
Yandri sangat terkejut mendengar pertanyaan ibu mertuanya.
"A-apa Ibu berkenan untuk meminjamkan?" tanya Yandri.
"Dia keluarga kamu, Nak. Tentunya keluarga kamu, ya keluarga Ibu juga. Lagi pula, Ibu masih punya simpanan, kok. Bisa kamu gunakan terlebih dahulu sebelum Ibu memakainya bulan depan," tutur Bu Salma.
Yandri begitu takjub mendengar perkataan Bu Salma yang mengakui kerabatnya sebagai bagian dari keluarga ini. Dia merasa sangat beruntung memiliki mertua yang begitu baik. Bahkan, terkadang mertuanya yang selalu menjadi solusi saat Yandri terkendala masalah keuangan dulu.
"Terima kasih, Bu," jawab Yandri penuh keharuan.
"Sama-sama," balas Bu Salma. "Berapa yang kamu butuhkan?" tanyanya.
"Sekitar lima juta, Bu," jawab Yandri.
"Baiklah, besok Ibu siapkan uangnya. Sekarang, ayo kita masuk. Tenangkan istrimu, Ibu yakin dia lagi kesal saat ini," lanjut Bu Salma sembari beranjak dari tempat duduknya.
Yandri tersenyum tipis. "Iya, Bu," sahutnya seraya mengikuti Bu Salma yang sudah berjalan terlebih dahulu.
.
.
Keesokan harinya, Bu Salma menemui Yandri yang sedang menyiangi rumput di kebun belakang.
"Ini uang yang Ibu janjikan semalam, Yan. Semuanya lima juta," kata Bu Salma seraya menyerahkan amplop berwarna coklat.
"Terima kasih, Bu," ucap Yandri, mengambil amplop tersebut dari tangan ibu mertuanya. "Oh iya, Bu. Apa Yandri harus memberi tahu tentang ini kepada Daniar?" tanya Yandri.
"Jika itu akan semakin memperburuk hubungan kalian, sebaiknya dirahasiakan saja, Nak. Namun, sesuatu yang disembunyikan, suatu saat pasti akan terbongkar juga. Lakukan apa yang menurut kamu benar untuk dilakukan, Yan. Ibu tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga kalian," tutur Bu Salma.
"Baik, Bu. Yandri mengerti, Yandri akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini kepada Daniar," jawab Yandri.
"Ya sudah, Ibu ke dapur dulu. Tadi Bintang minta dibikinkan puding," pungkas Bu Salma seraya kembali ke rumah.
Menjelang siang, Yandri berpamitan pergi ke luar kepada Daniar. Dia sengaja tidak memberitahukan ke mana tujuannya, karena dia merasa khawatir jika Daniar akan tersinggung dengan keputusan sepihak yang dia lakukan.
Sudahlah, nanti saja aku bicara pelan-pelan sama Bunda. Aku yakin, Bunda pasti bisa memahaminya, batin Yandri.
Sesaat kemudian, Yandri melajukan kendaraannya menuju rumah Aminah. Sepanjang perjalanan, pikiran Yandri memang tidak tenang. Perasaannya begitu tak nyaman, karena belum berkata jujur kepada sang istri. Namun, Yandri selalu menepis perasaan tak nyaman itu hingga akhirnya tiba di kediaman Aminah.
Rumah Aminah memasuki gang kecil yang hanya bisa dilewati kendaraan beroda dua. Yandri memarkirkan mobilnya di halaman masjid yang tak jauh dari gang menuju rumah kakaknya.
Setelah mobilnya terparkir, Yandri keluar dan menitipkan kendaraannya kepada satpam penjaga masjid tersebut. Di kemudian berjalan kaki menuju rumah Aminah.
"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri begitu tiba di rumah Aminah.
"Wa'alaikumsalam," jawab Nisa dari dalam rumah. Sejurus kemudian, pintu rumah terbuka lebar.
"Eh, Om Yandri! Mari masuk, Om!" kata Nisa mempersilakan Yandri masuk
"Deuh, calon pengantin ... lagi dipingit ya?" goda Yandri pada keponakannya.
"Hehehe, apaan sih, Om ... udah enggak zamannya kali, main pingit-pingitan," sahut Nisa seraya tersenyum lebar.
"Dih, kata siapa? Wajib tahu, kalau untuk calon pengantin wanita," tukas Yandri.
"Hmm, sekarang mah zaman milenial atuh, Om. Terlalu kuno main pingit-pingitan," seloroh Nisa.
"Ish, dasar anak zaman sekarang. Enggak bisa dibilangin," keluh Yandri.
__ADS_1
"Hahaha,... udah ah. Masuk yuk!" pungkas Nisa seraya menarik tangan Yandri supaya memasuki rumahnya.
Yandri tertawa, dia kemudian memasuki rumah Aminah. Sedikit mengernyit saat rumahnya terlihat sepi.
"Orang rumah pada ke mana, Nis? Kok sepi?" tanya Yandri.
"Mama sama Bapak sedang ke pasar, Om," kata Nisa.
"Belanja?" tanya Yandri.
"Hem-eh, mereka mau ke pasar ikan. Katanya mau pesan ikan gurame buat acara prasmanan nanti," jawab Nisa.
"Ikan gurame?" ulang Yandri.
"Iya," sahut Nisa.
"Memangnya kapan tanggal pernikahan kamu, Nis?" tanya Yandri lagi.
"Tanggal 19 bulan depan, Om," jawab Nisa.
"Ya sudah. Cepat telepon ayah kamu dan katakan tidak usah memesan gurame dari pasar. Bulan depan, Om panen ikan. Nanti Om kirimkan ikan gurame yang besar kemari," ujar Yandri.
