
Dua hari telah berlalu. Semenjak kejadian terbongkarnya kebohongan Bintang, hubungan Daniar dan Bintang pun semakin erat.
Mereka tidak hanya sekadar ibu dan anak. Akan tetapi, terkadang sikap mereka pun layaknya seorang sahabat. Bahkan, seperti adik dan kakak.
Di sore hari yang langitnya berwarna jingga akibat pantulan cahaya matahari, membuat suasana alam semakin terlihat mempesona. Terlihat ibu dan anak itu sedang membuat adonan kue kering di dapur.
"Bun, apa Bunda bisa membuat kue basah?" tanya Bintang saat dia melihat Daniar sedang membuat adonan untuk kue kering pesanan Bu Etty.
"Bisa sih, tapi tidak banyak juga jenisnya" jawab Daniar, "dan kebanyakan, cuma jenis-jenis kue tradisional saja," imbuhnya seraya menguleni adonan supaya kalis.
"Memangnya Bunda bisa bikin kue tradisional apa saja?" Bintang kembali bertanya.
"Emmh ... Bunda bisa bikin kue talam, putu ayu, bugis sama nagasari," jawab Daniar.
"Yang rasa asinnya?" tanya Bintang lagi yang kini mulai membantu ibunya mencetak adonan kue kering.
"Paling cuma risoles sama pastel saja," sahut Daniar. "Memangnya, kenapa sih, Bibin nanya-nanya kayak gitu?" Kini, Daniar yang penasaran dan bertanya kepada anaknya.
__ADS_1
"Jadi gini, Bun. Tadi pagi, Bibin nganterin temen sekelas ke kantin. Ternyata, ibunya temen Bibin, dia suka nitipin kerupuk ikan di kantin. Nah, terus ... di kantin sekolah Bibin tuh enggak ada makanan yang kek gitu. Jadi, Bibin keinget Bunda yang pernah bikin kue talam pesanan Bu Etty. emm, gimana kalau kita masuk-masukin kue basah ke kantin sekolah, Bun?" usul Bintang.
Daniar yang sedang menggiling adonan kue, seketika mendongak. Dia menatap putrinya seraya mengernyitkan kening.
"Maksud Bibin?" tanya Daniar.
"Eh, keberatan ya, Bun. Ya udah deh, enggak usah dipikirin," kata Bintang, mengalah.
"Ish, bukan seperti itu, Nak? Bunda cuma nanya, maksudnya Bibin, Bunda bikin kue dan dititipkan di kantin. Benar kan?"
Bintang mengangguk.
"Ya bibin lah, Bun," jawab Bintang.
"Hmm, memangnya bibin enggak malu nitipin dagangan ke ibu kantin. Entar, kalau ada yang ngatain Bibin, gimana?" kata Daniar.
"Ish, enggak bakalan ada yang ngebully Bibin, Bun. Lagi pula, ngapain harus malu berniaga? Bukankah Rasulullah juga dulu, pekerjaannya berdagang pula," jawab Bintang.
__ADS_1
Daniar tersenyum mendengar jawaban anaknya. Dia begitu terharu mendengar perkataan Bintang yang sepertinya sudah semakin dewasa saja.
"Ya sudah, besok subuh kita coba bikin risoles isi sama pastel dulu. Biasanya anak-anak sekolah suka makanan yang asin-asin," papar Daniar.
"Boleh tuh, Bun. Ide bagus juga," sahut Bintang.
Seolah mendapatkan semangat baru karena memiliki ide yang cukup bagus, Daniar dan putrinya pun segera menyelesaikan pekerjaannya. Meskipun sibuk, dia tidak ingin membuat pelanggannya kecewa.
.
.
Daniar tidak ingin menjadi ibu yang begitu egois hanya karena memangkas pengeluaran rumah tangganya. Beberapa hari setelah pertengkarannya dengan sang anak. Daniar pun pergi ke Pegadaian untuk menggadaikan cincin berliannya yang sempat tertunda dulu.
Setelah keluar dari Pegadaian, Daniar menghitung kembali uang hasil menggadaikan cincinnya.
"Alhamdulillah, sepertinya ini cukup untuk biaya study tour Bintang," gumam Daniar sambil memisahkan biaya Bintang ke dalam sebuah amplop panjang berwarna coklat.
__ADS_1
"Sisanya biar aku simpan untuk biaya hidup dua bulan ke depan," lanjut Daniar.
Setelah menyimpan kembali uang hasil menggadaikan cincinnya, Daniar pun memutuskan untuk segera pulang. Sebentar lagi, Bintang pulang dari sekolahnya. Anak itu pasti akan merasa lapar. sedangkan Daniar sama sekali belum memasak apa-apa di rumahnya.