
Aminah menjerit saat melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana ibunya terjatuh. Sejurus kemudian, dia berlari ke luar rumah.
"Tolong! Kang Rahmat, cepat keluar! Tolongin ibu, Kang!" Sambil berlari, Aminah terus berteriak-teriak memanggil suaminya.
Tiba di jembatan bambu, Aminah melihat ke bawah. Tampak ibunya sedang tergeletak tak sadarkan diri di dasar jurang. Sebenarnya, jurang itu tidak terlalu dalam. Hanya saja, begitu banyak bebatuan besar di dasar jurang. Siapa pun yang jatuh ke sana, tidak mungkin bisa selamat begitu saja.
"Ibu! Apa ibu bisa mendengar suaraku?" teriak Aminah.
Namun, Bu Maryam sama sekali tidak bereaksi. Melihat hal itu, Aminah semakin cemas.
Raihan yang mendengar keributan dari belakang, sempat menoleh. Namun, karena muak melihat wajah kakak tertuanya, Raihan terus mengayunkan langkahnya. Dia sama sekali tidak mau tahu apa yang tengah terjadi di belakangnya. Meskipun Aminah memanggil-manggil sang ibu.
"Raihan! Raihan!"
Aminah memanggil adiknya. Namun, Raihan tidak peduli. Dia masih saja melangkahkan kakinya semakin jauh.
"Ya Tuhan ... Apa yang haru aku lakukan?" gumam Aminah seraya memegang kepalanya. "Tolong...! Tolong...!"
Aminah semakin histeris meminta tolong. Tak berapa lama kemudian, Rahmat dan anaknya keluar.
"Ada apa, Minah?" tanya Rahmat.
"Itu!" Tunjuk Aminah pada ibunya yang sudah meringkuk di dasar jurang.
"Astaghfirullah!" pekik Rahmat. "Nisa, cepat ambil tambang di dapur!" perintah Rahmat kepada anak semata wayangnya.
Tak lama kemudian, para warga datang berhamburan karena mendengar teriakan histeris Aminah.
"Ada apa Kang Rahmat?" tanya Udin yang baru saja selesai menyabit rumput di sawah dekat rumah Aminah.
"Sepertinya, mertua saya terjatuh ke jurang Kang," jawab Rahmat seraya menunjuk ibu mertuanya di dasar jurang.
"Innalillahi! Ayo cepat kita tolong, Kang!" ajak Udin seraya menurunkan rumput dari punggungnya.
"Iya, cepat tolong Bu Maryam, Din!" timpal warga yang lainnya.
Setelah mendapatkan tali dari Nisa, akhirnya Rahmat dan Udin saling bahu membahu untuk mengangkat bu Maryam dari dasar jurang.
.
.
Prang!
"Apa itu, Yah?" teriak Daniar dari dalam kamarnya.
"Tangan ayah licin, Bun. Jadi piringnya jatuh," jawab Yandri.
"Sudah Bunda bilang, biar nanti saja Bunda yang nyuci piring nanti," tukas Daniar yang sedang menyusui anaknya di kamar.
"Tidak apa-apa, Bun. Mumpung hujan, jadi enggak harus susah payah pergi ke kamar mandi masjid," jawab Yandri.
"Ya sudah, hati-hati mengumpulkan pecahan belingnya, Yah. Nanti bisa kena tangan," kata Daniar mencoba mengingatkan suaminya.
"Hmm." Hanya dehaman Yandri yang menjawab perkataan Daniar.
Di luar, Yandri mulai mengumpulkan pecahan piring tersebut ke dalam sebuah kantong kresek berwarna hitam. Sejurus kemudian, dia melanjutkan kembali pekerjaannya hingga selesai. Namun, entah kenapa hatinya terasa begitu tidak nyaman. Tiba-tiba saja dia teringat akan ibunya yang sedang berada di rumah Aminah.
Selesai mencuci piring, Yandri membawa dan menaruhnya di atas rak satu per satu. Tanpa banyak bicara, dia kembali duduk di sofa dan mulai membuka buku materinya. Yandri hendak menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran untuk hari esok.
