Setelah Hujan

Setelah Hujan
Merasa Terabaikan


__ADS_3

Mendapatkan perlakukan yang tidak mengenakkan dari suami dan anak sambungnya, Bu Maryam pun pulang ke rumah. Sepanjang jalan dia terus menggerutu. Sumpah serapah untuk Kakek Ahmad dan Rojak, meluncur bebas dari mulutnya.


Brak!


Bu Maryam membuka pintu rumahnya dengan kasar. Membuat Habibah yang sedang memasak, segera mematikan tungku api. Tergopoh-gopoh, Habibah berlari menuju ruang tamu.


"Ibu?!" pekik Habibah.


Habibah begitu terkejut melihat ibunya duduk bersandar seraya memejamkan mata. Lebih terkejut lagi ketika melihat sebuah tas besar teronggok di lantai, di samping kaki sang ibu.


"Apa itu, Bu?" tanya Habibah menunjuk tas besar tersebut sembari mengerutkan keningnya.


"Pakaian Ibu," jawab Bu Maryam, enteng. "Masukan ke dalam lemari Ibu, Bah!" perintahnya kepada Habibah.


Meskipun tidak mengerti, tapi Habibah tetap menjalankan perintah ibunya. Dia menghampiri Bu Maryam untuk mengambil tas besar itu. Sejurus kemudian, Habibah menggendong tas yang cukup berat, memasuki kamar ibunya.


Tiba di kamar Bu Maryam, Habibah menurunkan tas besar itu tepat di depan lemari sang ibu. Dia kemudian mengeluarkan pakaian ibunya satu per satu. Pikirannya terus berkelana, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya.


Apa ibu bertengkar hebat dengan kakek Ahmad, hingga memutuskan untuk pulang? batin Habibah.


Selesai membereskan pakaian ibunya ke dalam lemari, Habibah kembali keluar. Dia merasa penasaran dan ingin sekali bertanya. Namun, melihat raut wajah ibunya yang kecut, Habibah pun mengurungkan niatnya. Dia takut jika nanti ibunya akan tersinggung oleh pertanyaan yang dia lontarkan.


Tanpa banyak bicara lagi, Habibah pergi ke dapur untuk membereskan pekerjaan yang sempat tertunda. Sudahlah, toh nanti setelah ingin bercerita, ibu pasti mengatakan alasannya kenapa dia pulang seperti itu. Kembali Habibah bermonolog dalam hatinya.


.


.


Waktu terus berlalu. Masa bakti santri di masyarakat tengah berlangsung selama kurun waktu sebulan. Tidak adanya kegiatan di asrama, membuat Yandri semakin tidak pernah bisa melepaskan bayangan mantan istrinya. Semakin dia ingin melupakan, semakin kuat juga kenangan bersama sang istri terus bergelayut dalam pikirannya.


"Ustadz Yan, jadi ngikut daftar S2?" tanya salah satu rekan kerja Yandri.

__ADS_1


"Enggak tahu, Ustadz. Takut mogok di tengah jalan," jawab Yandri.


"Kok mogok di tengah jalan sih, Tadz. Insya Allah, kalau untuk menuntut ilmu, pasti selalu saja ada rezekinya. Apalagi anak Ustadz, 'kan baru satu. Saya aja yang anaknya banyak, ikut daftar," kata Ustadz Dani.


"Memangnya Ustadz mau ngambil jurusan apa?" tanya Yandri.


"Sesuai mapel yang diampu waktu S1, Tadz," jawab Ustadz Dani. "Kalau Ustadz sendiri?" tanyanya.


"Hmm, entahlah ... belum kepikiran juga," jawab Yandri.


"Ya sudah, ini saya kasih brosurnya dulu. Kalau-kalau Ustadz ingin berembuk sama Teteh Nda," ucap Ustadz Dani.


"Ya, terima kasih, Ustadz," sahut Yandri.


Sepeninggal Ustadz Dani, Yandri kembali menyandarkan punggungnya seraya menatap brosur sebuah universitas pascasarjana. Sebenarnya, sedikit pun tidak terlintas dalam benak Yandri untuk melanjutkan kuliah. Namun, saat kehidupannya terasa sunyi tanpa kehadiran Daniar, Yandri pun berpikir jika dia harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya.


Hmm, tidak ada salahnya aku mencoba. Toh menuntut ilmu juga merupakan salah satu kewajiban manusia yang berakal, batin Yandri.


"Hmm, aku jarang pulang. Sebaiknya aku gunakan waktuku untuk mencari ilmu lagi. Mumpung Bintang masih sekolah tingkat dasar," gumam Yandri.


Tak lama kemudian, Yandri menelepon Daniar untuk meminta pendapat.


.


.


Habibah menggerutu kesal. Sejak ibunya pulang, pengeluaran Habibah pun mulai membengkak. Ditambah lagi, pekerjaan ibunya hanya mengaji ke sana kemari, sedikit pun tidak pernah membantu Habibah untuk urusan dapur. Padahal, selain mengurus rumah, Habibah juga harus bekerja supaya bisa mendapatkan uang tambahan.


