
Yuna meninggalkan cafe milik Marcih setelah mereka berdua menikmati makan malam. Yuna berkendara 30 menit untuk sampai apertement yang di tempatinya bersama kedua orang tuanya dan adik sepupunya Alfa yang sejak kecil sudah di asuh oleh kedua orang tuanya.
Apartement yang ditempati keluarga Alexandria terbilang cukup mewah terdiri dari 2 lantai. Ayah dan ibu Yuna adalah pensiunan pegawai pemerintah. Tepatnya ayah dan ibu Yuna dulu bekerja sebagai jaksa. Ayah Daniel Alexandria sangat bijaksana ia bahkan dengan senang hati mendengarkan setiap keluh kesah dari putra dan putrinya. Di masa pensiun ayah lebih banyak tinggal dirumah sambil membaca buku, berolahraga, dan beraktivitas positif. Ia tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada kedua anakanya. Memberikan kebebasan menentukan langkah yang akan dilalui oleh anaknya.
Berbeda dengan ayah, ibu Laura Alexandria lebih tegas akan masa depan anaknya, ia lebih menuntut anaknya sesuai keinginannya. Bahkan ia sangat memaksakan kehendaknya. Terbukti ketika ia gagal dalam mengarahkan Yuna mengikuti jejaknya, tapi ia berhasil membuat Alfa mengikiti semua keinginannya. Sekolah hukum sampai luar negeri. Alfa selalu menurut kehendak dan perkataan ibunya. Berbeda halnya dengan Yuna, ia akan selalu membatah bahkan hampir tiap hari ibu dan anak itu akan dilalui dengan pertengkeran. Ibu Laura selalu menganggap dan menilai seseoarang dari pendidikan dan latarbelakang keluarga seseorang. Menurutnya ia hanya akan di hargai di masyarakat jika memiliki pendidikan tinggi, miliki pekerjaan bagus dan dari keluarga terpandang.
“Aku Pulang” suara Yuna ketika masuk dalam rumah.
“ohh kau sudah pulang, apakah kau sudah makan malam?”tanya Ayah kepada Yuna
“sudah ayah, aku tadi mampir ke cafe Marcih dan makan malam disana” Jawab Yuna sambil berjalan ke kamarnya yang berada dilantai 2.
“bagus, istirahatlah kau pasti lelah bekerja seharian” Ucap ayah yang memperhatikan putrinya manaiki tangga menuju lantai 2.
“aku akan turun menemui Alfa setelah berganti pakaian” teriak Yuna dari lantai 2.
“Yuna!! Kau ini kebiasaan berteriak, seperti bukan seoarang gadis setidaknya jagalah sikapmu” hardik Ibu yang mendengar anaknya berteriak.
__ADS_1
“sudahlah bu, toh tidak ada orang lain disini”. Ucap ayah yang membela Yuna.
Ibu tidak menanggapi ayah, ia akan selalu merasa kalah dengan suaminya jika berkaitan dengan putrinya yang keras kepala itu. Ibu bergerak dan berjalan ke lantai 2. Ia segera menemui Yuna menanyakan hubungannya dengan Barack. Hampir setiap hari Yuna akan selalu di ganggu oleh ibu. Ia selalu mendesak Yuna agar segera menikah dengan Barack.
“bagaimana hubungan mu dengan Barack semuanya baik-baik sajakan?” tanya ibu yang tiba-tiba masuk ke kamar ibu.
“ibu aku sangat lelah hari ini aku tidak mau membahas ini” jawab Yuna yang hendak masuk kamar mandi.
“kalau kau selalu seperti ini hubungan mu dengan Barack tidak akan berkembang, kau akan bertamabah tua. Sudah waktunya kau menikah, bicaralah dengan Barack agar segera menikahi mu. Ibu selalu malu, teman-teman ibu selalu menanyakan kapan kamu akan menikah” ucap ibu yang tidak mempedulikan perasaan Yuna.
“Ibu aku mohon berhentilah, aku sedang tidak mau berdebat dengan mu, silahkan keluar aku mau mandi dulu”. Ucap Yuna yang sedikit kesal. Ia Segera menarik tangan ibunya keluar kamar dan segera menguncinya.
Ibu memutuskan untuk turun menemui suaminya setelah tidak mendapat respon dari Yuna.
“anak itu selalu saja membantah perkataanku, ini semua karna kau selalu memanjakannya makanya dia tidak mau mendengar perkataanku” ucap ibu yang baru duduk di samping ayah, ia masih kesal atas sikap Yuna.
“biarkan saja dulu, mungkin dia lelah dengan pekerjaan kantornya” ucap ayah yang masih sibuk membaca.
__ADS_1
“aku sampai sekarang masih tidak bisa mengerti jalan pikirannya, apalagi yang dia tunggu kenapa sampai sekarang dia belum menikah dengan Barack, bukankah mereka sudah menganal satu tahun apakah itu belum cukup? Seharusnya ia merasa sangat beruntung Barack mau mengenalnya dan mempertahankannya sampai sekarang, apa kurangnya Barack, ia bahkan sangat tampan, seorang direktur dan keluarganya dari keluarga baik-baik”. Ucap ibu panjang lebar ia masih heran dan kesal dengan sikap putrinya.
“sudahlah, kau tidak usah memaksakan mereka, siapa tau mereka memang belum siap menikah. Berilah waktu, mereka akan memutuskan yang terbaik”. Ucap ayah yang sedikit menasehati istrinya. Mendengar ucapan suaminya ibu hanya diam sambil membuang nafas panjang.
Tidak lama Yuna turun dari lantai 2 hendak menemuai adiknya yang sangat dia rindukan. Yuna tidak memperdulikan ayah dan ibunya ia hanya berjalan ke ruang baca, di sana ada Alfa.
“Alfa My boy!!!! teriak Yuna sambil berlari memeluk adiknya yang sibuk mengatur bukunya ke atas rak buku.
“kau ini kak, kekanak-kanakan sekali malu sama umur, kenapa harus lari-lari” ucap Alfa yang menerima pelukan kakaknya.
“heii aku rindu tau, aku bahkan tidak melihatmu selama 2 tahun. Wah rupanya kau semakin tampan, kau tidak menyakiti gadis-gadiskan? Tanya Yuna sambil meneliti setiap inci wajah adiknya.
“enak saja aku anak baik-baik kak, bukan playboy. Ucap Alfa yang melepaskan pelukan kakaknya. Bagaimana kau bisa tau aku sedang disini kak? Tanya Alfa.
“Tadi aku mencari mu di atas tapi kau tidak ada, sudah pasti kau berada disini” Ucap Yuna yang sudah hafal kebiasaan adiknya.
Kedua kakak beradik itu bercerita panjang lebar, menghilangkan rasa kerinduan yang sudah lama mereka rasakan. Sekali-kali mereka tertawa terbahak-bahak, saling teriak satu sama lain, itu membuktikan besarnya kasih sayang keduanya sebagai kakak beradik.
__ADS_1
Malam semakin larut keduanya memutuskan kembali kekamar masing-masing dan beristirahat menunggu hari baru dengan aktifitas yang hampir sama dari hari ini.
BERSAMBUNG