Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kecelakaan


__ADS_3

Mang Amo dan istrinya datang sambil membawa bakul nasi dan juga lauk pauk. Yandri tersenyum, dia membenahi botol mineral yang ada di atas tikar untuk memberikan tempat. Sedetik kemudian, Mang Amo menyimpan barang bawaannya di atas tikar. Begitu juga dengan sang istri yang menaruh peralatan makan di sana.


"Bareng-bareng Mang, sarapannya. Sekalian panggil yang lain juga," pinta Yandri.


"Aden aja sama tamunya dulu, biar kami belakangan," sahut Mang Ate, mandor pekerja yang akan memanen ikan.


"Ish, enggak boleh gitu. Barengan aja Mang, biar nikmat," balas Yandri. "Ayo, semuanya naik dulu, kita sarapan!" perintah Yandri kepada para pekerja.


Satu per satu, para pekerja naik dan mulai ikut bergabung untuk sarapan bersama. Rasa yang awalnya segan, kini mulai terkikis melihat sikap Yandri begitu hangat dalam memperlakukan mereka yang notabene hanya seorang buruh saja. Para pekerja itu pun saling berbisik untuk memuji keramahtamahan Yandri.


.


.


Menjelang dzuhur, para pekerja telah berhasil mengangkat semua ikan yang ada di kolam. Proses selanjutnya yaitu mengelompokkan ikan sesuai jenis dan ukurannya. Karena ikan yang Yandri tanam cukup menghasilkan, akhirnya proses ini pun memakan waktu yang cukup lama. Hingga Rahmat pun merasa bosan menunggu.


"Yan, Akang pulang dulu. Nanti kirimkan saja ikannya ke rumah. Bisa, 'kan?" pinta Rahmat yang berulangkali menguap karena jenuh dan mengantuk.


Yandri menghela napas untuk beberapa detik. Dia sendiri merasa bingung, entah siapa yang akan mengantarkan ikan ke rumah iparnya itu. Namun, karena Rahmat mendesak Yandri, akhirnya Yandri hanya bisa mengangguk pasrah.


"Iya, Kang. Nanti Yandri usahakan," jawabnya.


Rahmat tersenyum senang. Dengan alasan masih memiliki banyak urusan, akhirnya Rahmat berpamitan kepada Yandri dan juga para pekerjanya.


.


.


Waktu terus berlalu. Azan asar telah berkumandang. Namun, suaminya belum juga pulang. Padahal, hari ini Yandri harus kembali ke tempat kerjanya. Karena waktu sudah semakin sore, akhirnya Daniar memutuskan menghubungi Yandri untuk mengingatkan jadwal keberangkatannya.


Berulang kali Daniar menghubungi nomor ponsel Yandri. Akan tetapi, hanya miss veronica yang menjawab dan mengatakan jika ponsel suaminya berada di luar jangkauan.


"Ish kenapa ponsel kang Yandri enggak aktif?" gumam Daniar yang bisa didengar oleh ibunya.


"Coba kamu hubungi istrinya mang Amo, Ni. Mungkin ponselnya Yandri kehabisan daya," ucap Bu Salma.


"Iya, ya ... kenapa Niar enggak kepikiran sama bik Zainab," sahutnya.


Daniar kembali menyusuri nomor kontak di ponsel. Sejurus kemudian, dia menekan nama bik Zainab yang tertera di layar. Telepon pun tersambung. Untuk beberapa menit, Daniar berbicara dengan bik Zainab. Terlihat ekspresi kesal di raut wajah Daniar, sehingga membuat Bu Salma menegurnya begitu Daniar memutuskan sambungan telepon.


"Kamu kenapa sih, Kak? Kok kecut begitu mukanya," ejek Bu Salma.


"Ih, Niar kesal sama kang Yandri, Bu. Ngapain juga dia pake nganterin ikan ke rumah kak Aminah segala," rengut Daniar.


"Yandri nganterin ikan? Tahu dari mana?" Bu Salma kembali bertanya.


"Bik Zainab yang bilang. Katanya kang Yandri nganterin ikan pesanan kakaknya," jawab Daniar.

__ADS_1


"Memang panen ikannya sudah beres, Kak?"


"Justru itu, mereka lagi pada nimbang, tapi kang Yandri malah enggak ada."


"Ya sudah, ada mang Amo juga yang bakal ngawasin. Udah deh, enggak usah merengut gitu. Jelek ah!" Bu Salma kembali menegur sikap Daniar.


"Abisnya Niar kesel, Bu. Mereka yang butuh, kenapa mereka enggak ambil sendiri? Sudah syukur dikasih juga, masih tetep nyusahin. Menyebalkan!" dengus Daniar, kesal.


"Ish, jangan gitu, ah. Enggak baik," tegur Bu Salma.


"Hhh ..." Daniar hanya bisa menghela napas. Seandainya ibu tahu kelakuan keluarga kang Yandri seperti apa, astaghfirullahaladzim, batin Daniar sambil beristighfar.


.


.


Menjelang magrib, Yandri baru tiba di rumah. Dia buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah menunaikan salat magrib, Yandri pergi ke dapur untuk menggoreng ikan bawal kesukaannya.


"Bun, tolong siapkan ransel Ayah!" teriak Yandri dari dapur.


Daniar yang baru selesai menunaikan salat magrib, mengernyitkan keningnya. Ish, mau ngapain kang Yandri nyuruh aku nyiapin ranselnya? batin Daniar.


