
"Will you marry me?" kata seorang pria berperawakan tinggi tegap.
"Hadeuh, gaje banget!" tukas Danisa, nyelonong begitu saja hendak memasuki ruangan bosnya.
"Nis, gue serius!" seru pria itu seraya menghalangi langkah Danisa.
"Ish, minggir enggak lu! Kalau enggak ..." Danisa menggantungkan kalimatnya.
"Kalau enggak?" Tantang pria itu.
"Nih!" sahut Danisa seraya mengacungkan tinjunya.
"Ish, galak banget!" seru si pria seraya menggeser posisi berdirinya dan mempersilakan Danisa memasuki ruangan bos.
Tiba di ruangan. Danisa menyimpan laporan keuangan toko herbal yang dikelolanya. Sejurus kemudian, dia keluar dari ruang kerja bosnya.
"Ayolah, Nis. Please ..." Lagi-lagi pria itu menghentikan langkah Danisa seraya memelas.
Huft!
Danisa membuang napasnya dengan kasar. Dia menatap tajam ke arah pria tegap itu.
"Mau lu apa sih, Kudanil?" tanya Danisa sangat kesal.
"Woy, Burik! Nama gue Daniel. Bukan Kudanil!" tegas pria bertubuh atletis itu seraya berkacak pinggang.
"Dan nama gue Danisa, bukan Burik!" sahut Danisa tak kalah tegasnya.
"Kalian itu, ya? Enggak ada bosen-bosennya tiap hari berantem mulu!" tegur Mbak Nunung, rekan kerja Danisa.
"Tahu tuh, si Kudanil. Enggak jelas banget," jawab Danisa.
"Eh, jelas kok," bantah Daniel.
"Sudah-sudah! Mbak pusing dengarnya. Kenapa kalian enggak kawin aja sih, biar bisa gelud sekalian," tukas Mbak Nunung.
"Mbak!" pekik Danisa.
"Ide bagus, Mbak Nung!" sahut Daniel.
"Huh, ide bagus pala lu peang!"
Danisa menjitak kening Daniel hingga pria itu meringis kesakitan. Sedetik kemudian, Danisa keluar untuk kembali ke tokonya.
"Jangan galak-galak, Nis. Entar jodoh loh!" ledek Mbak Nunung.
Danisa hanya mencebikan bibirnya menanggapi ledekan Mbak Nunung.
.
.
Daniar terlihat gelisah ketika menerima telepon dari pihak pondok. Dia merasa bingung karena tidak bisa meninggalkan seminar yang sedang diikutinya di kantor dinas. Sesaat kemudian, Daniar pun meminta izin untuk keluar sejenak.
Di luar, Daniar menghubungi ibunya. Dia berniat meminta tolong kepada ibunya untuk menjemput Bintang di asrama. Berulang kali Daniar mencoba menghubungi ibunya. Namun, panggilan selalu berada di luar jangkauan. Hanya itu yang bisa Daniar dengar di seberang telepon. Karena sudah merasa frustasi, Daniar kemudian mengirimkan pesan kepada ibunda tercinta.
Menjelang dzuhur, pelatihan sesi pertama dijeda. Para peserta pelatihan diberikan kesempatan untuk beristirahat dan menikmati hidangan coffe break. Setelah itu, para peserta pelatihan digiring menuju sebuah ruangan untuk makan siang.
Sepanjang makan siang, pikiran Daniar tidak tenang. Hatinya begitu tak nyaman. Entah apa yang akan terjadi. Namun, Daniar memiliki firasat jika sesuatu yang akan menguras emosinya, pasti akan terjadi.
.
.
Di lain tempat.
Sepanjang malam, Bu Maryam tidak mampu memejamkan mata. Pikirannya telah teracuni oleh omongan Siska beberapa hari yang lalu. Bu Maryam menyadari, apa yang dikatakan Siska ada benarnya juga. Jika sampai dia berhasil mengambil hak asuh Bintang, tentunya akan mudah bagi Bu Maryam untuk mengawasi setiap gerak-gerik Yandri. Bahkan, Bu Maryam juga bisa mengontrol keuangan Yandri yang diperuntukkan bagi Bintang. Dan yang paling utama, Yandri tidak memiliki alasan lagi untuk dekat-dekat dengan Daniar.
"Hmm, sebaiknya aku sambangi saja perempuan mandul itu," dengus Bu Maryam terlihat semakin kesal.
Namun, saat Bu Maryam pergi ke rumah Habibah untuk meminta bantuan Bahar, menantunya itu ternyata tidak ada di rumah.
"Ih, suami kamu itu, Bah ... setiap diperlukan, pasti selalu tidak ada," gerutu Bu Maryam, kesal.
