
Hari demi hari terus berlalu. Seperti biasa, Daniar menjalani paginya dengan morning sickness yang cukup hebat. Kehamilan Daniar yang kedua, cukup aneh. Setiap makanan yang masuk ke perut, tak berapa lama pasti keluar lagi. Hanya secangkir kopi dingin dari warung Mak Ade yang bisa masuk ke perutnya. Seolah kopi tersebut menjadi suplay baterai dalam menjalani hari Daniar.
Matahari terus meninggi. Kumandang azan dzuhur mulai terdengar. Para siswa bersorak gembira menyambut azan. Seolah menjadi bel alam kepulangan sekolah. Daniar hanya bisa menggelengkan kepala menyaksikan kegaduhan peserta didiknya.
"Pulang, Bu!" seru salah satu siswanya.
"Sebentar lagi, ya. Waktu pulang itu pukul 12.30 siang," jawab Daniar.
"Kan, sudah azan, Bu," celetuk siswa yang lainnya.
"Terus kalau sudah azan, memangnya kenapa?" Daniar kembali bertanya.
"Ya shalat, Bu," jawab Fadli, sang ketua kelas.
"Wuuuu ...."
Para siswa lainnya menimpali dengan teriakan. Daniar hanya bisa menghela napas. Memang benar apa yang dikatakan Fadli, muridnya.
"Ya sudah, tapi semua siswa laki-laki harus berjamaah ya!" tekan Daniar.
"Siap, Bu!" jawab serempak muridnya.
"Baiklah, mari kita akhiri pembelajaran kita dengan bacaan hamdalah bersama!" perintah Daniar.
"Alhamdulillahirobbilalamin .... "
Semua murid membubarkan diri. Mereka menyalami Daniar satu per satu. Setelah tak ada lagi yang tersisa. Daniar pun keluar kelas. Dia pergi ke ruang guru untuk beristirahat sejenak.
"Bu Niar sakit?" tanya Bu Etty, rekan kerja Daniar tatkala melihat Daniar terbaring di mushala kantor.
"Eh, enggak kok, Bu," jawab Daniar, langsung bangun dan duduk tegak sambil melepaskan mukenanya.
"Hmm, wajah Ibu terlihat pucat pasi, seperti orang yang tengah sakit," lanjut Bu Etty.
"Oh, mungkin ini karena pengaruh kehamilan saja, Bu," jawab Daniar.
"Ngomong-ngomong, sudah memasuki usia ke berapa kandungannya?" Bu Etty kembali bertanya.
"Mau jalan tiga bulan, Bu. Terakhir kali saya periksa ke bidan, katanya kandungan saya sudah memasuki minggu kedelapan," sahut Daniar.
"Hmm, kecil ya, sama sekali enggak kelihatan kalau sedang hamil," lanjut Bu Etty.
"Hehehe, mungkin karena saya kurus juga, Bu," balas Daniar.
"Tidak apa-apa Bu Niar, yang penting sehat," timpal Bu Etty.
"Iya, Bu. Alhamdulillah," sahut Daniar.
"Semoga lancar dan diberikan kemudahan dalam persalinannya nanti ya, Bu." Bu Etty mendo'akan Daniar.
"Aamiin, alhamdulillah Bu. Terima kasih atas do'anya," ungkap Daniar.
__ADS_1
"Sama-sama. Oh iya, Bu. Saya pulang duluan ya, kebetulan suami saya sudah menjemput," pungkas Bu Etty.
"Iya, mangga Bu!"
Sepeninggal rekan kerjanya, Daniar kembali ke kelas. Dia hendak menyiapkan materi untuk esok hari. Tiba di kelas, Daniar merasakan kram di perutnya. Dia mulai meringis saat perutnya terasa sakit.
Daniar duduk. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan. Kedua tangan Daniar mengusap-usap perutnya agar rileks kembali.
"Tenang Niar, tenang ..." gumam Daniar.
Drrt... Drrt...
Ponsel Daniar bergetar. Daniar merogoh saku blazer untuk mengambil benda tersebut. Senyumnya mengembang ketika melihat nama suaminya di layar ponsel.
"Assalamu'alaikum, Yah!" sapa Daniar.
"Wa'alaikumsalam," sahut Yandri, "lagi di mana, Bun?" tanyanya.
"Bunda masih di sekolah, Yah," jawab Daniar.
"Kok belum pulang? Bukannya ngajar kelas bawah, ya?" Yandri kembali bertanya.
"Iya, Yah. Tapi hari ini guru kelas 6 enggak masuk. Jadi lepas istirahat, Bunda gantiin beliau," jawab Daniar.
"Oh, begitu ya. Hmm ... hati-hati Bun, jangan terlalu kelelahan juga. Ingat pesan bidan," ucap Yandri.
"Iya, Yah. Enggak usah khawatir, Bunda baik-baik saja, kok. Ish ...."
"Eh, kenapa Bun? Kok seperti kesakitan begitu?" tanya Yandri, cemas.
"I-ini Yah ... sudah dua kali perut Bunda terasa kram," jawab Daniar, terengah.
"Ya sudah, Ayah telepon Nisa ya, biar dia jemput kamu ke sekolah," usul Yandri.
"Enggak usah, Yah. Danisa sedang kerja, takut bosnya marah. Bunda masih kuat jalan kok, Yah. Lagi pula, rumahnya, 'kan enggak terlalu jauh dari sekolahan," tolak Daniar.
