
"Kang, bangun," ujar Daniar seraya mengguncang pelan tubuh suaminya.
Namun, Yandri hanya sedikit menggerakkan badan. Rupanya, dia benar-benar merasa letih hingga sangat sulit untuk dibangunkan.
Daniar tidak kehabisan akal. Dia mulai menciumi setiap inci wajah suaminya hingga akhirnya Yandri membuka suara, meski matanya masih terpejam.
"Ish, kamu kenapa sih, Yar? Akang, 'kan sudah bilang kalau Akang izin tidak masuk kerja hari ini," kata Yandri dengan suara khas bangun tidurnya.
"Iya, Niar sudah sampaikan. Tapi ini ada kabar yang lebih penting, Kang," jawab Daniar.
"Nanti aja ya, Yar. Akang masih ngantuk nih," sahut Yandri.
"Ish, nggak bisa gitu dong, Kang. Kabar baik itu enggak boleh ditunda-tunda," tukas Daniar.
Akhirnya, mau tidak mau, Yandri membuka mata. "Memangnya, kabar baik apa yang ingin kamu sampaikan sama Akang?" tanya Yandri.
"Tadi pak Agus telepon, katanya ajuan tunjangan fungsional sudah disetujui oleh Kemenag pusat. Untuk itu, Akang diminta datang ke Kemenag kabupaten untuk mengurus semua prosedurnya. Pak Agus bilang, cuman Akang yang tahu tentang prosedur tunjangan tersebut," tutur Daniar panjang lebar.
Seketika, Yandri menegakkan tubuhnya. "Benarkah?" tanya Yandri menatap tak percaya kepada Daniar.
"Hem-eh," jawab Daniar menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah ... terima kasih ya Allah," seru Yandri seraya mengangkat kedua tangannya untuk meluapkan rasa syukur.
Namun, sejurus kemudian, wajah Yandri terlihat murung. Membuat Daniar mengerutkan keningnya.
"Loh, kenapa Akang kelihatan sedih gitu? Enggak senang ya, mau dapat uang," ledek Daniar.
"Ish, cuma orang bodoh yang menolak uang, Yar. Masalahnya, jika kita mau uang, ya harus pake uang juga," tukas Yandri.
"Ish, Akang enggak usah berbelit-belit deh, ngomongnya," balas Daniar.
"Iya, Yar. Pergi ke Kemenag kabupaten juga butuh uang buat ongkos. Nah masalahnya, saat ini Akang sama sekali enggak pegang uang sepeser pun," jawab Yandri.
"Tunggu! Jangan-jangan ... Akang enggak kerja juga karena enggak punya uang untuk ongkos?" tebak Daniar.
Yandri mengusap tengkuknya seraya berkata, "Ya seperti itulah ...."
"Astaghfirullahaladzim, Kang ... kenapa Akang nggak minta ke Niar?" pekik Daniar seraya menepuk jidatnya.
"Ih, malu dong, Yar. Masak minta uang sama istri," jawab Yandri.
"Ish Akang ... uang Niar, 'kan dikasih sama Akang juga," balas Daniar.
Yandri hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Daniar. Namun, jauh di lubuk hatinya, Yandri bersyukur karena memiliki istri yang begitu pengertian.
"Ya sudah, jam berapa Akang harus ke Kemenag kabupaten?" tanya Yandri.
__ADS_1
"Pak Agus sih enggak bilang harus jam berapa. Dia hanya bilang nanti siang saja," jawab Daniar.
"Hmm, biasanya sih lepas dzuhur. Ya sudah, nanti tolong tanyakan sama pak Agus, jam berapa Akang harus berangkat," pinta Yandri seraya beranjak dari tempat tidur.
"Oke.Eh Kang, nominalnya kira-kira berapa ya?" tanya Daniar sedikit penasaran.
"Kalau enggak ada potongan, totalnya tuh 2,4 juta," jawab Yandri.
