sedekat ini pun, dia masih belum bisa mencium bau menyengat dari tabung gas.
Apa yang terjadi dengan indera penciumanku? batin Yandri.
"Nasi gorengnya sudah matang, 'kan, Yan?" tanya Bu Salma.
Pertanyaan Bu salma seketika membuyarkan lamunan Yandri.
"Iya, Bu. Sudah matang kok," sahut Yandri.
"Ya sudah, bawa ke ruang makan dan makanlah!" perintah Bu Salma. "Ibu mau menemui dulu pak Heri," lanjutnya.
"Baik, Bu."
__ADS_1
Yandri mengambil piring dan memindahkan nasi goreng yang masih berada di dalam wajan. Setelah itu, dia membawa piring nasi goreng tersebut untuk segera disantapnya. Saat Yandri membuka kulkas untuk mengambil lalapan segar, Yandri melihat daun seledri. Seketika dia ingat jika daun seledri memiliki aroma yang khas.
Untuk mengetes penciumannya, Yandri memotek daun seledri tersebut dan menghancurkannya. Dia kemudian mendekatkan tangan untuk mencium aroma khas daun seledri.
Sangat mengejutkan! Sepertinya indera penciuman Yandri memang terganggu. Yandri hanya bisa menarik napas panjang saat mulai menyadari musibah kembali menghampirinya.
.
.
"Diagnosis dokter sudah keluar, Pak. Bapak diminta untuk menemui Dokter Iwan di ruangannya," pinta salah satu suster penjaga di rumah sakit umum.
"Baiklah, Sus. Kalau begitu, saya titip istri saya sebentar," jawab Aji.
"Baik, Pa."
Aji mengusap lembut puncak kepala istrinya. "Bapak temui dokter dulu ya, Bu," pamit Aji.
Khodijah hanya mengangguk pelan.
Dengan perasaan tidak karuan, Aji melangkahkan kaki menuju ruangan Dokter Iwan. Salah satu dokter saraf yang berada di rumah sakit umum daerah.
Tok-tok-tok!
Aji mengetuk pelan pintu ruangan Dokter Iwan.
"Masuk!" Terdengar sahutan dari dalam ruangan.
Aji pun membuka pintu dan mendorongnya perlahan. Tampak Dokter Iwan sedang duduk seraya memegang sebuah amplop besar berwarna coklat.
"Silakan duduk Pak Aji," ucap Dokter Iwan mempersilakan tamunya duduk.
Aji mengangguk. Sedetik kemudian, dia mendaratkan bokongnya di kursi yang berada di depan meja Dokter Iwan.
"Begini, Pak. Hasil diagnosis ibu Khodijah sudah keluar. Dan dari hasil lab yang telah dilakukan pada istri Anda, diketahui jika istri Anda telah salah mengkonsumsi obat, sehingga menyebabkan lemahnya saraf-saraf otot di kaki. Kuatnya dosis obat tersebut, membuat sebagian saraf tidak berfungsi sebagaimana mestinya," papar Dokter Iwan.
Jujur saja, pemaparan Dokter Iwan seketika membuat seluruh tubuh Aji terasa lemas. Untuk kali kedua, istrinya mengalami lumpuh, bahkan bertambah parah.
__ADS_1
Ya Tuhan ... berilah kesabaran pada istri hamba.