Setelah Hujan

Setelah Hujan
Tentang Yandri


__ADS_3

Dengan jantung yang masih berdegup kencang, akhirnya Daniar mengatakan jika dia salah mengenali orang kepada pria itu. Daniar kembali membalikkan badan dan berlari kecil ke arah Deni yang tengah berdiri di dekat pohon beringin.


Sedangkan Sahid, pria itu hanya melongo melihat sikap Daniar. Ish, apa mungkin gadis itu bukan gadis yang dibilang si Deni? Tapi, mo ngapain dia kemari? Bukankah hanya aku, Deni dan gadis yang bernama Daniar yang janji ketemu di tempat ini? batin Sahid, mengerutkan keningnya.


Sementara di balik pohon beringin yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari taman kampus, Daniar tiba di depan Deni dengan napas yang masih tersengal. Sejenak, Daniar mengatur napasnya. Sesaat setelah dia merasa baik-baik saja, dia pun memasang muka kecut terhadap Deni.


"Ish, muka lo kok berubah serem gitu sih, Ni? Terus, kenapa ketemuannya cuma bentar? Lo nervous ya ... ketemu gebetan elo," tebak Deni.


"Nervous pala lo peang!" tukas Daniar seraya memukul bahu sahabatnya itu.


"Aih, lo kenapa sih, Ni? Udah muka lo kecut kek ikan cucut, sekarang maen tabok gitu aja. Salah gua di mana?" tanya Deni, heran. "Elo mah nggak asyik banget, dibantuin, bukannya ucap terima kasih, eh ... malah KDRP," sungut Deni.


Daniar menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Deni. Si biang kerok ini selalu saja memiliki kosakata yang tidak bisa dimengerti dengan mudah oleh Daniar.


"KDRP? " ulang Daniar, "apaan tuh KDRP?" lanjutnya.


"Iya, KDRP? Kekerasan Dalam Rumah Persahabatan," ucap Deni dengan wajah yang cukup serius.


Daniar yang tadinya sudah memasang wajah garang seperti Kak Ros, akhirnya tergelak saat mendengar akronim yang diplesetkan Deni.


"Hahaha, bisa aja loh, Den."


"Ya abisnya, lo datang ujug-ujug mukul gua. Emangnya salah gua sama lo tuh, apa?" gerutu Deni seraya memajukan bibirnya.


"Salah sasaran, Dodol!" tegas Daniar, kesal.


"Salah sasaran?" ulang Deni, "salah sasaran gimana? Apa sih maksud lo, Ni? Sumpah deh, gua kagak ngarti," balas Deni dengan wajah cengo.


"Alaaah, udah deh. Gua udah nggak mood jelasinnya." Daniar menggerutu seraya berlalu pergi dari hadapan Deni.


"Eh, Ni. Tunggu!" teriak Deni, berlari menyusul Daniar.


Brugh!


Fokus berlari, tiba-tiba Deni menabrak punggung Daniar yang menghentikan langkahnya.


"Ish, Ni. Bilang-bilang dong kalau mo berhenti. Kek angkot aja, nge-rem mendadak," gerutu Deni, kesal.


Daniar hanya membulatkan kedua bola matanya, memelototi Deni.


"Iya-iya, gua yang salah," ucap Deni mengalah. "Ngapain sih, lo berhenti ngedadak kek gitu?" tanya Deni.

__ADS_1


"Noh!" ucap Daniar, menunjuk seorang laki-laki yang sedang duduk di bangku di depan kelas PAI.


Deni menoleh ke arah yang ditunjukkan Daniar dengan matanya. Tampak Yandri sedang duduk di depan kelas seraya menunduk, membaca modul di tangannya.


"Kenapa, Ni?" tanya Deni, kembali melirik Daniar.


"Cowok itu yang gua maksud, Den," jawab Daniar


Deni hanya melongo mendengar jawaban Daniar. Beberapa detik kemudian, dia baru bisa mencerna perkataan Daniar tentang salah sasaran.


"Jadi, maksud lo, Yandri? Lo suka sama Yandri, Ni?" tanya Deni memastikan.


Daniar tersenyum. "Gua nggak tahu apakah gua suka sama dia atau enggak. Yang jelas, sikap tuh cowok bikin gua penasaran, Den. Wajahnya kok judes banget ya. Dingin lagi," celetuk Daniar, yang sedikit pun tak memalingkan wajahnya dari pria itu.


"Udah deh, jan ngayal terlalu tinggi!" jawab Deni mengusap kasar wajah Daniar agar gadis itu berhenti menatap Yandri.


"Ish, apaan sih Den?" dengus Daniar, menepis tangan Deni dari wajahnya. "Lagian, siapa yang ngayal, wew!" Daniar menjulurkan lidahnya.


