Setelah Hujan

Setelah Hujan
Ngidam


__ADS_3

"Kok tumben kamu pesan mangga muda sama bik Wanti. Bukannya kamu enggak suka buah masam, ya?" tegur Yandri setelah Daniar melahap habis nanas muda tadi.


"Enggak tahu, Kang. Sepertinya enak tuh, apalagi kalau dirujak," jawab Daniar yang kembali menelan ludahnya saat membayangkan potongan mangga muda dengan bumbu kacang.


"Hati-hati Yar, nanti bisa kena lambung. Apalagi, tadi Akang perhatiin kamu dikit banget makannya. Sekarang malah makan yang masam," kata Yandri mencoba mengingatkan istrinya.


"Nanasnya enggak masam, Kang. Beneran ..." ucap Daniar mencoba membela diri.


"Iya-iya, tapi awas saja kalau nanti malam kamu mengeluh sakit perut. Akang nggak mau ya, anterin kamu ke Cinyusu," ancam Yandri.


"Idih, Akang maaah ..." Daniar kembali merengek seraya mengerucutkan bibirnya mendengar ancaman Yandri.


"Sudah-sudah, bubar semuanya. Sebentar lagi magrib," pungkas Bu Maryam.


Daniar dan Yandri, begitu juga dengan Habibah, mereka pergi ke kamarnya masing-masing untuk bersiap-siap menunaikan salat magrib.


.


.


"Assalamu'alaikum, Niar!" Bik wanti mengucapkan salam begitu tiba di rumah kerabatnya.


"Sepertinya itu suara Bik Wanti, Kang," ucap Daniar.


"Iya, biar Akang yang bukakan pintu," sahut Yandri.


Yandri beranjak dari tempat tidurnya. Dia keluar kamar untuk membukakan pintu.


"Wa'alaikumsalam, silakan masuk Bik," jawab Yandri begitu dia membukakan pintunya.


"Enggak usah, Yan. Ini, Bibik cuma mau mengantarkan pesanan Daniar," jawab Bik Wanti seraya menyerahkan kantung plastik yang berisi pesanan Daniar.


"Oh iya, makasih Bik," ucap Yandri.


"Sama-sama. Ini kembaliannya Yan," kata Bik Wanti seraya menyerahkan lembaran uang dengan nominal 10 ribu.


"Kembaliannya buat Angga saja, Bik," ujar Yandri


"Wah, terima kasih atuh, Yan. Tapi ngomong-ngomong, apa Daniar sedang hamil?" tanya Bik Wanti, penasaran.


Yandri mengerutkan keningnya. "Tidak, Bik. Daniar tidak sedang hamil, kok," jawab Yandri.


"Oalah ... kesambet setan mana tuh anak, kok tiba-tiba ingin mangga muda, seperti wanita yang lagi ngidam saja," tukas Bik Wanti.


"Entahlah, Bik," jawab Yandri, tersenyum tipis.


"Ya sudah, Yan. Kalau begitu, Bibik pulang dulu. Makasih ya, salam buat Daniar," pamit Bik Wanti.

__ADS_1


"Sama-sama, Bi. Nanti saya sampaikan ke Daniar," balas Yandri.


Setelah Bik Wanti pergi, Yandri menutup pintu dan segera menyimpan mangga muda itu di dapur. Hari sudah malam, Yandri tidak ingin istrinya memakan mangga muda di waktu malam. Lepas itu, Yandri kembali ke kamarnya.


"Siapa yang datang, Kang?" tanya Daniar saat melihat suaminya memasuki kamar.


"Bik Wanti," jawab yandri.


"Ngasih mangga muda ya," tebak Daniar.


"Hem-eh," jawab Yandri singkat.


"Terus, sekarang mana mangga-nya?" tanya Daniar.


"Akang simpan," jawab Yandri.


"Kok disimpan sih, bukannya dikupas. Niar, 'kan mau makan mangga, rengek Daniar.


"Ini sudah malam, Sayang. Enggak baik makan buah masam malam-malam begini," sahut Yandri.


"Tapi Niar pengen ..." rajuk Daniar lagi.


Yandri menarik selimut hingga ke dada sang istri. "Tidurlah, besok saja makan mangga nya."


"Enggak, Niar enggak mau. Pokoknya Niar mau makan mangga. Sekarang!" Daniar semakin merajuk.


"Tapi ini sudah sangat malam Niar. Kamu bisa sakit perut jika memaksakan diri memakan mangga muda itu." Yandri kembali mengatakan alasannya melarang istrinya makan mangga muda di malam hari.


Melihat gelagat yang mulai tidak baik dari sang istri, Yandri akhirnya mengalah. Dia beranjak dari tempat tidur dan keluar untuk membawa mangga muda tersebut.


.


.


Keesokan harinya.


