
"Gimana keadaan Bintang, Kak?" tanya Danita seraya memasuki kamar kakaknya.
"Masih panas, Dek," jawab Daniar yang masih dengan setia mengusap-usap punggung anaknya.
"Kita bawa Bintang ke dokter, Kak," ajak Daniar.
"Nanti saja, Dek. Nunggu ayahnya pulang," lanjut Daniar.
"Ish Kakak ... kita tidak tahu apa bang Yandri akan pulang atau tidak. Sudah, Kakak enggak usah pikirkan biayanya. Nita masih simpan uang kok, cukup untuk membawa Bintang ke dokter anak," kata Danita.
"Enggak usah, Dek. Usaha suami kamu baru saja dimulai. Belum tentu juga akan mendapatkan laba dalam waktu dekat. Lebih baik, kamu simpan saja untuk keperluan kamu dan anak kamu," tolak halus Daniar.
"Kakak, uang bisa dicari. Kesehatan keponakan Nita lebih penting saat ini. Ayo, cepat ganti baju! Mas Roni sudah menunggu Kakak di luar. Dia akan mengantarkan Kakak dan Bintang ke dokter. Bergegaslah!" perintah Danita.
"Tapi, Dek!" tukas Daniar.
"Sudah, tidak usah membantah lagi! Apa Kakak mau, Bintang kenapa-napa karena telat penanganan?" Danita mencoba menakut-nakuti kakaknya.
"Ish Adek, ngomongnya jangan ngelantur, ah," tukas Daniar.
"Ya mangkanya, ayo segera bawa Bintang ke dokter!" tekan Danita.
"Iya, Baiklah Dek. Nanti akan Kakak ganti setelah kang Yandri datang." Akhirnya Daniar mengalah.
"Iya-iya, tenang saja. Ayo buruan ganti baju!" Sekali lagi Danita memberikan perintah kepada kakaknya. Setelah itu, dia kemudian pergi ke ruang depan untuk memberitahukan kepada suaminya jika Daniar sedang bersiap-siap.
"Apa Kak Niar bersedia, Ma?" tanya Roni kepada istrinya.
"Bersedia, Pa. Sekarang kak Niar sedang berganti pakaian. Semoga saja, sakitnya Bintang enggak parah," jawab Danita.
"Aamiin."
Tak lama berselang, Daniar datang seraya menggendong Bintang.
"Sudah siap, Kak?" tanya Roni kepada kakak iparnya.
Daniar mengangguk. Dengan diantarkan Roni, Daniar membawa Bintang ke dokter. Meskipun di hatinya terselip rasa perih, karena bukan suaminya yang mengantarkan Daniar ke dokter anak.
Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata Bintang terserang typus. Daniar harus menjaga ekstra putrinya itu agar sakitnya tidak bertambah parah.
"Ingat ya, Bu. Obatnya harus diminum teratur. Diusahakan adeknya jangan banyak bergerak dulu meskipun panasnya sudah turun. Jika tidak, demamnya akan kembali," tutur dokter.
"Baik, Dok," sahut Daniar.
"Ini resepnya. Silakan ambil di apotek depan. Semoga adeknya cepat sembuh," lanjut dokter muda itu.
"Aamiin. Terima kasih, Dok. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Daniar.
Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, Daniar langsung menuju apotek untuk menebus obat Bintang. Lima belas menit menunggu, akhirnya nama Bintang dipanggil juga. Daniar beranjak dari tempat duduknya dan mendekati perawat yang bertugas.
"Ini obat untuk penurun panasnya, Bu. Jika demamnya sudah berhenti, Ibu bisa menghentikan pemberian obatnya. Dan ini antibiotik, jangan lupa untuk dihabiskan," tutur petugas apotek.
__ADS_1
"Baik, Sus," jawab Daniar.
"Silakan diambil obatnya, Bu. Totalnya jadi 357 ribu," lanjut petugas apotek.
Daniar mengeluarkan uang yang dipinjamkan Danita. Dia kemudian membayar biaya pengobatan putrinya. Sekali lagi, kesedihan mendera Daniar. Ternyata, selain tidak bisa mengantarkan anaknya ke dokter, suaminya juga tak bisa memberikan biaya pengobatan untuk anaknya.
Astaghfirullah, Kang. Dulu, giliran istri Raihan melahirkan, kamu bisa menanggung semua biayanya. Namun, saat anakmu sakit, kamu sama sekali tidak bisa membawanya ke dokter. Ayah macam apa kamu, Kang? Pada akhirnya, Daniar telah begitu lelah dengan sikap sang suami.
