
Aisyah benar-benar terkejut melihat reaksi Siska. Sesaat, wanita itu hanya bergeming meski susu panas tumpah di kedua pahanya. Aisyah merasa cemas dengan keadaan Siska. Dia kemudian menyentuh bahu sahabatnya.
"Kamu nggak pa-pa, 'kan, Sis?" tanya Aisyah.
Siska terhenyak, sesaat dia menatap Aisyah. Namun, sejurus kemudian Siska beranjak dari tempat duduknya.
"Eh, mau ke mana, Sis?" Aisyah kembali bertanya seraya mencekal pergelangan tangan Siska.
"Ma-maaf, Syah. Tiba-tiba a-aku ingat ka-lau hari ini, aku ada janji sama ibuku. A-aku duluan ya, Syah. Assalamu'alaikum!"
Dengan terbata-bata, Siska berpamitan kepada Aisyah. Tanpa menunggu jawaban salam dari Aisyah, Siska telah menghambur pergi ke luar kafe.
"Ish, lu emang bego banget, Syah!" Aisyah merutuki kesalahannya. "Maafkan aku, Sis," gumamnya lagi.
Sementara itu, di luar kafe. Siska segera menghentikan sebuah taksi yang sedang melintas.
"Taman kota, Pak!" pinta Siska kepada sopir taksi.
"Siap, Neng," jawab sopir.
Sesaat kemudian, taksi meluncur ke arah pusat perkotaan. Dalam perjalanannya, Siska tak mampu membendung lagi perasaan. Tiba-tiba saja, cairan hangat mulai luruh melewati kedua pipinya. Kabar yang beberapa menit dia dengar, telah meruntuhkan semua mimpi yang dia bangun bertahun-tahun.
Kenapa, Yan? Kenapa kamu tega melakukan itu? Bertahun-tahun aku menanti maafmu. Bertahun-tahun aku berharap kita bisa kembali melewati hari bersama, tapi kenapa kamu tega menghancurkan harapanku dalam sekejap, Yan? batin Siska.
Siska tak berniat untuk menyeka air matanya. Membuat si sopir merasa heran.
"Neng tidak apa-apa? Apa Neng butuh minum atau sesuatu, " tanya sopir itu hati-hati.
Siska tersadar dari lamunannya. Sejurus kemudian, dia menjawab pertanyaan sang sopir.
"Tidak apa-apa, Pak. Jalan saja!"
.
.
__ADS_1
"Yar, kamu mau nggak tinggal di rumahku?" tanya Yandri saat dia bercengkerama bersama istrinya di kamar.
"Bukannya aku nggak mau, Yan. Kamu sendiri, 'kan tahu jadwal kuliahku semakin padat. Aku tidak mau merepotkan kamu untuk menjemput kalau aku pulang malam. Jika aku tinggal di sini, kemalaman pun aku tidak terlalu takut. Di sini ramai, Yan. Beda dengan di kampung kamu yang menjelang magrib pun sudah sepi," tutur Daniar, mencoba memberikan penjelasan yang masuk akal kepada suaminya.
Terdengar helaan napas Yandri yang begitu berat. Entah apa yang sedang laki-laki itu pikirkan saat ini. Namun, raut kecewa jelas terlihat di wajahnya.
Daniar menyadari jika perkataannya telah membuat kecewa sang suami. Sejurus kemudian, dia membalikkan badan dan menatap suaminya penuh cinta.
"Aku mohon, mengertilah ... ini hanya untuk beberapa bulan saja, Yan. Aku janji, setelah aku menyusun tugas akhir, aku akan resign dari pekerjaanku dan ikut ke mana pun kamu ingin membawaku," ucap Daniar, mengelus rahang tegas milik laki-laki itu.
Kedua bola mata Yandri terlihat berbinar. "Benarkah?" tanyanya memastikan.
Daniar mengangguk menjawab pertanyaan Yandri.
"Terima kasih, Sayang," ucap Yandri seraya mengecup kening Daniar.
Pasangan muda itu pun kembali merajut manisnya cinta di sore hari.
.
.
Siapa kira-kira wanita yang telah berhasil memenangkan hati pria dingin itu? Segala usaha telah dia coba untuk bisa kembali bersanding dengan Yandri. Namun, tak ada satu pun yang membuahkan hasil. Yandri seperti sudah mati rasa terhadap dirinya. Rasa penasaran semakin membuncah di hati Siska.
Siska merasa kesal karena waktu seolah begitu lama berjalan. Dia sudah tak sabar ingin membuktikan kabar itu. Ya, rencananya esok hari Siska akan pergi ke kampus untuk mencari kebenaran dari berita yang disampaikan Aisyah tadi siang. Pukul tiga dini hari, Siska baru bisa memejamkan mata.
