Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kebenaran


__ADS_3

Yandri bersyukur memiliki istri yang selalu setia menemani dia di kala duka. Memiliki mertua yang selalu menolong setiap kesulitannya, membuat rasa hormat Yandri semakin bertambah. Dan memiliki ipar yang begitu peduli dan menyayanginya, membuat Yandri merasakan kehangatan yang sempurna dalam sebuah keluarga.


Dulu. Ya! dulu sekali, sebelum ayahnya meninggal, Yandri bisa merasakan semua kehangatan itu. Namun, kehangatan keluarganya sirna dalam sekejap ketika pahlawan hidupnya pergi.


Sejenak, Yandri menatap sang istri yang tengah mendengkur halus di sampingnya. Tangan Yandri terulur untuk mengusap pucuk kepala Daniar.


*Tidurlah, Bun. Ayah tahu, tidurmu pasti terganggu selama beberapa hari ini, karena harus mengurusi Ayah," gumam Yandri sambil terus mengusap-usap kepala Daniar dengan halus.


Daniar menggeliat saat merasakan sebuah sentuhan. Namun, matanya begitu berat sehingga dia pun melanjutkan dengkurannya.


.


.


"Ayo kita jenguk bang Yandri, Bang!" rengek Puri ketika melihat suaminya masih asyik memandikan burung.


"Ish, Dek. Ini masih terlalu pagi," jawab Yoga, "tuh, lihat!" Tunjuk Yoga pada sinar mentari yang terhalang rimbunnya daun mangis, "matahari-nya aja masih malu-malu," lanjut Yoga.


"Ish, Abang!" Puri yang merasa gemas, langsung menepuk pelan bahu suaminya.


"Iya-iya, nanti ya, Dek! Selesai Abang mandiin burung," ujar Yoga.


"Ish, burung terus yang dimandiin, burung Abang kapan mandi? Bukannya semalam udah nyemplung ke dasar goa," dengus Puri kesal. Sedetik kemudian dia kembali ke dapur dan meninggalkan suaminya.


"Hidih, mesum!" teriak Yoga, tersenyum lebar menanggapi ucapan istrinya.


Di dapur, Puri kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia terus mengaduk jeli coklat yang telah dicampur air santan dan gula merah. Dia sedang membuat puding coklat sebagai buah tangan untuk menjenguk kakak iparnya nanti.


Saat tengah asik berkreasi, tiba-tiba seseorang menyembulkan kepala di balik pintu dapurnya.


"Ngapain kamu, Pur?"


Puri tersentak kaget. Sejurus kemudian, dia menoleh untuk melihat siapa yang datang.


"I-ibu?" kata Puri.


Bu Maryam membuka daun pintu dengan lebar. Dia kemudian masuk untuk melihat lebih jelas apa yang sedang dilakukan menantunya itu.


"Bikin apa, kamu?" tanya Bu Maryam lagi.


"Puri lagi bikin puding coklat, Bu," jawab Puri


"Tumben. Buat anak-anak kamu?" Bu Maryam kembali bertanya.


"Bukan, Bu. Ini untuk dibawa ke tempat bang Yandri. Rencananya, siang ini Puri sama bang Yoga mau menjenguk bang Yandri," jawab Puri.


"Memangnya Yandri sudah pulang?" tanya Bu Maryam.


"Sudah, Bu. Kata kak Niar, semalam mereka baru tiba di rumahnya. Apa Ibu mau ikut jenguk bang Yandri juga? Kalau Ibu mau ikut, kita barengan sama bik Mumun saja, biar bisa naik mobil," lanjut Puri.


"Kamu saja yang pergi. Ibu enggak sanggup lihat Yandri dengan kondisi seperti itu," jawab Bu Maryam.


Puri diam. Jujur saja, dia sendiri tidak tahu apa yang ada dalam benak ibu mertuanya. Namun, alasan yang baru saja dikatakan ibu mertuanya, sungguh tidak masuk akal bagi Puri.


