Setelah Hujan

Setelah Hujan
Hamil


__ADS_3

Daniar tidak mampu menjawab perkataan suaminya. Untuk sesaat, hanya keheningan yang terjadi di antara mereka. Bagi Daniar sendiri, berkunjung ke rumah ibu mertuanya tanpa suami, sungguh itu bukan ide yang baik.


"Bun, kok diam?" tanya Yandri yang seketika membuyarkan lamunan Daniar.


"Maaf, Yah. Bunda masih punya banyak pekerjaan di sekolah. Nanti saja, kita jenguk kak Bibah di rumah ibu, setelah Ayah pulang. Enggak pa-pa, 'kan?" tolak halus Daniar.


Terdengar helaan napas yang cukup berat di ujung telepon. Daniar bisa merasakan jika helaan napas itu adalah rasa kecewa Yandri terhadap dirinya. Namun, Daniar juga tidak bisa memungkiri. Masih ada ada yang mengganjal dalam hati ketika dia mengingat kembali perlakuan ibu mertua terhadap dirinya.


"Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, Bunda tutup teleponnya, Yah. Besok Bunda ada jadwal ngawas di sekolah lain. Bunda tidak mau kesiangan," lanjut Daniar.


"Eh, iya Bun. Tutup saja. Selamat malam, Sayang. Mimpi yang indah. Assalamu'alaikum!" pungkas Yandri mengakhiri pembicaraannya.


"Wa'alaikumsalam," jawab lirih Daniar.


Setelah sambungan terputus, Daniar menyimpan kembali ponselnya di atas nakas. Dia menyandarkan punggung pada sandaran ranjang. Daniar menengadahkan wajahnya seraya memejamkan mata. Ingin rasanya Daniar menghempaskan semua rasa sakit di hatinya. Memperbaiki hubungannya dengan ibu mertua. Namun, setiap kali berkunjung ke rumah sang ibu mertua, selalu saja menorehkan luka. Hingga rasa sakit pun semakin bertumpuk.


Pergerakan Bintang di sampingnya, membuat Daniar tersadar dari lamunan. Maaf, Yah. Untuk saat ini, Bunda belum siap jika harus kembali terluka.


.


.


Di kediaman Bu Maryam.


"Kamu mau makan, Dijah?" tawar Bu Maryam kepada anaknya.


Khodijah mengangguk. Sesaat kemudian, Bu Maryam pergi ke dapur untuk mengambil makanan. Beberapa menit berlalu, Bu Maryam pun kembali ke kamar dengan membawa sepiring nasi, lengkap dengan lauk pauknya pemberian sang kakak tadi siang.


"Har... Bahar...!" panggil Bu Maryam kepada menantunya.


Bahar yang sedang bercengkerama bersama Habibah, sontak bangun saat mendengar namanya dipanggil. Keningnya mengernyit sambil menatap sang istri.


"Ada apa ibu memanggil Akang, Bah?" tanya Bahar kepada istrinya.


"Ih, mana Bibah tahu. Sudah, buruan temui dulu. Entar keburu ngambek," perintah Habibah kepada suaminya.


Bahar beranjak dari tempat tidur. Sedikit membetulkan sarungnya hingga akhirnya dia keluar kamar untuk menemui mertuanya.


"Huh, lama sekali!" gerutu Bu Maryam begitu melihat menantunya memasuki kamar.


Astaga, sabar Bahar. Anggap saja gerutuan ibu mertuamu itu hanya angin lalu, batin Bahar mengobati diri sendiri.

__ADS_1


"Kenapa cuma diam saja? Ayo bantu kakak iparmu duduk!" titah Bu Maryam kepada suaminya.


Bahar terkejut. Astaga, bagaimana mungkin aku menyentuh perempuan yang bukan istriku, batinnya seraya menatap Khodijah.


"Aish, malah bengong lagi. Cepat angkat!" Kali ini Bu Maryam memberikan perintah dengan nada yang cukup tinggi.


"Baik, Bu," jawab Bahar seraya mulai membantu kakak iparnya untuk duduk.


Uh, berat juga, batin Bahar yang tidak mampu menyangga tubuh Khodijah dengan kedua tangannya.


Lima menit berlalu. Dengan susah payah, akhirnya Khodijah bisa duduk juga. Bahar pamit keluar setelah menyelesaikan tugasnya.


Tiba di kamar.


"Ibu nyuruh ngapain, Kang?" tanya Habibah.


"Itu, bantuin kakak kamu bangun. Sepertinya ibu mau nyuapin Khodijah. Karena itu dia minta tolong Akang buat bantu kakak kamu duduk," jawab Bahar.


