Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kebenaran


__ADS_3

Yandri terkejut mendengar ucapan Daniar. Begitu juga dengan pemilik panti jompo itu. Namun, Bu Hajjah Titing tak mampu menolak permintaan wanita yang diakuinya sebagai mantan istri Yandri. Karena itu, dia mengizinkan Yandri berdiskusi dengannya.


"Baiklah Nak Niar, silakan kalian berdiskusi. Kalau begitu, saya akan pergi ke ruangan saya dulu. Permisi!" pamit Bu Hajjah Titing.


Yandri menatap Daniar yang sedang menerawang melihat hamparan bunga berwarna-warni di taman. Untuk sejenak, mereka hanya saling membisu. Yandri tidak tahu apa yang memang ingin disampaikan mantan istrinya.


Hingga setelah beberapa menit berlalu, Daniar pun membuka perbincangan.


"Apa memang tidak ada satu pun yang mau mengurus ibu?" tanya Daniar, datar.


Yandri menggelengkan kepalanya.


Daniar menghela napas. "Kalau begitu, kita bawa ibu pulang, Kang."


Yandri terkejut mendengar perkataan Daniar.


"Maksud Bunda?"


"Akang bawa ibu pulang," ulang Daniar.


"Tapi bagaimana mungkin, Bun. Minggu depan Ayah harus kembali ke Indramayu. Jika Ayah bawa ibu pulang ke rumah, siapa yang akan mengurus ibu kalau Ayah bekerja?" jawab Yandri.


"Ibu tidak akan pulang ke rumah Akang, tapi ibu pulang ke rumah Niar!" tegas Daniar.


"Apa?!"


.


.


"Ayo Ibu, sekarang waktunya untuk menikmati teh sama kue kesukaan Ibu," ucap Daniar seraya menghampiri Bu Maryam yang sedang duduk di taman belakang.


Bu Maryam menoleh. Dia tersenyum kecut melihat mantan menantunya menghampiri dia seolah tanpa beban.


Sudah hampir tiga minggu Bu Maryam tinggal di rumah Daniar. Sebenarnya, Bu Maryam enggan. Dia merasa malu jika harus tinggal di rumah orang yang dibencinya. Namun, dia tidak punya pilihan lain. Daripada harus tinggal selamanya di panti jompo, lebih baik Bu Maryam tinggal di sini. Dengan begitu, dia bisa merasakan kasih sayang dari anaknya yang hanya tersisa satu, yaitu Yandri.


"Niar suapi ya, Bu," lanjut Daniar seraya memotong cupcake dan menyodorkannya ke depan mulut Bu Maryam.


Mau tidak mau, wanita renta itu pun membuka mulutnya. Dia ingat pesan Yandri sebelum berangkat ke Indramayu.


"Ingat ya, Bu. Ibu harus nurut apa kata Daniar. Supaya Ibu lekas sembuh."

__ADS_1


Dan Bu Maryam ingin segera sembuh. Agar dia bisa segera pergi dari rumah ini. Dia tidak mau menjadi beban bagi Daniar, orang yang selalu dianggap rival karena telah berani mencintai Yandri.


"Kapan Yandri pulang?" tanya Bu Maryam.


"Dua minggu lagi, Bu," jawab Daniar.


Dua minggu. Ah, dua minggu terasa seperti dua tahun bagi Bu Maryam yang harus tinggal satu atap dengan Daniar. Entah apa yang sebenarnya wanita tua itu rasakan. Kebencian masih tersimpan dengan jelas. Namun, tidak sebesar dengan perasaan bersalah dan ketakutannya jika kejahatannya akan terbongkar.


Tinggal di rumah ini mungkin memang bukan pilihan yang tepat. Namun, di rumah ini jugalah Bu Maryam bisa melihat rupa Daniar yang sebenarnya.


.


.


Setiap pagi, Daniar selalu mengurus makannya dengan telaten. Dia selalu menyempatkan diri memandikannya sebelum berangkat ke toko roti. Daniar bahkan rela menghabiskan waktunya di rumah ketimbang di toko roti miliknya, meskipun toko sedang ramai. Semua sikap Daniar berbanding terbalik dengan Siska yang selalu Bu Maryam puja.


"Inilah rupa Daniar yang sebenarnya, Bu. Sebanyak apa pun kita telah menyakiti hatinya. Namun, semua itu menguap begitu saja di dalam hatinya. Itulah kenapa Yandri memujanya dan selalu ingin menjadikan dia satu-satunya permaisuri di hati Yandri. Tentunya setelah Ibu yang akan selalu menjadi ibunda ratu tercinta," ucap Yandri ketika mereka berbincang tentang Daniar setelah selesai melakukan fisioterapi.


Bu Maryam hanya diam. Meskipun jauh di lubuk hatinya, dia membenarkan ucapan sang anak.


Ya, begitu banyak sindiran, dan fitnah kejam yang dilakukan dirinya terhadap Daniar. Namun, gadis itu tanpa merasa beban, selalu mengutamakan kepentingannya di atas kepentingan pribadinya.


.


.


Tumben rumah sepi, batin Bintang sambil melangkahkan kakinya memasuki ruang keluarga.


Tiba di ruang keluarga, Bintang masih belum melihat ibunya. Padahal, hari sudah sangat sore. Tidak mungkin bunda masih di toko, bukankah toko kuenya tutup di setiap hari Jum'at, pikir Bintang.


Pada saat Bintang hendak memasuki kamarnya. Samar-samar dia mendengar suara tawa yang begitu renyah. Bintang merasa penasaran, dia pun segera mengayunkan langkah mendekati sumber suara di halaman belakang.


Brugh!