.
.
Dua minggu sudah Yandri tidak pulang. Kali ini, dia beralasan hendak menyelesaikan skripsinya agar bisa mengikuti jadwal sidang pertama. Daniar mencoba memahami hal itu, meskipun hatinya masih merasa kesal dengan semua keegoisan sang suami.
Bintang pun sudah berangsur pulih. Kini anak itu sudah kembali ceria. Bahkan dia sudah bisa lari saling berkejaran dengan saudara sepupunya. Meskipun Daniar masih belum membawa Bintang ke sekolah, tapi Bintang cukup aktif beraktivitas di rumah bersama Fayyadh dan Danita.
Daniar bersyukur bisa tinggal satu atap bersama adiknya. Sehingga mereka bisa saling menitipkan, saling menjaga satu sama lain. Ya, almarhum ayah Daniar memang selalu menekankan peribahasa sunda 'silih asah, silih asih dan silih asuh' kepada ketiga putrinya. Yang artinya, di mana pun mereka berada, mereka harus saling mengingatkan, saling mengasihi dan saling membimbing juga mengayomi satu sama lain.
"Dek, hari ini Kakak harus membawa anak-anak TK untuk lomba mewarnai. Kamu keberatan enggak, kalau Kakak titip Bintang sebelum ayahnya pulang?" tanya Daniar. 'Katanya sih, Sabtu sekarang kang Yandri mau pulang," lanjutnya.
"Iya, Kakak pergi kerja saja, sana! Tidak usah cemaskan Bintang, Nita pasti akan menjaganya. Lagi pula, hari ini katanya Ibu sama nek Hajjah mau main ke sini," jawab Danita.
"Nek Hajjah mau kemari? Ada apa, Dek? Kok tumben."
"Katanya sih, kangen sama anak-anak."
"Oh, syukurlah kalau gitu. Jadi kamu enggak terlalu repot harus ngawasin dua bocil, hehehe,...."
"Iya, Dek. Maklum, Bintang, 'kan aktif banget. Takut kamu kecapean juga karena harus ekstra jagain dia," kata Daniar.
"Enggak, Kak. Nita pasti bisa jagain Bintang sama Fayyadh kok. Udah ah, sana pergi! Entar telat lagi datang ke tempat lombanya," perintah Danita.
"Iya, Dek. Makasih, ya. Dadah Bintang ... baik-baik sama Bibi Nita, ya. Awas jangan berantem terus sama dedeknya," pesan Daniar kepada putrinya.
"Oke, Bun. Hati-hati di jalan Bunda," balas Bintang seraya melambaikan tangan mungilnya.
Daniar tersenyum mendengar ucapan anaknya. Semakin hari, tingkat kecerdasan Bintang semakin nampak. Daniar pun merasa bangga memiliki anak secerdas itu. Meski terkadang, hatinya sakit karena anak kecil itu selalu menjadi yang kedua bagi ayahnya sendiri. Mungkin setidaknya itu yang ada dalam pikiran Daniar. Wajar jika Daniar memiliki pemikiran seperti itu, karena selama ini, kebutuhan Bintang tidak pernah bisa menjadi prioritas utama sang ayah.
Menjelang sore, Yandri tiba di rumah. Bintang terlihat begitu senang. Anak kecil itu pun tak pernah lepas dari gendongan sang ayah. Mungkin, kerinduan Bintang sudah sampai puncaknya hingga tidak mau turun dari pangkuan ayahnya.
"Ayo, Dek. Ayah mau makan, Bintang main sama Tata dulu, ya," bujuk Danisa seraya merentangkan kedua tangannya untuk mengambil Bintang dari pangkuan Yandri.
"No!" tolak Bintang dengan tegas. Dia pun semakin mengeratkan kedua tangan mungilnya melingkar di leher Yandri.
"Sudah, Nis. Tidak apa-apa. Biar nanti Abang makan kalau Bundanya Bintang sudah pulang saja," jawab Yandri.
Danisa mengangguk. Dia pun berbalik arah hendak kembali ke kamarnya saat Bintang tidak mau ikut. Hingga tak lama berselang, Daniar pun tiba.
"Bunda!* teriak Bintang seraya meronta meminta turun.
Yandri menurunkan Bintang. Sedetik kemudian, gadis kecil itu menghambur ke dalam pelukan ibunya.
