Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kejutan


__ADS_3

Karena terlalu asyik memilih pakaian, tanpa sadar Daniar kebablasan waktu. Setelah melirik jam tangannya, Daniar terkejut karena penunjuk waktu sudah berhenti di angka 11 kurang seperempat. "Ya Tuhan ... tinggal 15 menit lagi, busnya pasti akan segera berangkat," gumam Daniar.


Daniar bergegas menuju kasir untuk membayar barang belanjaannya. Setelah itu, dia kemudian keluar dari toko tersebut. Sambil menggendong putrinya, Daniar berlari kecil agar tidak tertinggal bus kedua yang menjadi sarana transportasi ke tempatnya.


Tiba di terminal, beruntunglah bus itu masih setia menunggu penumpangnya. Daniar pun segera menaiki bus tersebut.


.


.


Sementara itu, Yandri yang melewatkan sarapan, merasakan jika tubuhnya mulai melemah. Berulang kali dia menggelengkan kepala untuk mengusir rasa pusing. Konsentrasinya pun pecah, saat merasakan kepalanya semakin berat. Bulir keringat dingin mulai bercucuran di kedua pelipis dan keningnya.


"Baiklah, hanya itu yang ingin kami sampaikan. Setelah ini, kami harapkan kerja samanya agar kami bisa menyalurkan bantuan ini sebaik mungkin," pungkas Bapak Kepala Kemenag.


Setelah acara berakhir, satu per satu para operator sekolah mulai mengemasi barang-barangnya. Begitu Juga dengan Yandri. Meski rasa berat di kepalanya semakin menjadi, Yandri mencoba untuk tidak menghiraukan. Dia mulai memasukan berkas-berkas penting bersama laptopnya ke dalam tas. Tanpa Yandri sadari, sepasang mata terus mengawasinya dengan tatapan cemas.


Yandri melangkahkan kaki ke luar kantor. Sejenak dia berhenti untuk menarik napasnya.


"Mungkin aku harus makan siang dulu sebelum pulang. Jika dipaksakan pulang, aku takut tidak bisa melewati perjalanan ini," gumam Yandri. Dia kemudian melanjutkan langkahnya menuju sebuah warung nasi.


Tiba di tempat itu, Yandri mulai memesan makan siang. Setelah menunggu beberapa menit, makanan yang dipesannya pun, tiba. Sedetik kemudian, Yandri mulai menyantap makanan tersebut.


Di sisi lain, Enna masih terus mengawasi Yandri dari kejauhan. Dia terlihat cemas melihat wajah Yandri yang pucat pasi.


Ish, apa dia sakit? batin Enna, masih terus menatap pria yang sedang melahap makanan


Enna segera berlari saat melihat Yandri keluar dengan tergesa-gesa. Enna mengikuti Yandri yang memasuki toilet masjid yang berada di sebelah warung nasi tadi. Tiba di depan toilet, Enna mendengar suara seseorang yang sedang muntah. Ya Tuhan ... Kenapa dia? batinnya.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka lebar. Yandri keluar dengan wajah kuyu. Setelah dimasuki makanan, bukannya bertenaga, perut Yandri malah bergejolak hebat sehingga Yandri memuntahkan kembali makanan yang sudah masuk ke perutnya.


"Apa kamu baik-baik saja, Yan?" tanya Enna yang begitu khawatir melihat keadaan Yandri.


Namun, sepertinya Yandri pun tidak memiliki kekuatan untuk menjawab. Dengan tenaga yang tersisa, Yandri kembali berjalan meski sempoyongan.

__ADS_1


Enna masih mengikuti Yandri. Mempercepat langkahnya agar bisa mengimbangi langkah mantan kekasihnya itu.


"Aku bantu, Yan. Enna menawarkan bantuan untuk memapah Yandri.


Namun, Yandri memberikan isyarat agar Enna tidak menyentuhnya.


"Ish, tidak usah seperti ini, Yan. Aku hanya menawarkan bantuan sebagai rekan kerja saja, tidak lebih. Lagi pula, dengan keadaan kamu seperti ini, aku tidak yakin kamu bisa pulang dengan menaiki kendaraan umum," papar Enna.


Apa yang dikatakan Enna memang benar. Tubuh Yandri terasa lemas, kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang. Dengan keadaan tidak berdaya seperti ini, tidak mungkin Yandri bisa pulang dengan menaiki kendaraan umum.


"Ayolah, Yan. Aku hanya ingin membantu saja. Sama sekali tidak ada niat buruk. Lagi pula, di mobil tidak hanya ada aku saja, masih ada anak OPS yang lainnya," lanjut Enna.


Yandri akhirnya mengalah. "Baiklah," ucapnya lirih.


