
Siska sudah tidak mampu membendung rasa kecewa. Tanpa mengatakan apa pun, wanita berhijab itu pun pergi membawa segudang emosi dan kemarahan dalam hatinya.
Habibah tidak mampu mencegah kepergian Siska. Terlebih lagi Bu Maryam yang tidak berani menghadapi calon menantunya itu. Bu Maryam sadar, Siska telah begitu banyak tersakiti oleh sikap Yandri.
Akan tetapi, Bu Maryam sendiri tidak bisa menyalahkan Yandri. Selama ini, Yandri memang tidak tahu menahu tentang rencana perjodohannya dengan wanita itu.
"Gimana, Bah? Apa dia sudah pulang?" tanya Bu Maryam begitu melihat anaknya datang.
"Sudah, Bu," jawab Habibah.
"Apa katanya? Apa dia marah? Apa dia kecewa?" cecar Bu Maryam.
"Aish, Ibu. Tentu saja dia marah. Memangnya perempuan mana yang tidak akan marah dan kecewa ketika mendengar calon suaminya masih mempedulikan mantan istrinya," gerutu Habibah terlihat kesal.
"Ya salah sendiri ... kenapa juga kamu bilang kalau Yandri Sudah pulang? Ibu sudah bersusah payah merahasiakan kepulangan Yandri, eh kamu malah membocorkannya kepada Siska. Mangkanya, punya mulut tuh jangan kayak ember bocor," omel Bu Maryam.
"Hhh, tidak ada gunanya juga saling menyalahkan. Yang terpenting, sekarang Ibu harus bisa meyakinkan Yandri untuk pulang ke rumah ini," timpal Habibah.
"Huh, memang kamu pikir mudah membujuk anak itu pulang? Kamu sendiri tahu watak Yandri seperti apa," dengus Bu Maryam seraya berlalu dari hadapan anaknya.
"Ya usaha dong, Bu! Ibu, 'kan ibunya? Masak kalah sama anak!" teriak Habibah.
Bu Maryam hanya bisa mencebikan bibirnya mendengar teriakkan sang anak.
.
.
Sementara waktu terus berlalu, tapi Yandri tidak pernah lelah mencari keberadaan anak dan mantan istrinya. Meskipun harapan untuk menemukan kedua bidadari itu sangatlah tipis. Namun, Yandri masih mencoba untuk terus berusaha.
Tak henti-hentinya dia mengitari pusat kota. Pusat keramaian di wilayahnya pun sudah dia kelilingi sembari membawa foto Bintang dan Daniar.
"Maaf, Pak. Apa Anda pernah melihat kedua orang ini?" tanya Yandri sembari menunjukkan selembar foto kepada penjaga keamanan alun-alun Singaparna.
Penjaga keamanan itu mengambil foto tersebut. Untuk sejenak, dia mengamatinya. Namun, dia merasa tidak pernah bertemu dengan kedua perempuan yang terlihat berbeda generasi.
"Maaf, Mas. Saya tidak pernah bertemu dengan mereka," jawab penjaga keamanan alun-alun, seraya mengembalikan fotonya.
Yandri hanya bisa menghela napas. Sudah puluhan orang dia tanyai. Namun, tak ada satu pun yang pernah melihat anak dan mantan istrinya.
"Ya Tuhan ... ke mana lagi aku harus mencari mereka?" gumam Yandri seraya mengusap kasar wajahnya.
Matahari sudah mulai condong ke arah barat. Peluh pun sudah bercucuran di kening dan kedua pelipis Yandri. Ketika melihat langit mulai berubah warna menjadi jingga, Yandri pun memutuskan untuk pulang.
Sebaiknya, besok lagi aku cari mereka, batin Yandri.
Di tempat parkir. Sekali lagi Yandri mengedarkan pandangannya. Masih berharap jika kedua retinanya bisa menangkap sosok perempuan yang dia cari-cari. Namun, nihil.
Di antara ratusan pengunjung alun-alun Singaparna, Yandri tidak menemukan kedua bidadarinya. Akhirnya Yandri memasuki mobil dan mulai melajukan kendaraan tersebut, keluar dari pelataran parkir alun-alun.
__ADS_1
.
.
