
Hari Sabtu, Daniar terpaksa izin tidak masuk kerja kepada kepala sekolahnya. Hari ini, dia hendak menemani Yandri untuk menemui ibunya. Sudah lama juga Daniar tidak bertemu dengan mertuanya itu.
"Bintang mau ikut?" ajak Yandri kepada putri semata wayangnya.
"Bintang di sini saja, Yah. Tunggu di rumah sama Enin," jawab Bintang yang memang selalu tidak mau diajak ikut ke rumah neneknya.
"Kenapa semakin besar Bintang semakin tidak mau kalau kita ajak ke rumah ibu, Yah?" tanya Daniar. Dia merasa tidak enak hati kepada suaminya.
"Sudahlah, Bun. Bintang itu masih kecil, belum ngerti apa-apa juga. Dia masih ingin melakukan apa yang dia suka. Biarkan saja," jawab Yandri yang tidak ingin ambil pusing saat melihat sikap anaknya. Meskipun dalam hati, harus Yandri akui dia sedikit kecewa dengan sikap Bintang yang seperti ini. Jika dibiarkan, lama-lama Bintang bisa tidak mengenali saudara dari ayahnya, pikir Yandri
Mendengar jawaban suaminya yang seolah tidak terganggu dengan sikap anaknya, Daniar bisa bernapas dengan lega. Meski setiap saat, Daniar selalu berdo'a jika suatu hari nanti, Bintang bisa diajak menemui keluarga sang ayah tanpa terpaksa.
Semoga setelah dewasa nanti, kamu tahu jika apa yang kamu lakukan ini salah, nak, batin Daniar.
.
.
Setelah berkendaraan selama kurang lebih satu jam, akhirnya Yandri dan Daniar tiba juga di rumah Bu Maryam.
"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri seraya mengetuk pintu rumah ibunya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Maryam dari dalam rumah.
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka lebar. Yandri dan Daniar memasuki rumah yang pernah mereka tinggali selama beberapa bulan.
"Apa kabar, Bu?" tanya Yandri seraya mencium punggung tangan ibunya.
"Alhamdulillah, kabar Ibuu baik, Yan. Kamu sendiri gimana? Sehat? Sudah lama Ibu enggak dengar kabar kamu. Apalagi semenjak kamu tidak pernah singgah lagi setelah pulang sekolah," jawab Bu Maryam.
Yandri tersenyum tipis. "Maaf, Bu. Yandri banyak kerjaan," jawabnya.
Bu Maryam hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Yandri. "Ya sudah, yang terpenting kamu sehat-sehat saja, Nak. Ngomong-ngomong, kenapa anak kamu enggak diajak, Yan? Ibu kangen banget sama dia. Sudah lama juga Ibu enggak ketemu anak kamu," tanya Bu Maryam yang tidak melihat cucunya.
Bintang, Bu. Cucu ibu punya nama, tapi kenapa ibu tidak pernah menyebutnya. Ibu selalu memanggil Bintang dengan anak kamu. Ya Tuhan ... apa dia juga tidak ingin mengakui cucunya sendiri? batin Daniar.
"Bintang enggak ikut, Bu. Dia sudah senang bermain dengan teman sebayanya. Jadi sudah enggak mau diajak bepergian," kilah Yandri yang menutupi alasan Bintang sebenarnya.
"Huh, anak zaman sekarang memang lebih mementingkan main sama teman dibandingkan berkunjung ke rumah saudara. Hati-hati, Yan. Jangan terlalu dibiarkan anak kamu bermain terus. Bisa-bisa dia tidak mengenali sanak saudaranya," kata Bu Maryam memperingatkan anaknya.
__ADS_1
Yandri hanya tersenyum saja menanggapi ucapan ibunya. "Oh iya, Bu. Yandri datang ke sini untuk meminta restu Ibu. Semoga saja Ibu selalu mendo'akan setiap langkah Yandri. Supaya apa yang Yandri lakukan ini menjadi berkah," tutur Yandri.
"Ya Tuhan, Yan ... tidak diminta pun, Ibu akan selalu mendoakan keselamatan kamu, keberkahan hidup kamu, dan keberhasilan usaha kamu, Nak," jawab Bu Maryam, tulus.
"Aamiin, Bu. Terima kasih," jawab Yandri.
"Ibu jadi penasaran, Nak. Memangnya kenapa kamu berbicara seperti itu? Ada apa?" tanya Bu Maryam.
"Sebenarnya, Yandri pindah kerja, Bu. Mulai Senin depan, Yandri kerja di luar kota," jawab Yandri.
Deg!
Jantung Bu Maryam seakan berhenti berdetak saat mengetahui anaknya pindah kerja.
"Ke-ke luar ko-kota? Ta-tapi ke mana, Nak?" tanya Bu Maryam terbata.
