
Keesokan harinya, seorang perawat datang ke kamar Yandri untuk memeriksa kondisi Yandri
"Bagaimana, Pak? Apa tidurnya nyenyak semalam?" tanya Suster Ima.
"Sebenarnya, tidur saya semalam tidak begitu nyenyak, Sus," jawab Yandri.
"Kenapa? Apa ada keluhan?" Kembali Suster Ima bertanya.
"Semalam dia mengeluhkan keningnya yang berdenyut hebat, Sus. Katanya nyeri sekali," timpal Daniar.
"Itu wajar, Bu. Benturan di kening Bapak, menyebabkan kening Bapak robek, bahkan sampai mengakibatkan keretakan di tulang tengkorak bagian depan. Setelah obat biusnya habis, wajar saja jika lukanya terasa nyeri," tutur Suster Ima.
"Apa ada obat yang bisa meredakan rasa nyerinya, Sus? Kasihan suami saya jika tidurnya terganggu terus," ucap Daniar.
"Nanti akan saya sampaikan terlebih dahulu keluhan Bapak kepada dokter. Biar dokter yang memutuskan jenis obat yang akan diberikan. Mohon bersabar dulu, ya," pinta Suster Ima.
Daniar dan Yandri mengangguk menanggapi ucapan Suster Ima. Selesai mengecek kondisi pasien, Suster Ima pun kembali berkeliling untuk memeriksa pasien yang lainnya.
.
.
Sementara itu, di rumahnya, Bu Maryam termenung saat diberi tahu oleh bik Mumun tentang kecelakaan yang menimpa putranya. Dadanya terasa sesak melihat kondisi Yandri yang berlumuran darah.
"Bagaimana, Bik? Apa Bibik akan menjenguk pak Yandri?" tanya Bik Mumun.
"Apa kamu hendak menjenguk Yandri di rumah sakit, Mun?" Bu Maryam balik bertanya.
"Rencananya, Mumun bakalan jenguk pak Yandri kalau sudah pulang dari rumah sakit, Bik. Kalau Bibik mau ikut, Mumun sama bapaknya anak-anak mau rental mobil," jawab Bik Mumun.
"Hmm, gimana nanti saja, Mun. Bibik belum bisa mengambil keputusan saat ini," balas Bu Maryam.
Bik Mumun hanya bisa menghela napas. "Ya sudah, terserah Bik Maryam saja," pungkasnya seraya berpamitan pergi dari rumah Bu Maryam.
Setelah bik Mumun pergi, Bu Maryam kembali melamun. Dia sangat berharap anaknya bisa pulang sehingga dia bisa mengurus Yandri yang tengah sakit. Namun, saat kembali mengingat Daniar, hati Bu Maryam kembali bergemuruh.
"Kecelakaan anakku tidak akan terjadi jika saja dia tidak pindah kerja. Uuh, kamu memang pembawa sial dalam hidup anakku!" gumam Bu Maryam, geram.
.
.
__ADS_1
Tiga hari dirawat di negeri orang, membuat ikatan Yandri dan Daniar semakin erat. Meskipun terkadang, hati mereka teriris saat jam besuk dimulai. Begitu banyak orang-orang yang menjenguk kerabatnya yang tengah sakit. Namun, tidak dengan Yandri. Tak ada seorang pun yang mengunjungi dia di saat jam besuk siang ataupun sore. Yandri dan Daniar hanya tersenyum tipis melihat hal itu.
Drrt-drrt!
Tiba-tiba ponsel Yandri bergetar. Daniar segera merogoh ponsel suaminya dari dalam tas.
"Siapa, Bun?" tanya Yandri.
"Pak Danis," jawab Daniar.
"Oh, angkat saja, Bun. Mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan," jawab Yandri.
Daniar mrngangguk. Sejurus kemudian, dia mengangkat telepon dari orang yang bernama Danis itu.
"Assalamu'alaikum!" sapa Daniar.
"Wa'alaikumsalam. Apa ini dengan istrinya Pak Yandri?" tanya seorang pria di ujung telepon.
"Benar saya istrinya Pak Yandri. Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Daniar.
"Perkenalkan, Bu. Saya Danis, teman pak Yandri saat PPG dulu di bandung. Maaf, saya baru mendengar kabar pak Yandri di grup WA semalam. Apa pak Yandri masih berada di rumah sakit Kadipaten?" tanya pria yang mengaku sebagai temannya Yandri.
"Iya, beliau masih dirawat di sini, Pak. Dokter belum mengizinkan suami saya untuk pulang," jawab Daniar
"Jam 10 pagi dan jam 5 sore, Pak," sahut Daniar.
"Emh, sekarang hampir pukul 11, mungkin sebentar lagi jam besuknya akan segera berakhir. Di ruang mana pak Yandri dirawat, Bu? Insya Allah jika ada kesempatan, nanti sore saya akan menjenguknya," kata Pak Danis.
"Di ruang flamboyan kamar tiga, Pak," ucap Daniar.
