Setelah Hujan

Setelah Hujan
Lamaran Tak Terduga


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Yandri dan Daniar hanya bisa saling diam. Sepertinya mereka sedang asyik dengan pikirannya masing-masing. Entah apa yang tengah menggelayut dalam benak mereka.


.


.


Sementara itu, di rumah sakit Zahra Medika. Bu Frida masih terus membujuk menantunya untuk makan. Setelah siuman, Shakila sama sekali tidak ingin menyentuh makanan apa pun.


"Ayo dong Sayang. Dimakan ya, buburnya. Kasihan loh, anak yang ada dalam perut kamu. Dia juga butuh nutrisi yang seimbang untuk perkembangannya," bujuk Bu Frida.


Shakila masih bergeming. Pikirannya benar-benar sedang kalut. Terlebih lagi saat dia tahu jika Seno sedang berada di Tasik untuk menemui Daniar.


Tiba-tiba.


Brakk!!


Pintu kamar rawat Shakila terbuka dengan kasar. Seorang Ibu bertubuh gempal berjalan terburu-buru memasuki kamar rawat Shakila.


"Kila, kamu baik-baik saja, Nak? Kenapa kamu bisa pendarahan seperti ini? Sudah Mama bilang, kamu enggak usah ngerjain pekerjaan rumah. Kamu cari pembantu saja. Kalau suami kamu nggak mampu bayar pembantu, kamu bilang sama Mama. Biar Mama yang bayar gaji pembantu kamu," cerocos Bu Renata tanpa mempedulikan besannya.


Bu Frida yang tengah duduk di kursi jaga, hanya mendengus kesal mendengar perkataan sang besan.


Uuh, jika bukan di rumah sakit, ingin rasanya aku tampol mulut lemesnya itu, gerutu Bu Frida dalam hatinya.


"Hus! Sudah Ma, jangan terlalu dibesar-besarkan," tegur Pak Hardi, "Papa yakin Seno mampu membayar seorang pembantu. Mungkin, Kila-nya saja yang ingin melayani Seno dengan baik. Bukankah begitu, Kila?" ucap Pak Hardi lagi.


Jujur saja, Pak Hardi merasa tidak enak terhadap Bu Frida yang langsung merengut saat mendengar ucapan istrinya. Besan dan istrinya itu memiliki karakter yang sama. Tidak pernah mau kalah dan mengalah satu sama lain.


"Benar apa yang dikatakan Pak Hardi. Anak saya masih mampu membayar sepuluh orang pembantu sekaligus. Hanya saja, putri Anda yang tidak ingin ada pembantu di rumahnya," timpal Bu Frida.


"Huh, alasan saja!" cibir Bu Renata.


"Sudah Ma, tidak usah berdebat lagi. Kita ke sini itu mau jenguk Shakila, bukan cari masalah." Pak Hardi kembali menegur istrinya.


"Iya Mama ih, sudah tahu anaknya lagi sakit, malah debat kayak gini. Kalau seperti ini caranya, mending Mama pulang, gih! Kila pusing dengernya," dengus Shakila semakin kesal.


"Ish, kamu kok ngomong gitu sih sama Mama. Bukannya bersyukur ditengokin, eh ini malah ngedumel," protes Bu Renata.


"Salah sendiri, datang-datang langsung ngatain suaminya Kila. Gimana pun juga, Kila ini istrinya mas Seno. Ya istri mana yang bisa menerima suaminya dijelek-jelekan secara terang-terangan," keluh Shakila memasang raut muka cemberut.


"Iya-iya, Mama minta maaf," ucap Bu Renata seraya membelai lembut rambut anaknya.


Shakila menyusupkan wajahnya di dada Bu Renata. Sedangkan Bu Frida hanya bisa tersenyum penuh kemenangan saat melihat Bu Renata tak mampu berkutik di hadapan anaknya sendiri.


.

__ADS_1


.


Lepas isya, Daniar tiba di rumahnya.


"Assalamu'alaikum!" sapa Daniar seraya membuka pintu rumah. "Masuk yuk, Yan!" ajaknya kepada Yandri.


Yandri mengangguk, dia kemudian mengikuti Daniar melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Dahi Yandri sedikit berkerut saat mendapati keadaan rumah Daniar yang sepi, seolah tanpa penghuni.


"Kamu tinggal sendirian?" tanya Yandri.


"Enggak, ada ibu, ayah, nenek dan kedua adik perempuanku," jawab Daniar. "Duduk, Yan!" lanjutnya mempersilakan Yandri untuk duduk.


"Kok sepi?" Yandri kembali bertanya.


"Oh, mungkin mereka sedang berjamaah di mushola belakang," jawab Daniar.


"Oh," jawab Yandri singkat.


"Ya sudah Yan, aku ke belakang dulu bentar ya. Mo ambil minuman," pamit Daniar.


Yandri mengangguk. Sedetik kemudian, Daniar pergi dari hadapannya. Yandri mengedarkan pandangan mengamati dekorasi rumah Daniar yang begitu apik.