Tas ransel yang sedang dipegangnya, terjatuh begitu saja ketika Bintang melihat dua orang yang sangat dibencinya. Wajah Bintang terlihat memerah karena dikuasai amarah.


Mendengar suara benda jatuh, sontak Yandri dan Bu Maryam menoleh. Kedua orang itu tampak tersenyum lebar ketika melihat orang yang teramat merek rindukan.


"Bibin, Sayang!" seru Yandri seraya beranjak dari tempat duduknya.


Sedetik kemudian, Yandri merentangkan kedua tangannya untuk memeluk sang buah hati. Namun, sebelum tangan itu menyentuhnya, Bintang menepiskannya. Membuat Yandri merasa heran.

__ADS_1


"Sedang apa kalian di sini?" tanya Bintang, sinis.


"Eh, Bibin ... kamu sudah pulang, Nak. Kenapa kamu tidak bilang sama Bunda kalau kamu pulang sekarang, Bunda kan bisa jemput kamu?" Tiba-tiba Daniar datang dari arah pintu dapur.


"Tolong jelaskan sama Bibin, kenapa kedua orang itu berada di sini, Bun?" tanya Bintang kepada ibunya.


"Mereka tinggal di sini, Nak," jawab Daniar.


"Tapi kenapa mereka tinggal di sini, Bun?" Bintang kembali bertanya. Kali ini nada bicaranya mulai meninggi.


"Nanti bunda jelaskan, Sayang," sahut Daniar, mencoba menenangkan buah hatinya.


"Laki-laki itu punya rumah, Bun. Kenapa dia tidak tinggal di rumahnya saja dengan si tua bangka itu?!" teriak Bintang penuh emosi. Dia menepiskan tangan Daniar dengan kuat hingga tubuh Daniar sedikit terdorong ke belakang.


"Cukup Bintang! Laki-laki ini adalah ayahmu, dan orang yang kau sebut tua bangka itu, dia nenekmu. Sampai kapan pun, kamu tidak bisa mengingkari hal itu!" teriak Yandri. "Kamu boleh membenci Ayah, tapi jangan pernah melupakan sopan santunmu terhadap orang tua. Apalagi terhadap nenekmu. Sejauh apa pun kamu mengingkarinya, kebenarannya hanya satu, kamu adalah keturunan kami. Jelas!" tegas Yandri.


"Waw! Hebat sekali Anda berbicara tentang kebenaran Bapak Yandri yang terhormat," ucap Bintang terkesan mengejek. "Baiklah, kau sudah utarakan kebenaran yang ingin kau sampaikan kepada bocah ingusan sepertiku. Dan sekarang, dengarkan puluhan kebenaran yang akan aku sampaikan, Bapak Yandri Gunawan. Kebenarannya adalah aku me–"


"Cukup, Bintang. Pergilah ke kamarmu!" teriak Daniar, mencoba mencegah Bintang untuk mengatakan semua tentang kebenaran yang dia tahu.


"Tidak, Bunda! Selama ini kita sudah membiarkan Bapak Yandri memperlakukan kita dengan semena-mena. Sekarang, biarkan Bibin ungkap semua tentang kebenaran yang selalu dia agungkan!" teriak Bintang semakin bertambah emosi.


"Bunda mohon, Nak...," pinta lirih Daniar.


Yandri semakin penasaran. "Biarkan anak itu bicara, Bun. Biarkan dia melampiaskan semua amarahnya hari ini!" perintah Yandri penuh ketegasan.


"Ya! Hari ini aku akan bicara, Bapak Yandri! Akan aku ingatkan semua kebenaran yang pernah kau lakukan padaku dan pada ibuku," teriak Bintang. "Kau!" Tunjuk Bintang kepada Bu Maryam. "Kau membenci aku hanya karena aku terlahir sebagai perempuan, aku terima itu. Kau membenci ibuku hanya karena berjodoh dengan anakmu, aku terima itu. Tapi kenapa kau merampas kehidupan adikku, hah? Punya hak apa kau merampas kehidupannya dari rahim ibuku? Apa salah adikku padamu, katakan! Kenapa kau tega membunuhnya, jawab aku, kenapa?!"


"Cukup, Nak. Cukup! Adikmu tidak bisa menikmati dunia ini, itu karena takdirnya, Nak," timpal Daniar, lirih.


"Tidak Bunda! Itu bukan takdirnya, tapi itu takdir yang direnggut oleh wanita tua itu. Karena dia!" jerit Bintang.


"Bi-bintang cucuku,ma–"


"Aku bukan cucumu, Maryam! Ingat, aku telah bersumpah jika aku sudah memutuskan hubungan darah denganmu di saat kau membanding-bandingkan aku dengan Rizal, cucu kesayanganmu itu. Aku bersumpah, seumur hidup aku tidak akan pernah memanggilmu nenek apalagi dengan semua derita yang kau tumpahkan padaku. Dan kamu!" Bintang menunjuk Yandri. "Aku telah bersumpah jika aku memutuskan hubungan denganmu setelah kau memutuskan memilih wanita busuk itu. Wanita munafik yang hendak membeli harga diriku. Cih, menjijikkan! Kau bukan hanya gagal menjadi seorang suami, tapi kau juga gagal menjadi seorang ayah!"


"Bintang, cukup!" teriak Daniar.


"Tidak Bunda! Semua kebenaran ini tidak akan cukup untuk kedua orang jahat itu. Dan satu lagi, Bapak Yandri yang terhormat. Satu lagi kebenaran yang harus kau ketahui. Aku ... Bintang Azura, dengan sadar, menyangkal semua darah kalian yang mengalir di tubuhku. Aku bukan anakmu Yandri Gunawan, aku bukan a–"


Plak!

__ADS_1


__ADS_2