"Oh ya sudah. Terima kasih banyak, Bu. Sampaikan salam saya untuk pak Yandri. Semoga beliau lekas sembuh," kata Pak Danis.
"Aamiin," pungkas Daniar seraya menutup teleponnya.
Sesaat kemudian, Daniar kembali menyimpan telepon suaminya ke dalam tas. Sejak Yandri dirawat, Daniar lah yang bertugas menjawab dan membalas telepon ataupun pesan yang masuk di ponsel Yandri.
"Pak Danis ngomong apa, Bu?" tanya Yandri.
"Katanya pak Danis hendak datang kemari buat jenguk Ayah," jawab Daniar.
"Hmm, alhamdulillah ... akhirnya ada juga yang mau besuk Ayah. Hehehe,..." gurau Yandri sambil terkekeh.
__ADS_1
"Memangnya siapa itu pak Danis, Yah?" tanya Daniar yang mulai penasaran.
"Pak Danis itu, teman Ayah waktu PPG di Bandung, Bun. Orangnya masih muda. Sepertinya dia juga guru baru, karena itu selalu merasa kesulitan dalam menyajikan presentasi. Ayah yang bimbing dia, bagaimana caranya membuat perencanaan pembelajaran yang baik," tutur Yandri mengenang masa PPG-nya tak lama setelah dia memasuki sekolah asrama.
"Oh, kok dia mau jenguk Ayah. Padahal, 'kan dari sekolah asrama ke sini jaraknya jauh juga," tukas Daniar.
"Dia itu bukan guru di asrama, Bun, tapi guru di madrasah lain. Dia tinggal di Cirebon, mungkin dia menyempatkan untuk datang karena enggak jauh juga jaraknya," jawab Yandri.
Daniar hanya menganggukkan kepala mendengar jawaban Yandri tentang pak Danis.
.
.
Seperti yang sudah dijanjikan, di jam besuk sore hari, seorang pasangan muda menjenguk Yandri. Perbincangan tentang kronologi kejadian pun kembali terulang.
"Alhamdulillah ya, Pak. Ada yang menemukan Bapak dini hari itu. Saya ngerinya, gimana kalau ada kendaraan besar lewat, Pak. Bukankah jalan itu sering dilewati oleh truk-truk yang berukuran cukup besar," kata Pak Danis.
"Iya, Pak. Alhamdulillah, Tuhan masih memberikan kesempatan kedua kepada saya. Mungkin Tuhan tahu kalau saya terlalu banyak dosa, mangkanya nyuruh tobat dulu. Hahaha,..." jawab Yandri sambil tertawa.
"Ish, Bapak bisa saja. Di saat sakit seperti ini pun, Bapak masih saja bisa bercanda. Benar, 'kan apa yang Abi bilang, Mi. Pak Yandri itu, meskipun wajahnya dingin, tapi humoris," tutur Pak Danis kepada istrinya.
Sang istri yang dipanggil Umi, hanya bisa tersenyum mendengar ucapan suami. Dia kemudian berkata, "Apa Pak Yandri tahu? Suami saya sering bercerita tentang Bapak. Dia bilang, selain guru dan teman, Bapak juga sudah seperti kakaknya sendiri. Saya sangat berterima kasih karena Bapak sudah banyak membantu suami saya selama menjalani PPG, sehingga dia bisa lulus."
Yandri tersenyum. "Tidak usah seperti itu, Bu. Pak Danis itu lulus bukan karena saya, tapi karena usahanya dia juga. Ibu pernah mendengar pepatah yang mengatakan jika hasil tidak akan mengkhianati usaha, 'kan? Nah, itu juga yang terjadi kepada Pak Danis. Bukan begitu, Pak?" kata Yandri.
"Ah, Bapak bisa saja," sahut Pak Danis.
Tanpa terasa, satu jam telah berlalu. Hingga tiba waktu besuk habis, akhirnya Pak Danis dan istrinya berpamitan untuk pulang.
"Oh iya, Bu. Ini ada sedikit bantuan dari teman-teman satu kelas PPG untuk pak Yandri. Semoga bisa diterima, ya, Bu," ucap Pak Danis saat Daniar mengantarkan pasangan itu keluar ruang flamboyan.
"Ya Allah, Pak. Kenapa harus repot-repot segala? Saya dan suami sudah sangat bersyukur atas kunjungan Bapak bersama istri. Kenapa harus seperti ini?" kata Daniar yang merasa tak enak hati.
"Enggak merepotkan kok, Bu. Mohon diterima, meskipun tidak seberapa," tukas Pak Danis.
"Alhamdulillah, Terima kasih, Pak. Sampaikan terima kasih kami untuk yang lainnya. Semoga Tuhan membalas kebaikan bapak-bapak sekalian," lanjut Daniar.
"Aamiin. Ya sudah Bu, kalau begitu kami pulang dulu, assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Setelah tamunya pergi, Daniar pun kembali melangkahkan kaki menuju ruangan tempat suaminya dirawat.
Alhamdulillah Ya Allah, setiap kebaikan pasti akan berbuah kebaikan pula.