Enna tersenyum. Sejurus kemudian, dia meraih tangan Yandri dan memapahnya menuju mobil rombongan yang terparkir tak jauh dari warung nasi yang dikunjungi Yandri.


.


.


"Duduk di sini, Bu. Kasihan anaknya kepanasan," ucap salah seorang penumpang.


Daniar tersenyum. Dia kemudian menghampiri penumpang itu dan duduk di bangku panjang yang dituduhkan barusan.


Perbincangan ringan pun dimulai tatkala mereka sama-sama menunggu mobil yang sedang ganti ban.


.


.


Mobil rombongan yang ditumpangi Yandri tiba di sekolah bertepatan dengan kumandang azan asar. Karena perjalanan masih jauh, rombongan operator pun berniat untuk menunaikan salat asar terlebih dahulu di masjid dekat sekolah Yandri.


"Bu Enna enggak salat?" tanya Pak Irfan.


"Enggak, Pak. Biasa ... perempuan," jawab Enna.

__ADS_1


"Oh, begitu ya ... Hmm, ya sudah, Bu Enna bisa, 'kan mengantarkan Pak Yandri ke ruangannya. Saya dan Pak Radit mau salat asar dulu," pinta Pak Irfan kepada Enna.


"Tidak perlu, Pak. Saya bisa sendiri," tukas Yandri.


"Ish, tidak apa-apa Pak, nanti takut jatuh kalau dibiarkan jalan sendirian. Tubuh Pak Yandri, 'kan sedang tidak bersahabat," balas Pak Radit.


"Iya, Yan. Apa yang dikatakan Pak Radit memang benar. Ayolah, aku hanya ingin membantu kamu sebagai teman, kok. Enggak lebih dari itu," timpal Enna


Yanda tersenyum tipis. Lagi-lagi, dia kembali mengalah. Sepertinya, saat ini tubuh Yandri sedang tidak bisa diajak kompromi. Karena itu dia terpaksa menerima bantuan Enna kembali. Mereka pun berjalan beriringan hingga tiba di pintu kamar.


"Sini, aku bantu Yan!" ucap Enna saat Yandri kesulitan untuk memasukkan kunci pintu kamarnya.


Yandri menyerahkan kunci itu, dan Enna pun mulai membukanya. Pada saat mereka hendak masuk ke ruangan, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh teriakan seseorang di belakangnya.


"Tunggu!"


Yandri dan Enna menoleh seketika. Kedua orang itu terkejut saat melihat dua orang wanita tengah berdiri di hadapan Yandri.


"Apa-apaan ini, Yandri?" tanya Habibah yang tidak suka melihat keberadaan Enna.


"Kak Bibah?" gumam Yandri. "Ngapain Kak Bibah datang kemari?" tanya Yandri.


"Kakak datang buat nganterin Siska. Katanya ada yang mau dia omongin sama kamu," jawab Habibah. "Kamu kenapa sih, Dek? Ngapain si janda itu ada di sini? Sengaja, kamu bawa dia kemari? Huh, mentang-mentang istri kamu lagi enggak ada, kamu malah bawa tuh jendes ke sini," ketus Habibah.


"Maaf Kak, Yandri capek. Yandri enggak punya waktu buat ngomongin hal yang enggak jelas seperti ini" jawab Yandri


"Ish, enggak jelas gimana maksud kamu, Yan? Tuh jendes emang udah kegatelan banget. lagi punya suami saja, dia berani datang ke rumah. Ya apalagi sekarang, sudah jadi janda. Diajak tidur pun, dia enggak mungkin keberatan," cibir Habibah.


Wajah Enna terasa panas mendengar cibiran Habibah. Terlebih lagi saat dia melihat Siska yang notabene adalah cinta pertamanya Yandri. seketika Darahnya mulai mendidih. Apalagi dia melihat senyum mengejek tersirat di wajah manis Siska. Uh, menyebalkan! batinnya.


"Maaf Kak Bibah, Kakak tidak berhak menghakimi status saya yang hanya seorang janda. Lagi pula, saya hanya ingin menolong Yandri. Tadi, Yandri hampir saja pingsan karena penyakit maag dan dehidrasi yang menyerangnya. Saya dan teman-teman sudah membawa Yandri ke dokter. Saya ke sini hanya untuk membantu Yandri ke kamarnya," tutur Enna, mencoba membela diri.


"Ya sudah, sekarang kamu tidak perlu membantu dia lagi," tegas Kak Habibah. "Sudah ada Siska yang bakalan ngurusin Yandri selama dia sakit. Pulanglah!" perintah Kak Habibah.


"Bukan hanya wanita itu yang harus pulang. Kalian semua juga harus pulang. Enyahlah kalian semua dari sini! Biar saya yang urus suami saya!"

__ADS_1


__ADS_2