"Alhamdulillah ... nanti kita belanja keperluan dedek bayi ya, Kang. Sekalian sisihkan juga buat bayar bekas USG ke Nita. Kalau ada sisa, entar kita titip ibu ya, buat nabung lahiran," kata Daniar membayangkan untuk apa saja alokasi tunjangan yang akan diterima suaminya.
"Iya, atur-atur saja, Nyonya Gunawan," seloroh Yandri seraya meraih handuk dan pergi ke kamar mandi.
Daniar tersenyum lebar. Sekarang, dia tidak harus kebingungan lagi memikirkan dana untuk membeli pernak-pernik bagi bayinya.
.
.
Beberapa hari berlalu. Hari ini adalah hari yang dinantikan oleh Daniar. Suaminya bilang, tunjangan fungsional yang beberapa hari lalu diurus mnya, hari ini bisa dicairkan. Bahkan, saat ini pun Yandri belum pulang karena ada pertemuan terkait tunjangan tersebut.
Dengan hati gembira, daniar terus mencorat-coret kertas. Dia membuat list untuk keperluan bayinya. Dimulai dari baju bayi, tempat tidur bayi, popok, peralatan mandinya dan berbagai hal yang berhubungan dengan kebutuhan bayi setelah lahir kelak.
Saat dia tengah asyik membuat catatan, tiba-tiba ponselnya bergetar. Daniar segera meraih benda pintar itu dan menggeser tombol hijau di layar.
"Assalamu'alaikum, Bu," sapa Daniar.
"Wa'alaikumsalam. Ibu cuma mau tanya, Ni. Apa besok jadi, pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan bayi kamu?" tanya Bu Salma di ujung telepon.
"Oh ya sudah kalau begitu, besok Ibu minta izin wak Minah dulu buat nemenin kamu," ucap Bu Salma.
"Iya, Bu. Nanti Niar kabari lagi kalau kang Yandri sudah pulang," sahut Daniar.
"Baiklah, kalau gitu Ibu tutup teleponnya ya, Kak. Assalamu'alaikum."
"Iya, Bu. Wa'alaikumsalam," sahut Daniar seraya mengakhiri pembicaraannya. Daniar kemudian menyimpan kembali ponselnya di atas meja.
.
.
Menjelang magrib, Yandri tiba di rumah. Namun, raut wajahnya sungguh tidak sedap dipandang mata. Sebenarnya Daniar heran dan ingin bertanya. Namun, melihat Yandri yang langsung pergi ke kamar mandi, Daniar pun mengurungkan niatnya. Dia menunggu sampai Yandri mau bercerita.
Selesai salat magrib, Yandri menghampiri Daniar yang tengah duduk menonton televisi. Dia kemudian mengeluarkan amplop panjang berwarna coklat dan menaruhnya di atas meja.
Tidak dipungkiri, kedua bola mata Daniar berbinar melihat amplop tersebut. Dia mengelus perutnya seraya berkata, "Alhamdulillah Dek, ini rezeki kamu. Untuk membeli semua kebutuhan kamu besok."
Yandri tersenyum tipis mendengar ucapan istrinya.
__ADS_1
"Apa Niar boleh buka amplopnya, Kang," izin Daniar.
Yandri hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah mendapatkan izin dari suami, Daniar meraih amplop tersebut dan membukanya. Daniar terpaku saat isi amplop tersebut jauh berbeda dari ekspektasinya. Dia kemudian menatap Yandri penuh tanya.
"Maaf jika isinya tidak sesuai dengan keinginan kamu, Yar," kata Yandri seolah mengerti arti tatapan istrinya.
"Apa maksudnya ini Kang? Apa cairnya hanya tiga bulan saja?" tanya Daniar yang hanya melihat enam lembar uang pecahan seratus ribu.
"Cairnya setahun, Yar. Tapi dipotong dua bulan sebagai bagian untuk pihak-pihak terkait," jawab Yandri.