"Oh," sahut Habibah.


"Ibu kamu itu kenapa sih, ribet banget. Sudah bagus kakak kamu tinggal sama suaminya. Eh, malah diminta pulang. Masih mending enggak ngerepotin orang lain. Huh, Akang beneran enggak ngerti deh. Pan ibu juga punya suami yang harus dilayani, eh malah ngurusin anaknya yang udah jelas-jelas bukan tanggung jawab dia lagi. Ini mah, sama aja bikin si Aji keenakan ongkang-ongkang kaki di rumahnya sendiri," cerocos Bahar.


"Tahu tuh, ibu ... bikin repot semua orang aja," timpal Habibah mendengus kesal.


.


.


"Humph! Uuh... hoeeek... hoeek...."


Rasa yang bergejolak itu pun membuat Daniar muntah hebat. Sekujur tubuhnya terasa lemas. Kedua lutut Daniar seolah tidak mampu menyangga tubuhnya lagi. Daniar ambruk di kamar mandi.


Tok-tok-tok!


"Niar! Niar! Kamu kenapa?" tanya Bu Salma sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"I-ibu ... pe-rut Niar sa-sakit," ucap lirih Daniar dari dalam kamar mandi.


Bu salma terlihat cemas. "Ayo buka pintunya, Ni. Biarkan Ibu masuk!"


"Sebentar, Bu. Ka-ki Niar lemas sekali. Ni-niar enggak bisa berdiri," jawab Daniar nyaris tak terdengar.

__ADS_1


"Astaghfirullah! Sebentar, Ibu bangunin Danisa dulu. Kamu ... menyingkirlah dari sana!" Kembali Bu Salma memberikan perintah.


Bu Salma pergi ke kamar putri bungsunya. Dia mengetuk keras daun pintu kamar Danisa. Sudah menjadi rahasia umum jika Danisa sangat sulit untuk dibangunkan.


"Nisa! Buka pintunya, Nak. Tolongin kakak kamu. Dia terkunci di kamar mandi!" teriak Bu Salma.


Namun, hanya dengkuran yang terdengar dari kamar Danisa. Bu Salma menggerutu kesal.


"Ish, anak itu. Memang tidak pernah bisa diandalkan!" gumam Bu Salma.


Dug-dug-dug!


"Nisa, ayo buka pintunya, Nak! Itu kakak kamu terjebak di kamar mandi. Kita harus tolong dia!"


Bu Salma kembali berteriak. Dia sudah sangat panik, takut terjadi sesuatu pada putri sulungnya.


Setelah beberapa kali menggedor pintu kamar Danisa, akhirnya pintu itu pun terbuka. Danisa keluar seraya mengucek kedua matanya.


"Ada apa sih, Bu? Nisa, 'kan udah bilang kalau Nisa lagi PMS, jadi Ibu enggak usah bangunin Nisa. Masih ngantuk, nih," keluh Danisa yang menyangka jika ibunya membangunkan dia untuk salat subuh.


"Ih, mangkanya dengerin Ibu dulu. Ibu bangunin kamu bukan untuk nyuruh kamu salat subuh, tapi untuk dobrak pintu kamar mandi. Kakak kamu kejebak di kamar mandi," tutur Bu Salma.


"Hah! Kok bisa?" pekik Danisa.


"Mangkanya, ayo buruan!"


Bu Salma menarik tangan Danisa dan membawanya ke kamar mandi. Namun, saat tiba di kamar mandi, mereka dibuat terkejut oleh Daniar yang sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan wajah pucat pasi.


"Astaga! Lu kenapa, Kak?" tanya Danisa.


Perlahan, Daniar melangkahkan kaki menuju meja makan. Tangan lemahnya menarik kursi dan duduk. Dia menatap sayu kepada ibu dan adiknya yang sudah berdiri di hadapan Daniar.


"Enggak tahu, Dek. Perut Kakak mual banget. Rasanya pengen muntah, tapi cuma cairan bening yang keluar. Ish, rasanya pahit sekali," tutur Daniar seraya bergidik membayangkan kejadian di kamar mandi tadi.


"Ih, jorok lu Kak!" seru Danisa.


Daniar hanya tersenyum tipis. Dia merasa lelah. Tenaganya terkuras habis karena muntah.


"Jangan-jangan, kamu hamil, Nak!" pekik tertahan Bu Salma.


Daniar dan Danisa hanya bisa saling tatap mendengar perkataan ibunya.

__ADS_1


"Benarkah?"


__ADS_2