
"Ada apa, Yah? Kenapa wajah Ayah terlihat kusut begitu?" tanya Daniar menghampiri suaminya.
Daniar terlihat cemas melihat wajah sang suami. Meski Bintang menangis histeris dalam gendongannya, tapi Daniar tidak menghiraukan. Dia tetap mendekati Yandri dan duduk di sampingnya.
Yandri yang melihat putrinya menangis, segera mengambil Bintang dari pangkuan ibunya. Dia kemudian beranjak dari sofa seraya meraih tangan Daniar dan menggenggamnya. "Ayo kita pulang, Bun!" ajaknya.
Daniar semakin tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi. Namun, dia juga beranjak dari sofa dan mengikuti langkah Yandri. Melihat raut wajah Yandri yang tidak bersahabat, Daniar pun enggan untuk bertanya lagi.
Selama dalam perjalanan pulang, tak ada satu hal pun yang menjadi pembicaraan mereka. Yandri masih bungkam karena rasa kesal masih mendera hatinya. Sedangkan Daniar, dia tak ingin menambah keruh suasana hati Yandri dengan berbagi macam pertanyaan.
Tiba di kamarnya, Yandri segera membaringkan tubuh kecil Bintang yang selama dalam perjalanan tertidur. Setelah itu, dia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Tanpa berbicara sepatah kata pun kepada istrinya, Yandri keluar.
Astaghfirullah, apa sebenarnya yang dia hadapi? Kenapa dia tidak ingin berbicara sama sekali denganku? Jika ada beban di hatinya, kenapa dia tidak ingin membaginya denganku? Bukankah aku ini istrinya? batin Daniar yang merasa kecewa atas sikap Yandri.
Tak ingin berprasangka buruk terhadap sang suami, Daniar segera nenepis rasa kecewanya. Dia lantas mulai menyibukkan diri dengan membersihkan kamarnya.
.
.
Selepas bubar pengajian, Yandri yang biasanya menyiapkan materi untuk mengajar besok, kini hanya duduk merenung seraya melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap kosong pintu yang sudah tertutup. Entah apa yang dia pikirkan. Namun, kesedihan begitu jelas terlihat di raut wajahnya.
Rasa penasaran Daniar semakin menggunung. Sebagai seorang istri yang baik, Daniar siap jika Yandri ingin berbagi permasalahan dengannya. Karena itu, Daniar menghampiri Yandri dan duduk di sampingnya.
"Mau makan sekarang, Yah?" tanya Daniar.
__ADS_1
Yandri terhenyak mendapati pertanyaan Daniar. Sontak dia menoleh ke arah istrinya.
Daniar sedikit terkejut melihat kedua mata suaminya memerah. Ada genangan air mata di kedua sudut matanya.
"Kenapa, Yah? Apa Bunda tidak cukup pantas untuk diajak berbagi dalam kehidupan Ayah?" tanya Daniar, menatap lembut suaminya.
Yandri mengelus pipi Daniar. "Tidak, Bun. Bunda itu selalu pantas untuk diajak berbagi, tapi dalam suka," ucap Yandri.
"Yah, baik suka ataupun duka, sebagai pasangan suami istri, sudah seharusnya kita saling berbagi. Bukankah kita sudah mengambil sumpah untuk selalu bersama dalam suka dan duka?" jawab Daniar.
Yandri menghela napasnya, "Ini tentang ibu, Bun," ucapnya.
"Memangnya, ada apa dengan Ibu?" Daniar kembali bertanya.
"Oh, tetangga ibu yang tadi siang kita ketemu di jalan?" tanya Daniar.
"Iya," jawab Yandri.
"Memangnya, ada apa dengan bu Ningsih?" Daniar semakin tidak mengerti arah pembicaraan Yandri, karena itu dia kembali bertanya.
"Hmm, ternyata apa yang dikatakan bu Ningsih memang benar. Ibu berniat untuk bekerja di Jakarta," jawab Yandri.
"Bekerja? Ibu mau bekerja? Ish, Yah ... ibu itu sudah tua, memangnya ibu bisa kerja apa di usianya sekarang?" Daniar mengemukakan pendapatnya.
"Ya apalagi kalau bukan menjadi asisten rumah tangga. Selama ini, bu Ningsih sudah lama kerja di kota sebagai asisten rumah tangga," jawab Yandri.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim, Yah. Kok ibu bersedia, sih? Bukannya ibu sering sakit-sakitan, ya? Terus, apa Ayah juga mengizinkan beliau untuk bekerja?" Daniar semakin tidak mengerti dengan pemikiran ibunya. Dia pun kembali bertanya kepada suaminya.