"Sungguh?" seru Nisa kegirangan.
"Ish, memangnya Om pernah bohong sama kamu," tukas Yandri.
"Oh, Im Iyan ... makasih. Nisa sayang banget sama Om," sahut Nisa seraya menghambur memeluk Yandri.
Pria jangkung itu tersenyum senang saat melihat binar kebahagiaan di kedua mata keponakannya.
"Sudah-sudah, Om bisa kehabisan napas nih, gegara dipeluk erat calon manten." Yandri kembali menggoda keponakannya.
Yandri tertawa melihat tingkah keponakannya. Sedetik kemudian, dia ingat akan maksudnya datang ke rumah Aminah.
"Eh, Nis, Om enggak bisa lama-lama nih. Om titip ini ya, sama ibu kamu," kata Yandri seraya mengeluarkan amplop coklat dari saku celananya. Yandri kemudian menyerahkan amplop tersebut kepada Nisa.
"Apa ini, Om?" tanya Nisa, menautkan kedua alisnya.
"Berikan saja sama ibu kamu, dia pasti ngerti, kok," jawab Yandri. "Ya sudah, Nis. Om pulang dulu," pamit Yandri, beranjak dari kursinya. "Jangan lupa, berikan itu pada ibumu, oke!" pesan Yandri seraya menunjuk amplop yang sedang dipegang Nisa.
"Oke, Om. Hati-hati di jalan ya!" seru Nisa, melambaikan tangannya.
Yandri mengangkat jempolnya untuk menanggapi ucapan keponakannya.
.
.
Sore hari di kediaman Bu Salma.
Telepon Yandri terus berdering di atas meja makan. Daniar yang sedang memandikan Bintang segera keluar dari kamar mandi karena telepon terus berbunyi.
Ish, ke mana tuh orang?" gumam Daniar, mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan sang suami.
Byurrr
Sedetik kemudian, Daniar mendengar guyuran air di kamar mandi yang berada di kamar paviliun.
Apa kang Yandri sedang mandi di kamar mandi paviliun? batin Daniar.
__ADS_1
Daniar kembali ke kamar mandi untuk menyelesaikan tugasnya. Setelah itu, dia menyuruh Bintang ke kamar duluan.
"Bintang pakai baju dulu di kamar, ya. Bunda mau samperin ayah," ucap Daniar kepada anaknya.
"Baik, Bun," jangan Bintang. Tak lama kemudian, gadis kecil itu berlari ke kamarnya.
Telepon masih terus berdering. Daniar menghampiri kamar mandi yang berada di kamar paviliun.
Tok-tok-tok!
"Yah!" panggil Daniar sambil mengetuk pintu kamar mandi. "Apa Ayah di dalam?" Daniar kembali bertanya.
"Iya, Bub. Ayah lagi mandi. Ada apa?" tanya Yandri dari dalam kamar mandi.
"Ponsel Ayah berdering terus. Sepertinya ada yang menelepon," jawab Daniar.
"Angkat saja, Bun. Lagi nanggung," perintah Yandri.
Daniar kembali ke ruang makan. Dia kemudian meraih telepon Yandri yang masih berdering.
"Kak Aminah?" gumam Daniar. Sedetik kemudian, Daniar mengangkat telepon dari kakak iparnya itu.
"Hallo, assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam. Eh, Daniar ya? Yandri-nya mana?" tanya Aminah di ujung telepon.
"Kang Yandri sedang mandi, Kak. Apa Kakak ingin meninggalkan pesan? Nanti Niar sampaikan sama kang Yandri," kata Daniar.
"Iya, Ni. Tolong sampaikan saja sama Yandri kalau Kakak sudah terima uangnya dari Nisa. Makasih ya, Niar. Kakak janji, setelah pernikahan Nisa selesai, Kakak akan segera mengembalikan uangnya."
"Eh, i-iya, Kak."
"Ya sudah, kalau begitu Kakak tutup teleponnya, Niar. Assalamu'alaikum," pungkas Aminah.
Sambungan telepon pun terputus.
"Wa-wa-alaikumsalam," jawab Daniar seraya memegang erat ponsel suaminya.
U-uang? Apa artinya ini? Apa kang Yandri memberikan pinjaman lagi kepada kak Aminah? batin Daniar.
Tak lama kemudian, Yandri keluar dari kamar paviliun seraya mengeringkan rambutnya dengan menggunakan handuk kecil.
"Telepon dari siap, Bun?" tanya Yandri.
Daniar terlonjak kaget. Dia kemudian menoleh seraya menatap tajam kepada suaminya.
"Dari kak Aminah," jawab Daniar, dingin.
Deg-deg-deg!
Jantung Yandri berdegup kencang mendengar jawaban Daniar. Apa semuanya akan terbongkar hari ini juga? batinnya.
"Ka-kak A-aminah?" tanya Yandri.
"Iya, kak Aminah, dan dia bilang dia sangat berterima kasih dengan uang yang kamu berikan!" ketus Daniar seraya menyerahkan ponsel sang suami. Setelah itu, dia kembali ke kamar untuk mendandani putrinya.
"Bun, tunggu! Ayah bisa jelaskan semuanya," ucap Yandri, mencekal pergelangan tangan istrinya.
Daniar kembali merasa kecewa dengan sikap suaminya. Lagi-lagi, Yandri mengambil keputusan tanpa melibatkannya. Kekecewaan yang Daniar rasakan membuat dia tidak ingin menerima penjelasan apa pun lagi dari suaminya. Daniar menghempaskan tangan Yandri dengan kuat. Sejurus kemudian, dia memasuki kamar dan membiarkan Yandri terpaku sendiri di tempatnya.
__ADS_1
Keterlaluan kamu, Yah!