
"Tidak akan ada pernikahan antara kamu dan adikku!" teriak Habibah, memasuki kamar rawat ibunya.
Sontak Siska dan Pak Hartono menoleh. Keduanya sangat terkejut dengan kedatangan Habibah, dan terutama ... Yandri.
Pria jangkung itu berjalan tegap memasuki kamar rawat ibunya. Sekilas, dia menatap tajam kepada Siska. Sebuah tatapan tajam yang melesat bagaikan anak panah dan bersarang tepat pada sasaran.
Deg-deg-deg!
Jantung Siska berdegup kencang melihat tatapan itu. Tatapan yang sama seperti tatapan 24 tahun yang lalu. Tatapan yang penuh dengan kebencian.
Apa dia mendengar semua ucapanku? batin Siska.
Yandri mendekati ranjang ibunya. Matanya menatap iba wanita yang terbaring lemah tak berdaya itu.
"Apa yang terjadi padamu, Ibu?" gumam Yandri yang masih bisa didengar oleh Siska.
"A-aku bi-bisa menjelaskannya, Yan," ucap Siska, mendekati Yandri.
Namun sebelum wanita berhijab itu berbicara lagi, Yandri mengangkat tangan. Dia tidak pernah ingin mendengarkan apa pun lagi dari bibir wanita cantik yang penuh dengan dengan kelicikan.
"Tolong suruh dia pergi dari sini, Kakak," pinta Yandri kepada Habibah.
"Per–"
"Tunggu, Kakak!"
Siska memotong kalimat Habibah. Dia kemudian meraih tangan Yandri dan mencoba menjelaskan semuanya.
"Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya, Yan. Aku akui, mungkin memang aku lalai sehingga menyebabkan ibu kembali ke rumah sakit. Tapi Demi Tuhan ... aku tidak dengan sengaja melakukannya. Ampuni aku, Yan," cerocos Siska.
Yandri tidak menjawab. Dia malah menarik tangannya dengan kuat.
"Nak Yandri, Bapak bisa menjelaskannya. Mungkin Siska memang lalai, tapi itu tanpa disengaja. Percayalah, Siska hanya menginginkan yang terbaik untuk ibu Nak Yandri. Dia tidak dengan sengaja membuat ibu Nak Yandri anfal. Semuanya terjadi karena ketidaktahuannya saja," tutur Pak Hartono, mencoba membela putrinya.
__ADS_1
"Apa pun itu, tapi kenyataannya ibuku sedang terbaring lemah di sini, Pak. Saya mohon, pergilah dari sini. Saya tidak ingin memperkeruh suasana dengan bertanya. Anggap saja putri Anda telah lalai, saya menerimanya. Akan tetapi, saya tidak akan membiarkan dia mengulangi kelalaiannya. Silakan bawa putri Anda pergi dari sini. Untuk semua yang telah dia lakukan untuk ibu, saya ucapkan terima kasih. Tapi saya tidak akan pernah bisa membalasnya dengan menyimpan masa depan saya padanya," jawab Yandri panjang lebar.
"Apa maksud Nak Yandri?" tanya Pak Hartono, menatap punggung pria tinggi tegap itu.
Yandri membalikkan badan. Dia menatap pria yang usianya tak jauh berbeda dengan ibunya.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa menikah dengan putri Anda!" tegas Yandri.
Siska terkejut. Kedua kakinya terasa lemas mendengar perkataan tegas pria yang selalu dia cintai.
"Ti-tidak! Aku tidak mau! Kamu tidak bisa melakukan semua ini kepadaku, Yan. Aku mencintaimu! Kamu tidak bisa meninggalkan aku begitu saja! Tidak bisa!"
Siska terus meracau. Gadis berjilbab itu tidak siap menerima keputusan Yandri tentang nasib pertunangannya.
"Tolong bawa putri Anda pergi dari sini!" pinta Yandri kepada Pak Hartono.
Pria berjenggot tipis itu hanya bisa menatap iba kepada putrinya. Hatinya memang sakit mendengar keputusan Yandri yang tidak ingin menikahi putrinya. Namun, dia tidak bisa membantu mempertahankannya. Terlebih lagi, setelah mengetahui niat buruk putrinya kepada Bu Maryam.
.
.