"Hidih, ge-er. Udah deh, lo tuh bukan tipenya dia," sahut Yandri seraya berjalan mendahului Daniar.


"Eh, tunggu! Apa maksudnya ini?"


"Den, tunggu dulu!" Daniar masih berteriak. Saat dia sudah berhasil mendekati Deni, Daniar menarik tangan sahabatnya itu seraya berkata. "Apa maksud lo gua bukan tipenya dia?"


Deni menghela napasnya sejenak. "Denger ya Ni, gua kasih tahu. Lo sama dia itu ibarat langit ma bumi–"


"Iya-iya, gua sadar siapa gua, Den. Nggak diingetin ma lo juga, gua udah sadar diri kok. Memangnya siapa sih gua? Hmm, gua mah cuma bubuk rengginang di kaleng biskuit," celoteh Daniar, berlalu pergi.


Deni meraih tangan Daniar. "Ish, bukan seperti itu, Ni?"


"Lalu?"


"Maksud gua, sifat lo sama Yandri itu amat sangat jauh berbeda. Pake banget lagi!"


"Wah, saking jauhnya, ya. Apakah seperti planet Pluto dan Matahari?" kelakar Daniar.


"Ya, bisa dikatakan seperti itu," timpal Deni. "Udah deh, gua lagi ngomong serius, nih," tukas Deni.


"Lah, emang lo pikir gua maen-maen?" jawab Daniar.


Deni kembali menghela napasnya. Matanya menatap tajam ke arah Daniar.

__ADS_1


Mendapati tatapan seperti itu, Daniar hanya bisa memainkan ujung rambutnya. "Oke, lanjut!" titah Daniar.


"Kita ngobrol di kantin saja. Mumpung bel masuk masih lama juga," kata Deni seraya menarik tangan Daniar menuju kantin.


Tiba di kantin, Deni selalu memilih meja sudut sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk bicara. Namun, sebelumnya dia mengambil dua botol air mineral dan beberapa jenis camilan sebagai teman ngobrol.


Setelah duduk, Deni membuka tutup botol tersebut dan menyerahkan air mineral itu kepada Daniar. Sesaat, Daniar mereguk air minumnya.


"Silakan lanjut, Den!" ucap Daniar, kembali menaruh botol itu di hadapannya.


"Yandri itu seorang pemuda yang introvert. Terlebih lagi untuk urusan perasaan. Sejak ayah dan kakak iparnya meninggal beberapa bulan yang lalu, dia semakin menutup diri. Dan akhir-akhir ini, dia baru saja ditinggal menikah oleh pacarnya. Sejak saat itu, dia pun menutup hatinya untuk cinta," tutur Deni


"Ish, sotoy lu, Den!" tukas Daniar.


"Yaelah, Ni. Bukannya sotoy, tapi emang gua tahu persis siapa Yandri. Lagi pula, lo tuh bukan tipenya dia," jawab Deni.


"Terus, bagaimana tipe sahabat lo itu?" tanya Daniar semakin penasaran.


"Cewek itu harus kalem, berhijab, nggak pake celana jeans kek elo. Ya intinya, agamis banget, deh. Emangnya lo nggak tahu kalau si Yandri itu guru ngaji?"


Daniar cukup terkejut mendengar pertanyaan Deni.


"Ya mana gua tahu, gua kan nggak kenal dia," jawab Daniar.


"Lah, terus ... alasan lo suka ma dia?" tanya Deni mengerutkan alisnya.


"Ya nggak ada alasan lain sih. Gua cuma penasaran aja sama sifat dingin dan wajah datarnya itu. Kek kurang sentuhan cewek gitu loh, Den," canda Daniar.


"Idih, sialan lo! Awas aja kalo lo deketin dia buat pelampiasan," ancam Deni.


"Hmm, gua nggak yakin sih, Den. Tapi kalau dia mau, ya enggak masalah. Hahaha ..." Daniar tergelak saat memberikan jawaban ngasalnya kepada Deni.


"Ish, dodol lo! Awas ya, mendingan gua ngawinin elo daripada lo mainin hati si Yandri lagi," dengus Deni, kesal.


"Yeayy, siapa juga yang mau sama playboy kadal kek elo. Udah ah, masuk yuk!"


Daniar kembali mereguk air mineralnya. Sesaat setelah itu, dia kemudian mengajak Deni untuk masuk kelas. Karena lima menit lagi, jam pertama akan segera di mulai.


Sepanjang jalan, pikiran Daniar dijejali oleh kata-kata Deni tentang Yandri.


Hmm, pantas saja dia bersikap dingin seperti itu terhadap perempuan, rupanya dia pernah tersakiti.

__ADS_1


__ADS_2