"Lagian Ibu nggak bikin janji dulu sama kang Bahar. Gini, 'kan jadinya," tukas Habibah.
__ADS_1
"Bikin janji? Halah ... kayak orang penting saja!" dengus Bu Maryam.
"Memangnya Ibu mau ke mana, sih?" Kok pakai mobil segala," tanya Habibah penasaran.
"Ibu tuh mau ke rumahnya mantan istri Yandri," jawab Bu Maryam yang masih enggan menyebut nama Daniar.
"Eh, mau ngapain Ibu ke sana?" Dengan mengernyitkan keningnya, Habibah kembali bertanya.
"Ibu ingin mengambil Bintang dan mengasuhnya," jawab Bu Maryam.
"Loh-loh-loh-loh ... memangnya, Yandri nyuruh Ibu buat ngambil Bintang?" tanya Habibah lagi, semakin penasaran.
"Enggak juga," sahut Bu Maryam.
"Terus, ngapain Ibu ngambil bintang? Nambah-nambah kerjaan aja," gerutu Habibah yang sepertinya tidak setuju dengan niat ibunya.
"Suatu hari nanti, Yandri akan menikah dengan Siska. Ibu ingin mengambil Bintang dan mengasuhnya, supaya dia bisa dekat dengan Siska. Dia harus terbiasa menerima Siska sebagai ibu sambungnya kelak," papar Bu Maryam.
"Ah ya ... Bibah ngerti. Kenapa Ibu enggak minta antar Siska saja. Bukankah Siska bisa nyetir, tuh? Kalau Ibu diantar sama Siska, Ibu bisa sekalian memperkenalkan Siska sebagai calon istrinya Yandri. Biar si Daniar tuh tahu diri, dan enggak deketin Yandri lagi," usul Habibah.
"Wah, ide yang bagus tuh. Sebentar, Ibu telepon Siska dulu!" pamit Bu Maryam, kembali ke rumahnya.
.
.
"Iya, Kak. Ini Ibu lagi di jalan. Mau jemput anak kamu pulang," jawab Bu Salma.
"Ah, syukurlah kalau begitu, Bu. Niar lega sekarang," jawab Daniar di ujung telepon.
"Ya sudah, Nak. Ibu tutup dulu teleponnya ya, Ni. Sebentar lagi Ibu sampai di asrama Bintang," lanjut Bu Salma.
"Baik, Bu. Maafkan Niar karena selalu merepotkan Ibu," kata Daniar.
"Iya enggak pa-pa kok. Lagian Bintang, 'kan cucu ibu juga. Assalamu'alaikum, Kak!" pungkas Bu Salma.
Bu Salma memutuskan sambungan teleponnya. Dia kemudian menghentikan angkot yang dinaikinya. setelah membayar ongkos angkot, Bu Salma pun turun. Bu Salma memasuki pondok pesantren yang dikelola temannya.
Bu Salma kemudian berjalan menuju ruang guru untuk menemui wali kelasnya Bintang. Entah apa yang terjadi kepada Bintang. Menurut laporan Rohisyahnya, semalaman Bintang demam. Sebenarnya, di pondok pun tersedia klinik rawat. Hanya saja, Bintang meminta berobat di rumah.
.
.
"Bu Niar, ayo!" ajak teman satu profesinya.
"Ke mana, Bu?" tanya Daniar.
"Kedai bakso Setan. Seharian kita sudah diberikan tugas tentang kurikulum baru. Uuh, bikin kepala hampir meledak saja. Karena itu sebelum pulang, kita mau sedikit memanjakan lidah dulu," gurau teman Daniar itu.
"Waduh, saya minta maaf, Bu. Putri saya sedang sakit, saya harus menjemputnya ke pondok. kebetulan dia ingin beristirahat di rumah," jawab Daniar.
"Oh begitu ya. Tidak apa-apa, Bu, kesehatan putri Ibu lebih penting. kalau begitu, kami permisi dulu. Mari!"
Daniar hanya mengangguk. Selesai membereskan peralatannya, Daniar segera keluar dari gedung dinas pendidikan. Tiba di luar, Daniar segera memesan ojek online agar bisa cepat sampai di rumah.
.
.
Waktu menunjukkan pukul 16.00. Mobil yang dikendarai Siska tiba di depan rumah Bu Salma. Danisa yang sedang mengendarai motornya di belakang mobil tersebut, hanya bisa mengernyitkan kening saat melihat mobil mantan kakak iparnya memasuki halaman rumah. Sesaat kemudian, seorang wanita keluar dari pintu kemudi.
Ish, siapa wanita itu? batin Danisa.