"Ibu mau ke mana?" tanya Habibah. Kening Habibah mengernyit melihat ibunya telah mengenakan gamis yang begitu bagus.


"Ibu mau pengajian ke Suryalaya, Bah," jawab Bu Maryam.

__ADS_1


"Hmm, Bu. Suryalaya itu jauh. Memangnya Ibu kuat melakukan perjalanannya? Bukannya Ibu suka mabuk perjalanan kalau naik bus?" tanya Habibah, khawatir.


"Insya Allah Ibu kuat, Bah. Lagi pula, mengaji itu hal yang baik. Tuhan pasti memberikan kekuatan kepada umatNya yang ingin melakukan kebaikan," papar Bu Maryam.


"Ibu benar, tapi tidak usah memaksakan diri juga, Bu. Salah-salah, bukannya mendapatkan pahala, Ibu berdosa juga karena merepotkan orang lain dengan sengaja," jawab Habibah.


"Ih, kok kamu ngomongnya gitu sih, Bah. Bukannya dukung Ibu melakukan kebaikan," tukas Bu Maryam.


"Bukannya gitu, Bu. Hampir setiap hari Ibu tidak pernah ada di rumah karena mengikuti kegiatan pengajian. Kalau seputaran kampung kita sih, enggak pa-pa, tapi sekarang Ibu sudah mengikuti pengajian di daerah jauh. Apa Ibu enggak capek? Saran Bibah, lebih baik Ibu beristirahat saja di rumah. Ibu itu sudah berumur, jadi harus pintar-pintar menjaga kondisi tubuh supaya tidak sakit. Bukankah akhir-akhir ini, Ibu selalu mengeluh dada Ibu sakit akibat batuk?" lanjut Habibah, mengutarakan maksudnya melarang ibunya mengaji ke tempat jauh.


"Habisnya Ibu bosan tinggal di rumah terus, Bah. Tidak ada yang bisa Ibu kerjakan di rumah," jawab Bu Maryam.


"Ih, Ibu ... kok bilang tidak ada yang bisa dikerjakan, sih. Pekerjaan rumah itu banyak, Bu. Sekali-kali, Ibu bantuin Habibah dong, ngerjain tugas rumah. Ibu, 'kan tahu jika Bibah harus menjahit supaya bisa membantu perekonomian keluarga Bibah. Daripada Ibu ngaji ke sana kemari hanya untuk pamer baju, ya mendingan Ibu ngurusin rumah dan asuh Rizal supaya Bibah bisa tenang bekerja," tukas Habibah panjang lebar.


"Huh, memangnya Ibu pembantu kamu! Udah ah, sini, Ibu bagi uang buat bekal. Busnya udah nunggu di depan masjid tuh. Entar Ibu ditinggal lagi, kalau telat kumpul," kata Bu Maryam seraya menadahkan tangan, seperti anak kecil yang minta uang jajan kepada orang tuanya.


"Loh, kok minta ke Bibah, sih? Bukannya tiga hari yang lalu, Yandri sudah kirim uang buat Ibu?" kata Habibah.


"Uangnya sudah habis Ibu belikan baju ini." Tunjuk Bu Maryam pada baju yang dipakainya. Sesaat kemudian, dia berjalan berlenggak-lenggok memamerkan baju barunya kepada Habibah. "Gimana? Bagus, 'kan?"


Habibah mendengus kesal. Ya Tuhan ... beli baju lagi? batinnya seraya menatap jengah kepada sang ibu.


"Buruan, Bah. Mana duitnya?" desak Bu Maryam.


"Bibah enggak punya duit, Bu. Ibu jual aja baju gamis Ibu sebagian," saran Habibah, "inget, Bu. Baju juga ada hisabnya di akhirat kelak," lanjut Habibah seraya berlalu pergi ke ruang jahit.


Bu Maryam mendengus kesal mendengar ucapan Habibah. Masih dengan perasaan dongkol, dia pun pergi ke luar rumah. Sebentar lagi pukul 08.00, di mana bus yang ditumpanginya harus segera berangkat supaya tidak terlambat mengikuti pengajian bulanan di Suryalaya.


Sebenarnya, Bu Maryam merasa diabaikan oleh semua anak-anaknya. Karena itu, dia menyibukkan diri dengan mengaji.


Dulu, saat mengetahui Yandri berpisah, Bu Maryam begitu berharap Yandri bisa tinggal di rumahnya. Namun, harapan itu pun sia-sia, karena Yandri tidak ingin resign dari tempat kerja. Dan saat Bu Maryam meminta Yandri membawanya, Yandri tidak siap karena Yandri tinggal di asrama, bukan rumah pribadi.

__ADS_1


Untuk mengatasi rasa kesepiannya, akhirnya Bu Maryam mengikuti berbagai kegiatan pengajian yang diadakan di lingkungannya. Dia mulai menyibukkan diri supaya bisa lupa dan tidak terlalu mengeluh karena merasa diabaikan anak-anaknya.


__ADS_2