"Di daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, Bu," jawab Yandri.
"Kok jauh banget, Yan." kata Bu Maryam.
"Enggak pa-pa, Bu. Di mana pun tempatnya, yang penting halal," balas Yandri.
"Aamiin, Bu. Ngomong-ngomong, di mana kak Bibah, Bu? Yandri mau sekalian pamit juga sama kak Bibah," kata Yandri.
"Dia ada di rumahnya Yan, sedang menjahit baju milik langganannya," jawab Bu Maryam.
"Sebentar ya, Bun. Ayah temui dulu kak Bibah."
Daniar yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia, mengangguk saat suaminya meminta izin untuk menemui kakaknya.
Setelah Yandri pergi, Bu Maryam mendekati menantunya seraya berkata dengan sinis. "Kamu beri guna-guna apa anak saya, hingga dia memutuskan untuk pindah kerja ke tempat yang sangat jauh?"
Daniar mengernyit. "Ma-maksud Ibu?"
"Udah deh Niar, enggak usah mengelak lagi. Semua ini rencana kamu, 'kan, menjauhkan Yandri dari keluarganya sendiri? Mau kamu itu apa sih, Niar? Belum cukup juga kamu membawa Yandri pergi dari rumah ini? Sekarang, kamu juga ingin menjauhkan Yandri dari kota kelahirannya? Dari ibu dan Saudara-saudaranya, hah?"
Daniar hanya bisa menghela napas. Lagi-lagi ibu mertuanya menyalahkan dirinya atas keputusan yang telah diambil sang suami.
"Maaf, Bu. Daniar tidak mempengaruhi kang Yandri. Semua ini keputusan kang Yandri sendiri. Mungkin dia ingin mencari peruntungan di tempat lain," jawab Daniar.
__ADS_1
"Halah, alasan saja!" Bu Maryam mendengus kesal. Sesaat kemudian, dia pergi ke kamarnya.
Daniar hanya mampu mengelus dada melihat sikap ibu mertua yang tidak pernah berubah. Ya Tuhan ... sebenarnya apa salah hamba? Kenapa ibu begitu membenci hamba?
"Tunggu, Bu!" seru Daniar yang seketika menghentikan langkah Bu Maryam.
Daniar beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Bu Maryam. "Kenapa Ibu selalu menyalahkan Niar atas setiap keputusan yang diambil kang Yandri? Kenapa Ibu membenci Daniar? Salah Niar apa, Bu?" tanya Daniar yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu mau tahu apa salah kamu, Niar? Salah kamu adalah, kamu mau begitu saja menjadi istri Yandri. Seharusnya, setelah selesai kuliah, Yandri berbakti dulu sama orang tuanya, bukan menikah! Itu salah kamu, Niar!" tegas Bu Maryam.
"Tapi ini sudah takdir, Bu. Bukan kemauan Daniar untuk menjadi jodohnya kang Yandri. Ibu sendiri tahu jika takdir itu sudah ada yang mengaturnya."
Bu Maryam tidak ingin mendengar semua ocehan menantunya. Dia pun pergi tanpa ingin menoleh lagi kepada Daniar.
"Astaghfirullahaladzim!" gumam Daniar.
"Kenapa, Bun?" Tiba-tiba Yandri sudah ada di belakang Daniar.
"Eh, A-ayah?" jawab Daniar, kaget.
Ya Tuhan, sejak kapan kang Yandri berdiri di sana? Apa dia mendengar percakapan aku dan ibu? batin Daniar.
"Kok kaget, Bun. Lagi mikirin apa?" tanya Yandri.
Daniar gugup. "Eng-enggak ... Bunda enggak mikirin apa-apa, kok," elak Daniar.
"Ya sudah, kita pulang yuk!" ajak Yandri.
"Tapi ibu? Kita enggak pamit sama ibu, Yah?" tanya Daniar.
"Tidak apa-apa, Ni. Ayah tidak mau mengganggu istirahat ibu," balas Yandri.
"Tapi Niar enggak enak sama ibu, Yah. Nanti ibu mikirnya kita enggak sopan karena pulang gitu aja. Lagian, kasihan juga ibu jika kita pergi tanpa pamit. Ya kapan lagi kita ketemu ibu, Yah."
Yandri merangkul istrinya. "Tidak apa-apa, Bun. Lain waktu kita pasti datang lagi buat menemui ibu. Yuk ah! Udah siang juga, kasihan Bintang kalau kita tinggal lama-lama," ajak Yandri seraya menarik pelan tubuh istrinya.
Daniar pun melangkahkan kaki mengikuti ajakin sang suami.
Yandri janji, bu. Yandri akan membuat ibu merasa bangga karena telah memiliki menantu seperti Daniar.
__ADS_1