
Daniar begitu terkejut mendengar perkataan putrinya. Dia tidak menyangka jika orderan yang akan disanggupinya sebanyak itu.
"500 buah? Kapan, Bin?" tanya Daniar.
"Sebagian ada yang minta dalam minggu ini, Bun. Soalnya ..." Bintang kembali melirik ponselnya, "emm ... orderan yang masuk ternyata masuk per tanggal ulang tahunnya Bibin, Bun!" pekik Bintang, terkejut.
"Kok bisa? Itu artinya ... mungkin ada yang mem-viralkan cupcake itu di medsos. Seperti waktu Bunda bikin snack box. Hmm, tapi siapa kira-kira yang buat Viral ya, Bin?" tanya Daniar, heran.
Bintang hanya menggedikkan kedua bahunya. Untuk urusan snack box, Bintang akui jika memang dia yang telah mempostingnya di medsos. Namun, untuk cupcake itu sendiri ... Bintang pun tidak tahu menahu.
"Gimana nih, Bun? Sanggup enggak?" Bintang kembali bertanya kepada ibunya.
"Sebagian aja deh, Bin. Soalnya Bunda takut bentrok sama tugas utama Bunda juga," sahut Daniar.
"Oke!" jawab Bintang. "Kita ambil yang tenggang waktunya agak lama aja ya, Bun. Biar kita punya cukup waktu untuk membuatnya," usul Bintang.
"Hmm, atur aja deh, Nak," timpal Daniar. "Bunda pusing mikirin dari mana mereka tahu tentang cupcake itu," imbuhnya.
"Enggak usah dipikirin, Bun. Intinya, ini rezeki buat kita," sahut Bintang. "Semoga berkah," lanjutnya.
"Aamiin," pungkas Daniar.
Daniar membiarkan putrinya untuk menghandle semua orderan. Sedangkan dia bertugas untuk mengeksekusi orderan tersebut sesuai dengan jadwal permintaan customer.
.
.
Hari demi hari terus terlewati. Usaha sampingan Daniar pun mulai menunjukkan hasil. Jika dibandingkan, penghasilan perminggu dari pembuatan kue, itu jauh lebih besar daripada penghasilan yang dia dapatkan dari kewajibannya mengajar.
Pernah terbersit di hati Daniar untuk berhenti mengajar. Namun, Daniar tidak ingin mengecewakan mantan suaminya yang sudah menyekolahkan dia hingga mendapatkan gelar sarjana.
Matahari mulai mengintip dari balik tirai jendela kamarnya. Karena merasa silau atas ulah sinar mentari, Daniar mengerjapkan mata. Dahinya sedikit berkerut melihat dunia yang sudah terang benderang dari balik kaca jendela kamarnya.
Eh, ada apa ini? Kenapa di luar terlihat terang benderang? Apa jam subuhnya pindah waktu? batin Daniar.
Daniar meraih jam beker yang berada di atas nakas. Penunjuk waktu telah berhenti di angka 6.
"Astaghfirullah! Aku kesiangan!"
Daniar memekik keras ketika menyadari dirinya terlambat bangun pagi. Sontak wanita cantik yang usianya mendekati kepala empat itu, beranjak dari tempat tidur. Daniar berlari ke luar kamar. Namun, sesaat sebelum dia pergi ke kamar mandi, Daniar mengetuk pintu kamar putrinya. Dia juga merasa yakin jika Bintang pun pasti belum bangun saat ini.
Tok-tok-tok!
"Bin, buruan bangun! Udah siang!" teriak Daniar.
Namun, tak ada sahutan dari dalam kamar.
"Bibin, bangun Nak! Ini udah siang banget!"
Daniar kembali berteriak. Bahkan ketukan di pintu kamar pun, berubah menjadi sebuah gedoran saat anak semata wayangnya tak kunjung bereaksi dari dalam kamar.
__ADS_1
Dug-dug-dug!
"Bintang! Ayo lekas bangun!"
Ceklek!
Bintang membuka pintu kamarnya. Wajah yang masih mengantuk, jelas kentara di raut wajah Bintang.
"Ayo, wudhu!" ajak Daniar seraya menarik tangan putrinya.
.
.
Selesai shalat subuh yang kesiangan. Daniar pergi ke dapur untuk melakukan rutinitas sebelum berangkat kerja. Sesekali dia melirik jam dinding yang menempel di dinding. Waktu hampir menunjukkan pukul 7. Sudah bisa dipastikan jika hari ini, dia akan terlambat pergi ke sekolah.
Sementara itu, Bintang yang masih belum mandi, menghampiri Daniar.
"Bun," panggil lirih Bintang.
Daniar menoleh. Dia sedikit terkejut karena melihat anaknya yang belum mandi. Padahal, hari sudah semakin siang.
"Kok kamu belum mandi sih, Dek? Ini sudah siang loh. Kamu bisa terlambat datang ke sekolah," tegur Daniar yang masih sibuk membuat nasi goreng.
