
Daniar sangat terkejut saat Yandri memberi kabar tentang kepulangannya.
"Serius?" tanya Daniar, mengerutkan keningnya.
"Iya, Bun. Ayah serius," sahut Yandri di ujung telepon.
"Tapi kenapa, Yah?" tanya Daniar.
"Kesehatan Ayah belum pulih betul, karena itu pihak sekolah menyuruh Ayah untuk kembali beristirahat sampai pulih total," jawab Yandri.
"Memang kondisi Ayah ngedrop lagi?" Daniar kembali bertanya.
"Ngedrop sih, enggak. Hanya saja, sekarang Ayah gampang merasa lelah. Capek sedikit, kepala Ayah rasanya sakit banget, Bun. Kadang kalau sedang berjalan menaiki tangga, tiba-tiba suka ngerasa pusing," papar Yandri.
"Oh, begitu," ucap Daniar, "lalu, kapan Ayah mau pulang," lanjutnya.
"Besok, Bun. Karena surat rekomendasi cuti yang diajukan Kamad kepada pihak perizinan, sudah keluar tadi sore," jawab Yandri.
"Secepat itu?" seru Daniar sedikit terkejut.
"Iya, Bun. Soalnya di sini, 'kan kesehatan itu menjadi prioritas utama. Jadwal pekerjaan cukup padat dan membutuhkan tenaga ekstra. Karena itu kita harus benar-benar dalam kondisi fit untuk kembali bekerja," tutur Yandri.
"Lalu bagaimana? Apa Bunda harus jemput Ayah lagi ke sana?" Daniar kembali bertanya kepada suaminya.
Untuk sesaat, keheningan tercipta di antara mereka. Meskipun menawarkan untuk menjemput, tapi Daniar bingung bagaimana caranya mendapatkan uang untuk menjemput Yandri di asrama. Di rumah memang ada kendaraan, tapi sopir dan bensin, 'kan harus dibayar juga. Masak iya dia harus kembali meminjam uang kepada ibunya.
Huh, mau sampai kapan aku merepotkan ibu, batin Daniar.
Sedangkan Yandri, pemikiran Yandri pun tak jauh beda dengan istrinya. Jika dia meminta Daniar menjemputnya, tentunya akan ada banyak hal yang harus dikorbankan. Waktu, tenaga dan tentunya uang juga. Padahal, Yandri tahu jika istrinya belum gajian. Meskipun gajian, tetap saja tidak akan mencukupi biaya untuk menjemputnya.
Hmm, sebaiknya aku pulang sendiri saja, batin Yandri.
"Tidak usah dijemput, Bun. Ayah bisa pulang sendiri," balas Yandri.
"Tapi, Yah? Bunda khawatir dengan keadaan Ayah. Gimana kalau tiba-tiba di jalan Ayah pusing?" ucap Daniar.
"Insya Allah Ayah pasti kuat, Bun," sahut Yandri.
__ADS_1
"Ayah yakin?" tanya Daniar memastikan.
"Iya, Bun. Tidak usah cemas, Ayah pasti baik-baik saja. Do'akan saja biar perjalanan besok lancar," lanjut Yandri.
"Iya, Kang. Tidak usah khawatir, Bunda akan senantiasa berdoa supaya Ayah selalu berada dalam lindungan Allah SWT," timpal Daniar.
"Aamiin. Ya sudah Bun, Ayah tutup dulu teleponnya, ya. Sampai jumpa besok," pungkas Yandri, mengakhiri pembicaraannya.
Daniar menaruh ponselnya di atas nakas. Dia kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Belum ada seminggu suaminya kembali bekerja, tapi diperintahkan untuk kembali beristirahat.
Ya Allah, berilah kesehatan yang paripurna untuk suami hamba, doa Daniar sebelum akhirnya dia memejamkan mata.
.
.
Sepanjang malam, Bu Maryam menemani anaknya yang masih belum tidur. Seperti malam-malam sebelumnya, Khodijah tidak bisa memejamkan mata setelah penunjuk waktu melewati angka 12 malam. Tidurnya selalu terganggu oleh bayangan-bayangan buruk yang melintas di mimpinya.
"Tidur atuh Dijah. Mau sampai kapan kamu terjaga seperti ini?" ucap Bu Maryam sambil terus mengusap-usap kaki anaknya.
Khodijah hanya menatap sendu ke arah ibunya. Ingin rasanya Khodijah berbicara untuk menyuruh ibunya beristirahat. Namun, bibir Khodijah terasa kelu.
Paham dengan tatapan mata sang istri, Aji kemudian mendekati mertuanya.
"Bu!" panggil Aji sambil menyentuh pelan bahu Bu Maryam.
Sontak Bu Maryam terhenyak. "Eh, ada apa, Dijah? Apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Bu Maryam yang tidak menyadari jika Aji telah berdiri di sampingnya.
