
Daniar mengayunkan langkahnya dengan tergesa-gesa. Sesekali kakinya tersandung karena minimnya pencahayaan di jalan setapak tersebut. Rasanya, Daniar ingin mengeluh dengan keadaan barunya. Namun, dia menyadari jika mengeluh pun tak akan membantu dia keluar dari kesulitan yang harus dia jalani mulai detik ini. Satu-satunya yang harus dia lakukan adalah ... beradaptasi.
"Niar, tunggu!"
Teriakan suaminya sontak membuat Daniar menghentikan langkah. Buru-buru Daniar menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Daniar tidak ingin membuat suaminya merasa cemas atau merasa bersalah atas apa yang harus dia lalui ketika berada di lingkungannya.
Dengan napas tersengal, Yandri tiba di hadapan Daniar. Dia kemudian menyentuh kedua bahu Daniar.
"Apa yang terjadi? Kenapa tadi kamu berteriak? Apa sesuatu terjadi padamu? Apa kamu melihat ular di sekitar kamar mandi tadi?" cecar Yandri.
Daniar terkejut mendengar Yandri mengucapkan nama binatang melata yang dia takuti sedari kecil.
"U-ular? Ma-maksud Akang ... di sana terdapat banyak ular?" tanya Daniar dengan wajah yang semakin pucat pasi.
"Tidak banyak, sih. Hanya terkadang, suka ada ular yang lewat di sekitar pemandian tersebut. Maklum lah ... di atas pemandian, 'kan, banyak semak belukar. Terkadang binatang melata itu suka turun dari sana," papar Yandri.
Daniar semakin terkejut mendengar kondisi tempat pemandian yang mungkin akan dia kunjungi setiap pagi dan sore. Ish, kok ada sih, tempat seperti ini. Ya Tuhan ... baru sehari, sudah begitu banyak ujian yang harus aku lewati, batin Daniar.
"Hei, kok diam?" tegur Yandri yang melihat istrinya bergeming untuk beberapa saat. "Kamu lihat ular?" tanyanya lagi, "tidak usah takut, binatang itu kalau tidak diganggu, mereka juga tidak akan menggangu kita," lanjut Yandri, mencoba menenangkan istrinya.
"Sebenarnya, tadi Niar teriak bukan karena ngelihat ular, Kang," jawab Daniar.
"Lantas?" tanya Yandri mengerutkan keningnya.
"Ta-tadi waktu Daniar mandi, tiba-tiba ada seorang ibu paruh baya yang nyelonong masuk gitu aja. Daniar, 'kan kaget, mana keadaan Niar masih telanjang lagi. 'Kan malu, Kang," lapor Daniar seraya mengerucutkan bibirnya.
"Bhuahahaha ..." Yandri malah tergelak mendengar laporan sang istri.
"Ish, Akang kok malah ngetawain Niar, sih," gerutu Daniar terlihat kesal.
"Hahaha, iya ... maaf-maaf, Sayang," ucap Yandri seraya hendak merangkul istrinya.
"No!" pekik Daniar, "jangan peluk-peluk Daniar. Niar udah punya wudhu. Ish, Niar nggak mau ya, pergi ke tempat itu lagi buat berwudhu. Entar ada ular lagi," ucap Daniar seraya bergidik membayangkan binatang melata itu tengah lewat di hadapannya saat dia berjongkok di tempat pemandian tersebut.
__ADS_1
"Hehehe, iya Sayang, iya. Maafin Akang, ya. Seharusnya dari awal Akang kasih tahu kamu tentang kondisi tempat pemandian itu. Ya sudah, lain kali, kalau kamu mandi, kamu pakai kain sarung saja biar aman," usul Yandri.
"Ish, ogah!" tolak Daniar.
"Terus?" Yandri kembali bertanya dengan penuh rasa heran saat mendengar jawaban Daniar.
"Mendingan Niar mandi di bilik seberang, tempat pemandian cowok," jawab spontan Daniar.
"Lah, kok bisa?" sahut Yandri semakin menautkan kedua alisnya.
"Ya bisa, dong. 'Kan entar Akang yang jadi pintunya di luar. Jadi, kalau ada orang yang mau masuk, Akang bilang saja, kalau kamar mandinya lagi di isi bidadari," seloroh Daniar seraya berlalu pergi.
Yandri hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang semakin menggemaskan. Meskipun dalam hati kecil Yandri, terselip rasa bersalah karena telah membawa Daniar pada kebiasaan baru yang sama sekali bertolak belakang dengan keadaan di rumah kedua orang tuanya.
"Maafkan aku, Ni."
.
.
Semilir angin yang beralun lambat, membuat mata Daniar tak sanggup menahan kantuk. Terlebih lagi, dengan minimnya aktivitas yang bisa Daniar lakukan di rumah mertuanya, membuat mata Daniar semakin rapat saja. Perlahan, Daniar mulai terlelap ke alam mimpinya.
