
Setelah mengazani bayinya, Yandri kemudian mengembalikan putri kecil itu kepada perawat. Dia menghampiri Daniar seraya mengecupnya.
"Terima kasih karena telah melahirkan bayi yang begitu cantik," ucap Yandri.
Daniar hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya. Tenaga Daniar benar-benar terkuras habis setelah berjuang melahirkan putrinya. Ditambah lagi, siang ini Daniar sama sekali belum menyentuh makanan. Karena berniat untuk makan bakso favoritnya di taman kota, Daniar sama sekali belum menyentuh nasi dari pagi.
"Ya sudah, Yan. Sebaiknya kamu tunggu di luar lagi. Biar perawat membersihkan sisa-sisa lahiran Daniar," saran dr. Alex.
Yandri mengangguk. Dia kembali mengecup kening Daniar sebelum akhirnya meninggalkan sang istri di ruang bersalin.
"Bagaimana putri kalian? Apa dia sehat dan tidak kekurangan suatu hal apa pun?" cecar Bu Salma begitu Yandri keluar dari ruang bersalin.
"Alhamdulillah, Bu. Bayinya sehat dan sempurna," jawab Yandri.
"Lalu, ibunya? Apa ibunya baik-baik saja? Apa dia mengalami jahitan Parineum?" Kembali Bu Salma memberondong Yandri dengan pertanyaan seputar kesehatan anaknya.
"Waduh, Yandri enggak ngerti, Bu. Tapi sejauh ini, Yandri lihat, kondisi Daniar baik-baik saja, Bu," jawab Yandri.
"Alhamdulillah, Daniar tidak mengalami jahitan Parineum, Bu. Karena berat badan bayinya juga termasuk prematur," timpal dr. Alex.
"Prematur?" ucap Yandri dan Bu Salma berbarengan. Sejurus kemudian, raut kecemasan pun kembali terlihat di wajah Bu Salma dan Yandri.
"Iya, berat badan bayinya kurang dari 2500 gr. Tapi kalian tidak usah khawatir. Nanti setelah bayinya mendapatkan ASI, dia pasti akan mengalami kenaikan berat badan yang cukup pesat. Yang terpenting saat ini, bayinya sehat dan tidak ada gejala Ikterik Neonatorum," tutur dr. Alex.
"I-ikterik neo ... apa, Dok?" tanya Bu Salma, menautkan kedua alisnya pertanda tidak mengerti dengan bahasa medis yang diucapkan dr. Alex.
"Ikterik Neonatorum, Bu," ulang dr. Alex.
"Apa itu, Dok?" tanya Yandri yang juga sama-sama tidak mengerti.
"Ikterik Neonatorum itu adalah kondisi yang sering terjadi pada bayi baru lahir. Umumnya sih tidak berbahaya. Ya tanda-tandanya dapat dilihat dari warna kulit dan pada bagian putih mata berwarna kuning," ucap dr. Alex menjelaskan.
"Oh, seperti penyakit kuning ya, Dok?" tanya Bu Salma.
"Nah, benar. Kalau bahasa kampungnya itu penyakit kuning, Bu," timpal dr. Zainal.
"Oalah Dok-Dok, mbok ya kalau sama emak-emak mah, enggak usah pake bahasa medis-medis begitu. Tidak mengerti saya," tukas Bu Salma.
Dokter Alex dan dr. Zainal hanya tersenyum mendengar ucapan Bu Salma.
__ADS_1
"Ya sudah. Sebentar lagi Daniar akan dipindahkan ke ruang VVIP yang berada di lantai tiga. Saya permisi dulu karena harus mengantar ayah saya untuk kontrol," pungkas dr. Alex seraya berpamitan kepada keluarga pasien.
Setelah berterima kasih, Yandri kemudian membawa mertua dan adik iparnya untuk menunggu Daniar di ruang VVIP. Tiba di sana, Bu Salma cukup terkejut juga melihat fasilitas yang berada di ruangan tersebut.
"Yan, apa kita tidak salah kamar?" tanya Bu Salma.
"Memangnya kenapa, Bu?" Yandri malah balik bertanya.
"Fasilitasnya ini loh, Yan? Kamu lihat deh, mewah sekali, 'kan? Ini pasti mahal, Yan. Ibu yakin nih, semalam bisa sampai sejutaan nih harganya, bahkan lebih," tebak Bu Salma.
"Entahlah, Bu. Yandri sendiri tidak tahu," jawab Yandri yang memang tidak tahu apa-apa tentang fasilitas perawatan istrinya pasca melahirkan.