"Maaf, Bu. Aji membangunkan Ibu," ucap Aji yang sontak membuat Bu Maryam menoleh.
"Ish, Ibu kira Khodijah," tukas Bu Maryam yang merasa kesal karena rasa kantuknya seketika hilang.
"Maaf, Bu. Aji membangunkan Ibu supaya Ibu bisa pindah tidur di kamar Hana," lanjut Aji.
"Kamu ngusir Ibu?" tuduh Bu Maryam
"Astaghfirullah, Bu. Mana berani Aji ngusir Ibu," tukas Aji.
__ADS_1
"Itu, buktinya ... kamu malah minta Ibu pindah ke kamar Hana. Apa namanya kalau bukan ngusir. Kamu emang enggak pernah suka kalau Ibu datang ke sini buat ngurus Khodijah," cerocos Bu Maryam semakin melebar ke mana-mana.
"Astaghfirullahaladzim, bukan begitu maksud Aji, Bu. Aji hanya ingin ibu tidur dengan nyaman di kasur. Bukan tidur sambil duduk seperti ini," jawab Aji.
"Huh, alasan!"
Bu Maryam Menggerutu kesal. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan keluar kamar tanpa menoleh sedikit pun ke arah menantunya.
"Astaghfirullahaladzim ..." gumam Aji beristighfar sambil mengelus dada.
Keesokan harinya.
Seperti biasa, setelah selesai mengantarkan Hana ke sekolah, Aji masuk ke kamar untuk memandikan istrinya. Rencananya, hari ini Aji hendak membawa Khodijah untuk kembali ke tabib kampung.
Tiba di kamar, Aji tersenyum tipis karena ternyata Khodijah telah rapi. Siapa lagi kalau bukan ibunya yang telah mengurus dan memandikan Khodijah.
"Kapan kamu berangkat ke rumah sakit, Ji?" tanya Bu Maryam sambil membereskan kembali peralatan bekas mandi Khodijah.
Aji mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Bu Maryam. Lalu, tiba-tiba dia ingat kejadian yang kemarin menimpa putra bungsunya.
"Oh, alhamdulillah keadaan Haikal sudah baik-baik saja, Bu. Jadi tidak perlu dirujuk ke rumah sakit. Nanti siang, Haikal sudah bisa pulang, kok," jawab Aji.
Kini giliran Bu Maryam yang menautkan kedua alisnya. Dalam hati, dia menggerutu kesal karena menantunya yang bodoh itu, selalu saja salah paham dalam mencerna ucapannya.
"Maksud Ibu bukan Haikal, tapi Khodijah. Bukankah kamu hendak membawa Khodijah untuk berobat? Jadi, kapan kalian akan berangkat ke rumah sakit? Keburu antre juga kalau udah siang," tukas Bu Maryam.
"Maaf Bu, Aji memang hendak membawa Khodijah berobat, tapi bukan ke rumah sakit. Hari ini, Aji sudah membuat janji dengan pengobatan alternatif yang berada di wilayah Mangunreja. Kata teman Aji, banyak yang sudah mencoba pengobatan alternatif tersebut dan hasilnya alhamdulillah sembuh. Aji ingin mencobanya, Bu. Siapa tahu berjodoh," papar Aji.
"Ya Tuhan, Aji!" pekik Bu Maryam seraya menepuk jidatnya.
"Istri kamu itu butuh dokter, bukan tabib kampung seperti itu. Pantas saja sudah hampir setahun tapi perkembangan penyakitnya bertambah parah, rupanya kamu hanya mengobati dia dari kampung ke kampung," ucap Bu Maryam, geram.
Aji yang merasa kesal karena selalu disudutkan mertua, akhirnya angkat bicara. Mereka kembali berdebat untuk urusan yang sebenarnya bisa dibicarakan dengan baik-baik.
"Maaf, Bu. Tidak semua pengobatan Khodijah dibiayai pemerintah. Lagi pula, Ibu sendiri tahu jika jarak dari sini ke rumah sakit kota itu cukup jauh. Tidak mungkin Aji membawa Khodijah menggunakan kendaraan roda dua. Ibu sendiri tahu penghasilan Aji sebagai buruh jahit itu berapa. Bisa makan setiap hari pun, kami sudah sangat bersyukur," ucap Aji sedikit emosi.
Karena merasa sakit hati dengan ucapan mertua, akhirnya Aji menumpahkan semua kekesalan di hatinya.
__ADS_1
Namun, bukannya memahami kondisi menantunya, Bu Maryam malah semakin menggerutu.
"Huh, dasar pelit! Buat kesembuhan istrinya masih saja perhitungan!" dengus Bu Maryam seraya pergi meninggalkan kamar Khodijah.