Tiba-tiba saja,


Yandri hanya tersenyum seraya berdiri untuk menyalami perempuan tua itu.


"Temannya Daniar apa Danita?" tanya perempuan itu.


"Temannya Daniar, Bu," jawab Yandri.


"Oalah temennya Niar toh. Sudah ketemu sama Daniar-nya?"


"Sudah, Bu. Daniar sedang ke belakang dulu."


"Hmm, enggak usah panggil Ibu, panggil Amih saja. Ya sudah kalau begitu, Amih ke belakang dulu ya."


Kembali Yandri mengangguk saat wanita tua itu berpamitan padanya. Tak lama kemudian, Daniar kembali ke ruang tamu. Kali ini ditemani oleh kedua orang tuanya.


"Eh, ada tamu ya," sapa Bu Salma, berbasa-basi.


Yandri kembali tersenyum. "Iya, Bu, Pak. Saya Yandri, temannya Daniar," ucap Yandri mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan kedua orang tua Daniar.


"Saya Bu Salma, dan ini suami saya namanya Pak Fandi. Kami orang tuanya Daniar," balas Bu Salma.


Setelah berkenalan, mereka pun berbincang ringan di ruang tami. Sejenak, Pak Fandi menelisik wajah pria tampan di hadapannya. Sepertinya, gurat wajah laki-laki ini tidak asing di mata Pak Fandi. Rasanya, Pak Fandi pernah bertemu dengan pemuda ini, tapi dia sendiri lupa kapan dan di mana?

__ADS_1


"Apa saya bisa berbicara empat mata dengan Bapak?" ucap Yandri yang mengejutkan semua orang.


Bu Salma dan Daniar saling pandang mendengar permintaan Yandri. Sedangkan patk Fandi hanya bisa tersenyum tipis menanggapi ucapan teman anaknya.


"Tentu saja, Nak," jawab Pak Fandi.


Bu Salma dan Daniar cukup tahu diri. Sebelum perintah itu keluar dari mulut Pak Fandi. Bu Salma pun mengajak putrinya untuk masuk ke dalam.


"Niar, tolong bereskan kamar tamu, ya! Sepertinya tidak mungkin jika Nak Yandri harus pulang malam-malam. Nak Yandri tidak keberatan, 'kan menginap di sini?" tanya Bu Salma.


"Eh, i-iya, Bu," jawab Yandri gugup.


Seumur-umur, baru kali ini dia ditawari menginap di rumah perempuan. Yandri melirik jam tangannya. Ya, memang tidak mungkin untuk pulang di jam segini. Angkot yang akan melewati rumah kakaknya, pasti sudah habis.


Daniar mengangguk. Dia kemudian pergi ke kamar tamu untuk membereskannya. Sedangkan Bu Salma pergi ke ruang tengah dan bergabung bersama Danita yang sedang menonton televisi.


Di ruang tamu.


"Mau bicara apa Nak Yandri? Sepertinya serius sekali," tanya Pak Fandi.


"Ini tentang Daniar, Pak," jawab Yandri.


Pak Fandi mengerutkan keningnya. "Ada apa dengan putri saya, Nak?"


"Sa-saya ingin meminta izin Bapak untuk menjaga Daniar," jawab Yandri.


Detak jantung Yandri mulai berdegup tak beraturan. Hmm, entah punya keberanian dari mana, sehingga Yandri sanggup mengatakan hal itu di pertemuan pertamanya dengan ayah Daniar.


Sementara itu, Pak Fandi semakin mengerutkan keningnya. Dia benar-benar belum bisa mencerna maksud dari perkataan pemuda yang baru saja dikenalnya. Namun, dibalik semua ketidakmengertiannya, Pak Fandi merasa kagum dengan sikap pemuda yang sedang duduk di hadapannya saat ini.


"Maksud Nak Yandri?"


"Saya ingin menikahi Daniar."


Deg!


Jantung Pak Fandi seolah berhenti berdetak saat mendengar jawaban Yandri. Dia benar-benar tidak mrnyangka jika pemuda ini sanggup mengatakan hal yang sakral di pertemuan pertama mereka.


"Apa Nak Yandri sedang melamar putri Bapak?" tanya Pak Fandi mencoba meyakinkan.


"Hehehe, anggap saja seperti itu, Pak, jawab Yandri seraya menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal.


Pak Fandi tersenyum. "Hmm, meskipun terkesan mendadak, tapi Bapak sangat berterima kasih dengan niat baik Nak Yandri. Sejujurnya, siapa pun laki-lakinya, asal dia bertanggungjawab dan menyayangi Daniar, Bapak pasti akan merestui. Namun, semua keputusan Bapak kembalikan lagi kepada Daniar. Untuk itu, Bapak akan coba berbicara dulu dengan Daniar. Apa pun hasilnya, semoga tidak mempengaruhi tali silaturahim kita," tutur Pak Fandi.


"Iya Pak, saya mengerti."

__ADS_1


__ADS_2