__ADS_1
Saat dia tengah asyik mencoret-coret bukunya, tiba-tiba ponsel Yandri berdering. Yandri segera menghentikan aktivitasnya. Sejenak, dahinya berkerut melihat nama si pemanggil di layar ponselnya.
"Telepon dari siapa, Yah?" tanya Daniar sambil menepuk-nepuk pantat anaknya yang tengah tertidur.
"Kang Rahmat, Bun," jawab Yandri.
"Cepat diangkat, Yah. Siapa tahu, penting," balas Daniar.
Yandri mengangguk. Dia kemudian menggeser tombol berwarna hijau untuk menjawab telepon dari kakak iparnya.
"Assalamu'alaikum, Kang!" sapa Yandri.
"Wa'alaikumsalam. Yan, cepatlah datang kemari!" ujar Rahmat di ujung telepon. Dia berbicara tanpa basa-basi.
"Kapan, Kang?" tanya Yandri, seraya menautkan kedua alisnya karena tidak mengerti ucapan kakak iparnya.
"Sekarang juga!" sahut Rahmat
"Tapi Kang, di sini hujan deras sekali. Apalagi, hari sudah terlalu sore. Sudah tidak ada kendaraan yang lewat ke arah sini kalau sudah sore," papar Yandri.
"Tidak usah khawatir, sekarang Yoga akan menjemput kamu ke sekolah. Pokoknya, cepatlah datang!" Kembali Rahmat memberikan perintah.
"Sebenarnya ada apa, Kang?" Yandri kembali bertanya. Namun, Rahmat sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
Tut-tut-tut...
Rupanya Rahmat mengakhiri sambungan teleponnya. Kening Yandri semakin berkerut. Dia benar-benar kebingungan, sama sekali tak bisa mencerna semua ucapan kakak iparnya.
Belum mampu Yandri menyimpulkan sebuah jawaban, tiba-tiba ketukan di pintu kamarnya terdengar cukup nyaring. Yandri beranjak dari atas sofa untuk membuka pintu.
"Sudah siap, Bang?" tanya Yoga begitu berhadapan dengan Yandri.
"Sudah, enggak usah banyak tanya, Bang. Nanti juga tahu sendiri," tukas Yoga.
Akhirnya Yandri mengalah. Dia segera meraih jaketnya yang tergantung di balik pintu. Sejurus kemudian, di berpamitan kepada Daniar.
"Baik-baik di sini ya, Bun. Ayah pergi dulu," ucap Yandri.
"Iya, hati-hati di jalan Yah," jawab Daniar.
Setelah mengecup kening sang istri, Yandri kemudian menaiki motor adiknya. Tak berapa lama, deru motor pun mulai terdengar dan semakin menjauh.
"Ya Tuhan ... tolong jaga suami hamba," gumam Daniar seraya mengunci pintu kamarnya.
Hujan di luar semakin deras. Daniar kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Cuaca seperti ini paling enak memang buat kembali tiduran. Meski tidak Daniar pungkiri kalau jantungnya berdegup kencang karena merasa khawatir akan keselamatan sang suami.
Saat Daniar sedang memejamkan mata, tiba-tiba ponselnya bergetar. Daniar membuka mata dan meraih ponselnya. Senyum tipis tersungging di bibir saat mengetahui si penelepon.
"Assalamu'alaikum, Puri!" sapa Daniar.
"Wa'alaikumsalam. Kak Niar, apa bang Yoga sama bang yandri sudah berangkat?" tanya Puri di seberang telepon.
"Ya, mereka baru saja berangkat," jawab Daniar.
"Huh, emang keterlaluan si Raihan itu. Nyusahin terus!"
Puri mendengus kesal sambil menyebut nama Raihan. Membuat kening Daniar langsung berkerut.
"Memangnya ada apa dengan Raihan?" tanya Daniar.
