
Lamunan Yandri seketika buyar saat mendengarkl pertanyaan dari kakaknya.
"Jujur saja, Kak. Saat ini Yandri sama sekali enggak pegang uang. Semua tabungan Yandri sudah habis buat beli mobil dua minggu yang lalu," jawab Yandri.
"Kamu beli mobil, Yan?" tanya Rahmat.
"Iya, alhamdulillah Kang," jawab Yandri.
"Wah, hebat kamu Yan. Mobil apa?" Rahmat kembali bertanya.
"Emh, sebenarnya mobil bekas Kang. Ya lumayan lah, masih mulus juga," jawab Yandri. "Bintang sudah besar, enggak mungkin juga kalau bepergian, Yandri ajak pake motor," lanjut Yandri.
"Boleh Akang lihat?" Sepertinya Rahmat penasaran.
Yandri tersenyum. "Boleh saja, Kang. Mari!"
Yandri mengajak Rahmat dan Aminah ke halaman belakang. Mereka hendak melihat mobil yang baru saja dibeli Yandri. Rahmat dan Aminah merasa bersyukur atas kemajuan perekonomian yang telah adiknya capai.
"Alhamdulillah, Yan. Keputusan kamu untuk pindah kerja, memang tidak salah. Akhirnya satu per satu mimpi kamu, bisa kamu raih," kata Aminah seraya mengusap-usap punggung adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Kak. Alhamdulillah," balas Yandri.
Puas melihat-lihat mobil adik iparnya, akhirnya Rahmat mengajak istrinya kembali ke ruang tamu. Yandri hanya mengikuti mereka dari belakang. Tiba di ruang tamu, untuk beberapa saat kebisuan terjadi. Hingga akhirnya, Aminah kembali bersuara.
"Apa untuk setengahnya saja kamu tidak punya, Yan?" tanya Aminah.
"Maksud Kak Minah?" Yandri balik bertanya karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan saudarinya.
"Maksud Kakak, mungkin kamu masih memiliki simpanan meskipun hanya setengah dari uang yang akan Kakak pinjam," tutur Aminah, terlihat memelas.
"Memangnya, Kak Minah mau pinjam berapa?"
"Sebenarnya, Kakak butuh uang sepuluh juta, Yan. Tapi kalau memang tidak ada, lima juta juga enggak apa-apa."
Karena memang terdesak kebutuhan, Aminah seperti tidak pernah ingin menerima pengertian jika Yandri memang tidak memiliki uang lagi.
"Beneran, Kak ... uang Yandri sudah habis buat beli mobil. Lagi pula, sekarang libur semester. Gaji Yandri bulan depan pun enggak bakalan ada lima juta, karena memang enggak ada kegiatan belajar juga," jawab Yandri berterus terang.
"Kalau kamu enggak punya, apa kamu bisa bantu Kakak untuk mencarikan pinjaman, Dek? Mungkin Daniar punya," desak Aminah kepada adiknya.
"Ish, Kakak ... Daniar punya uang dari mana," tukas Yandri.
"Niar, 'kan kerja juga," sahut Aminah.
"Memang benar, Kak ... Daniar itu bekerja, tapi dia bekerja di sekolah sebagai tenaga honorer. Mana ada gaji honorer di sekolah berjuta-juta," balas Yandri.
"Atau mungkin ke saudara-saudara Daniar," lanjut Aminah. "Tolong Kakak, Dek ... Kakak enggak tahu harus cari pinjaman ke mana lagi." Aminah kembali mendesak Yandri.
Sejenak, Yandri menghela napas. Sedetik kemudian, dia berkata, "Ya sudah, nanti Yandri coba pikirkan lagi."
__ADS_1
"Janji ya, Dek?"
"Insya Allah, Kak."
Tolong usahakan ya, Dek. Kakak janji, setelah pernikahan Nisa beres, Kakak akan segera mengembalikannya. Semoga saja ada uang gentong," timpal Aminah.
"Hehehe, uang seperti itu jangan terlalu diharapkan, Kak," saran Yandri.
"Hmm, ya sudah, kalau gitu Kakak sama Kang Rahmat pulang dulu," pamit Aminah. "Oh iya, ini ada sedikit snack buat Bintang. Tolong diberikan ya," lanjut Aminah seraya menyerahkan satu kantong plastik makanan ringan untuk anak kecil.
"Terima kasih, Kak. Nanti Yandri sampaikan."
Sepeninggal kakaknya, Yandri kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Sedangkan Daniar, dia masih sibuk mendandani anaknya seraya terus mengerucutkan bibir.
"Ih, kenapa sih harus selalu melibatkan kang Yandri dalam setiap kesulitan? Giliran mereka bahagia, mereka tidak pernah ingin membaginya dengan saudara. Giliran susah, baru ingat kalau punya adik soleh dan enggak pernah bisa berkata tidak," gerutu Daniar seraya menyisir rambut putrinya.
"Bunda kenapa sih, Bun? Ngomel terus," tegur Bintang yang memang tidak menyukai jika ibunya menggerutu.
"Ish, Bunda bukannya ngomel, Sayang. Cuma lagi latihan marah saja," sahut Daniar mengalihkan pembicaraan.
"Latihan marah buat marahin ayah ya, Bun?" tanya Bintang polos.
Daniar terhenyak. Ish, kenapa juga aku harus menggerutu di depan Bintang? batin Daniar seraya menatap anaknya dari belakang.
Tiba-tiba ....
Teriakan Yandri seketika membuyarkan tatapan intens Daniar terhadap sang putri. "Ya sudah, kamu main sana. Bunda mau ngurusin ayah kamu dulu," kata Daniar kepada anaknya.