Hari demi hari terus berlalu. Hingga tanpa terasa waktu cuti yang diberikan kepadanya sudah hampir berakhir.
Jujur saja, Yandri merasa frustasi karena tidak mampu menemukan Bintang dan Daniar. Rasa kecewa telah menggunung di hatinya. Ditambah lagi, rengekan ibunya yang menyuruh pulang, membuat pikiran Yandri semakin kacau.
Tak ingin semakin kalut dengan keadaan yang dihadapinya saat ini, Yandri pun memutuskan untuk kembali bekerja.
"Kapan kamu akan kembali ke rumah, Nak?" tanya Bu Maryam di ujung telepon.
"Maaf, Bu. Yandri tidak bisa pulang ke rumah Ibu," jawab Yandri.
"Loh, kenapa? Terus, selama ini kamu tidur di mana? Di rumah mantan istri kamu? Ingat Yandri, kalian itu sudah bercerai. Haram hukumnya kalau kamu masih tinggal satu rumah dengan perempuan itu. Paham kamu!"
Bu Maryam terdengar sangat marah. Selama ini, dia memang tidak pernah tahu jika Yandri memiliki rumah sendiri.
"Sudah dulu ya, Bu. Yandri sedang dalam perjalanan. Takut enggak bisa konsentrasi."
Yandri enggan berdebat dengan ibunya, karena itu Yandri berniat mengakhiri pembicaraannya di telepon.
"Eh, tunggu dulu Yan! Apa maksud kamu sedang dalam perjalanan? Memangnya kamu hendak pergi ke mana?" Bu Maryam mencecar Yandri dengan berbagai macam pertanyaan.
"Yandri mau kembali bekerja, Bu. Nanti Yandri kabari lagi kalau sudah sampai di Indramayu. Assalamu'alaikum!" pungkas Yandri.
.
.
"Bagaimana, Bu? Apa kata Yandri? Apa dia sedang berada dalam perjalanan menuju kemari?" tanya Siska terlihat sumringah.
Bu Maryam menatap calon menantunya dengan tatapan sendu. Kasihan sekali anak ini, batin Bu Maryam.
"Kok diam, Bu? Yandri sudah sampai mana?" Siska kembali bertanya dengan luapan rasa gembira yang begitu menggebu.
"Maaf, Nak. Sebenarnya ... Yandri ...."
Bu Maryam tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Dia merasa iba terhadap Siska. Dia sendiri tidak ingin membuat wanita lajang itu merasa kecewa lagi.
"Yandri kenapa, Bu?" Sepertinya Siska memang sudah tidak sabar ingin mendengar kabar sang pujaan hati.
"Se-sebenarnya ... Yandri se-sedang dalam perjalanan ke Indramayu, Nak," ucap Bu Maryam, lirih.
Siska yang tidak siap mendengar berita menyakitkan lagi, seketika terkulai di atas kursi. Tubuhnya benar-benar lemas. Emosi yang tidak mampu dia luapkan, semakin membuat tubuhnya serasa tidak bertulang.
Dada Siska begitu sesak karena terus menahan kesakitan yang sudah mulai memenuhi rongga hatinya. Dengan napas tersengal, Siska pun akhirnya meluapkan amarah yang sudah memuncak.
"Apa-apaan ini, Ibu? Kenapa Ibu biarkan Yandri pergi lagi? Ibu adalah ibunya. Kenapa Ibu tidak bisa menahan kepergian Yandri? Kenapa Ibu membiarkan Yandri selalu bertindak sesuka hatinya? Kenapa Ibu tidak bisa menekan Yandri untuk tetap tinggal di sini? Suruh Yandri mencari pekerjaan di sini, Bu! Ibu sudah berjanji jika Ibu akan membuat Yandri menikah denganku, tapi mana buktinya?! Sekarang Yandri telah kembali jauh dariku. Kenapa Ibu tega mempermainkan perasaan aku? Kenapa, Bu?!" racau Siska seraya berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Siska, tenanglah dulu. Kita bicarakan baik-baik. Lagi pula, kembalinya Yandri ke Indramayu, itu tidak ada hubungannya dengan Ibu. Sejak pulang, Yandri hanya sekali datang ke rumah ini. Ibu sudah berkali-kali menelepon Yandri untuk menyuruhnya pulang. Namun, Yandri sulit sekali dihubungi," tutur Habibah, mencoba meyakinkan Siska jika ibunya tidak bersalah atas keputusan yang sudah dibuat Yandri.