"Memangnya kamu ada uang, Yan, buat memberikan fasilitas seperti ini pada Daniar? Ibu rasa, di ruang kelas tiga pun sudah cukup nyaman untuk perawatan istri kamu," tutur Bu Salma.
"Sebenarnya, ceritanya sangat panjang, Bu. Tapi semua biaya Daniar sudah ditanggung oleh dr. Alex," jawab Yandri.
Bu Salma mengerutkan keningnya. "Kok bisa, Yan?"
"Kebetulan, dr. Alex itu direktur utama di rumah sakit ini," jawab Yandri.
"Apa dia teman kamu?" tanya Bu Salma lagi.
"Hingga saat Daniar masuk ke rumah sakit ini, dia bukan siapa-siapa Yandri, Bu. Tapi setelah kami bertemu, dia menganggap Yandri dan Niar sebagai adiknya," jawab Yandri.
Yandri tersenyum. "Intinya, mungkin ini sebagai balas budi dr. Alex karena Yandri pernah menolong ayahnya beberapa bulan ke belakang, Bu," sahut Yandri.
"Oh, begitu."
.
.
Beberapa hari berlalu. Setelah berat badan si kecil bertambah dan Daniar juga mulai bisa melakukan aktivitas duduk dan berjalan, akhirnya dr. Alex mengizinkan Daniar dan bayinya pulang ke rumah. Tidak lupa dr. Alex juga memfasilitasi kepulangan Daniar hingga sampai di rumahnya. Di samping itu, dr. Alex memberikan peralatan bayi yang dibutuhkan sebagai hadiah untuk si kecil Bintang.
"Aah, nikmat apa lagi yang bisa didustakan," gumam Yandri mengucap ribuan syukur atas rezeki si kecil.
Di rumah keluarga Fandi, Danisa dan Danita dibantu Roni sedang membuat acara syukuran kecil-kecilan dalam rangka menyambut cucu pertama keluarga Fandi. Mereka terlihat antusias menghias ruang tamu. Kehadiran bayi Daniar akan menjadi warna tersendiri bagi mereka. Terlebih lagi, belum pernah ada tangis bayi di rumah sederhana ini.
"Bagaimana anak-anak, apa semuanya sudah siap?" tanya Pak Fandi yang setelah divonis memiliki radang paru-paru, akhirnya memutuskan untuk pensiun dari pekerjaannya sebagai sopir bajaj.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sudah beres, Yah," jawab Danita.
"Ya sudah. Nis, coba telepon ibu, mereka sudah sampai mana?" perintah Pak Fandi kepada putri bungsunya.
"Oke, Yah," jawab Danisa seraya menekan beberapa angka di atas keypad ponselnya.
"Assalamu'alaikum, Bu!" sapa Danisa.
"Wa'alaikumsalam, Nis. Ada apa?" tanya Bu Salma di ujung telepon.
"Enggak, Nisa cuma mau tanya. Ibu sama rombongan sudah sampai mana?"
"Oh, ini sebentar lagi mau belok ke kampung kita, Dek," jawab Bu Salma.
"Oh, ya sudah deh. Nisa kasih tahu Ayah dulu. Bye Ibu," lanjut Danisa yang tanpa menunggu persetujuan ibunya, langsung mematikan telepon.
"Ish, kebiasaan kamu, Dek. Salam dulu kenapa, kalau mau tutup telepon," tegur Danita kepada adiknya.
"Kelamaan Kak, hehehe," jawab Danisa cengengesan.
"Gimana, Dek?" Pak Fandi mendekati putri bungsunya seraya bertanya.
"Bentar lagi mereka nyampe, Yah," jawab Danisa.
Baru saja Danisa menyampaikan kondisi terkini perjalanan ibunya, tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna hitam memasuki pekarangan rumah mereka.
"Eh, mobil siapa tuh?" tanya Pak Fandi
"Mungkin mobil yang mengantarkan kak Niar, Yah," sahut Danita.
"Hmm, bisa jadi," timpal Roni.
"Kalau begitu, ayo semuanya kita siap-siap," ajak Danisa yang mulai bersembunyi di balik pintu utama.
Sementara itu, di teras depan. Bu Salma memangku cucunya dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Yandri, dibantu sopir dr. Alex, Yandri mengeluarkan peralatan bayi sebagai hadiah dari dr. Zainal dan putranya. Setelah selesai, sopir dr. Alex berpamitan pulang. Tak berapa lama kemudian, Yandri memapah Daniar. Mereka berjalan beriringan di belakang Bu Salma yang tengah menggendong Bintang.
"Assalamu'alaikum!" sapa Bu Salma.
Yandri menekan handle pintu dan mendorongnya cukup lebar.
__ADS_1
"Suprise ...!"
"Welcome Baby B!"