"Bunda mau mandiin ayah juga? Ish, ayah, 'kan udah gede."
Bintang menyahuti perkataan ibunya dengan begitu polos. Sehingga membuat Daniar membelalakkan bola matanya.
"Ish, kamu ini! Sana main sama Tata!" Usir Daniar.
Dengan wajah kebingungan, gadis kecil itu pun keluar dari kamar ibunya.
.
.
"Kak Minah sama suaminya ngapain datang ke sini, Yah?" tanya Daniar saat mereka sedang menikmati udara malam di gazebo belakang rumah.
"Mereka mau pinjam uang buat pernikahan Nisa," jawab Yandri.
"Emangnya calon Nisa enggak ngasih uang?" Daniar kembali bertanya.
"Ngasih, Bun. Tapi katanya, Nisa ingin ada hiburan dalam pernikahan mereka," jawab Yandri.
"Ya kenapa enggak minta lagi sama calon suaminya, Yah? Kenapa juga harus datang kemari?" gerutu Daniar.
__ADS_1
"Mungkin kak Minah ngerasa enggak enak, Bun."
"Terus, Ayah mau minjemin kak Minah?"
"Aih, minjemin dari mana ... uang kita, 'kan habis buat beli mobil."
"Ya bagus deh, kalau Ayah sadar."
"Tapi kak Minah minta tolong Ayah buat cariin uangnya, Bun."
"Ayah mau?"
"Ya mau gimana lagi. Ayah enggak enak nolak permintaan kak Minah.
" Ih Ayah ... kenapa sih, Ayah enggak bisa bersikap tegas? Jika emang enggak ada, ya katakan enggak ada. Apa susahnya sih, berkata tidak sama mereka? Biarin aja mereka cari pinjaman sendiri." Daniar mendengus kesal.
"Tapi kasihan mereka, Bun. Mereka sudah pinjam uang ke mana-mana. Karena itu mereka enggak berani lagi pinjam di tempatnya. Mereka enggak tahu harus pinjam ke mana lagi. Semua saudara kang Rahmat dan tetangganya, sudah mereka pinjami," balas Yandri.
"Terus mereka datang ke sini, gitu?" tukas Daniar. "Memangnya dia mau pinjam ke siapa di sini, orang Ayah saja enggak ada uang," lanjut Daniar.
"Bun, gimana kalau kita pinjam ke ibu," usul Yandri. "Enggak banyak kok, cuma lima juta. Lagi pula, mereka janji, setelah Nisa selesai menikah, mereka akan segera membayarnya dari uang gentong," papar Yandri.
"Ish, uang gentong kok diharapkan, memangnya pernikahan itu jual beli," tukas Daniar. "Enggak ah, Bunda enggak setuju. Bunda sih enggak masalah kalau Ayah punya uang dan ingin bantu mereka. Tapi kalau Ayah pinjem uang buat mereka, apalagi sampai pinjam ke ibu, Bunda enggak setuju. Titik!" tegas Daniar seraya berlalu pergi memasuki rumah.
Yandri hanya mampu bergeming mendengar ucapan tegas dari bibir sang istri.
Di dapur, Daniar berpapasan dengan Bu Salma yang hendak menaruh piring kotor ke tempat cucian. Kening Bu Salma berkerut melihat raut wajah Daniar yang kecut. Ish, kenapa lagi tuh anak? batin Bu Salma.
Bu Salma melirik daun pintu yang sedikit terbuka. Cahaya remang terlihat dari arah gazebo di kebun belakang. Dia kemudian keluar untuk melihat siapa yang tengah berada di gazebo.
"Eh, ada kamu toh, Nak Yandri?" ucap Bu salma begitu tiba di depan gazebo.
"Loh, Ibu. Kenapa malam-malam keluar? Udaranya dingin banget loh, Bu. Nanti Ibu bisa masuk angin," kata Yandri yang terkejut melihat ibu mertuanya sudah berdiri di depan gazebo.
"Enggak pa-pa, Nak. Udara di rumah cukup pengap, karena itu Ibu keluar untuk mencari udara segar," dalih Bu Salma. "Oh iya, Yan. Tadi Ibu lihat Daniar kusut banget wajahnya. Kenapa? Kalian berdebat lagi?" tanya Bu Salma menyelidik sembari duduk di hadapan menantunya
"Hanya perdebatan kecil saja, Bu," jawab Yandri.
"Hhh, perdebatan kecil juga kalau dibiarkan, lama-lama bisa menjadi besar, Yan," tukas Bu Salma. "Memangnya ada apa, kok sampai berdebat seperti itu?" lanjutnya.
"Daniar hanya tidak setuju dengan niat Yandri meminjam uang sama Ibu," tutur Yandri.
Bu salma mengernyitkan kening. "Kamu mau pinjam uang ke ibu? Untuk apa?"
Yandri menceritakan perihal kedatangan kakak dan kakak iparnya. Satu pun tak ada yang dia sembunyikan dari sang mertua. Yandri juga menceritakan kebingungan dia yang tidak pernah tega melihat kesulitan orang lain. Jangankan kesulitan saudaranya, kesulitan rekan kerjanya pun terkadang selalu menjadi pikiran Yandri yang memang tidak ingin melihat kesusahan di wajah orang-orang di sekitarnya.
Bu Salma yang pada dasarnya memiliki hati yang lemah juga, seakan mengerti kesulitan anak mantunya itu.
"Ya sudah, berapa jumlah uang yang kamu butuhkan, Yan?"
__ADS_1