"Huh, alasan! Kalian semua sama saja! Hanya mencari alasan untuk bisa memanfaatkan aku. Nyatanya, kalian tidak benar-benar berusaha untuk mendekatkan aku sama Yandri. Keterlaluan!"
Siska semakin geram. Dia sudah sangat muak dengan sikap ibu dan anak itu. Siska merasa dipermainkan oleh Bu Maryam dan Habibah. Akhirnya, dengan perasaan jengkel, Siska pun keluar dari rumah Bu Maryam.
Brak!
Siska membanting pintu rumah Bu Maryam begitu kencang. membuat Bu Maryam dan Habibah terlonjak seketika.
"Bagaimana ini, Bu?" tanya Habibah, menggeser posisi duduknya hingga berdampingan dengan Bu Maryam.
Bu Maryam menyandarkan punggungnya. "Entahlah, Bah. Ibu juga bingung,"sahut Bu Maryam.
Untuk beberapa menit, keduanya hanya bisa diam dengan pemikirannya masing-masing. Jujur saja, kepergian Yandri kembali ke Indramayu secara mendadak, telah membuat kepala Bu Maryam semakin terasa berat. Kedua telunjuknya pun memijat pelipis kiri dan kanannya. Rasanya, kepala Bu Maryam seakan hendak pecah saja. Tiba-tiba ....
"Bagaimana kalau kita katakan saja yang sebenarnya pada Yandri, Bah," usul Bu Maryam.
"Maksud Ibu?"
"Ya kita kasih tahu Yandri tentang perjodohan dia dengan Siska," papar Bu Maryam.
"Ish, apa Ibu pikir, Yandri mau menerimanya begitu saja?" gerutu Habibah.
Bu Maryam kembali diam. Pikirannya benar-benar buntu. Semuanya terasa gelap. Dia tidak tahu harus berbuat apalagi supaya Yandri mau menikah dengan wanita pilihannya.
"Bibah tahu gimana caranya memaksa Yandri supaya mau menikah lagi, Bu!" seru Habibah yang membuat ibunya terperanjat kaget.
"Caranya?" tanya Bu Maryam sembari menautkan kedua alisnya.
"Ibu hubungi Yandri dan bilang kepadanya jika Ibu sedang sakit," tutur Habibah.
Kening Bu Maryam yang sudah keriput, semakin mengkerut saja karena tidak mengerti dengan usulan sang anak.
"Tapi Ibu baik-baik saja, Bah," tukas Bu Maryam.
"Iya, Bibah tahu itu. Maksud Bibah, Ibu pura-pura terkena penyakit yang cukup parah. Setelah itu, Ibu minta Yandri untuk pulang. Nah, di saat Yandri sudah pulang, Ibu harus bisa meyakinkan Yandri tentang penyakit Ibu. Buat seolah-olah Ibu merasa jika Ibu sudah tidak bisa bertahan hidup lagi. Lalu Ibu bilang sama Yandri kalau Ibu ingin melihat dia menikah lagi sebelum Ibu tiada," papar Habibah panjang lebar.
"Astaga, Bah. Kamu nyumpahin Ibu biar Ibu cepat mati?!" dengus Bu Maryam sangat kesal.
"Ish, Ibu ... ini, 'kan cuma pura-pura. Ibu hanya bersandiwara saja supaya Yandri mau memenuhi keinginan Ibu," timpal Habibah.
"Ya tapi enggak usah bawa-bawa kematian segala, Bah," omel Bu Maryam.
"Ya sudah, terserah Ibu deh. Bibah pusing! Serba salah jadinya. Dikasih ide baik, malah protes!"
Habibah terlihat sangat kesal. Dia pun segera beranjak dari tempat duduknya. Hingga setelah berjalan beberapa langkah, perkataan Bu Maryam membuat langkah Habibah terhenti.
"Ya sudah, Ibu mau bersandiwara!"
__ADS_1