Setelah Hujan

Setelah Hujan
Mengambil Cuti


__ADS_3

Hari Senin, Yandri sudah harus kembali ke asrama untuk bertugas. Namun, sebelum Yandri berangkat kerja, Yandri menyempatkan diri mengurus surat izin cuti untuk istrinya.


Pukul 8 pagi, Yandri tiba di sekolah. Perlahan dia mengetuk pintu ruang guru.


"Masuk!" teriak salah seorang guru dari dalam ruangan.


Yandri membuka pintu ruang guru. "Assalamu'alaikum!" sapa Yandri.


"Wa'alaikumsalam. Eh, Nak yandri. Ayo, silakan duduk," kata salah seorang guru senior di tempat Daniar bekerja


"Iya, Bu. Terima kasih," jawab Yandri.


Sesaat kemudian, Yandri memasuki ruangan, dan duduk di kursi tamu.


"Ada keperluan apa nih, Nak Yandri kemari? Ngomong-ngomong, Daniar enggak masuk hari ini. Apa dia sakit?" tanya Bu Tika, guru senior yang juga pernah mengajar Daniar waktu Daniar masih duduk di bangku SD.


"Justru saya datang kemari berkaitan dengan tidak masuknya Daniar hari ini, Bu," jawab Yandri. "Saya hendak menemui ibu kepala sekolah. Apa beliau sudah datang, Bu?" tanyanya.


"Oh, kebetulan ibu kepala sekolah tidak masuk, Nak Yandri. Hari ini beliau berangkat umroh ke tanah suci. Memangnya ada apa dengan Daniar? Dia baik-baik saja, 'kan?" Bu Tika kembali menanyakan kabar Daniar.


"Alhamdulillah, Daniar baik-baik saja, Bu. Sebenarnya saya ingin menemui ibu kepala untuk meminta izin cuti bagi istri saya, Bu. Istri saya disarankan bedrest oleh dokter kandungan. Ini surat keterangan dari dokter kandungannya," jawab Yandri seraya menyerahkan sebuah amplop yang berisi keterangan dokter tentang keadaan Daniar.


Bu Tika mengambil amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Sejenak, dia mengenakan kaca mata untuk membaca apa yang tertera dalam isi amplop itu. Beberapa saat kemudian, Bu Tika melipat kembali kertas tersebut.


"Sebentar ya, Nak Yandri!" kata Bu Tika sambil beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke luar ruangan.


Yandri hanya bisa mengangguk menanggapi perkataan Bu Tika. Untuk beberapa saat, Yandri menunggu. Hingga 10 menit kemudian, Bu Tika datang bersama seorang guru laki-laki yang masih muda, beliau merupakan operator sekolah di tempat Daniar bekerja.


"Hei, apa kabar Pak Yan!" seru guru muda itu, menghampiri Yandri dan mengulurkan tangannya.


"Alhamdulillah, kabar saya baik, Pak Salis," jawab Yandri, menyambut uluran tangan dari salah satu rekan kerja sang istri.


"Kabarnya bu Niar cuti ya, Pak? Kenapa? Sakit?" tanya pak Salis lagi.


"Sebenarnya, Daniar hanya dianjurkan bedrest untuk beberapa waktu, Pak. Kandungannya agak sedikit bermasalah," jawab Yandri, jujur.


"Oalah ... ya sudah, tunggu sebentar ya, Pak. Saya buatkan dulu surat cutinya," izin Pak Salis.


"Waduh, jadi merepotkan nih, Pak," tukas Yandri.


"Ah, santai saja Pak," sahut Pak Salis.

__ADS_1


Yandri dan Bu Tika kembali duduk. Sambil menunggu surat izin cuti yang sedang diproses oleh Pak Salis, Yandri dan Bu Tika berbincang-bincang tentang kondisi Daniar.


"Jadi, seperti itu kondisi Daniar saat ini," kata Bu Tika.


"Iya, Bu. Dulu, sejak hamil Bintang juga, kandungan Daniar memang lemah. Tapi saat itu, Daniar sama sekali tidak mengalami kram perut seperti sekarang," tutur Yandri.


"Setiap anak memang memiliki bawaan kehamilan masing-masing, Nak Yandri. Untuk kondisi yang Daniar alami saat ini, itu harus ekstra hati-hati menjaganya. Jangan terlalu banyak pikiran juga, karena itu bisa memicu kram perut di waktu hamil muda. Bahkan bisa sampai menimbulkan flek dan pendarahan," timpal Bu Tika.


"Iya, Bu. Mungkin karena itu juga, dokter menyarankan Daniar bedrest," jawab Yandri.


"Tidak usah khawatir, semuanya pasti akan baik-baik saja," balas Bu Tika, menyemangati Yandri.


Tak lama kemudian, Pak Salis kembali bergabung. Dia mendekati Bu Tika seraya menyodorkan surat izin cuti yang diminta Yandri.


"Tinggal ditandatangani, Bu," kata Pak Salis kepada Bu Tika.


"Oh, iya. Sebentar Pak."


Bu Tika merogoh saku blazer untuk mengeluarkan balpoin. Setelah itu, dia pun menandatangani surat izin tersebut dan menyerahkannya kembali kepada Pak Salis.


Pak Salis melipatnya dan memasukkan surat tersebut ke dalam sebuah amplop panjang berwarna putih. Sedetik kemudian, dia menyerahkan surat izin cuti Daniar kepada Yandri.


"Alhamdulillah, Terima kasih, Pak," jawab Yandri seraya mengambil surat izin itu dari tangan Pak Salis.