Entah berapa lama Daniar tertidur. Namun, perutnya mulai terasa sakit. Ya, setelah sarapan bersama suaminya sebelum berangkat kerja, Daniar sama sekali belum menyentuh makanan apa pun lagi. Tidak ada warung di sekitar rumah mertuanya. Kalaupun ada, Daniar tidak tahu harus memasak apa, karena dia sendiri tidak bisa menggunakan sumber perapian yang terbuat dari tungku dan kayu bakar.
Daniar mengerjapkan mata. Dia melihat jam dinding di kamarnya. Penunjuk waktu berhenti di angka satu lewat beberapa menit. Daniar mengedarkan pandangannya. Tas suaminya masih belum tersampir di sandaran kursi belajar. Itu artinya, sang suami belum pulang dari tempat kerjanya.
Ish, kamu ke mana, kang? Apa kamu tidak tahu kalau aku sudah sangat lapar? batin Daniar.
Sayup-sayup, Daniar mendengar suara riuh perempuan di samping kamarnya. Daniar beranjak dari tempat tidur dan pergi mendekati jendela kamar. Perlahan, Daniar mengintip dari balik tirai jendela kamarnya. Terdapat beberapa orang ibu-ibu yang mungkin usianya hanya berbeda beberapa tahun di atas dirinya, sedang asyik bertukar cerita.
"Apa kamu tahu, kalau kemarin si Fulan membeli sebuah lemari tiga pintu?" ucap seseorang yang Daniar sendiri tidak mengenalnya.
"Hmm, benarkah? punya uang dari mana dia bisa membeli lemari seperti itu? Bukankah dia hanya seorang janda?" timpal kakak ipar Daniar.
__ADS_1
"Kabarnya sih, dia jadi simpanan pejabat desa," celetuk seorang lagi yang Daniar ketahui merupakan kerabat jauh suaminya.
"Dimadu, maksudnya?" tanya kakak ipar Daniar lagi.
"Hmm, sepertinya sih begitu. Soalnya, aku sempat memergoki si lakinya pas keluar dari rumah si Fulan," jawab orang pertama.
"Ih, kok mau ya, mana lakinya udah tua lagi," timpal kerabat jauh Yandri.
"Yaaa, namanya juga uang berkuasa. Semuanya akan kalah jika uang sudah berbicara," tukas kakak ipar Daniar. "Mangkanya, Mar, Kamu jangan mau kalah sama si Fulan. Kamu minta, tuh sama suami kamu buat beli lemari seperti itu, biar si Fulan nggak belagu," lanjutnya.
"Hmm, pastinya dong ... gila aja aku harus di bawah dia. Ih, nggak level," cibir wanita pertama.
Sedetik kemudian, gelak tawa pun kembali terdengar. Daniar hanya mengelus dadanya mendengar percakapan mereka.
Ish gila, ya ... dasar ibu-ibu rumpi. Heran, kok betah sih kang Yandri tinggal di lingkungan begini? gerutu Daniar dalam hatinya.
Merasa tak ada faedahnya mendengar obrolan enak-emak tukang gosip itu, akhirnya Daniar keluar dari kamarnya. Niatnya untuk pergi ke halaman belakang dan mengambil wudhu. Daniar teringat jika dirinya belum menunaikan salat dzuhur.
Namun, saat dia tiba di depan pintu dapur. Kakinya sontak terhenti saat mendengar percakapan dua orang yang berada di ruangan tersebut.
"Nah, itu tuh ... kalau nikah sama orang sok kaya. Belagu! Boro-boro masak buat suami pulang, nyapuin ruangan aja dia kagak mau!" cibir seorang laki-laki.
"Sudahlah, Nak. Nanti kalau Yandri pulang dan mendengar cibiran kamu tentang istrinya, dia bisa tersinggung. Bagaimanapun, Yandri itu kakak kamu. Engga boleh kamu bersikap seperti itu. Toh wanita itu sekarang sudah menjadi kakak ipar kamu," tegur suara seorang perempuan.
"Huh, terus aja Ibu belain bang Yandri. Dari kecil, apa pun yang Yoga lakukan, semuanya selalu salah di mata Ibu!" teriak suara seorang laki-laki.
Brak!
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu dibanting dari arah dapur. Jantung Daniar berdegup kencang mendapati adik ipar dan mertuanya sedang membicarakan dirinya. Daniar kemudian mengurungkan niatnya berwudhu. Dia kembali ke kamar dengan langkah terburu-buru.
Brug!
Daniar menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Dadanya terasa sesak. Sepertinya, dia memang tidak diterima di rumah ini. Dengan memeluk bantal, dia pun mulai menitikkan air mata. Kini, rumah tangga Daniar mulai diuji oleh sikap dari keluarga suaminya sendiri.
__ADS_1