"Tentu saja Ayah tidak izinkan, Bun. Tapi ibu memaksa. Ibu bilang, ibu juga memiliki banyak kebutuhan. Dan ibu membutuhkan pekerjaan untuk mewujudkan kebutuhan tersebut," jawab Yandri mengemukakan alasan ibunya.
"Tapi apa kebutuhan ibu, Yah? Bukankah selama ini Ayah selalu memberikan ibu uang jajan?" tukas Daniar.
"Entahlah, Bun. Ayah sendiri tidak tahu. Hanya saja, ibu masih beralasan jika apa yang Ayah kasih itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ibu," jawab Yandri.
Sejenak, Daniar hanya bisa diam. Jujur saja, dia sendiri tidak pernah tahu berapa besar nominal yang suaminya berikan untuk ibu mertuanya. Satu yang Daniar tahu, Daniar hanya menerima setengah dari uang gaji suaminya. Itu pun dia tahu, saat dia tanpa sengaja melihat buku catatan gaji guru yang harus dia tanda tangani.
Sebenarnya, Daniar ingin bertanya tentang sebagian gaji Yandri yang tak pernah diberikannya. Namun, urusan ekonomi sangat riskan memicu pertengkaran dalam rumah tangga. Dan daniar tidak akan mempertaruhkan rumah tangganya hanya karena kecurigaan.
"Bun, kok diam?" tanya Yandri yang sontak membuyarkan lamunan Daniar.
"Eh, iya Yah. Emh ... jujur saja, Bunda juga bingung harus bilang apa. Ya, jika ibu berpendapat apa yang Ayah berikan masih kurang, Bunda enggak tahu harus kasih komentar apa, Yah," jawab Daniar.
"Sebenarnya Ayah berpikir, seandainya semua anak ibu mau bergotong royong menyisihkan rezekinya setiap bulan untuk ibu, mungkin semua ini tidak akan terjadi," jawab Yandri.
"Iya, Yah. Tapi itu, 'kan seandainya. Sedangkan Ayah sendiri tahu jika hidup ini bukan berandai-andai. Semua anak-anak ibu sudah berumah tangga. Mereka juga memiliki tanggung jawab sendiri terhadap keluarganya. Namun, semua ini tidak akan terjadi kalau mereka lebih dekat dengan agama. Dalam hukum agama, sudah sangat jelas jika kita harus memperlakukan seorang ibu seperti apa. Tapi jika Bunda boleh jujur, kita tidak bisa melihat suatu permasalahan dari sudut pandang kita sendiri, Yah. Di dunia ini, selalu ada hukum sebab akibat. Kita tidak pernah tahu apa penyebab saudara-saudara Ayah bersikap seperti itu kepada ibu. Niar sendiri tidak ingin menghakimi mereka, Yah. Ayah yang lebih tahu siapa ibu dan bagaimana sifat ibu," jawab Daniar panjang lebar.
Yandri hanya kembali menghela napasnya. Tidak dipungkiri jika apa yang dikatakan sang istri, benar adanya. Selalu ada hubungan sebab akibat dalam sebuah kejadian. Dan Yandri paham betul apa penyebabnya. Hanya saja, dia selalu memungkiri kenyataan itu karena tidak ingin berprasangka buruk kepada ibu kandungnya sendiri.
"Sudahlah, Yah. Jika ini memang sudah menjadi keputusan ibu, kita harus menghormatinya. Toh keinginan ini murni datang dari diri ibu sendiri. Selama ini kita sudah berusaha untuk membahagiakan ibu, tapi jika ibu menganggapnya masih kurang, ya kita tidak mampu berbuat apa-apa. Kita tidak bisa mencegahnya karena kita sendiri tidak memiliki cukup materi untuk memenuhi semua kebutuhan ibu. Kita do'akan saja, semoga ibu selalu sehat. Bunda yakin, akan ada hikmah dibalik semua peristiwa. Semoga saja, keinginan ibu ini bisa membuka mata hati putra-putrinya agar lebih peduli lagi terhadap ibu," ucap Daniar.
Yandri hanya tersenyum tipis mendengar ucapan sang istri. Memang benar apa yang dikatakan istrinya. Yandri tidak memiliki harta benda yang lebih untuk mencegah keinginan ibunya bekerja.
__ADS_1