Setiap orang tua pasti memiliki kekhawatiran ketika anaknya mengalami musibah. Apalagi musibah kecelakaan. Masak iya, hanya karena pernah melihat kondisi sang anak berlumur darah, orang tua lantas tidak ingin menjenguknya? pikir Puri.

__ADS_1


"Ya sudah, Ibu pergi dulu," pamit Bu Maryam.


"Bagaimana jika kak Niar dan bang Yandri menanyakan Ibu?" teriak Puri yang melihat ibu mertuanya sudah pergi menjauh.


"Bilang saja Ibu masih banyak urusan," sahut Bu Maryam, terus melangkahkan kaki menjauhi rumah sang menantu.


"Ish, ibu ...."


.


.


Di rumah Bu Salma.


Sejak pagi, banyak sekali tamu berdatangan untuk menjenguk Yandri. Mereka adalah kerabat-kerabat dekat Bu Salma. Ada juga rekan kerja Daniar dan teman kuliah Yandri. Termasuk Aji dan Sahid. .


Dering telepon juga terus berbunyi setiap saat. Ada banyak pesan yang mengucapkan do'a agar Yandri cepat sembuh. Rata-rata, pesan itu datang dari para wali santri dan juga wali murid yang pernah Yandri ajar di sekolah lama.


"Assalamu'alaikum!" sapa seseorang di balik pintu kamar depan paviliun.


"Wa'alaikumsalam."


Daniar yang tengah menyiapkan obat Yandri, segera menaruhnya di atas meja. Sedetik kemudian, dia membuka pintu untuk mempersilakan tamunya masuk. Daniar cukup terkejut melihat seseorang berdiri di hadapannya.


"Bu Niar!" Seru orang itu seraya memeluk Daniar. "Ya Tuhan ... maafkan Bibik karena baru bisa menjenguk pak Yandri hari ini," kata orang itu yang tak lain adalah Bik Mumun.


"Iya, Bik, enggak pa-pa kok," jawab Daniar mengusap-usap punggung Bik Mumun yang mulai menangis di bahunya.


Bik Mumun melepaskan pelukannya. Dia menatap Yandri yang tengah berbaring. Sejurus kemudian, Bik Mumun segera menghambur menghampiri ranjang Yandri. Seraya memegang tangan pria yang sudah dianggapnya adik, Bik Mumun pun kembali berurai air mata.


"Ish, Pak Yandri ini ... dalam keadaan genting seperti ini pun, Bapak masih bisa bergurau," tukas Bik Mumun, manyun.


Yandri tersenyum. Hingga setelah mereka lama berbincang, ketukan di pintu kamar paviliun kembali terdengar.


"Niar, apa Ibu boleh masuk?" seru Bu Salma dari balik pintu.


"Masuk saja, Bu. Pintunya enggak dikunci kok," jawab Daniar.


Bu Salma membuka pintu kamar paviliun. "Ni, ada tamu yang mau jenguk Yandri," ucapnya.


"Suruh masuk lewat pintu depan Paviliun saja, Bu," pinta Daniar.


"Baiklah," balas Bu Salma. Sesaat kemudian, Bu Salma kembali menutup pintu kamar paviliun. Hingga beberapa menit setelah bu Salma pergi, ketukan kamar depan paviliun pun terdengar.


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam."


Daniar membuka pintu untuk mempersilakan tamunya masuk. Puri, Yoga, Sarah dan Linda memasuki kamar paviliun. Terlihat kecemasan di raut wajah mereka saat melihat kondisi Yandri.


"Astaghfirullah, Yan ...!" pekik Sarah seraya memeluk erat adik iparnya.