__ADS_1
"Apa Kakak tahu, si Raihan tadi siang berulah lagi di rumah kak Aminah. Karena ulah dia, ibu mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit," jawab Puri.
"Apa?! Kecelakaan bagaimana, Dek?"
Daniar sungguh terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh Puri. Hmm, pantas saja Rahmat menyuruh suaminya untuk datang. Padahal hari sudah sangat sore.
"Kata Nisa, ibu terjatuh ke jurang saat hendak mengejar Raihan, Kak," jawab Puri.
"Astaghfirullahaladzim. Lalu, bagaimana kondisi ibu saat ini?" tanya Daniar lagi.
"Entahlah, Nisa tidak memberi tahu. Mungkin ibu masih berada di rumah sakit, Kak." Puri kembali menjawab.
"Ya sudah, tolong kabari Kakak lagi jika ada perkembangan terbaru, Dek," pinta Daniar.
"Baik, Kak. Kalau begitu, Puri tutup teleponnya, ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Daniar kembali meletakkan telepon di atas bantal. Sejenak dia membayangkan wajah keriput ibu mertuanya. Ada rasa iba di hati Daniar. Di usia senjanya, ibu mertuanya ternyata harus mengalami cobaan yang cukup berat seperti ini.
"Ya Tuhan ... semoga Engkau memberikan kekuatan kepada ibu mertua hamba. Aamiin...."
.
.
Pukul 11 malam, Yandri tiba di sekolah. Dia mengetuk pelan pintu kamarnya. Daniar yang memang tidak bisa tidur, segera membuka pintu kamar. Sedikit tertegun melihat raut wajah Yandri yang kelelahan.
Yandri memasuki kamar, meraih handuk dan kembali lagi keluar. Dia pergi ke kamar mandi yang berada di kantor kepala sekolah. Sedangkan Daniar membuat teh jahe untuk suaminya agar tidak masuk angin.
Setelah 20 menit berlalu, Yandri kembali ke kamar. Wajahnya terlihat lebih segar setelah membersihkan diri.
"Diminum tehnya, Yah," kata Daniar seraya menyerahkan cangkir berisi teh jahe.
Yandri menerimanya. Sesaat kemudian, dia mereguk minuman tersebut. Rasa hangat menjalar di kerongkongan hingga bermuara di perutnya.
"Terima kasih, Bun," ucap Yandri kembali menyerahkan cangkir kosong kepada istrinya.
"Bagaimana keadaan ibu, Yah?" tanya Daniar, perlahan.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik. Ibu sudah pulang dari rumah sakit," jawab Yandri.
"Apa yang terjadi, Yah? Kenapa ibu bisa sampai mengalami kecelakaan?" tanya Daniar.
"Menurut penuturan ibu, dia merasa pusing saat sedang mengejar Raihan. Karena tidak bisa menjaga keseimbangan, akhirnya ibu jatuh. Nahasnya, ibu jatuh tepat saat dia melewati jembatan, karena itu ibu bisa sampai jatuh ke jurang. Beruntungnya jurang itu cukup dangkal, jadi ibu tidak mengalami cedera yang cukup hebat," papar Yandri.
"Apa besok kita bisa menjenguk ibu, Yah?" tanya Daniar.
"Iya, besok kita semua akan pergi ke sana. Ada hal penting yang ingin kak Aminah bicarakan dengan semua anak-anak ibu," jawab yandri.
"Apa ini menyangkut Raihan lagi?" Daniar semakin penasaran.
"Sepertinya begitu, Bun," jawab Yandri, singkat.
"Ish, Yah. Bunda enggak habis pikir ... kenapa Raihan bisa berubah se-drastis itu?" tanya Daniar.
"Lingkungan memiliki peran penting dalam sebuah perubahan sifat manusia, Bun. Sudahlah, ayo kita tidur. Ayah benar-benar lelah," pungkas Yandri
Daniar mengangguk. Sejurus kemudian, dia meletakkan cangkir kotor ke dalam ember. Setelah itu, Daniar menyusul suaminya ke atas kasur.
__ADS_1