Tak berapa lama. Dua orang wanita berbeda generasi pun keluar dari dalam mobil. Danisa semakin mengerutkan keningnya saat mengenali kedua wanita tersebut.
"Mau ngapain mereka kemari?" guman Danisa.
Terlihat ketiga wanita itu menekan bel pintu. Namun, untuk beberapa menit, tak ada orang yang keluar dari rumahnya. Akhirnya Danisa memutuskan untuk menemui mereka.
"Maaf, cari siapa ya?" tanya Danisa.
Ketiga wanita itu menoleh. Tak ada senyuman yang terpancar di raut wajah ketiganya. Membuat Danisa semakin menautkan kedua alisnya.
"Kami mau bertemu dengan Daniar. Apa dia ada di rumah?" tanya Habibah.
__ADS_1
"Waduh, saya tidak tahu, Mbak. Kebetulan saya baru pulang kerja," jawab Danisa. "Sebentar, saya cek dulu," imbuhnya.
Baru saja Danisa hendak membuka pintu. Tiba-tiba sebuah ojek online berhenti tepat di depan rumah. Seorang penumpang wanita yang tak lain adalah Daniar, segera turun dan membayar ongkos ojeknya.
Daniar kemudian berjalan memasuki pekarangan rumah. Dahinya mengernyit ketika melihat mobil mantan suaminya terparkir di halaman rumah.
"Itu kakak saya," seru Danisa yang membuat wajah Daniar menoleh seketika.
Daniar tertegun melihat ketiga wanita yang berada tepat di depan pintu rumahnya. Entah kenapa, jantungnya tiba-tiba berpacu dengan cepat saat bertatap muka dengan ketiga wanita itu. Tak lama kemudian, Daniar menghampiri mereka.
"Apa kabar, Bu?" sapa Daniar seraya mengulurkan tangannya hendak mencium punggung tangan mantan ibu mertuanya.
Namun, wanita renta itu malah melipat tangan di dadanya. Dia sama sekali tidak ingin berjabat tangan dengan mantan menantunya.
Daniar masih mencoba tersenyum dan mengabaikan rasa sakitnya. Dia pun mempersilakan ketiga wanita itu untuk memasuki rumah.
"Langsung saja, Niar," ucap Bu Maryam, tanpa ekspresi.
"Maksud Ibu?" tanya Daniar. "Silakan duduk dulu, Bu. Tidak baik bicara sambil berdiri," imbuhnya.
"Apa yang dikatakan Daniar benar, Bu. Ayo kita duduk terlebih dahulu," timpal Siska.
Daniar menatap wanita yang cukup meneduhkan itu. Tidak ada yang berubah dari paras cantiknya sedari kuliah dulu. Sebenarnya, Daniar ingin menyapa. Namun, dia merasa mungkin Siska sudah tidak mengenalinya lagi. Hanya satu yang tidak Daniar mengerti, kenapa wanita itu berada di sini bersama keluarga mantan suaminya. Seketika, bayangan saat wanita itu dan Habibah menyambangi Yandri di sekolah dulu, melintas begitu saja dalam benak Daniar.
Ketiga wanita itu telah duduk. Daniar meminta Danisa untuk membuatkan minuman. Tak lama kemudian, Bu Maryam mengutarakan maksud kedatangannya.
"Ini Siska," kata Bu Maryam memulai pembicaraan, "dia calon istrinya Yandri," lanjutnya.
Tidak bisa dipungkiri, Daniar sangat terkejut mendengar ucapan ibunya. Jadi, kang Yandri hendak menikah lagi, tapi kenapa dia tidak pernah membahas soal ini, batin Daniar.
"Se-senang berkenalan dengan Anda," ucap Daniar yang sudah mulai menguasai keterkejutannya.
Siska hanya tersenyum menanggapi ucapan Daniar.
"Jujur saja, Niar masih bingung dengan kedatangan Ibu, Kak Bibah dan juga Siska. Jika memang kang Yandri hendak menikah, untuk apa kalian datang kemari?" tanya Daniar, yang merasa pernikahan Yandri kelak, bukanlah urusannya.
"Begini, Niar. Kedatangan kami kemari, kami hendak mengambil Bintang untuk tinggal bersama kami," jawab Habibah.
Deg!
Jantung Daniar seakan berhenti berdetak mendengar perkataan Habibah.
"Tu-tunggu, Kakak. Niar tidak mengerti maksud Kakak,"kata Daniar, kebingungan.
"Niar, sebentar lagi Yandri akan menikah. Sudah tentu dia akan memiliki tanggung jawab lebih dengan istrinya. Ibu tidak ingin pikiran Yandri bercabang karena harus memikirkan anaknya yang tinggal bersama kamu. Karena itu, kami memutuskan akan membawa Bintang untuk tinggal bersama kami, karena setelah menikah nanti, Siska yang akan mengurus Yandri dan anak kalian," papar Habibah.