"Sekalian kemeja Ayah yang berwarna biru, tolong dimasukkan ya, Bun!" Kembali Yandri memberikan perintah.


Karena merasa penasaran, akhirnya Daniar menghampiri Yandri di dapur.


"Aih, Bunda lupa, ya?" ucap Yandri. "Ayah harus berangkat lagi malam ini. Izin cutinya cuma sehari," lanjut Yandri.


Daniar kaget. "Tapi ini sudah malam, Yah."


"Iya, Ayah tahu. Ayah enggak punya pilihan lain, Bun. Daripada nanti kena tegur Kamad, bisa berabe urusannya," jawab Yandri sambil membalikkan goreng ikan bawal di atas wajan.


"Apa enggak bisa konfirmasi untuk memperpanjang masa izin, Yah. Bunda khawatir kalau Ayah berangkat malam-malam begini," lanjut Daniar.


"Sebenarnya bisa, tapi ribet juga urusannya nanti," balas Yandri.


"Ish, Ayah ...."


Daniar mulai merengek. Entah kenapa hatinya merasa tidak ikhlas saat mendengar yandri hendak kembali ke tempat kerja malam ini.


"Sudah, Bun. Enggak usah cemas begitu, ah. Do'akan saja supaya Ayah selamat sampai tujuan," pungkas Yandri.


Tubuh Daniar terasa lemas mendengar perkataan suaminya.


Tentu saja Bunda selalu mendo'akan keselamatan Ayah. Namun, istri mana yang tidak akan merasa khawatir saat mengetahui suaminya melakukan perjalanan di malam hari, Yah, batin Daniar.


.

__ADS_1


.


Sifat Yandri yang memang keras kepala, akhirnya memaksa Daniar untuk menyerah. Dengan tatapan cemas, Daniar mengantarkan Yandri sampai ke pagar depan rumahnya. Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Yandri nekat pergi juga untuk kembali bekerja.


"Hati-hati di jalan, Yah. Kalau ngantuk, menepi dulu. Jangan terlalu memaksakan diri untuk berkendaraan," pesan Daniar.


"Iya, Bunda Sayang," jawab Yandri. "Oh iya, nasi timbel yang buat bapak penjaga masjid, enggak lupa, 'kan?" tanyanya.


"Enggak, Yah. Sudah disatuin kok, sama bungkusan yang buat Ayah makan nanti," sahut Daniar.


"Ya sudah, makasih ya Bun. Kalau begitu, Ayah pergi dulu."


Daniar mengangguk. "Jangan lupa kasih kabar setiap Ayah istirahat, ya," pesan Daniar.


Yandri tersenyum, "Oke," balasnya. Sesaat kemudian, Yandri melajukan kendaraannya menuju jalan utama.


Daniar kembali memasuki rumah. Dia pun langsung menuju kamar untuk beristirahat. Entah kenapa, hatinya terasa berat sekali saat melepas kepergian suaminya untuk berjihad. Biasanya tidak seperti ini, tapi sekarang ... rasa cemas semakin menggunung dalam dadanya.


Lelah merasakan kecemasan yang mendalam, akhirnya Daniar terlelap juga. Entah berapa lama Daniar tertidur. Saat dia bangun, dia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Daniar membuka beberapa pesan yang masuk di benda pintarnya itu. Sebagian ada pesan dari beberapa orang tua murid, dan sebagian dari temannya. Namun, yang Daniar cari adalah pesan dari suaminya.


Daniar membuka foto yang dikirimkan Yandri. Tampak Yandri sedang makan bekalnya dengan seorang pak tua yang mengenakan peci berwarna putih.


Menurut pengakuan Yandri, pak tua itu berasal dari daerah Manonjaya. Salah satu kecamatan yang berada di kabupaten Tasikmalaya. Dia seorang penjual mainan keliling yang setiap malam tidur di masjid tersebut karena tidak memiliki cukup uang untuk mengontrak rumah.


Daniar pun tersenyum melihat foto bahagia pak tua. Seketika, dia teringat akan ayahnya yang telah tiada. Daniar sendiri merasa bangga karena memiliki suami yang memiliki rasa empati tinggi.


Hingga saat Daniar melihat waktu yang ter-teran di foto tersebut. Daniar mulai menautkan kedua alisnya.


Foto ini dikirim kang Yandri pada pukul 00.13. Artinya, satu jam berikutnya, seharusnya kang Yandri sudah sampai di tempat kerjanya, batin Daniar.


Daniar melihat waktu yang tertera di layar ponselnya.


Pukul 04.00, tapi kenapa kang Yandri belum mengirimkan pesan berikutnya? Biasanya kalau sudah sampai, dia pasti memberi tahu. Kembali Daniar bermonolog dalam hatinya.


Karena merasa penasaran, akhirnya Daniar menghubungi nomor Yandri. Untuk beberapa saat, sambungan telepon tidak diangkat. Daniar semakin gelisah. Namun, dia tidak putus asa. Kembali Daniar menghubungi nomor telepon suaminya.


"Hallo! Ayah, kenapa belum memberi kabar juga? Apa Syah sudah sampai?" cecar Daniar begitu telepon tersambung.


"Maaf, ini siapa?" tanya seseorang di ujung telepon.


Daniar mengernyitkan dahinya saat tidak mengenali suara orang yang menjawab teleponnya. Kegelisahan pun mulai menghampiri Daniar.


"Si-siapa Anda? Kenapa ponsel suami saya berada di tangan Anda?" tanya Daniar, terbata.


"Maaf, Bu. Suami Ibu mengalami kecelakaan."


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2