"Tapi Ayah khawatir, Bun. Takut terjadi apa-apa sama kamu," kata Yandri.
"Enggak pa-pa, Yah. Ini cuma kram saja," sahut Daniar.
"Ya sudah, cepatlah pulang! Nanti kalau Ayah pulang, kita cek ke dokter kandungan," kata Yandri.
"Memangnya, kapan Ayah pulang?" tanya Daniar, sumringah.
"Jum'at depan jadwal relaksasi Ayah, Bun," jawab Yandri.
"Oh, ya sudah. Mau dijemput apa naik umum?" tanya Daniar.
"Naik umum saja, Bun. Biar hemat," balas Yandri.
"Hehehe, ya sudah ... hati-hati di jalan ya, Yah," kata Daniar.
__ADS_1
"Iya-iya. Kamu, cepatlah pulang ... biar bisa istirahat," perintah Yandri.
"Iya, Yah. Ini juga sudah mau pulang. Assalamu'alaikum, Ayah."
"Wa'alaikumsalam."
Daniar tersenyum lebar mengingat kabar suaminya akan pulang. Sesaat kemudian, dia memasukkan peralatan sekolahnya ke dalam tas. Daniar mengayunkan langkahnya ke luar kelas.
"Duluan ya, Mang!" teriak Daniar kepada penjaga sekolah yang sedang mencuci piring dan gelas kotor.
"Siap, Bu. Selamat beristirahat!"
.
.
Bu Maryam memasang muka kecut saat Habibah menyampaikan telepon dari Yandri beberapa waktu yang lalu.
"Ish, perempuan itu memang hanya membawa pengaruh buruk untuk yandri. Nyesel Ibu pernah mengizinkan Yandri menikahinya," gerutu Bu Maryam, kesal.
Kakek Ahmad yang mendengar percakapan ibu dan anak itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia kemudian keluar untuk menegur sikap istrinya.
"Tidak baik berbicara seperti itu, Bu. Yang namanya takdir, itu sudah tidak bisa kita hindari. Sudah tertulis di Lauhful Mahfudz, jika jodohnya Yandri itu, ya istrinya itu. Siapa namanya? Ni... emh.. Ni... Niar, ya Niar," tutur Kakek Ahmad, mengingatkan istrinya tentang takdir Tuhan.
"Huh, Bapak tahu apa?" tukas Bu Maryam. "Udah deh, enggak usah ikut campur urusan anak-anak Ibu. Toh Ibu juga enggak pernah mencampuri urusan anak-anak Bapak!" lanjut Bu Maryam yang semakin kesal mendapatkan teguran dari suaminya.
"Astaghfirullah, Bu! Mbok ya kalau dinasihati suami itu, nurut. Bapak ngomong seperti ini, karena Bapak tuh sayang sama kamu. Mumpung Bapak masih hidup, masih diberikan kesempatan untuk membimbing kamu. Jadi tolong nurut sama Bapak. Tanggung jawab Bapak sama Ibu itu berat, loh. Bukan hanya di dunia saja, tapi juga di akhirat kelak." Kakek Ahmad memberikan nasihat kepada istrinya.
"Ih, Bapak apaan, sih? Udah sana, ah!" usir Bu Maryam kepada suaminya, "Ibu lagi diskusi nih, sama anak Ibu," imbuhnya.
"Ya Tuhan, Bu ... Bapak cuma mengingatkan loh, kalau perbuatan Ibu itu tidak baik. Ya sudah, Bapak pergi dulu. Tapi kalau Ibu masuk neraka, ingat ... jangan bawa-bawa Bapak!" tegas Kakek Ahmad.
"Ih, berisik!"
.
.
Semalam, Yandri tiba di rumahnya. Dan hari ini, dia mengajak Daniar untuk pergi ke dokter kandungan. Rencananya, Yandri ingin ingin memeriksakan kehamilan sang istri. Menurut ibu mertuanya, sudah hampir seminggu Daniar mengeluhkan tentang perutnya yang sering kram. Karena merasa khawatir, Yandri memutuskan untuk membawa Daniar ke dokter kandungan.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Yandri, cemas.
"Alhamdulillah, perkembangan janinnya cukup baik, Pak," jawab Dokter Rahma.
"Tapi kenapa perut saya sering terasa kram, Dok?" tanya Daniar.
"Sebenarnya, ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan kram di perut saat hamil muda. Di antaranya, perubahan hormon, pembesaran ukuran rahim, dan peregangan ligamen. Ibu tidak usah khawatir, itu adalah hal yang wajar. Namun, perlu diwaspadai juga. Karena bisa menjadi pemicu untuk kondisi yang cukup serius. Misalnya, menyebabkan keguguran," papar Dokter Rahma.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan, Dok?" Daniar kembali bertanya.
"Untuk mengatasinya, Ibu bisa mengubah posisi di saat berbaring. Apabila kram tersebut memang disebabkan oleh nyeri ligamen, Ibu bisa mencobanya untuk berbaring miring menghadap sisi nyeri yang berlawanan dengan sisi perut Ibu yang terasa kram. Sering-sering juga minum air putih, bergeraklah secara perlahan. Untuk saat ini, saya sarankan Ibu untuk bedrest selama satu sampai dua minggu.
__ADS_1
"Bedrest?"