
Baik Habibah, Bu Maryam maupun Siska, mereka sangat panik melihat Yandri melangkahkan kaki hendak keluar dari tempat acara.
"Ibu, lakukan sesuatu!" pinta Siska.
"Me-melakukan apa?" kata Bu Maryam kebingungan.
"Pingsan, Bu! Ayo cepat pingsan!" timpal Habibah.
"Maksud kamu?" tanya Bu Maryam heran.
"Iih, sudah. Ibu ikuti saja apa yang diucapkan Kak Habibah. Sekarang Ibu pura-pura jatuh dan pingsan!" lanjut Siska seraya menekan kedua bahu Bu Maryam.
Brugh!
Tekanan Siska yang begitu kuat, membuat Bu Maryam jatuh seketika. Dia memegang dada sebelah kirinya. Kedua matanya terpejam. Untuk sejenak, Bu Maryam bersikap seperti orang sedang tidak sadarkan diri.
Siska dan Habibah saling pandang. Senyum menyeringai terukir di kedua sudut bibir para wanita tidak tahu diri itu. Setelah mendapatkan anggukan Siska, Habibah berteriak-teriak memanggil adiknya.
"Yandri, tunggu!" teriak Habibah.
Yandri hanya melambaikan tangannya, menanggapi teriakan sang kakak.
Habibah tidak menyerah begitu saja. Dia turut berlari untuk mengejar langkah Yandri yang semakin menjauh.
Begitu juga dengan Yandri. Pria itu masih terus mengayunkan langkah lebarnya sambil berteriak memanggil putrinya.
"Bintang, tunggu dulu Nak!"
Bintang semakin cepat menuruni tangga eskalator. Diikuti oleh Adwira dari arah belakang. Meskipun Adwira tidak mengerti atas perdebatan yang baru saja terjadi. Namun, dia yakin jika saat ini Bintang sangat membutuhkan support.
Dengan cekatan, Adwira menyambar pergelangan tangan Bintang dan menariknya ke dalam kerumunan pengunjung mall. Adwira tahu jika Bintang ingin menghindari laki-laki yang tengah mengejarnya, karena itu dia pun berusaha mengecoh pria jangkung itu.
"Hentikan Yandri! Ibu pingsan!"
Teriakan Habibah seketika menghentikan langkah Yandri. Sepersekian detik kemudian, Yandri membalikkan badan. Dia melihat ibunya tergeletak di lantai. Di samping kanan, Siska berjongkok seraya mengguncang pelan bahu ibunya.
Untuk beberapa detik, Yandri merasa bingung. Di satu sisi, dia harus mengejar Bintang dan mendapatkan jawaban. Namun, di sisi lain ibunya sedang bertaruh nyawa di sana.
Pada akhirnya, Yandri mengalah. Dia kembali memasuki kedai bakso untuk menemui ibunya.
Merasa sudah tidak kondusif lagi, akhirnya Pak Hartono membubarkan para tamu undangan. Terlebih lagi, dia melihat calon besannya pingsan. Tentu saja pertunangan putrinya tidak bisa berlanjut. Akhirnya Pak Tono meminta maaf dan mempersilakan para tamu undangan untuk pulang.
.
.
__ADS_1
Di tempat lain.
"Tunggu sebentar! Aku ambil mobilnya dulu," pinta Adwira sesaat setelah mereka berhasil keluar mall dari pintu samping.
Bintang tak bereaksi apa-apa. Dia hanya mematung di beranda sebuah kafe.
Tak ingin membuang waktu, Adwira segera pergi ke tempat parkir untuk mengambil kendaraannya. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil sport berwarna hitam, berhenti di hadapan Bintang.
Adwira keluar. Dia tahu jika temannya sedang merasa kebingungan. Dia tidak ingin menambah beban pikiran temannya dengan bertanya. Karena itu, dia hanya membuka pintu mobil dan meminta Bintang untuk masuk. Sejurus kemudian, Adwira menyalakan mesin mobil dan melajukannya keluar dari halaman parkir mall.
Sepanjang jalan, Bintang tak bersuara. Adwira pun enggan mengganggunya. Hingga tiba bunderan bypass, Adwira bertanya. "Apa kita mau langsung pulang?"
"Bisa antarkan aku ke taman kota?" pinta Bintang tanpa menoleh sedikit pun.
"Tentu saja," jawab Adwira.
.
.
"Ibu!" panggil Yandri begitu tiba di hadapan ibunya.
Namun, wanita tua itu tidak bereaksi apa-apa. Dia masih memejamkan kedua matanya.
"Tidak usah!" cegah Siska.
Semua orang sontak menatap heran ke arah wanita berkebaya putih itu.
"Ma-maksud, Siska. Se-sebelum membawa Ibu ke rumah sakit, kita bawa Ibu masuk dulu ke ruangan Siska. Supaya kita tidak jadi pusat perhatian di sini," lanjut Siska.