Daniar mengerjapkan mata saat merasakan perutnya yang bergejolak. Dia pun segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Merasakan pergerakan yang tiba-tiba, sontak Yandri membuka mata. Dia sangat terkejut melihat istrinya tengah berlari ke luar kamar. Yandri bangun dan segera mengikuti Daniar.


Hoeek... Hoeek...!


Tiba di kamar mandi, Daniar segera memuntahkan sesuatu yang bergejolak dalam perutnya tadi. Sayangnya, yang keluar hanya cairan bening yang terasa pahit di mulutnya. Puas memuntahkan cairan tersebut, Daniar membasuh mulut dan wajahnya. Sejenak, dia berjongkok seraya memegangi tempayan.


"Niar, kamu tidak apa-apa?" tanya Yandri begitu melihat Daniar terkulai lemah.


Bukannya menjawab, Daniar malah menatap sendu ke arah suaminya. Dia seolah tidak memiliki tenaga lagi untuk bersuara. Daniar hanya mengulurkan tangan untuk meminta bantuan Yandri.

__ADS_1


Paham dengan maksud sang istri, Yandri segera mendekati Daniar. Dia kemudian membantu Daniar untuk berdiri dan memapahnya ke dalam kamar.


Tiba di kamar, Yandri merebahkan tubuh lemah Daniar di atas ranjang. Setelah itu, dia menyelimuti Daniar hingga ke dadanya. Yandri mengusap pucuk kepala Daniar.


"Mangkanya, nurut apa kata Akang, Yar. Begini, 'kan jadinya kalau seorang istri enggak nurut sama suami," ucap Yandri seraya memijit kedua pelipis Daniar.


"Iya, kang. Niar minta maaf," jawab Daniar.


"Mau Akang panggilkan dokter?" tanya Yandri.


"Enggak usah Kang. Palingan Niar cuma masuk angin saja. Rehat bentar, pasti sembuh," jawab Daniar.


"Tapi Daniar ... Akang khawatir sama keadaan kamu. Apalagi Akang enggak bisa menemani kamu karena hari ini sekolah akan kedatangan tim assesor. Akang enggak akan tenang sebelum mendengar diagnosis dokter," tutur Yandri.


"Niar enggak butuh dokter, Kang. Niar cuma butuh istirahat sama tukang pijit saja," jawab Daniar.


"Maksud kamu?" tanya Yandri, heran.


"Badan Niar kok rasanya pegel-pegel Kang. Niar butuh tukang urut saja," jawab Daniar.


"Ya sudah, nanti sambil berangkat kerja, Akang panggilkan Mak Ida," jawab Yandri.


"Siapa itu Mak Ida, Kang?" tanya Daniar.


"Mak Ida itu orang yang suka bantuin warga sini buat lahiran. Selain itu, dia juga pandai memijat," jelas Yandri.


Daniar hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan sang suami. Sejurus kemudian, dia kembali memejamkan mata karena merasa pusing.


Setelah mengurus istrinya sebentar, Yandri kemudian bersiap-siap untuk berangkat kerja. Jika saja tidak ada rapat penting yang harus diikuti, mungkin dia sudah meminta izin untuk tidak masuk dan mengurus istrinya. Namun, untunglah Daniar bukan tipe istri yang rewel. Sebelum berangkat, Yandri menitipkan Daniar kepada ibunya.


Iya Nak, istrimu biar Ibu yang urus. Kamu berangkat kerja saja. Jangan sampai bolos gara-gara hal sepele seperti ini. Lagi pula, istrimu hanya masuk angin saja," balas Bu Maryam pada saat Yandri menitipkan istrinya.


Yandri mulai tenang karena sudah menitipkan Daniar kepada ibunya. Dia yakin jika ibunya bisa mengurus Daniar dengan baik. Saat yandri melewati depan rumah Mak Ida, Yandri kemudian memasuki halaman rumah tersebut.


"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri begitu tiba di depan pintu.


"Wa'alaikumsalam, jawab seseorang seraya membukakan pintu. "Eh, ada Pak Iyan," lanjutnya.


"Iya Mak. Saya mau minta tolong Mak Ida buat ngurut istri saya. Tadi pagi dia muntah-muntah, mungkin karena masuk angin, Mak.


"Oalah ... memangnya istri kamu pulang dari mana toh, Nak Yan?" tanya Mak Ida.


"Hmm, enggak dari mana-mana sih, Mak. Ya, mungkin daya tahan tubuhnya sedang tidak baik saja," jawab Yandri.


"Oh begitu toh, ya sudah, nanti setelah memandikan bayinya Gina, Mak Ida ke rumah ibu kamu, Nak," balas Mak Ida.


"Baik Mak, terima kasih," kata Yandri.

__ADS_1


"Sama-sama," jawab Mak Ida.


Yandri kembali berpamitan kepada Mak Ida. Dia kemudian melanjutkan perjalanannya menuju sekolah.


__ADS_2