"Lalu yang 1,4-nya? Seharusnya jika hanya dipotong dua bulan, sisanya sepuluh bulan, 'kan? Tapi kenapa ini hanya tiga bulan, ke mana sisa yang tujuh bulan lagi?" cecar Daniar.
"Pak Agus memotongnya untuk melunasi utang ibu," jawab Yandri.
"Ibu ngutang lagi? Ta-tapi kapan? Terus, kenapa sebanyak itu? Bukankah kemarin Akang bilang utang ibu hanya tinggal dua ratus saja?" Kembali Daniar mencecar Yandri dengan pertanyaan terkait ibunya.
"Sebenarnya, ini bukan utang ke sekolah, Yar. Tapi utang ke pak Agus sendiri," jawab Yandri.
"Tapi bekas apa, Kang? Kenapa Akang enggak minta izin Niar jika ingin minjam uang kepada pak Agus?"
Daniar mulai emosi mendengar jawaban suaminya. Selama ini, dia tidak pernah tahu tentang utang piutang sang suami.
"Akang sendiri tidak tahu, Yar. Akang tidak pernah meminjam uang pada siapa pun. Pak Agus bilang, itu utang bekas Raihan yang ingin membeli mesin bordir manual. Raihan ingin bekerja, karena kebetulan di rumah pak Agus ada mesin bekas, akhirnya ibu membeli mesin tersebut dengan cara ngutang," jawab Yandri yang turut emosi saat mendengar istrinya meninggikan suara.
"Apa ibu izin dulu sama Akang?" tanya dingin Daniar.
Yandri menggelengkan kepalanya.
"Akang tidak menegur ibu, atau setidaknya bertanya kenapa ibu melakukan hal itu?" tanya Daniar lagi.
Kembali Yandri menggelengkan kepala.
"Astaghfirullah Kang ... mau sampai kapan Akang terus disetir mereka? Akang itu kepala keluarga, seharusnya Akang punya prinsip!" kata Daniar kembali emosi.
"Apa maksud kamu, Niar? Siapa yang menyetir Akang?" Yandri mulai berteriak. Sepertinya dia tidak terima dengan pernyataan Daniar.
"Kamu! Kamu yang selalu disetir oleh ibu dan saudara kamu sendiri. Apa kamu pikir, Niar enggak pernah tahu kelakuan mereka yang diam-diam selalu meminjam uang ke sekolah di belakang kamu, hah? Niar tahu Kangb... pak Agus pernah menceritakan semuanya kepada Niar. Bahkan dia juga pernah memperlihatkan buku utang-utang mereka. Mau sampai kapan, Kang? Mau sampai kapan Akang mengurusi kebutuhan mereka dibanding kebutuhan istri kamu?" Daniar mulai berteriak. Rasa marah dan kecewa bercampur menjadi satu.
"Cukup Daniar! Seharusnya kamu bersyukur aku masih bisa memberikan sisa uang tersebut kepada kamu!
"Tapi itu belum bcukup, Kang!"
"Belum cukup katamu, hah? Uang segitu belum cukup untuk membeli keperluan bayi? Memangnya keperluan seperti apa yang ingin kamu beli? Tidak usah sok bergaya hidup mewah jika tak mampu?" Yandri kembali berteriak kepada istrinya.
Daniar tersenyum sinis. "Seharusnya kalimat itu kamu gunakan kepada ibu dan saudara kamu, Kang. Mereka yang selalu bergaya sok kaya padahal hasil memerah keringat anaknya sendiri," ucap Daniar seraya berlalu pergi begitu saja.
__ADS_1
Brakk!
Yandri menendang meja dengan kuat sebagai bentuk luapan emosinya. Sedangkan Daniar, diliputi rasa kecewa yang mendalam, akhirnya Daniar mengurung diri di kamar. Ini adalah pertengkaran pertama mereka setelah hampir satu tahun hidup bersama.