Isak tangis mulai terdengar di ruang paviliun. Sarah adalah kakak ipar Yandri yang tertua. Meskipun suaminya telah meninggal, hubungan Sarah dan Yandri terjalin cukup baik. Bagi Sarah, hanya Yandri lah orang yang masih menjalin erat kekeluargaan dengannya meskipun suaminya telah tiada.


"Maafkan Kakak karena baru bisa datang hari ini," ucap Sarah dalam isak tangisnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Kak," balas Yandri.


"Puri juga minta maaf, Bang. Puri dan Bang Yoga enggak bisa jenguk Abang waktu di rumah sakit dulu," timpal Puri.


"Iya, tidak apa-apa Pur. Lagi pula, Abang sudah maklum, kok. Rumah sakit tempat Abang dirawat, 'kan lumayan jauh juga," jawab Yandri.


"Ngomong-ngomong, ibu sama kak Bibah enggak ikut? Kok enggak ada?" tanya Daniar yang langsung membuat para tamunya diam.


"Nenek enggak mau datang, Tante," celetuk Linda. "Nenek bilang, nenek enggak sanggup lihat keadaan Om," lanjut Linda yang sontak membuat ibunya membelalakkan bola mata.


"Sssst!" timpal Bik Mumun menempelkan telunjuknya di bibir.


Sedangkan Puri, dia hanya bisa menepuk pelan bahu anak remaja berusia lima belas tahun itu.


"Ish dasar bocah," ucap lirih Yoga.


Yandri dan Daniar hanya saling pandang melihat tingkah para tamunya.


.


.


"Suami kamu kenapa, Niar? Kok sejak tamunya pergi, dia seperti melamun terus?" tanya Bu Salma.


"Entahlah, Bu. Mungkin kang Yandri sedikit kecewa karena ibu dan saudara yang lainnya belum datang," sahut Daniar.


"Hmm, tenangkan hati suami kamu, Ni. Jangan sampai dia banyak pikiran," nasihat Bu Salma.


"Iya, Bu. Kalau begitu, Niar ke kamar dulu. Mau mengantarkan makan malam buat kang Yandri," pamit Daniar.


"Ya sudah, pergilah!" sahut Bu Salma.


Tiba di kamar, seperti apa yang dikatakan ibunya, Yandri memang terlihat sedang melamun. Bahkan pria itu tidak menyadari kedatangan istrinya.


"Yah!" panggil Daniar sambil menyentuh punggung tangan suaminya.


"Iya, kenapa Bun?" jawab Yandri, kaget.


"Ayah lagi ngelamun apa? Dari tadi Bunda nyuruh makan, kok enggak jawab," ucap Daniar.


"Maaf, Bun," balas Yandri.


"Sepertinya pikiran Ayah sedang berkelana, nih. Mikirin apa sih?" Daniar kembali bertanya.


"Enggak Bun. Ayah enggak lagi mikirin apa-apa," elak Yandri.


"Ya sudah, sekarang makan dulu. Mau bunda suapi?" tawar Daniar.


"Tidak usah, Bun. Ayah bisa sendiri," kata Yandri seraya mengambil piring dari tangan Daniar.


"Ya sudah, Ayah makan yang banyak ya, Bunda ke dapur dulu, mau cuci piring bekas makan malam," kata Daniar.


Yandri mengangguk. Setelah Daniar pergi, Yandri menyimpan piring di atas nakas. Sejenak dia menengadahkan wajah sambil memejamkan mata. Entah kenapa dadanya terasa sesak saat mengetahui sebuah kebenaran tentang sikap ibunya.


Ya Tuhan ... apa memang benar ibu tidak sanggup melihat keadaanku? Tidak sanggupkah, atau memang tidak pernah ingin bertemu denganku?Padahal saat ini, aku sangat membutuhkan kamu, bumu. Anakmu ini begitu rindu pelukan darimu, batin Yandri pilu.

__ADS_1


Rasanya, Yandri tidak sanggup menerima kebenaran ini. Sakit! Sangat menyakitkan.


__ADS_2