"Hari ini ibu diizinkan pulang, Yan," kata Habibah.
"Iya, Kak. Yandri tahu," jawab Yandri.
"Terus, kita akan membawa ibu ke mana, Yan?" Habibah kembali bertanya.
"Apa maksud Kakak membawa ibu ke mana? Ya tentunya ibu akan pulang ke rumahnya," jawab Yandri, heran.
"Bukan begitu, Yan. Jika ibu pulang ke rumah, pasti Kakak lagi yang harus mengurus ibu," gerutu Habibah.
"Kenapa Kakak terlihat tidak senang? Apa Kakak memang tidak ingin mengurus ibu?" Selidik Yandri.
__ADS_1
"Sudahlah! Tidak usah dibahas lagi," sahut Habibah.
"Tenanglah Kakak. Nanti kita pikirkan solusinya di rumah. Sekarang, kita fokus dulu dengan kepulangan ibu," kata Yandri.
Habibah mengangguk. Setelah itu, dia membereskan pakaian kotor ibunya dan memasukannya ke dalam sebuah kantong plastik besar. Sedangkan Yandri, dia pergi ke loket administrasi untuk membayar biaya pengobatan ibunya selama di rumah sakit.
Yandri cukup terkejut dengan harga puluhan juta yang harus dia keluarkan untuk biaya pengobatan ibunya. Dia hanya bisa menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan. Jika keadaannya seperti ini terus, Yandri terpaksa mengeluarkan rumahnya untuk cadangan pengobatan sang bunda.
Setelah semuanya selesai. Yandri pun membawa ibunya pulang.
.
.
Hari demi hari terus dia lalui. Tanpa terasa, waktu cuti pun hampir selesai. Hari ini, Yandri mengumpulkan semua saudaranya untuk berembuk. Dia tidak bisa terus menerus mengurus ibunya. Yandri harus bekerja. Terlebih lagi, ketua yayasan terus menerus menghubungi Yandri untuk menjalankan proyek yang ditawarkan tempo hari.
"Lalu bagaimana, Kak Minah, Kak Nauval dan Yoga. Kita semua tahu jika Kak Bibah sudah keberatan mengurus ibu dengan alasan banyak orderan jahit yang masuk, sedangkan Yandri sendiri harus kembali bekerja untuk memenuhi semua kebutuhan dan pengobatan ibu. Lantas, apa di antara kalian ada yang bisa merawat ibu? Biar semua kebutuhan Ibu, Yandri yang tanggung," papar Yandri kepada saudara-saudaranya.
Ketiga bersaudara itu hanya bisa saling pandang mendengar pemaparan Yandri. Jika boleh jujur, mereka memang tidak merasa siap harus mengurus ibunya.
"Maaf, Yan ... bukannya Kakak tidak ingin mengurus ibu, tapi kamu sendiri tahu jika Kakak dititipi anaknya Nisa. Apalagi cucu Kakak itu kembar. Mereka saja sudah bikin Kakak kewalahan, apalagi kalau ditambah ibu," tutur Aminah memberikan alasan.
"Kakak juga sama, Yan. Kamu, 'kan tahu gimana sikap kak Laila. Lagi pula, cuaca kota tidak akan cocok sama ibu," timpal Nauval.
Yandri dan Habibah menatap Yoga. Hanya dia satu-satunya harapan mereka untuk merawat sang ibu.
"Sudah, enggak usah natap Yoga seperti itu. Yoga enggak mungkin membawa ibu ke rumah. Sikap ibu terhadap mertua Yoga, sudah bikin Puri sakit hati. Apalagi, rumah Yoga deket sama kakek Ahmad. Rojak dan Jana sangat benci sama ibu. Mereka kecewa dengan perlakuan ibu sama kakek Ahmad dulu. Lagi pula, warga di sana tuh sudah eneg sama kesombongan ibu dulu," dalih Yoga.
Yandri kembali hanya bisa menghela napas. Apa yang dikatakan Yoga, semuanya memang benar adanya.
"Udah deh ... pilihan terakhir, kita simpan saja ibu di panti jompo. Lebih praktis dan terawat juga. Daripada di sini enggak ada yang ngurusin," celetuk Raihan yang membuat semua kakaknya menoleh kepadanya.
Haruskah?
__ADS_1