"Tidak usah berbelit-belit seperti itu, Kak. Niar sudah paham maksud Ibu dan Kakak. Katakan saja jika kalian takut Niar mengambil hak Bintang dari ayahnya. Bukan begitu?" kata Daniar sinis. "Tidak usah khawatir, Ibu. Sepeser pun, Niar tidak pernah menggunakan uang yang diberikan ayahnya Bintang untuk keperluan Niar sendiri!" tegas Daniar.
"Huh, tapi itu tidak menjamin Niar! Hati orang siapa yang tahu. Lagi pula, setelah Yandri menikah nanti, tentunya dia akan merasa kagok kalau harus bertemu anaknya di rumah kamu. Apa kamu tidak bisa menghargai keputusan Yandri untuk menikah lagi, hah?" timpal Bu Maryam, ketus.
"Niar menghargainya, Bu. Kalaupun setelah menikah, kang Yandri dan Siska ingin menemui Bintang dan membawanya untuk mengajak bermalam di rumah mereka, Niar tidak akan menghalanginya. Tapi Niar tidak akan mengizinkan kalian membawa pergi Bintang dari sisi Niar. Tidak akan!" tegas Daniar.
"Begini saja Mbak Niar. Saya Janji, saya akan merawat Bintang dengan baik. Saya akan menyekolahkan Bintang setinggi mungkin jika Bintang tinggal sama saya. Akan tetapi ..." Siska menjeda kalimatnya.
"Akan tetapi apa, Mbak Siska?" tanya Daniar dingin.
"Saya mohon, jangan salah paham dulu, Mbak. Jika Bintang masih tinggal bersama Mbak, tentunya saya tidak akan pernah tahu apa saja yang menjadi kebutuhan Bintang. karena itu, saya takut jika saya tidak bisa memenuhi kebutuhan Bintang," papar Siska.
sudah Daniar duga. Inti pembicaraan ini, mereka hendak melepaskan tanggung jawab atas masa depan Bintang.
"Katakan saja yang sebenarnya, Ibu. Niar tidak punya cukup waktu untuk pembicaraan yang tidak jelas ini," kata Daniar.
Sejenak, Bu Maryam menarik napas panjang. "Baiklah Niar, karena kamu yang memaksa, akan Ibu katakan yang sebenarnya. Hati orang tidak ada yang tahu. Ibu tidak ingin Bintang diperalat untuk sesuatu hal yang bukan kebutuhannya. Karena itu, Ibu hendak membawa Bintang dan mengurusnya. Bagaimanapun, Bintang itu cucu ibu juga," tutur Bu Maryam.
"Dan jika saya tidak pernah memberikan Bintang kepada Ibu. Apa yang akan Ibu lakukan? Apa Ibu akan menyuruh ayahnya untuk melepaskan tanggung jawabnya?" tekan Daniar.
"Cukup, Niar! Jangan paksa Ibu berbuat nekat!" teriak Bu Maryam seraya berdiri.
"Berbuat nekat seperti apa, Ibu? Memangnya apa yang akan Ibu lakukan jika saya tetap mempertahankan Bintang."
"Hhh ... Ibu sudah menawarkan sebuah kesepakatan kepadamu, Niar. Serahkan Bintang kepada kami, dan akan kami jamin masa depannya. Atau kamu urus Bintang sendiri tanpa harus melibatkan Yandri lagi. Paham kamu!" tegas Bu Maryam.
"Akan Niar urus Bintang tanpa melibatkan siapa pun. Jadi, silakan kalian pergi dari sini!" Usir Daniar, dingin.
"Huh, sombong sekali kamu, Niar. Kamu pikir, sehebat apa dirimu hingga memutuskan untuk mengurus anak seorang diri. Kamu itu tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa uangnya Yandri. Pekerjaan kamu hanya seorang tenaga honorer, memangnya gaji honorer bisa menguliahkan anak kamu? Apa kamu tidak kasihan kepada Bintang yang cita-citanya kelak, akan terhambat karena penghasilan kamu yang tidak seberapa?" Nyinyir Habibah.
__ADS_1
"Bintang darah daging saya, Kak. Dan saya lebih tahu apa yang harus saya lakukan untuk Bintang. Pintunya masih terbuka, jadi silakan kalian angkat kaki dari rumah ini!" tegas Daniar.
"Apa kalian tuli? Apa kalian tidak dengar perintah bunda Bibin. Tolong pergi kalian dari sini. Bibin tidak butuh orang-orang munafik seperti kalian. Pergi! Pergi! Aaargh!"