"Sama-sama, Pak. Semoga Bu Niar lekas sembuh," lanjut Pak Salis.


"Aamiin," jawab Yandri dan Bu Tika berbarengan.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak, Bu. Kebetulan hari ini saya mau berangkat lagi ke Indramayu," lanjut yandri.


"Ah, iya ... silakan, Pak!"


.


.


Di rumah Aji.


"Bagaimana keadaannya, Bu?" tanya Aji kepada Suster Ana.


"Hari ini, tekanan darahnya sangat rendah, Pak. Sebaiknya, Ibu dibawa ke rumah sakit saja," jawab Suster Ana.

__ADS_1


Aji hanya terkulai lemah mendengar jawaban Suster Ana. Seandainya dia memiliki uang, sudah dari awal dia akan membawa Khodijah untuk berobat ke rumah sakit. Namun, kenyataannya Aji tidak memiliki cukup materi untuk memberikan pengobatan secara medis kepada istrinya.


"Kenapa diam, Pak?" tanya Suster Ana yang mulai merasa gereget terhadap sikap Aji.


"Entahlah, Bu," jawab Aji, lirih.


"Pak, kondisi Ibu sudah kritis, kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Supaya Ibu bisa mendapatkan penanganan yang tepat," tutur Suster Ana.


"Maafkan saya, Bu. Tapi saya tidak punya uang untuk biaya rumah sakit istri saya," jawab Aji.


Suster Ana menghela napas. Dia sudah banyak menemukan pasien dengan kondisi seperti ini. Dan baginya, keadaan seperti ini bukanlah sesuatu hal yang asing lagi.


"Apa Bapak memiliki BPJS kesehatan?" tanya Suster Ana.


Aji menggelengkan kepala. "Pekerjaan saya ini cuma sebagai penjahit kampung, Bu. Sudah banyak juga orang yang tidak memakai jasa saya. Karena itu saya tidak mendaftarkan keluarga saya, takut tidak mampu membayar iuran per bulannya," tutur Aji.


"Lalu, jaminan kesehatan dari pemerintah, apa Ibu terdaftar sebagai salah satu warga yang mendapatkan bantuan jaminan kesehatan dari pemerintah?" Suster Ana kembali bertanya.


"Istri saya memilikinya, Bu. Namun, sudah tidak saya pergunakan lagi," jawab Aji.


"Loh, kenapa?" tanya Suster Ana, heran. Baru kali ini dia menemukan orang yang seolah menolak bantuan dari pemerintah.


"Percuma juga, Bu. Toh tidak bisa menyelesaikan semua permasalahannya," kata Aji, lugas.


Suster Ana mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Aji. Sungguh, sebuah jawaban di luar pemikiran dan tidak masuk akal, menurutnya.


"Tidak menyelesaikan masalah bagaimana ya, Pak? Maaf, saya kurang paham maksud perkataan Bapak barusan," kata Suster Ana, heran.


"Beberapa kali saya pernah membawa istri saya ke rumah sakit dengan bermodalkan kartu sakti tersebut. Namun, terlalu banyak aturan yang menghabiskan waktu. Saya harus minta surat keterangan apa, lah, menemui siapa lah, dan banyak lagi dokumen-dokumen yang harus disiapkan sebagai persyaratan ketika kita hendak melakukan pengobatan. Selain itu, biaya obat juga tidak ditanggung sepenuhnya, jadi ya percuma," papar Aji.


"Hmm, prosedurnya memang seperti itu, Pak. Rumah sakit juga punya kebijakan yang tentunya tidak ingin menimbulkan kerugian ke berbagai pihak, baik ke pasien, kepada pemerintah sebagai pemberi jaminan, dan tentunya untuk rumah sakit itu sendiri, dan untuk obat-obatan, memang ada sebagian obat-obatan yang memang tidak bisa dicover," jawab Suster Ana, mencoba memberikan jawaban yang cukup bijak dan masuk akal.


"Itulah, Bu. Makanya saya tidak pernah menggunakannya lagi. Saya malas. Apalagi, perjalanan dari rumah menuju rumah sakit juga butuh biaya, Bu," lanjut Aji.


"Tapi setidaknya, biaya rumah sakit, 'kan bisa gratis, Pak. Dan Bapak juga bisa merasa tenang, karena istri Bapak ditangani oleh ahlinya," lanjut Suster Ana.


"Saya paham, Bu. Memang mudah bagi orang lain untuk berbicara dan mengeluarkan pendapatnya masing-masing, karena mereka tidak pernah merasakan bagaimana posisi saya sebenarnya. Seandainya saja mereka mau menilai dari sudut pandang saya, mungkin mereka bisa mengerti bahwa apa yang sudah saya lakukan hingga detik ini, itu adalah usaha terbaik saya untuk menyembuhkan istri saya," jawab Aji panjang lebar.


Suster Ana merasa tersindir oleh jawaban Aji. Pada akhirnya, Suster Ana menyerah. Sebagai tenaga medis, Suster Ana hanya ingin membantu pasien-pasien untuk mendapatkan perawatan yang terbaik. Namun, dia lupa jika dia sedang tidak berada di rumah sakit saat ini.


"Baiklah, terserah Bapak saja. Saya hanya sekadar menyarankan. Ini saya berikan resep untuk obat dan vitamin Ibu. Bapak bisa membelinya di apotek, karena kebetulan saya tidak memiliki stok vitamin seperti itu di rumah saya," pungkas Suster Ana.

__ADS_1


__ADS_2