__ADS_1
"Hmm, ada si Sayangnya, baru deh bisa lepas," dengus Danisa seraya terus berjalan memasuki kamarnya.
.
.
Malam harinya. Yandri masih asyik bercengkerama dengan putrinya. Sedangkan Daniar, dia berada di belakang untuk mencuci pakaian. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang bekerja, Daniar hanya memiliki waktu di malam hari untuk mengerjakan tugas rumahnya.
Saat hendak memasukkan celana kerja suaminya ke dalam mesin cuci, sudut mata Daniar melihat kertas yang menyembul dari saku celana tersebut. Daniar kemudian merogoh dan mendapati secarik kertas yang berisi coretan angka-angka.
Nendi 500
Sukma 300
Mia 3 x 500 \= 1,5
Total 2,3 juta
Seperti itu kira-kira coretan yang tertera di atas kertas tersebut. Daniar mengerutkan keningnya. Apa kang Yandri memiliki utang kepada orang lain? batinnya.
Karena rasa penasaran yang sangat tinggi, akhirnya Daniar menghentikan pekerjaannya. Dia kembali ke kamar untuk menanyakan perihal kertas yang dia temukan di saku celana kerja suaminya.
"Apa ini, Yah? Apa Ayah memiliki utang kepada orang-orang ini?" tanya Daniar.
Yandri melirik kertas yang diacungkan istrinya. "Ish, Bunda ... Ayah mana pernah punya utang kepada orang lain," jawab Yandri masih dalam mode mengajak main putrinya.
"Lantas?" tanya Daniar.
"Itu catatan pinjaman temen ayah sama Mia," jawab Yandri dengan santainya.
"Catatan pinjaman? Apa mereka meminjam uang kepada Ayah?" tanya Daniar lagi dengan dada yang mulai terasa sesak.
"Iya," jawab Yandri singkat.
"Dan Mia? Jangan bilang jika ini nama yang sama dengan ipar kamu?" tekan Daniar.
"Iya, Bun. Raihan, 'kan lagi di Sumatera. Beberapa waktu yang lalu, dia meminta deposit sama ayah agar Mia bisa berjualan pulsa di rumahnya. Ya sekadar untuk menyambung hidup Mia dan anaknya sebelum Raihan bisa kirim uang, karena itu Ayah kirimkan deposit," jawab Yandri mencoba menjelaskan.
"Dan dia sama sekali enggak bayar?" Daniar kembali bertanya meskipun dadanya sudah bergemuruh menahan amarah.
"Awalnya pembayaran Mia lancar. Tapi sekarang, sudah tiga kali dia belum bayar. Ya sudah, Ayah stop dulu depositnya."
Entah kenapa, Yandri menjawab seolah dia tidak merasa bersalah atas sikapnya selama ini.
"Tiga kali? Ayah bilang tiga kali dan itu totalnya 1,5 juta. Ya Tuhan, Ayah ... anak kamu lemah tak berdaya karena typus, kamu cukup bilang tidak punya uang, sehingga harus Danita dan Roni yang membayar pengobatan Bintang. Tapi kamu sendiri menghidupi ipar kamu yang suaminya sedang merantau. Kamu ngerasa kasihan atau ada maksud lain?" teriak Daniar yang sudah tidak mampu lagi menjaga emosinya.
"Jaga bicara kamu, Bun. Jangan su'udzon, Dosa!" balas Yandri tegas. "Ayah tidak serendah itu. Ayah hanya kasihan saja karena Raihan belum bisa kirim uang. Jadi Ayah beri dia saldo supaya dia bisa menutupi kebutuhan hidupnya," tutur Yandri mencoba beralasan.
"Dan kamu menelantarkan kesehatan anak kamu demi ipar kamu itu, apa itu juga bukan dosa namanya, hah? Kenapa tidak kamu nikahi saja ipar kamu sekalian agar tidak harus berbuat dosa?!"
Daniar meluapkan amarahnya. Dia benar-benar merasa kecewa atas sikap suaminya. Dengan cepat, dia meraih Bintang dan membawanya pergi dari kamar. Meskipun Daniar sadar jika tidak sepatutnya dia bertengkar di hadapan sang anak. Namun kemarahan Daniar kepada suaminya sudah mencapai puncaknya. Dia tidak habis pikir dengan sikap sang suami yang lebih mementingkan anak istri orang lain dibandingkan anak istrinya sendiri.
__ADS_1
"Keterlaluan kamu, Kang!"