"Tidak, terima kasih. Saya akan membawa ibu ke rumah sakit terdekat," tegas Yandri seraya mengangkat tubuh lemah Bu Maryam.
Yandri tidak ingin terlambat menolong orang tuanya, karena itu, dia pun segera membawa Bu Maryam untuk keluar dari mall.
"Bagaimana ini, Kak?" bisik Siska di telinga Habibah, "kalau ibu sampai ke rumah sakit, nanti ketahuan jika ibu hanya sekadar bersandiwara," lanjut Siska terlihat cemas.
"Ssst, tenanglah! Kita pikirkan solusinya sembari jalak, oke?" jawab Habibah yang hatinya juga merasa ketar-ketir karena takut kebohongan ibunya terbongkar.
"Yandri, tunggu!" teriak Habibah saat melihat Yandri kelelahan menggendong tubuh ibunya menuju pelataran parkir.
"Ada apa lagi, Kak," jawab Yandri, ketus.
"Sebaiknya, kita baringkan Ibu di masjid dulu. Kamu, ambillah mobilnya! Biar Kakak dan Siska yang jaga ibu di sini," tutur Habibah.
"Tapi ...."
__ADS_1
"Tidak usah khawatir, Ibu pasti akan baik-baik saja. Dia mungkin hanya kelelahan dan sedikit terkejut melihat kelakuan putri kamu. Ayo kita baringkan Ibu di masjid, sementara kamu ambil mobil kamu di tempat parkir," lanjut Habibah.
Yandri mengalah. Dia kemudian membawa ibunya ke masjid yang letaknya tidak jauh dari pintu keluar mall dari arah belakang. Setelah membaringkan ibunya di atas karpet, Yandri segera berlari menuju tempat parkir untuk mengambil kendaraannya.
"Huft! Hampir saja ..." gumam Siska seraya mengelus dada.
"Sudah aku bilang, tenanglah. Jalan keluar pasti akan selalu ada jika kita bersikap tenang," kata Habibah.
Siska tersenyum kecut. "Iya, Kakak benar. Panik hanya akan membuat kita salah tingkah," timpalnya.
Habibah tersenyum penuh kemenangan. Sesaat kemudian, dia berjongkok untuk membangunkan ibunya.
"Pssst ... sudah aman, Bu. Bangunlah!" kata Habibah menyentuh pelan bahu ibunya.
Namun, Bu Maryam tidak bereaksi.
"Iya-iya, Bu. Bibah tahu Ibu ini pinter banget akting, tapi apa Ibu enggak ngerasa pegal harus terpejam seperti itu? Dan itu ... bibir Ibu? Kenapa harus dimencong-mencongin kayak gitu?" tegur Habibah.
Akan tetapi, Bu Maryam masih bergeming di tempatnya. Dia sadar, tapi tidak bisa membuka kedua matanya. Kedua tangannya terasa kebas, dan kakinya kaku. Bu Maryam merasa jika tubuhnya begitu sulit untuk digerakkan.
"Ayolah, Ibu ... mumpung Yandri belum datang kemari. Setidaknya, berhentilah berakting untuk sejenak. Nanti setelah Yandri datang, Ibu baru bisa pura-pura pingsan lagi. Bukankah begitu, Kak?" timpal Siska.
"Hahaha, iya Sis. Tapi sepertinya Ibu begitu menghayati perannya, biar terlihat natural," ledek Habibah.
"Hehehe, itu totalitas namanya, Kak," balas Siska.
Dalam hati, Bu Maryam mengutuk sikap kedua wanita yang sedang menertawakan dirinya.
Astaga! Ada apa ini? Kenapa dengan tubuhku? Semuanya terasa kaku. Kedua mataku terasa pegal karena harus terpejam terus, tapi kenapa aku tidak bisa membukanya?
"Uumh ... hbiii ... hbaahh ..." gumam Bu Maryam yang terlihat kesulitan menggerakkan bibirnya.
Melihat hal itu, sontak Siska dan Habibah saling pandang. Kedua wanita itu begitu terkesima menatap Bu Maryam yang masih berbaring dengan kedua tangan yang jari jemarinya terlihat menekuk ke dalam.
"Astaghfirullah, Ibu!" pekik Habibah.
"Kakak, a-apa Ibu terkena stroke?" kata Siska.
"Apa?! Stroke?"
Yandri sangat terkejut mendengar ibunya terkena stroke. Sementara Bu Maryam ... dunianya mulai terasa gelap mendengar kemungkinan yang sedang terjadi pada dirinya.
Ya Tuhan, inikah karmaku? batin Bu Maryam yang sedikit demi sedikit, kesadarannya mulai menghilang.
"Cepat bawa Ibu ke rumah sakit, Yan!"
__ADS_1