"Bun, Bibin izin enggak masuk sekolah ya, hari ini?" pinta Bintang, memelas.
Daniar kembali menoleh ke arah anaknya. Dahinya sedikit mengernyit mendengar permintaan putri tunggalnya.
Bintang menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan ibunya.
"Terus?" tanya Daniar menyelidik.
"Badan Bibin lemes banget, Bun. Bibin masih ngantuk juga. Takut enggak fokus belajar di kelas," jawab Bintang.
Daniar merasa bersalah mendengar jawaban Bintang. Ya, semalam Bintang membantu Daniar untuk membuat pesanan snack basah yang akan diantarkan pagi ini. Karena itu juga, mereka sampai bangun kesiangan.
"Ya sudah, kamu istirahat saja di rumah. Biar nanti, Bunda hubungi wali kelas kamu. Tolong ambilkan ponsel Bunda di kamar!" pinta Daniar.
Bintang mengangguk. Sejurus kemudian, dia pergi ke kamar ibunya untuk mengambil HP. Setelah beberapa menit, Bintang kembali dan langsung menyerahkan benda pipih tersebut kepada si pemiliknya.
"Terima kasih, Sayang. Ya sudah, kamu sarapan dulu. Setelah itu minum vitaminnya. Bunda mau menghubungi Bu Megi dulu."
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8.
"Bin, Bunda pergi dulu ya. Jangan lupa kunci pintunya, dan jangan dibuka kalau ada tamu yang tidak dikenal," pesan Daniar.
"Iya, Bun. Terus, pesanannya mau diambil jam berapa?" tanya Bintang. Dagunya menunjuk dua buah kantong plastik besar yang masing-masing berisi 50 box snack basah.
__ADS_1
"Enggak diambil, Bin. Tapi Bunda yang antarkan. Semalam Bu Hanny telepon, katanya minta diantarkan karena tidak ada kendaraan di rumahnya," sahut Daniar.
"Tapi Bun, kalau harus nganterin dulu snack-nya, Bunda bisa telat datang ke sekolah," protes Bintang.
"Ya mau gimana lagi. Ya sudah, Nak. Bunda berangkat dulu. Sepertinya itu yang datang taksi yang Bunda pesan," jawab Daniar yang melihat sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan pintu pagar rumahnya.
"Iya, bun. Hati-hati di jalan," pungkas Bintang.
.
.
"Bu Niar, dipanggil Bu indah ke ruangannya," ucap Bu Vani, guru agama di sekolah Daniar.
Dahi Daniar mengernyit, mendengar ucapan rekan kerjanya.
"Ada apa ya, Bu Vani? Kok tumben Bu Indah manggil saya," tanya Daniar.
"Entahlah, Bu. Saya juga tidak tahu," jawab Bu Vani.
"Bu Vani ada kelas?" Daniar kembali bertanya.
"Tidak ada, Bu. Kebetulan hari ini saya kosong," jawab Bu Vani.
"Emh ... kalau begitu, saya titip kelas dulu, Bu. Saya mau menemui Bu indah," kata Daniar meminta tolong.
"Iya, boleh Bu," jawab Bu Vani.
Setelah menitipkan kelasnya Daniar pun pergi ke ruang kepala sekolah untuk menemui atasannya.
Tok-tok-tok!
Daniar mengetuk pintu begitu tiba di ruangan Bu indah.
"Masuk!" perintah Bu Indah dari dalam ruangan.
Pintu terbuka. Tak lama kemudian, Daniar memasuki ruangan kepala sekolah.
"Silakan duduk, Bu Niar!" titah Bu Indah.
Tak ingin membuang waktu, Daniar langsung duduk untuk mendengarkan tujuan kepala sekolahnya memanggil dia.
"Begini Bu Niar, saya perhatikan jika beberapa minggu ke belakang ini, Ibu sering terlambat masuk sekolah. Bahkan di minggu kemarin, Ibu sudah tiga hari berturut-turut tidak masuk kelas. Saya juga sudah mendapatkan laporan dari pihak wali murid yang memperhatikan keterlambatan Ibu datang ke sekolah. Jika Ibu bersikap seperti ini terus, lama-lama sekolah kita ini bisa menjadi sorotan media massa," tegur Bu Indah panjang lebar.
"Maaf, Bu." Hanya itu yang keluar dari bibir Daniar.
"Hmm, maaf saja tidak cukup Bu Niar. Harus ada usaha juga untuk memperbaikinya," lanjut Bu indah. "Saya paham dengan kesibukan Ibu untuk mencari sampingan, tapi jangan sampai melalaikan tugas Ibu. Memang tidak pernah ada dua pekerjaan yang akan sukses di dua bidang, Bu. Ibu harus memilih salah satunya dan menekuninya jika ingin sukses," saran Bu indah.
"Saya mengerti, Bu. Tolong beri saya satu kesempatan lagi. Saya berjanji, saya tidak akan mengecewakan Ibu dan para wali murid," kata Daniar.
"Ya sudah, kamu boleh keluar sekarang."
__ADS_1