Keesokan harinya. Dengan degup jantung tak beraturan, Siska menapaki lorong kampus yang terlihat sepi. Seluruh mahasiswa telah masuk kelas. Siska menyadari kebodohannya yang enggan bertanya tentang wanita yang berhasil merebut hati seorang Yandri. Jujur saja, Siska terlalu takut mendengarnya. Terlebih lagi, dia takut jika ternyata dia mengenal wanita itu.
Siska mengedarkan pandangannya di kelas PGPAI Ruangan itu terlihat sepi. Tak ada satu pun penghuninya. Ya, baik kelas Siska ataupun kelas Yandri, Sama-sama telah menuntaskan masa perkuliahan. Kedua kelas itu hanya tinggal menunggu waktu sidang saja.
Siska berbalik. Entah apa yang akan dia lakukan saat ini. Rasanya, lidah Siska terlalu kelu untuk bertanya. Dia berpikir, karena berita pernikahan Yandri sedang viral, mungkin dia bisa mengetahuinya tanpa sengaja. Namun, kenyataannya sungguh jauh dari dugaan. Sepi. Ya, kampus terlihat sepi tanpa ada pembahasan apa pun tentang pernikahan pemuda dingin itu.
Seulas senyum, terbit di kedua sudut bibirnya. Hmm, mungkin memang benar apa kata Aisyah. Sepertinya itu hanyalah sebuah kabar burung. Karena pada kenyataannya, aku tidak mendengar desas-desus para mahasiswa membicarakan Yandri, batin Siska.
Wanita berhijab itu pun segera membalikkan badan untuk pulang. Kembali Siska menyusuri lorong kampus menuju gerbang utama.
__ADS_1
"Hai, Sayang!"
Tiba-tiba sapaan suara yang sangat dikenalinya, menghentikan langkah Siska. Jantungnya kembali berdegup kencang saat menyadari jika suara itu milik sang lelaki pujaan.
Sayang? Apa dia sedang menyapaku? batin Siska, sedikit tersenyum membayangkan wajah tampan yang selalu menghiasi mimpinya.
"Iya, alhamdulillah kelasnya sudah selesai, Yan."
Deg-deg-deg!
Jantung Siska semakin berdetak tak karuan mendengar suara seorang wanita menyahuti sapaan itu.
Yan? A-apa wanita yang dipanggil Sayang itu adalah istrinya Yandri? Ish, tidak mungkin aku salah dengar. Aku yakin sekali jika suara itu milik Yandri, ta-tapi ... si-siapa pemilik suara wanita yang cukup merdu itu?
Kembali Siska bermonolog dalam hatinya. Sedetik kemudian, Siska berbalik untuk melihat siapa wanita yang dipanggil Sayang oleh pria pujaannya.
Wanita itu? batin Siska.
"Ya sudah, ayo kita pulang!" ajak Yandri kepada Daniar.
"Peluuuk!" rengek Daniar.
"Haish, manja banget. Pasti kangen, ya," goda Yandri.
"Seminggu nggak ketemu, ya pasti kangen lah. Istri mana yang nggak kangen suami kalau ditinggal-tinggal mulu." Daniar kembali merengek seraya mengerucutkan bibirnya. Hmm, entah kenapa, hari ini sikap Daniar begitu manja.
"Hehehe, ya sudah. Sini Akang peluk," ucap Yandri seraya memeluk tubuh semampai sang istri.
"Akang?" ulang Daniar menautkan kedua alisnya.
"Hehehe, iya, Yar. Mulai sekarang, panggil aku Akang. Bagaimanapun juga, aku suami kamu. Makruh hukumnya bagi seorang istri memanggil nama pada suaminya," terang Yandri.
"Baiklah, aku mengerti. Ya sudah, Kang. Ayo kita pulang!" timpal Daniar.
Selepas memeluk istrinya, Yandri menggandeng Daniar penuh kemesraan. Mereka kemudian berjalan beriringan menuju gerbang belakang.
__ADS_1
Siska terpaku melihat interaksi pasangan itu. Napasnya semakin memburu. Rasa sesak menghimpit dadanya. Sepertinya, cemburu sedang menguasai hati dan pikirannya saat ini. Sakit! Ya, sangat sakit sekali melihat orang yang dicintainya kini telah menjadi milik wanita lain. Dia benar-benar cemburu melihat kebersamaan mereka.
Harusnya aku yang kamu peluk, Yan. Bukan wanita itu!